Proses pengambilan gambar yang dilakukan pada Sabtu (23/11) oleh 6 mahasiswa jurnalistik dari Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Gading Serpong di kantor YPKP 65 [Foto: BU)
- Dokumenter Kisah Tapol dan Penyintas Genosida 1965
Tangerang – Kisah para penyintas dan sejarah kejahatan Genosida 1965 rupanya selalu menjadi tema yang menarik perhatian kalangan muda terdidik, justru karena dalam konteks Indonesia, materi sejarah kelam masa lalu ini belum sepenuhnya dibuka seterang-terangnya.
Narasi tunggal atas peristiwa itu berujung pada anggapan bahwa persoalan sejarah 1965 telah final. Tak kurang, Menteri Pertahanan menegaskan kembali finalisasi sejarah versi Orba Soeharto itu dengan mengintervensi kalangan pendidik. Prabowo Subianto ini meminta agar kepada kaum muda terdidik terus-menerus disampaikan kekejaman PKI dalam sejarah politik kepartaiannya.
PKI yang kemudian dilarang, telah dituduh menjadi pemberontak negara dan pelaku tunggal kudeta melalui G30S pada permulaan Oktober 1965. Partai ini menjadi sasaran tunggal yang harus menanggung resiko semua malapetaka itu. Tetapi benarkah demikian?
Pasca Gestok 1965, beberapa elit partai dimahmilubkan dan dieksekusi. Akan tetapi di luar mahkamah pengadilan, terjadilah kejahatan genosida yang meluas dan terjadi di seluruh daerah Indonesia: suatu kejahatan genosida yang terus ditutup-tutupi kejadiannya. Sedangkan terhadap para pengurus, anggota dan simpatisan partai ini pun dilakukan perburuan, penyiksaan, pembunuhan, pemenjaraan, pengasingan, perampasan dan praktik kerjapaksa secara semena-mena.
Sulit diterima
Pelibatan negara asing dan propaganda kebohongan untuk menyokong dan melegitimasi operasi militer besar-besaran bagi pembasmian orang-orang PKI dan pendukung Soekarno, makin menguatkan fakta terjadinya kejahatan Genosida 1965 yang dilakukan negara di masa lalu.
Fakta-fakta dan temuan bukti baru pun telah didapatkan dari berbagai penelitian. Sehingga, menganggap selesai persoalan sejarah bangsa 1965-66 dan tahun-tahun setelahnya, sebagaimana dikemukakan beberapa kalangan termasuk pejabat Menhan baru-baru ini; sungguh sulit diterima nalar sehat.
Sejarah punya alur dan cara bertuturnya sendiri. Rupanya hal-hal yang hanya sejalan dengan narasi fasisme Orba tapi tak sejalan dengan nalar sehat – karena sarat kebohongan- seperti inilah yang mendorong kalangan muda terdidik tak tinggal diam saja di kampusnya.
![Tim 'Film-Maker' yang terdiri dari 6 mahasiswa jurnalistik dari Universitas Multimedia Nusantara (UMN) tengah berkunjung ke kantor YPKP 65 Pusat [Foto: BU]](http://ypkp1965.org/wp-content/uploads/2019/11/191124_doc1a-300x197.jpg)
Di Tangerang sendiri, pada masa lalu pernah menjadi kamp konsentrasi Tapol 1965 dan terhadap semua tahanan politik rezim Orba ini dikenai kewajiban kerjapaksa. Hingga menimbulkan jatuhnya banyak korban, baik karena siksaan, penyakit maupun yang diakibatkan oleh kelaparan.
Testimoni kalangan korban yang mengalami langsung semua kekejian rejim Orba masa lalu itu akan menjadi narasi yang melawan finalisasi sejarah yang dibangun tak lain untuk tujuan melanggengkan impunitas para pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan. [hum]