Kebohongan Adalah Musuh Bersama

235 Viewed Redaksi 0 respond
PEMBICARA: Para pembicara Diskusi Kebangkitan PKI: Isu atau Realitas?  (14/6) bergambar bersama di lokasi Balai Sarwono Jakarta Selatan [Foto: Marsiswo D]
PEMBICARA: Para pembicara Diskusi Kebangkitan PKI: Isu atau Realitas? (14/6) bergambar bersama di lokasi Balai Sarwono Jakarta Selatan [Foto: Marsiswo D]

Apa yang secara lantang pernah dikoarkan pensiunan ABRI Mayjen (Purn) Kivlan Zein mengenai kebangkitan PKI yang akan mendeklarasikan diri dengan 15 juta anggota, juga fitnah-fitnah yang dilansir ustad Alfian Tanjung dalam ceramah-ceramah “keagamaan”, maupun apa yang ditulis Bambang Tri dalam buku Jokowi Undercover yang menuduh Jokowi anak PKI; bermuara pada pertanyaan: Untuk apa “teori” Kebangkitan PKI itu dikemukakan pada hari-hari gini?

Diskusi Kebangkitan PKI: Isu atau Realitas? yang digelar Indonews.Id di Balai Sarwono, Jakarta Selatan Rabu (14/6) menghadirkan sederet pembicara dan diikuti sekitar 200 peserta; menyoroti sinyalemen seputar kebangkitan PKI di Indonesia.

Sederet pembicara itu, Dr. Asvi Warman Adam (Peneliti Utama LIPI, sejarawan Indonesia), Prof. Dr. Muhammad A.S. Hikam (mantan Menristek Kabinet Gusdur), Dr. Tubagus Hasanuddin (anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan), dan Dr. Ade Armando (Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik FISIP-UI).

Hadir pula Sukmawati Soekarnoputri (Ketum DPP-PNI Marhaenis sebagai penanggap utama, Baskara T Wardaya (Sejarawan Univesitas Sanata Dharma Yogyakarta) dan Bedjo Untung (Ketua YPKP 65) serta Drs Asri Hadi, MA (Pimred Indonews.Id) sebagai moderator diskusi.

 

Mengapa Isu Kebangkitan PKI Dimunculkan?

Diskusi yang cenderung berlangsung searah ini diawali paparan Asvi Warman Adam sebagai pembicara pembuka yang menganalogikan isu kebangkitan PKI ini sebagai “mimpi di siang bolong”. Statemen Kivlan Zein, misalnya, yang menyebut PKI telah memiliki 15 juta anggota dipimpin Wahyu Setiaji (Kompas, 1 Juni 2016) dengan struktur lengkap dari pusat hingga daerah; tak pernah dapat dibuktikan kebenarannya yang berarti segala berita, berbagai info terkait munculnya PKI itu hoax belaka.

Begitu juga tuduhan terhadap Jokowi sebagai anak PKI sebagai tak lebih dari fitnah tidak berdasar. Menurut Asvi, isu kebangkitan PKI yang dihembuskan kelompok tertentu bertujuan untuk mengacaukan situasi politik di Indonesia.

Asvi mengutip pendapat koleganya, Sjamsudin Haris, peneliti utama LIPI lainnya yang mengatakan bahwa keruhnya situasi politik saat ini diskenario oleh aktor operasional yang menggandeng tiga kekuatan yakni pebisnis hitam, politisi busuk dan radikalis agama.

“Gabungan tiga kelompok ini dan digerakkan oleh operator profesional ini yang membuat politik kita keruh,” ujar Asvi..

“Isu PKI selalu muncul setiap jelang Pilpres, yang bertujuan untuk mendelegitimasi pemerintahan dan presiden terpilih”, papar pembicara lainnya Tubagus Hasanuddin, politisi PDI Perjuangan, mantan Sekmil pada era pemerintahan Megawati dan SBY ini.

 

Dimunculkan untuk Kepentingan Politik

diskusi-kom.1f

AS Hikam berpendapat bahwa untuk untuk memunculkan persepsi tertentu isu kebangkitan PKI itu bisa diciptakan kapan saja, sesuai tujuannya itu. Isu demikian tidak hanya muncul pada Pilpres atau event politik elektoral saja. Masih segar dalam ingatan, saat pemerintah awal menginisiasi upaya rekonsiliasi nasional; isu kebangkitan PKI menyeruak dengan gencarnya.

Tentu semua itu tak berdiri sendiri, ada kekuatan politik tertentu yang karena merasa terancam kepentingannya, melancarkan serangan balik. Di sinilah isu memainkan perannya dengan mengabaikan kebenaran bahkan juga logika. Serangan juga menyasar lembaga-lembaga negara, termasuk dalam konteks ini; Presiden sendiri.

Menurut AS Hikam, menyikapi pertanyaan tentang benar tidaknya isu kebangkitan PKI, itu tidak relevan dijawab. Isu kebangkitan PKI juga muncul, sebagai manuver politik yang dilakukan sejumlah kelompok, khususnya kelompok islam politik. Isu PKI tersebut juga digunakan untuk menekan Presiden Jokowi dan pemerintah.

Propaganda kebangkitan PKI juga efektif dipakai “menciptakan” musuh bersama kelompok Islam Politik, dengan menggalang kekuatan politik tertentu. Hal terlihat dari munculnya ceramah-ceramah keagamaan untuk melawan komunis sebagai anti agama atau ateis.

Masih menurut AS Hikam bahwa “Isu komunis sangat atraktif dan strategis untuk ciptakan musuh ideologis bersama kelompok Islam dan kelompok strategis lain termasuk TNI”. Kelompok islam politik tersebut akan berusaha keras mempengaruhi TNI menjadi menjadi “kawan seperjalanan” dengan menggunakan isu ancaman KGB. Karena itu, Hikam meminta TNI untuk tidak termakan isu, terutama menjelang Pemilu 2019.

 

Kebohongan yang Terus Dipropagandakan

Senada dengan AS Hikam, Ade Armando mengatakan, ihwal kebenaran isu kebangkitan PKI tidak terlalu penting dikupas. Namanya juga isu, kebangkitan PKI bisa saja merupakan kebohongan yang terus menerus dipropagandakan. Karena itu, yang paling penting bagi Ade, yaitu apakah isu tersebut menimbulkan ancaman bagi negara atau tidak.

“Komunisme dipakai sebagai alat untuk menghantam lawan,” Jelas Ade.

Ade mengajak peserta mencermati Pilpres 2014 lalu, dimana isu komunis juga disematkan kepada Jokowi sebagai kandidat yang bertarung dalam kontestasi Pilpres. Meskipun popularitas Jokowi tinggi dimata voter, isu komunis yang disematkan terbukti efektif menggerogoti elektabilitasnya; dengan selisih perolehan suara hanya sebesar 6 persen dari rivalnya.

Kebohongan yang terus menerus dipropagandakan, boleh jadi akan diterima publik luas menjadi kebenaran yang lambat laun diterima. Tetapi semua akan sampai pada pemahaman bahwa kebohongan adalah musuh bersama [hum]

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
YPKP 65

Pernyataan Sikap | YPKP 65 Menolak Pelibatan Militer Secara Langsung dalam Revisi UU No.15/2003

amnesty-international

Penuntasan Kasus 65, Prioritas Amnesty Internasional

Related posts
Your comment?
Leave a Reply