Arsip Koleksi Foto Kamp Kerja Paksa Pulau Buru dan 2 Buku Memoar, Warisan Ingatan Djoko Sri Moeljono

238 Viewed Redaksi 0 respond
Screen Shot 2023-11-10 at 3.02.54 PM

Orbituari Djoko Sri Moeljono

[ 5 Mei 1938 – 3 Mei 2018 ]

Saat masih menjalani penahanan di Banten, pernah ditawari untuk dibebaskan dari tahanan oleh anggota kerabatnya yang menjadi petinggi Orba, namun ia tegas menolaknya.

“kalau mau bebaskan, ya semuanya, jangan cuma saya:, teguhnya

Seri foto #PulauBuru berikut ini merupakan courtesy dari Djoko Sri Moeljono yang ada di arsip KontraS.

disalin dari KontraS

Buku-buku DJOKO SRI MOELJONO yang diterbitkan Ultimus

Penulis buku ini termasuk seorang tapol yang mujur dalam arti memiliki kesempatan menulis buku harian selama beberapa tahun (1966—1971). Ketika itu ia bersama ratusan tapol lain dijadikan romusa modern melakukan kerja rodi di daerah Banten dalam proyek Angkatan Darat yang disebut “Operasi Bhakti Siliwangi”. Kesempatan menulis buku harian merupakan barang langka, bahkan suatu kemewahan bagi seorang tapol G30S.

Harsutejo

Bagi saya, catatan harian, kenangan dalam berbagai bentuk ekspresi yang ditulis para tapol—atau korban kekerasan negara pada umumnya—adalah upaya merebut kembali kemanusiaan yang dirampas oleh penguasa. Dengan menceritakan perjalanan hidup mereka yang kaya dan penuh warna, para tapol memberi wajah dan kehidupan pada ‘nomor baju’ yang kemudian mengikat dan menentukan hidup mereka. Lebih dari itu, mereka juga menceritakan dunia lain yang ikut dihancurkan saat kekuasaan militer merampas kebebasan mereka.

Hilmar Farid

DJOKO SRI MOELJONO lahir 5 Mei 1938 di Banyuwangi, Jawa Timur. Sekolah Dasar (SR), SMP, dan SMA (1957) tamat di Malang. Melanjutkan kuliah di ITB Jurusan Pertambangan (1957–60). Spesialisasi Metalurgi di Moskwa, Uni Soviet (1960), karena proyek baja pertama dibiayai dengan pinjaman Uni Soviet.

Sempat bekerja satu tahun dalam pembangunan proyek baja Cilegon sebelum dijebloskan ke penjara di Serang, kemudian dipekerjakan selama enam tahun dalam rehabilitasi jaringan jalan raya di seluruh Banten. Tahun 1971 diberangkatkan ke Pulau Buru dan bebas tahun 1978. Menikah tahun 1982 dan dianugerahi seorang putri dan seorang putra.

Buku Pembuangan Pulau Buru ini merupakan bagian kedua dari memoar penulis selama menjadi tapol rezim Orba, Oktober 1965 sampai Desember 1978. Bagian pertama terbit dengan judul Banten Seabad Setelah Multatuli(Ultimus, 2013) mengisahkan latar belakang pendidikannya sampai ia ditangkap ketika bekerja di proyek baja Cilegon, Banten, selanjutnya sebagai pekerja paksa yang berakhir ketika kapal yang membawa para tapol mendarat di Namlea, Pulau Buru.

Bagi Djoko Sri Moeljono, hasil penyelidikan Komnas HAM itu sangat berharga untuk mendukung perjuangan para korban dalam mendapatkan hak-haknya. Djoko yang merupakan salah satu korban peristiwa “kudeta gagal” itu mengharapkan agar pemerintah lebih responsif paska dipublikasikannya hasil penyelidikan Komnas HAM. “Kami bukan pelaku. Kami adalah korban”, tegas Djoko yang mengaku sempat mendekam di penjara selama 13 tahun tanpa adanya proses hukum yang jelas.

Menurut Djoko, selama ini peran pemerintah melalui pihak-pihak terkait tidak menunjukan iktikad sungguh-sungguh menanggapi aspirasi dari para korban. Di kalangan masyarakat sendiri, para korban telah terlanjur dicap buruk karena menjadi bagian dari PKI, meskipun mereka tidak ikut berafiliasi dalam gerakan politik tersebut. Para korban, ungkap Djoko, menginginkan adanya permintaan maaf dari pemerintah dan pengakuan bahwa mereka tidak bersalah dalam peristiwa tersebut. Dengan begitu, hak-hak mereka sebagai warga negara yang normal dapat kembali didapatkan, termasuk rehabilitasi nama mereka beserta keturunan mereka di mata masyarakat.

Selama ini, para korban maupun keluarga korban mengalami penderitaan mental (psikologis) secara turun temurun yakni berupa adanya tindakan diskriminasi di bidang hak sipil dan politik, maupun di bidang hak ekonomi, sosial dan budaya.

disalind dari Paska Penyelidikan Komnas HAM; Perjuangan Korban Peristiwa 1965 Masih Panjang- icjr.or.id

Kompilasi Sketsa-sketsa Kisah Dari Kamp Konsentrasi Pulau Buru

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Screen Shot 2023-10-10 at 1.38.03 PM

Seorang Lelaki dan Masa Lalu – Cerpen HM Tarigan Tentang ‘Operasi Kalong’ Pasca G30S

Screen Shot 2023-12-11 at 11.08.16 PM

PARA PEMIMPIN DUNIA HARUS MELAKUKAN INTERVENSI UNTUK MENGHENTIKAN KRISIS KEMANUSIAAN DI GAZA DAN MENEGAKKAN HUKUM INTERNASIONAL – Pernyataan Jaringan Pemenang Gwangju Prize for Human Rights

Related posts
Your comment?
Leave a Reply