Tapol 65 Pahlawan Yang Dihinakan Di Balik Arsitektur Gor Maulana Yusuf Serang, Banten – Ypkp 1965

Arsip foto kerja paksa tapol 1965 di Banten koleksi bapak A.H. Sayuto
Ratusan tahanan politik dari berbagai kota di Banten: Lebak, Pandeglang, Rangkasbitung, Serang, Cilegon, bahkan ada juga Tapol yang didatangkan dari Penjara Kebon Waru kota Bandung. Para Tapol dipekerjakan secara paksa layaknya budak untuk membangun jalan, jembatan, membangun gedung sekolah, membangun Perumahan Bintara di Unyur Serang, membangun Pemandian Air Panas Batukuwung, membangun dan memperbaiki Mushola serta Masjid, membangun Universitas Maulana Yusuf (UNMA), memasang pemancar radio persiapan RRI Serang, membangun irigasi, mengeruk dan membersihkan lumpur Pelabuhan Karang Hantu serta membuka sawah.




Pelabuhan Karangantu Serang Banten – YPKP 1965

RESENSI BUKU: Bisri Muhamad dan Mawar Tanpa Mengapa
Dari Pandeglang ke Pulau Buru menceritakan kisah hidup Bisri Muhamad sejak ditangkap karena dituduh terlibat pembunuhan jenderal dalam peristiwa 30 September 1965.
Setelah itu, hidupnya digiring masuk ke rezim kerja paksa. Di sinilah memoar ini menjadi sangat kaya secara faktual: Bisri mencatat satu per satu proyek yang ia kerjakan sebagai tahanan politik di bawah Korem 064 Maulana Yusuf mulai dari pembangunan Pelabuhan Karangantu, jalan Palima–Cinangka, simpang Cilegon–Anyer–Carita, irigasi Cisata dan Curug Rame, perumahan tentara di Unyur, pariwisata Batukuwung dan Karang Bolong, hingga proyek Sawah Luhur. Semuanya dikerjakan tahanan yang dituduh PKI, tanpa upah, di bawah ancaman, dengan tubuh yang makin kurus dan kulit yang makin gelap tergerogoti lapar dan terbakar sinar matahari.
Memoar Bisri Muhamad: Dari Pandeglang ke Pulau Buru – Menapak Jalan Pembuangan, Menanti Keadilan