Rest in Peace | Soemarsono

241 Viewed Redaksi 0 respond
soemarsono_lelayu

[ Kutoarjo, 22 September 1921 – Sydney, 8 Januari 2019 ]

Soemarsono, pelaku sejarah pertempuran Surabaya 10 November 1945 dan tokoh kunci Madiun Affair 1948 yang lahir di Kutoarjo, Purworejo pada 22 September 1921; akhirnya wafat pada jam 09:20 pagi, di kota yang jadi tempat tinggal terakhirnya; Sydney, Selasa (8-1-2019). Pejuang Revolusi 45 ini meninggal pada usia mendekati 98 tahun, meninggalkan negerinya yang lama dan meninggalkan kita semua.

Selagi masih banyak hal seputar sejarah Indonesia perlu terus dikaji langsung dari sumber utama pelakunya, banyak orang berduka dan merasa kehilangan satu-satunya tokoh utama pertempuran Surabaya paska Kemerdekaan RI 1945; sekaligus tokoh penting terkait peristiwa PKI Madiun 1948. Peristiwa yang membuatnya terseret masuk penjara selama 9 tahun, sebelum kemudian memutuskan menjadi warga negara Australia setelah pembebasannya pada 1974.

Semasa mudanya Soemarsono terlibat aktif dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Mengawali aktivitas politiknya sebagai anggota organisasi buruh perusahaan tambang minyak di era kolonial.

Pada saat pertempuran melawan sekutu di Surabaya November 1945, Soemarsono dikenal sebagai jenderalnya para pemuda saat itu. Bersama Haryo Kecik dan tokoh-tokoh pemuda lainnya dia berjibaku bertaruh nyawa bertempur dengan pasukan sekutu dan Nica.

Pada masa revolusi pula, Soemarsono dilantik sebagai Gubernur Militer daerah Madiun, yang kemudian menyeret namanya sebagai salah satu tokoh Peristiwa Madiun 1948 yang sangat kontroversial itu.

Pada era 1950-an, Ketua Comite Central PKI DN Aidit menjatuhkan sanksi kepadanya karena dianggap sebagai faksi kiri bersenjata yang bisa mengganggu rencana partai menapaki jalan demokrasi parlementer. Sanksi itu berupa penugasan ke Sumatera Utara, di mana dia menjalani hari-hari masa pembuangannya sebagai guru SMP di Pematang Siantar.

“Saya tunduk kepada perintah partai,” kata dia suatu kali kepada saya. (*Bonnie Triyana)

Saat pemberontakan PRRI meletus di Sumatera, jiwa republikennya kembali bergejolak. Soemarsono keluar dari kelas tempatnya mengajar. Mengorganisasi buruh-buruh perkebunan dan merebut gudang senjata milik kelompok pemberontak. Kunci gudang dia pegang. Senjata dibagi-bagikan kepada buruh dan petani guna melawan pemberontak PRRI di bawah pimpinan Kolonel Simbolon.

Usai PRRI, dia tetap mengajar di Pematang Siantar. Kembali menjadi guru sampai kemudian huru-hara terjadi pada Oktober 1965. Dia yang tak lagi aktif di dalam partai terciduk dalam sebuah operasi penangkapan di Jakarta. Ditahan di Rutan Salemba tanpa pernah diadili selama sepuluh tahun lebih. (Bonnie Triyana, 2019)

“Selamat Jalan, Jenderal Soemarsono..”

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
AMIR SJARIFOEDDIN: Menziarahi makam Amir Sjarifoeddin di Karanganyar, Surakarta [Foto: Kostrad Priya]

19 Desember 1948 | Amir Sjarifuddin Dieksekusi Mati

soemarsono_suryaanta

In Memoriam Soemarsono: Tokoh Madiun 1948, Penggagas Hari Pahlawan

Related posts
Your comment?
Leave a Reply