Letkol Ahmad Yadau

1151 Viewed Redaksi 0 respond
Salahsatu karya sastra AW Sardjono "Ismoyo Tiwikromo"
Salahsatu karya sastra AW Sardjono "Ismoyo Tiwikromo"

Oleh: Broer Martin

Dalam sejarah, nama Letkol Ahmad Yadau barangkali hanya dicatat dalam Pertempuran Srambatan, 13 September 1948. Pertempuran ini punya kaitan dengan Peristiwa Madiun; enam hari kemudian. Sejarah versi Orde Baru menyebutkan, PKI menugaskan Yadau menciptakan “Wild West” di Solo, sebelum merebut kekuasaan di Madiun.
Pertempuran Srambatan terjadi antara Divisi Panembahan Senopati yang berpihak kepada PKI versus Divisi Siliwangi yang mendukung pemerintahan Perdana Menteri Mohammad Hatta. Kejadian ini dipicu oleh hilangnya dua kader PKI Solo, lima komandan batalyon dan dua perwira menengah Divisi Panembahan Senopati. Belakangan mereka diketahui diculik oleh Batalyon Rukman yang bermarkas di Srambatan, tidak jauh dari Stasiun Balapan.
Yadau yang saat itu menjabat sbg Komandan Brigade VII Panembahan Senopati, merasa paling dirugikan atas penculikan tersebut. Tiga komandan batalyon dalam brigade yang dipimpinnya diculik. Meski begitu, Yadau masih memberi kesempatan kepada Batalyon Rukman untuk menyelesaikan kasus penculikan secara baik-baik. Yadau menugaskan Mayor Sutarno, salah seorang komandan batalyonnya untuk berunding dengan Batalyon Rukman.

Namun Sutarno bernasib malang. Begitu turun dari truknya, Sutarno bersama sejumlah pengawalnya gugur diberondong tembakan dari markas Batalyon Rukman. Praktis, yang tersisa di Brigade VII hanya seorang komandan batalyon, yang tidak lain adik kandung Yadau, Kapten Achyat Marjono. Amarah Yadau memuncak. Yadau bersama Komandan Brigade VIII Letkol Suyoto dan Komandan Militer Kota Solo, Letkol Slamet Riyadi memimpin pasukan menggempur markas Batalyon Rukman yang ternyata sudah diperkuat oleh satuan-satuan Siliwangi dari luar Solo. Pertempuran sengit berlangsung sampai menjelang maghrib.
Malam harinya, kedua belah pihak dipertemukan di hadapan Panglima Besar, Jaksa Agung dan Walikota Solo. Gencatan senjata tercapai lewat perdebatan sengit. Jenderal Soedirman memberi perintah supaya seluruh pasukan Siliwangi ditarik dari kota Solo dan seluruh Keresidenan Solo secara bersama-sama, meninggalkan Panembahan Senopati yang akan bertanggungjawab penuh atas penegakan hukum dan ketertiban di Solo. Ternyata gencatan senjata dimanfaatkan oleh Siliwangi untuk memperkuat pasukan. Begitu merasa kuat, Siliwangi yang mendapat bantuan dari Hisbullah, Barisan Banteng dan GRR menyerbu Panembahan Senopati.
Panembahan Senopati kewalahan menghadapi serbuan gabungan pasukan pendukung Hatta. Tanggal 15 September 1948, Yadau, Suadi dan Slamet Riyadi datang ke Madiun, meminta bantuan kepada Brigade 29 (eks Pesindo) untuk bersama-sama menghadapi gabungan pasukan pendukung Hatta. Permintaan ini tidak disetujui karena PKI sudah menginstruksikan pasukan-pasukan pendukungnya melokalisir pertempuran yang di Solo. Panembahan Senopati lantas memindahkan stelling ke luar kota Solo. Namun Panembahan Senopati tetap diserbu. Bahkan, pasukan-pasukan pendukung PKI di daerah lain tidak luput dari sasaran pasukan pendukung Hatta.
Tanggal 17 September 1948, pasukan gelap berikat kepala merah berlogo tengkorak melakukan provokasi yang mengancam keselamatan Brigade 29 di Madiun. Brigade 29 melakukan beladiri dengan melucuti senjata pasukan gelap yang belakangan diketahui berasal dari gabungan Siliwangi, Mobrig, GRR dan Barisan Banteng tersebut. Kejadian ini lantas dilaporkan kepada pemerintah pusat, supaya diselesaikan secara damai. Namun Hatta memelintir aksi pelucutan ini sebagai pemberontakan PKI.

Tanpa memperdulikan saran Panglima Besar yang meminta supaya terlebih dahulu diadakan penyelidikan terhadap situasi di Madiun, Hatta memerintahkan Kolonel AH Nasution menyerbu Madiun. Hatta menetapkan Keresidenan Solo dan Jawa Timur dalam situasi Darurat Militer, mengangkat Kolonel Gatot Subroto sebagai Gubernur Militer Solo dan Kolonel Sungkono sebagai Gubernur Militer Jawa Timur.
Berada di pihak PKI membuat nama Ahmad Yadau kabur, bahkan hilang dari catatan sejarah.
Yadau lahir di Semarang, 20 Agustus 1923. Nama aslinya Ahmad Wiro Sardjono. Yadau anak seorang Digulis. Sang ayah, Raden Mas Markam Markoto Prawiroatmodjo berasal dari keluarga Mangkunegaran yang meninggalkan kraton dan memilih menjadi aktivis buruh pelabuhan di Semarang.
Akibat terlibat Pemberontakan 1926/27, Markam dibuang ke Digul. Isteri dan anak-anaknya dibawa serta. Yadau, kala itu berumur empat tahun turut merasakan nasib sebagai orang buangan. Tahun 1935, keluarga Markam kembali ke Semarang. Kesulitan hidup yang dialami oleh orangtuanya sepulang dari Digul membuat Yadau melakoni profesi kuli angkut dan pengamen di Pasar Johar. Profesi ini dilakoni hingga menjelang Pendudukan Jepang.

Wikana, seorang aktivis Gerakan Rakyat Anti Fasis berhasil mempengaruhi Yadau supaya bergabung dengan Kaigun. Bulan Oktober 1943, Yadau mengikuti pendidikan Kaigun. Selepas pendidikan, Yadau ditempatkan di pelabuhan Tegal. Ternyata, beberapa perwira AL Jepang bekerjasama dengan grup Wikana. Mereka adalah perwira-perwira yang “bersentuhan” dengan Marxisme ketika menjalani studi di Eropa. Diam-diam perwira-perwira ini memberikan pendidikan Marxisme kepada kader-kader di Kaigun; sekaligus mempersiapkan pemberontakan terhadap Jepang. Yadau salah seorang kader mereka.
Awal September 1945, Yadau memimpin pemberontakan Kaigun di Tegal. Dari Tegal, Yadau membawa pasukannya membobol gudang senjata tentara Jepang di Cilacap. Pertengahan Oktober 1945, Yadau dan pasukannya melibatkan diri dalam pertempuran Lima Hari di Semarang. Keberaniannya merangsek ditengah-tengah gencarnya tembakan senjata pasukan Kidobutai, dan menurunkan bendera Jepang dari halaman markas pasukan berani mati Jepang tersebut, melambungkan namanya di kalangan kawan maupun lawan.

Tanggal 15 November 1945, Laksamana III Maspardi dan Laksamana Atmadji membentuk korps marinir TKR di Tegal. Yadau diangkat sebagai komandannya, diberi pangkat Kolonel (sesudah Re-Ra, pangkat ini diturunkan menjadi Letkol). Sebagian besar anggotanya berasal dari kesatuan-kesatuan Kaigun Tegal, Semarang, dan sebagian bekas Koninklijk Marine KNIL yang dipimpin oleh Letnan Oloan Hutapea. Sejarah Yadau sebagai komandan marinir pertama dihilangkan setelah Soeharto berkuasa.
Korps yang dipimpin oleh Yadau dikenal dekat dengan Amir Sjarifuddin. Yadau dipercayakan oleh Amir untuk mengawal pejabat-pejabat dan obyek-obyek strategis negara. Dalam perundingan Linggarjati, Yadau diserahi tanggung-jawab mengawal delegasi RI. Dalam perubahan nama dan formasi TRI menjadi TNI pada tanggal 3 Juni 1947, Korps Marinir ini diintegrasikan ke Divisi IV Panembahan Senopati. Divisi ini merupakan salah satu pasukan yang dibubarkan oleh Hatta dalam program Re-Ra pada tanggal 15 Mei 1948.
Tanggal 20 Mei 1948, Panglima Panembahan Senopati, Kolonel Sutarto bersama para komandan brigade seperti Letkol Suadi, Letkol Ahmad Yadau, Letkol Suyoto, Letkol Sudiarto dan Komandan Militer Kota Solo Letkol Slamet Riyadi, memimpin pasukannya berdemonstrasi menolak Re-Ra di Solo. Demonstrasi ini dibalas oleh Hatta dengan teror. Malam tanggal 2 Juli 1948, Sutarto tewas ditembak oleh seorang penembak gelap di Solo. Teror terhadap Panembahan Senopati berlanjut, hingga penculikan terhadap lima komandan batalyon dan dua perwira menengahnya, pada permulaan September 1948. Kejadian inilah yang memicu meletusnya Pertempuran Srambatan.
Sejak meletusnya Peristiwa Madiun, Yadau menjadi buronan Hatta. Status ini hilang sesudah Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II, tanggal 19 Desember 1948. Yadau, Suadi, Suyoto, Sudiarto dan Slamet Riyadi mendesak Kolonel Gatot Subroto supaya mengaktifkan kembali pasukan mereka, untuk bersama-sama melawan Belanda. Permintaan ini dipenuhi oleh Gatot Subroto.
Tidak lama sesudah tercapainya KMB, Gatot Subroto memerintahkan Yadau, Slamet Riyadi dan Sudyarto untuk menumpas RMS. Ada bisikan kuat yang mendorong Yadau untuk menolak perintah ini. Dia merasa bahwa perwira-perwira yang tidak dikehendaki oleh Gatot Subroto dan Nasution akan dijadikan sebagai umpan peluru dalam operasi penumpasan RMS. Yadau mundur dari dinas TNI. Dua orang kawannya, Slamet Riyadi dan Sudyarto gugur dalam operasi tersebut.
Bulan Agustus 1951, Perdana Menteri Sukiman dari Masyumi melakukan penangkapan-penangkapan terhadap para aktivis PKI. Kejadian ini dikenal sebagai Razia Agustus. Yadau ikut ditangkap. Tiga tahun lamanya dia mendekam dalam penjara Nusakambangan, menempati sel yang sama dengan Kapten AMIR MURTONO, korban Razia Agustus yang belakangan pensiun dengan pangkat Letnan Jenderal, menjadi salah seorang yang berkuasa di jaman Orde Baru, memimpin GOLKAR selama dua periode (1973-1983).

Keluar dari Nusakambangan, Yadau aktif di dunia politik. Tahun 1955, dia terpilih sebagai anggota Konstituante, dari fraksi PKI. Kiprah Yadau di Konstituante tidak lama sebab badan ini dibubarkan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 5 Juli 1959. Sejak itu, Yadau lebih banyak berkiprah di dunia perfilman dan jurnalistik.

 

Yadau, Film, Jurnalistik dan Sastra

Di bidang perfilman, Yadau dikenal sebagai AW Sardjono. Jabatannya direktur CV Ibukota Films. Ibukota Films sempat memproduksi tiga film antara lain; Badai Selatan (1961), Malam Tak Berembun (1963) dan Hari Tani (1965). Badai Selatan merupakan film Indonesia pertama yang tampil dalam festival film internasional. Film yang disutradarai oleh Sofia WD ini tampil dalam festival film di Berlin pada tahun 1962 dan meraih penghargaan sebagai film pendatang terbaik dalam festival tersebut.
Menulis adalah salah satu kegemaran Yadau. Di Harian Merdeka, Yadau duduk sebagai salah seorang Dewan Redaksi. Dia sering dipercaya menulis Tajuk Rencana dan mengulas tentang Asia, terutama tentang perang Vietnam pada kolom khusus harian tersebut. Yadau juga suka menulis esai tentang kebudayaan dan seni. Salah satu karya tulisannya yang terkenal berjudul ”Ismaya Tiwikrama” (1965) yang mengisahkan tentang kemarahan rakyat atas tindakan penguasa yang menyalahgunakan kekuasaannya.
Aktif di dunia perfilman dan jurnalistik tidak lantas membuat Yadau meninggalkan partainya. Yadau memilih berada di kubu Sakirman yang bercorak nasional daripada berorientasi kepada Moskow atau Peking. Yadau tetap mendukung Aidit sebagai ketua partai, meski pandangan mereka tidak sejalan mengenai PKI sebagai partai kader sekaligus partai massa.
Peristiwa Gestok 1965 berakibat buruk bagi Yadau. Rumahnya di Jalan Otto Iskandar Dinata No. 70 Jakarta dirampas oleh tentara. Semua film yang diproduksi dan disutradarainya, dibakar oleh tentara. Pertengahan November 1965 Yadau ditahan di kantor SUAD I. Berbagai rumah tahanan dan penjara pernah dia huni, diantaranya; Rumah Tahanan Kodim 0501, Lidikus Lapangan Banteng, eks Sekolah PSKD Gang Kernolong, Tahanan Operasi Kalong, Rutan Salemba hingga ke RTM Budi Utomo. Awal tahun 1973 Yadau keluar dari dari penjara.
Lepas dari penjara, Yadau bersama Hiswara Dharmaputra mendirikan PT Mondial Motion Pictures. Perusahaan ini bergerak di bidang produksi film. Tahun 1975, perusahaan ini berhasil memproduksi film berjudul Saijah dan Adinda. Yadau menjadi sutradaranya. Film ini mendapat perhatian besar dari Departemen Pendidikan Belanda. Tahun 1977, pemerintah Belanda mengundang Yadau dan Hiswara Dharmaputra untuk memutarkan film Saijah dan Adinda di Den Haag. Undangan yg ditujukan kepada Eks Tapol ini membuat pemerintah Orde Baru gerah.

Direktorat Imigrasi menolak membuatkan paspor Yadau. Karena tekanan Bakin, nama AW Sardjono dicopot oleh rapat pemegang saham PT Mondial Motion Pictures. Belakangan, nama sutradara film Saijah dan Adinda diganti menjadi Fonds Rodemaker dari Belanda. Yadau pun berhenti dari dunia perfilman.
Yadau melanjutkan karya tulisnya yang sempat tertunda karena mendekam dalam penjara dan kesibukan membuat film. Judulnya Wayang Purwa. Naskahnya diselesaikan pada tahun 1983. Isinya menarik minat seorang sahabat, dosen ilmu budaya dari Universitas Indonesia yang bekerja di Balai Pustaka. Sang sahabat mendorong Yadau menjadikan Wayang Purwa sebagai disertasi untuk memperoleh gelar Doktor Honoris Causa bidang kebudayaan dari Universitas Indonesia (UI). Dua orang dosen ilmu budaya UI menyatakan kesediaan menjadi promotor bagi Yadau. Nantinya, disertasi ini diterbitkan dalam bentuk buku oleh Balai Pustaka. Namun, niat baik ini tidak terlaksana. Ali Murtopo mengancam ketiga dosen tersebut dan Balai Pustaka; supaya tidak menerbitkan karya tulis Yadau.

Yadau kecewa. Rasa kecewa dia bawa sampai meninggal pada tahun 1985. Yadau dimakamkan di TPU Kampung Walang, Tanjung Priok.

Sumber: 
1. Kesaksian A. Lukito, 26 Maret 2016 
2. Kesaksian Siswojo, 18 Januari 2011
3. Kesaksian Soemarsono, 12 Agustus 2013
4. David Charles Anderson, Peristiwa Madiun 1948:Kudeta Atau Konflik Internal Tentara?, Media Pressindo, 2003.
5. Departemen Agitprop CC PKI ; BUKU PUTIH TENTANG PERISTIWA MADIUN, Cet-II, 1954.
6. Foto koleksi A. Lukito

_______

https://www.facebook.com/broer.martin/posts/10207521938877340

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
paring-wu

Untuk [Tujuan] Apa Hantu Komunisme Dipelihara ?

Forum diskusi panel bertajuk “International Conference, Reviving Benedict Anderson, Imagined (Cosmopolitan) Communities,” yang diadakan di kompleks kampus Sanata Dharma, pada tanggal 13-14 Januari 2017. Sesi pertama dibuka oleh Melani Budianta, Jumat (13/1) di Driyakara Seminar Room, Sanata Dharma, Yogyakarta. [Tirto.ID/Aya]

Teknologi Dorong Kapitalisme Ubah Masyarakat

Related posts
Your comment?
Leave a Reply