Jembatan Bacem : “…. Merah Bengawan Solo Mengalir Sampai Jauh Akhirnya ke Laut”
Berada di atas jembatan Kali Bacem teringat ribuan jenasah orang-orang yang dilarungkan di kali ini. Ya, orang-orang yang dituduh sebagai anggota Partai Komunis Indonesia dan pendukung Presiden Soekarno. Mereka tidak tahu kesalahan apa yang ia tuduhkan, tanpa proses hukum, dibunuh, ditembak, dibuang di kali ini. Ribuan bahkan puluhan ribu tahanan politik yang disekap di kamp-kamp penyiksaan di kota Solo dan Sukoharjo setelah mengalami penyiksaan dan mati karena kelaparan maupun kesakitan.
Pengakuan Pak Martono seorang tahanan politik di kota Solo yang ditugasi membuang mayat dalam wawancara dengan Bedjo Untung sebelum ia wafat pada 25 Mei 2021 dalam usia 83 tahun serta kesaksiannya di hadapan Pengadilan Rakyat Tragedi 1965 Den Haag (International People’s Tribunal) pada 10-13 November 2015 yang diketuai oleh Hakim Zaak Jacoob dari Afrika Selatan, mengungkapkan:
“Tiap malam saya membuang mayat paling sedikit 2-3 mayat. Kalau malam minggu bisa sampai 20 mayat. Dan, hari Minggu bisa mencapai 25 mayat. Ini saya lakukan selama 2 tahun (tahun 1968 – 1970).”
“Silakan hitung sendiri ….., bisa mencapai paling sedikit 6.200 mayat yang telah saya larungkan di sungai Bengawan Solo di Jembatan Bacem ini”
Tak mengherankan, bila ketika itu tiap hari di kali Bengawan Solo ada pemandangan menjijikkan, bangkai manusia mengapung terkadang tersangkut pokok kayu atau pun sampah, menjadikan orang muntah dan tidak berani makan ikan selama berbulan-bulan.
Jembatan Kali Bacem yang membentang di atas sungai Bengawan Solo yang menghubungkan kota Solo dan Sukoharjo adalah saksi bisu tragedi genosida 1965 di kota Solo dan sekitarnya.
Menurut kesaksian Pak Bardjo mantan tahanan politik yang pernah ditahan di kamp-kamp penahanan di kota Solo, Sasono Mulyo di Keraton Solo, ia menuturkan pengalamannya yang lolos dari maut ketika akan dieksekusi di atas jembatan Bacem ini. Ketika itu, di malam hari ia bersama teman-teman tahanan dibon, diambil dari tempat penahanan. Tahanan diikat di bagian kaki, tangan dan dada di atas papan berukuran badan, dilemparkan ke atas truk, ditumpuk menjadi satu, termasuk dirinya. Ternyata tumpukan tahanan dalam keadaan diikat itu diangkut menuju jembatan Bacem. Satu per satu tahanan diturunkan dalam keadaan diikat, disandarkan pada tiang besi jembatan untuk menunggu dieksekusi.
Berondongan peluru menembus dada dan kepala para tahanan dan terjatuh ke bawah sungai.
Sementara itu, Pak Bardjo menyadari maut akan menimpa dirinya, mencoba berbuat sesuatu, menggerak-gerakkan kepala bagian belakang, memukul-mukulkan ke papan, menggerakkan kaki serta badannya sekuat tenaga yang tersisa. Berhasil. Ia terjatuh terjun ke sungai bersama papan pengikatnya dan hanyut. Ia lolos dari maut di Jembatan Bacem sebelum peluru menembus dirinya.
Beberapa hari kemudian Pak Bardjo tertangkap juga dan dibuang ke Pulau Nusakambangan dan Pulau Buru jalani kerja paksa mirip perbudakan selama 13 tahun (1966 – 1979) tanpa jalani proses hukum.
Jumlah tahanan yang dilarung di Jembatan Kali Bacem ini selain 6.200 mayat yang dibuang oleh Pak Martono sang pembuang mayat, juga ada keterangan dari seorang saksi mata, seorang tapol juga yang menyaksikan 71 orang tapol hilang/tidak kembali lagi setelah di malam hari diambil oleh tentara dari lokasi penahanan di Sasono Mulyo di dalam komplek Keraton Surakarta.
Mengenang korban tragedi 1965 yang dibuang di Jembatan Bacem ini, sesungguhnya adalah bagian dari upaya melawan lupa dan usaha pengungkapan kebenaran, membongkar kebohongan, dan melawan kekejian karena sampai hari ini setelah 56 tahun berlalu, belum ada upaya dari Negara untuk mempertanggungjawabkan keterlibatannya dalam kejahatan kemanusiaan, membunuh, menyiksa dan menghilangkan nyawa warganegaranya tanpa diketahui kesalahannya dan tanpa menjalani proses hukum.
Sekelompok Korban yang orang tuanya, saudaranya maupun kerabatnya dilarungkan di Bengawan Solo jembatan Bacem ini secara rutin lakukan “Nyadran” mengirim Doa terbaik untuk para korban dan menaburkan bunga. Tak terkecuali sepasang muda-mudi Martin Aleida pengarang, penulis kenamaan bersama sang istri menundukkan kepala, mengheningkan cipta untuk mengenang sang mertua (ayah dari istri) yang diyakini dilarung di bengawan ini. Kisah ini bisa dibaca dalam Cerpen Martin Aleida yang berjudul Malam Kelabu dan dikutip John Roosa dalam bukunya “Buried Histories.”




Your comment?