Neraka Di Pulau Kemarau

2022 Viewed Redaksi 2 responds
Salah satu titik Kuburan Massal di hutan Regaloh, Pati [Foto: Sri Putjiwati-Radar Kudus]

Kesaksian  Ibu  Murtini aktivis Gerwani Lampung.

 

Murtini ketika membuat kesaksian ini berusia kira-kira 75 tahun. Ia adalah anggota Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia); sebuah organisasi kewanitaan yang disegani baik  di dalam mau pun  luar negeri.

Organisasi ini konsisten perjuangkan hak-hak kaum perempuan, emansipasi wanita. Sebelum  ditahan, ia bekerja sebagai guru di sekolah dasar dan tinggal di Lampung. Tidak jelas apakah ia punya anak atau tidak. Sebagai penghargaan  perjuangannya yang survive  dari maut di Pulau Kemarau, ia diundang untuk mengunjungi Negeri Belanda pada tahun 2001. Undangan ini dirancang  oleh kawan-kawannya yang menetap di Negeri kincir angin itu. Data lengkap mengenai dirinya ada di file Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan  (YPKP65) Pusat, Jl. MH. Thamrin Gg. Mulia 21 Tangerang 15143, Banten.

Ia meninggal dunia pada tahun 2005, dimakamkan di Lampung.

 

Pulau ini terletak di tengah sungai Musi, tepatnya di sebelah hulu Plaju, Sungai Gerong dan Plaju. Tepat di daerah yang namanya kampung Mariana, sungai Musi terbelah menjadi dua, dan sungai mengalir mengelilingi pulau Kemarau. Sungai bertemu kembali di ujung hilir, dan langsung mengalir ke muara  ke laut.

 

Daerah yang namanya Mariana, di mana sungai terbelah menjadi dua itu, dinamakan Simpang Mariana.

 

Sebelum peristiwa 1965/1966 pulau ini ditempati PT Waskita Karya, untuk menimbun besi tua. Di sana terdapat dua bedeng  berukuran 7 X 20 meter, berbentuk huruf L  berdinding papan jarang, berlantai semen kasar, pintunya satu, dan tidak berplafon. Di depan bedeng ada satu rumah kecil, rupanya untuk dapur dan kamar mandi.

 

Setelah peristiwa 1965/1966 bedeng yang tadinya dipakai sebagai tempat tinggal buruh itu dipakai menahan tapol (tahanan politik) yang dituduh menjadi anggota  atau simpatisan PKI (Partai Komunis Indonesia). Kamp itu dijaga oleh Polisi Militer (PM) dan pasukan Angkatan Darat yang baru lulus dari pendidikan. Luas tempat yang digunakan  untuk kamp kira-kira dua atau tiga hektar.

 

Kamp itu dipagari kawat berduri dua lapis, jadi di tengah bisa dipakai jalan penjaga. Tingginya empat meter, dan di dua penjuru berdiri rumah monyet untuk pasukan jaga yang menyandang bedil.

 

Di tengah daerah kamp berdiri pohon ambon tiga buah besar- besar sekali, jadi tempat  itu rindang. Untuk tempat rekreasi memang bagus sekali, apalagi pada malam hari, untuk melihat gemerlapnya  lampu-lampu pabrik di seberang nan jauh di sana  dan gemerlapnya lampu-lampu perahu dan kapal yang lalu lalang hilir mudik di sungai Musi.

 

Itulah gambaran pulau Kemarau beserta Simpang Mariana yang memiliki sejarah dalam peristiwa 1965/1966 bagi kawan yang dituduh  menjadi anggota atau simpatisan  PKI, yang kebetulan dikirim ke sana.

 

Saya dikirim ke Palembang  pada tanggal 1 Februari 1966 dari Lampung, berdua dengan Bung Darwis Bachtiar, anggota CDB PKI Lampung, dan   pada  1 Maret 1966  saya dikirim ke pulau Kemarau  bersama-sama dengan  kawan-kawan  tapol lainnya.

 

Pengiriman kami menurut keterangan kawan-kawan yang terdahulu adalah gelombang ke tiga. Perjalanannya, pertama, dari Detasemen (Palembang) naik mobil menuju pelabuhan yang namanya  Sungai Lais. Dari situ naik kapal sungai menuju pulau Kemarau.  Jumlah kami semuanya sekitar 30 orang, wanitanya saya sendiri, dikawal CPM  yang menyandang bedil (bren). Kira-kira jam tujuh malam kami sampai di kamp pulau Kemarau, langsung diapel. Sesudah itu kami dimasukkan ke dalam  barak  masing-masing.

 

Saya masuk kamp wanita, dan bertemu dengan kawan-kawan wanita  lainnya. Mereka semua berasal dari Palembang, jumlahnya kira-kira 20 orang.

 

Pagi hari kira-kira jam tujuh semua pintu kamp dibuka, dan di situ baru jelas betul yang namanya pulau Kemarau  dan kawan-kawan yang ditahan. Waktu itu kawan  laki-laki yang berasal dari Lampung belum datang.

 

Penjaga kamp ini seorang komandan CPM, pangkatnya letnan, namanya Muis, dan seorang lagi berpangkat kopral, saya lupa namanya. Seminggu sekali mereka bergilir. Kecuali mereka, ada tiga orang lagi CPM yang biasa memimpin kami senam pagi dan menjaga waktu para tahanan dikeluarkan dari bangunan kamp.

 

Agar tidak kelihatan kejam,  mereka menggunakan orang lain, seorang preman sinting yang sosoknya sadis dan kejam.

 

Di dalam kamp itu ada satu kran air, satu bak di kamar mandi, dan sebaris WC bertutup papan, tingginya kira-kira  satu setengah meter. Selesai senam, kawan-kawan tentu pergi ke air. Ada yang cuci muka,  mengambil air untuk dibawa ke dalam dan sebagainya. Mreka berebut. Di samping waktunya terbatas, tempat airnya pun terbatas.Di sinilah Pak Tjik, si preman  sinting itu  berperan. Dengan sabetan  karetnya ia menghajar kami yang sedang berebut air, tanpa kenal ampun, memukulinya, menendang memperlakukan kami bagaikan binatang. Tentu saja kami merasa kesakitan.

 

Selesai memimpin senam, para petugas biasanya kembali ke pos jaga, dan yang bertugas memasukkan para tahanan kembali ke dalam kamp dan mengunci adalah Pak Tjik itu. Di sini kawan-kawan wanita memanggil Pak Tjik, diajak bercanda, hingga ia lupa tugasnya menjaga tahanan. Dengan demikian kawan-kawan tahanan laki-laki bisa  leluasa menggunakan  air. Tentu saja, ini tugas kawan-kawan wanita  yang muda-muda. Setelah jam smbilan, barulah kawan-kawan laki-laki dimasukkan kamp, sampai esoknya lagi, atau sampai jam 12 siang  waktu bagi nasi. Kondisi kawan-kawan waktu itu belun begitu parah, walau menurut kawan-kawan yang datang lebih dulu, sudah banyak juga yang meninggal.

 

Tentang Makan

 

Menurut kawan-kawan yang lebih dulu sampai di sini, para tahanan diberi makan sekali  sehari. Pemasaknya para tahanan juga, dan yang membagikan kami para tahanan wanita. Makan dibagi setelah jam 12. Para tahanan dikeluarkan dari barak, berbaris sap tiga sambil jongkok. Piringnya plastik, cangkirnya juga plastik, kecil. Sayurnya kangkung dicacah, direbus dengan bumbu  garam  saja. Oleh karena jumlah garamnya cuma sedikit, sayur tersebut  tidak berasa apa-apa.

 

Tanah di sana pasir, dan angin kencang sekali. Jadi, waktu mendapat jatah, kawan-kawan harus kencang memegang piring dan cangkirnya. Kalau tidak, piring dan nasi bisa terbang dan tumpah. Karena kondisi kawan-kawan itu  sudah lemah, terjadi juga ada yang tumpah nasinya. Terpaksa nasi dipunguti  beserta pasirnya, nanti di dalam kamp  nasi tumpahan tadi dirumbang dan makannya sebutir-sebutir. Kami sebagai pembagi nasi sebetulnya bermaksud menggantinya, tetapi dilarang oleh Pak Cik si preman bengis itu.. Mending kalau nasinya banyak, paling kalau disendok cuma  tiga sendok. Kami sendiri, sebagai pembagi hanya dapat kelebihan sedikit. Untung kami terbantu oleh kawan  yang dipekerjakan di asrama prajurit. Sisa-sisa nasi yang tidak habis mereka makan  dikumpulkan dan  boleh dibawa masuk.

 

Semua itu hanya sementara. Masuk bulan Mei, jatah diganti dengan jagung 25 butir  untuk setiap  orang. Memang sudah ada berita dari pasukan penjaga. Mereka meneriakkan kata-kata:  “  Ketentuan nasib ibu-ibu ini nanti di bulan  Juni.” Kami semua bertanya-tanya, akan ada apa nanti.  Apakah akan ada komando Presiden Sukarno?

 

Pembantaian Massal

 

Tepat tanggal 1 Juni 1966 rupanya benar-benar ketentuan  nasib kami tiba. Pagi itu semua sel kami dikunci, tanpa kecuali laki-laki atau wanita, kecuali kamar yang ada anak-anaknya. Memang ada satu wanita yang boleh tinggal di luar untuk melayani kepentingan anak-anak dan membawa air untuk kami para wanita.

 

Barak kawan-kawan laki-laki ditutup sama sekali. Tidak ada yang boleh menolong mereka. Kalau ketahuan ada yang menolong, misalnya memberi mereka air, hukumannya berat. Tahu sendiri, apa macam hukuman itu, tendangan, pukulan, disuruh push up sampai pingsan merupakan ganjaran bagi yang ketahuan menolong para tapol.

 

Setelah tiga hari tiga malam dikurung, pintu barak kami dibuka. Bayangkanlah, tiga hari tiga malam tidak makan tidak minum! Ketemu air tentunya kawan-kawan ingin minum sepuasnya. Tapi, bayangkanlah, perut kosong  cuma diisi air!

 

Memang lama juga kami dikeluarkan, kira-kira dua jam, kemudian kami dimasukkan lagi ke  barak yang mirip kandang kambing itu. Setelah tiga hari tiga malam, kami dikeluarkan lagi. Di situlah  kelihatan kawan-kawan laki-laki kondisinya  sangat menurun. Dan mulailah kawan-kawan itu berguguran, mulai dari 5 orang, 15  orang sampai  20 orang  meninggal dalam semalam. Bentuk kawan-kawan itu pun sudah seperti jerangkong, tengkorak,  mayat hidup.

 

Kira-kira bulan April-Mei 1966, berdatangan lagi rombongan tahanan dari daerah-daerah lain seperti Lampung. Di situlah saya  melihat dan mengenali sebagian dari mereka yang seasal dengan saya itu. Disusul dengan kawan-kawan dari Bengkulu, Jambi, Bangka dan Belitung. Kawan-kawan dari Bangka dan Belitung banyak yang datang suami istri, bahkan ada yang membawa anak.

 

Mungkin nasib baik kami  bagi  para tahanan wanita ketika itu, karena seorang wakil kamp ada juga yang sedikit memiliki rasa perikemanusiaan. Ceritanya begini: Sesudah jam delapan malam  selesai penguburan mayat, kami dikirimi sepotong singkong rebus, kira-kira sebesar tangan anak kecil dan air untuk diminum. Dan anak-anak dapat jatah  sehari sekali, kira-kira sebesar kepalan  tangan. Menurut keterangan kawan yang dinas di pos, singkong itu didapat  dari menangkap perahu-perahu  yang lewat dekat  tempat tahanan. Apa saja yang diminta, diberikan kepada kami, terkadang juga pisang rebus. Tapi, ya itulah,  kalau pisang tidak lebih dari satu biji.

 

Rupanya memang sudah menjadi rencana  penguasa militer di kamp tersebut.  Tepat pada 1 Juni 1966, tahanan di kamp pulau Kemarau tidak dikasih makan. Apa itu hanya berlaku  di  pulau Kemarau  saja ataukah  berlaku juga di tempat kamp-kamp yang lain? Saya tidak tahu. Padahal di pulau Kemarau tidak ada bezoekan sama sekali. Kiriman makanan dari keluarga sama sekali tidak ada, dan dilarang. Apalagi bertemu dengan sanak saudara atau pun keluarga, tidak diijinkan. Kalau pun ada, kiriman makanan dari keluarga tidak disampaikan ke alamat yang dituju melainkan dimakan oleh petugas jaga. Ini berlaku sampai satu tahun, tahun 1967.

 

Penguburan

 

Seperti telah saya katakan, setelah ditutup tiga hari tiga malam, pintu dibuka, kawan-kawan masih bisa berjalan, tetapi kedua kakinya lemas, tidak kuat menyangga tubuhnya. Mulailah kawan-kawan jatuh berguguran. Mula-mula lima orang,  terus sampai mencapai dua puluh orang.

 

Yang mengurus kawan-kawan yang  meninggal, ya kawan-kawan  yang masih hidup, yang badannya pun sudah bagaikan tengkorak dan tidak punya tenaga lagi. Caranya: mayat kawan-kawan itu ditumpuk menjadi satu, dibungkus karung, disusun selang seling kepala dengan kaki, dan diikat kedua ujungnya dan bagian tangannya, lalu diangkat, dibawa ke luar kamp, ke tepi sungai. Di sana dibanduli besi, kemudian dinaikkan ke motorboat. Bunyi mesin motor boat itu, “ jung, jung, jung, jung “, begitulah kawan-kawan yang telah mendahului kami  itu menuju ke suatu  tempat yang dinamakan  Simpang Mariana. Di sana mereka dibuang, dan jatuh ke dasar sungai Musi.

 

Jadi, yang mengurus kawan-kawan yang meninggal itu  kondisinya  sudah lemah juga, tapi apa boleh buat, orang dipaksa. Petugas mengatakan: “ Itu kan kawan-kawan kamu sendiri. Harus setia kawan, dong!” Ini betul-betul terjadi, malam ini mereka  ngurusi kawan, besok malamnya  mereka sendiri yang meninggal.

 

Itu terjadi kira-kira satu bulan, dan untuk selanjutnya sisanya dibunuh  dengan cara dipukuli kepalanya. Caranya: kira-kira jam delapan malam petugas bersama dua orang algojonya  masuk ke barak tahanan  laki-laki. Diam-diam. Tapi, bagaimana pun  masih terdengar suara  pintu dibuka, kemudian suara kaki berjalan  “ sret, sret,  sret,” Karena barak tidak berlampu, mereka para algojo  mencari-cari dengan menggunakan lampu senter. Para tahanan itu disoroti satu – satu. Kalau sudah ketemu orang yang dicari, ditunjuk, dan diawe dengan jari, disuruh bangun. Kalau sudah tidak bisa bangun, diangkat dan diseret ke luar  sampai ke pinggiran kali. Di sana, menurut keterangan kawan yang kerja di pos, ada satu tempat seperti pos kecil yang digunakan sebagai tempat untuk menyiksa dan membunuh. Hanya kurang jelas, bagaimana cara membunuhnya, diikat dulu, baru dibunuhnya, atau bagaimana. Yang pasti, kepalanya dipukul dari belakang dengan menggunakan  sepotong  besi. Ini dilakukan tiap malam, tidak kurang dari tiga orang diambil dan dibunuh.

 

Di antara tahanan wanita ada dua orang yang dibunuh  dengan pukulan besi itu. Satu namanya  ialah ibu Ani  asal dari kampung  Kali Doni, Palembang, dan yang lainnya ialah  Napsiah dari Bangka, mereka adalah anggota Pemuda rakyat. Kisahnya, begini: Napsiah itu anak dari keluarga tidak punya, ingin maju. Untuk bersekolah, orang tuanya tidak mampu, maka ia masuk Pemuda Rakyat, agar supaya bisa bersekolah. Baru beberapa bulan,  terjadilah peristiwa 1965, dan ia ditahan, dan dikirim ke pulau Kemarau. Menurut keterangan kawan-kawan, ia dibunuh karena pemberani. Ia biasa mendekati petugas jaga di pagar kawat berduri, minta sesuatu. Ia pun pandai melukis. Oleh petugas ia ditanya, “ Bisa tidak kau melukis kamp ini?” Napsiah menjawab dengan beraninya,”Bisa” Maklum masih anak-anak, belum bisa menyimpan  rahasia, bicara apa adanya tanpa memperhitungkan dampak dari jawabannya itu. Pikirnya, dengan melukis kamp, ia akan memperoleh imbalan, bisa untuk makan. Rupanya oleh petugas ia dianggap berbahaya. Kalau masih hidup, ia bisa melukis pulau Kemarau dengan segala isinya, dengan segala siksaan  yang sengaja oleh aparat militer dirahasiakan. Itulah berita yang kami dengar.

 

Napsiah berbadan kecil mungil,cantik, rambutnya panjang keriting seperti mayang mengurai. Waktu ia diambil, sudah beberapa hari kawan-kawan  kaki-laki tidak diambil lagi untuk dibunuh. Jadi, kami tidak mengira bahwa wanita pun ada yang harus dibunuh. Waktu ia dipanggil, dikatakan ke padanya, ia akan dipindah ke Detasemen di Palembang. Jam sepuluh malam, pasukan penjaga di belakang  berteriak: “ Hei, jangan enak-enak kamu orang. Kawan kamu orang itu sudah di Simpang Mariana!” Kami semua terkejut. Kalau begitu ibu Ani dan Napsiah itu dibunuh. Kami semua menangis, apalagi kawan-kawan dari pulau Bangka.

 

Setelah pembantaian  yang dimulai tanggal  sejak 1 Juni  1966 itu, jumlah tahanan kawan-kawan  laki-laki  tinggal beberapa orang saja. Kemudian didatangkan lagi tahanan yang lain dari Palembang. Tahanan baru diperlakukan secara  baru. Mereka tidak diperiksa, tetapi langsung dikirim ke pulau Kemarau. Dan sejak  itu, tahanan tidak diberi makan, tapi pintu barak dibuka. Jadi,  para tahanan politik bisa berkeliaran  di dalam kamp.

 

Lalu, bagaimana mereka bisa bertahan hidup?. Tahanan yang dipercayai dan dianggap tidak berbahaya, boleh dipekerjakan di luar barak. Jumlahnya hanya dua orang. Mereka kerja apa saja: membantu, mencuci pakaian petugas,  merumput/menyiangi rumput di sawah, mencangkul atau  apa saja yang dibutuhkan oleh para petugas. Sebagai imbalannya, mereka diberi makan kenyang, ditambah tembakau.

 

Wanita boleh ikut, satu orang untuk membantu pekerjaan kawan-kawan  laki-laki. Sebagai imbalan, juga dapat makan kenyang. Pukul setengah empat kami diistirahatkan selama satu setengah  jam. Waktu istirahat itu  kami gunakan untuk mencari  makanan apa saja  yang bisa dimakan: daun-daunan,  keladi gatal, umbi-umbian, singkong, jeruk asam apa saja untuk oleh-oleh  kawan-kawan yang di dalam.

 

Sampai di dalam kamp, barang-barang itu dibagi masing-masing kelompok. Ada warung kecil  yang menjual kebutuhan hidup sehari-hari  dan makanan terletak di luar barak. Ini rupanya diperuntukkan para petugas jaga, yang sewaktu-waktu dapat membeli makanan di warung itu. Kami pesan, kalau ada kulit pisang, kulit singkong, kulit ubi, ampas kelapa, gagang bayam, gagang kangkung, daun singkong tua, daun pepaya tua yang dibuang, dan apa saja yang kira-kira bisa dimakan, supaya dikumpulkan untuk kami. Sore harinya sepulang dari kerja di luar barak, saya menghampiri warung untuk mengambil sisa-sisa  makanan yang saya pesan.  Hasilnya, sungguh dapat untuk bertahan hidup.

 

Dengan cara itulah kami bisa bertahan hidup sampai akhir 1967. Padahal, keladi gatal itu, biar sudah dimasak sampai lama sekali pun, tetap saja keladi itu tetap gatal. Rasanya memang manis, tapi selesai makan , mulut kita gatal sekali. Obatnya ialah garam, atau jeruk asam.

 

Pernah ada bangkai kambing terdampar di pinggir pantai dekat tempat kami bekerja.  Tidak kami sia-siakan, daging bangkai itu saya masak, saya rebus dengan garam. Bagaimana rasanya? Ya, begitu  itulah. Apa boleh buat, terpaksa, perut kosong minta diisi, barang isian tidak ada. Beruntunglah kalau kawan dapat ular atau pun belut atau pun keong.

 

Kira-kira pertengahan tahun 1967 mulai ada kawan yang dibon (diambil untuk dipinjam layaknya sebuah  barang, tapi sering kali orang yang di bon itu tidak pulang lagi, karena dibunuh atau pun mati disiksa).  Menurut berita, ada beberapa  kawan yang dibebaskan  terutama bagi tahanan yang diklasifikasikan Golongan C ( Golongan simpatisan  yang tidak tahu apa-apa dalam peristiwa 1965).

Sampai akhir tahun 1967 tahanan politik  laki-laki yang ada di pulau Kemarau dan sisa-sisa yang di bon ke Detasemen Palembang tinggal tiga orang, juga wanitanya tinggal tiga orang. Kami senang sekali, karena dengan jumlah  yang sedikit itu kami dapat  lebih ringan dalam bertahan untuk hidup. Di samping saya sendiri, yang masih tinggal di kamp pulau Kemarau ialah mBak Kholifah dengan anak lelakinya yang masih berumur 2 tahun dari Palembang dan  Maryamah dari Muara Enim.

 

Pada suatu hari, akhir 1967, kami para tahanan wanita  di bon ke Detasemen  di Palembang. Ketika di Detasemen, saya melihat ada beberapa kawan  laki-laki  yang akan dikirim lagi ke pulau Kemarau sebanyak tigabelas orang berasal dari Lampung. Di antara kawan-kawan yang saya kenal ialah  Bung Pane,  Bung Ashari S,  dan Bung  Darwis Bachtiar. Yang lainnya, saya tidak kenal.

 

Dari Detasemen, sebagian dari kami golongan C  dibebaskan,  sisanya  dikenai tahanan rumah. Mereka yang mempunyai keluarga dijemput keluarganya,  yang tidak punya keluarga diambil bapak-bapak CPM  untuk menjadi pembantu di rumahnya. Saya sendiri, karena keluarga tidak mengurus, diambil oleh bapak CPM yang namanya Mardin, orang Lahat, tinggal di kampung  Tanggo Buntung, pangkatnya Peltu. Saya bekerja di rumahnya sebagai pembantu selama dua tahun.

 

Tahun 1970 semua yang dikenai tahanan rumah diambil dan ditahan kembali, tetapi tidak lagi dikirim ke pulau Kemarau, hanya  ke Detasemen  Palembang sampai adanya pembebasan massal pada tahun 1979. Di situlah saya tahu, bahwa tiga belas orang  dari Lampung, termasuk kawan-kawan dari  CDB  yang dikirim  ke pulau Kemarau  dahulu pada  akhir 1967; semuanya meninggal dunia.

 

Itulah kisah Neraka di Pulau Kemarau yang kami beri nama Pulau Maut di mana kami tinggal  dari tahun 1966 sampai 1967. Kalau Suharto dengan Orde  Baru nya mengatakan “tumpas habis sampai ke akar-akarnya,” barangkali benar apa yang terjadi di pulau itu.

 

Tangerang 6 Juli 2008.

Keterangan: Bu Murtini telah meninggal dunia pada tahun 2005, dimakamkan di Lampung. Menurut keterangan yang diperoleh kawan-kawan jaringan YPKP 65/66 Lampung. Beliau sempat diundang ke negeri Belanda atas undangan kawan-kawan Korban 65 yang bermukim di negeri tersebut untuk memberikan testimoni tentang kekejaman rejim Suharto. [BU]

 

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Sulastri dan Politik Stigma Warisan OrBa

Indonesian Killing Field: The Problem of Exhumation is There Still a Space ?

Related posts
2 Responses to “Neraka Di Pulau Kemarau”
  1. # Desember 21, 2017 at 6:56 pm

    Hai. Tida sengaja saya bisa ke blog ini, ternyata postingannya cukup informatif dan banyak
    artikel-artikel yang sangatlah bermanfaat. Mohon Izin ikut bookmark dan sharing beberapa tulisan ke social media
    saya ya sekalian biar blog iini tambnah populer. Mudah mudahan selalu di tambahkan artikel baru terus ya blognya.Sukses
    Selalu

    My blog post blog indonesia (blogjamtangan.bravesites.com)

Leave a Reply