NYAWAMU TERBENAM DI KALI BACEM oleh EDDY J SOETOPO (Cerpen Bagian Pertama)

1326 Viewed Redaksi 0 respond

Senja menggantung diujung atas jembatan Bacem di pinggir selatan pilar baja reot. Matanya terkubur sembab tergenangi airmata di pelupuk Irina Shekivara, cucu satu-satunya, Prasasti Maeswaty, dari pernikahannya ketika ia memperoleh beasiswa kuliah di Soviet. Kedatangan Shekivara ke negeri buyutnya bukan tanpa alasan. Ia ingin melihat gundukan tanah, saat kakèknya, Kastam, diterjang pelor di atas jembatan Bacem, Sukohardjo tatkala negri mbah buyutnya dilanda virus tumpes kelor bagi pengikut partai peninggalan Lenin.

 

Mulutnya komat-kamit melantunkan doa tanpa kata memakai bahasa leluhurnya di Rusia. Berulangkali ia wira-wiri berjalan di rerimbunan pohon Ficus benjamina, yang kini menjadi lambang partai penguasa sembari membawa scop tentara buatan pabrik senjata Kalasnikov. Sesekali scop ia ayunkan mengacak-acak gundukan tanah di sekitar bawah pohon tua itu dan menanyakan pada penduduk desa yang menjadi saksi bisu waktu itu sebagai jurubicara.

 

“Apakah bapak tahu kejadian saat itu,” tanya Irina Shekivara, pada salah satu sopir truk pembawa tahanan yang akan dieksekusi di atas jembatan Bacem, “selain di daerah ini dibawa kemanakah orang2 tahanan yang meninggal dikuburkan.” Sebagai peneliti di bidang kedokteran forensik, Irina Shekivara tak mempedulikan cucuran keringat yang menetes bercampur airmatanya menelusuri gundukan tanah terpendam serasah daun wira-wiri di sepanjang pinggiran kali Bacem. Ia bertekat untuk mencari kuburan orang yang tak bersalah dihabisi rezim di masalalu lantaran dicap sebagai pengikut paham komunis dari negeri yang ia tinggali saat ini di Moscow.

 

Sambil sesekali ia layangkan skop bergerigi multifungsi agar bukti akurat dapat diperolehnya dari sisa waktu puluhan tahun lalu. Sebagai seorang putri dari, Prasisti Maeswaty, ibunya yang dulu memperoleh beasiswa langsung dari Soekarno mengecap pendidikan di Universitas Patrice Lumumba di Soviet, Irina tak mau gegabah membuat kekeliruan, menyandang gelar nama besar ibunya. “Saya harus membuktikan nama besar ibu untuk mengungkap pembunuhan massal di negri nenek-buyut yang dipimpin pencetus Nasakom dulu,” ujarnya dalam hati sembari sesenggukan dipinggir gundukan tanah kuburan tertutup pohon Gendhulak- Gendhulik.

 

Crack! Bunyi skop baja buatan pabrik senjata Kalasnikov menghantam batu yang terdapat dalam gundukan tanah, hingga memuncratkan percikan bunga api tak membuatnya terkejut. Ia ambil batu penghalang menggunakan tangan terbungkus sarung dan mengamatinya dengan seksama lewat kaca pembesar. Disapunya menggunakan kwuas, laiknya kerja seorang antropolog kedokteran forensik, agar telihat goretan yang lekat menempel di atas bebatuan penutup itu. Batu yang terkubur dalam gundukan tanah di samping labirin Kali Bacem, diangkatnya perlahan dan diketakkan tak jauh dari pohon randu alas disampingnya. Dikorek-koreknya batu itu dengan hati-hati. Ia menghitung batu yang ditemukan itu berkali-kali, Irina menemukan lagi tiga batu yang menindih sempalan papan bercampur serasah daun dan lempung menggunakan skop dengan hati-hati. Diambilnya ember plastik yang dibelinya di pasar kemarin hari dan mengisinya dengan air berwarna kecoklatan dari kali Bacem tak jauh dari bekas gundukan tanah.

 

Tak terasa Irina hampir seharian berada ditempat itu melakukan pekerjaan sama, mencangkul menggunakan scop, mengkorek dan membilas batu dan spesimen apa saja yang ditemukan dalam gundukan tanah kubur. Ditemani Wasis Wicoro, 78 tahun usianya, ia setiap hari berusaha menenangkan kakek renta itu dengan sabar. Irinia mempercayai Wasis, lantaran ia juga salah satu korban yang selamat tidak jadi dieksekusi waktu itu. Selain Wasis dinilai sebagai salah satu yang memahami peta lokasi kuburan korban 65. Tidak hanya itu, menurut cerita yang diperolehnya sebelum ke Indonesia, Wasis juga menjadi sopir truk pengangkut korban dan dipaksa mengubur mayat tahanan kala itu.

 

Selain di kuburkan di daerah pinggiran kali Bacem Solo, tanya Irina pada Wasis menggunakan bahasa Rusia, “dimana lagi tempat yang dijadikan kuburan tahanan waktu itu.” Petunjuk yang disampaikan Wasis direkamnya dan digambar dengan detail. “Besok bapa datang ke sini lagi. Saya ingin memperoleh gambaran dan bukti kalau kakèk buyut mungkin dikuburkan di sini. Bapa tidak perlu takut, sekarang ini,” kata Irina menenangkan Wasis Wicoro dengan aksen bahasa Rusia

 

Tigabelas gundukan tanah liat yang telah digali Irina membuatnya bergidik membayangkan kejadian masalalu. Bagaimana tidak buluroma Irina Shekivara berdiri bila melihat batok kepala yang terpendam dalam kuburan itu hamper semuanya berlubang. Bisa jadi pelor yang dimuntahkan dari pucuk senjata kaliber besar mampu menerobos kepala hingga belubang. Uliran anak pelor, seperti dipelajarinya, tentu bukan buatan negri Soviet yang mampu menembus tulang kepala khas bidikan dari AK-47. Ada yang menembus dari belakang hingga lobang mata lebih dari tiga belas batok kepala.

 

Mata Irina Shekivara nanar saat mengangkat retakan batok kepala korban satu-per- satu dan memindahkannya ke tempat yang agak kering di bawah pohon randu alas.

 

Sebagai mahasiswi kedokteran forensik menyabet gelar Doctor of Science, tentu sangat mudah membedakan reretakan tulang penutup otak membedakan kerusakan yang terjadi. Meski demikian Irina Shekivara, tetap melakukannya dengan sangat teliti. Disimaknya dengan seksama dalam waktu tak terlalu lama, ia dapati bekas lobang di batok kepala itu.

 

“Bagaimana mungkin saya bisa mempercayainya, ada militer menembak orang tak bersalah dan dicap sebagai pengikut komunis dari negri Rusia, kalau yang digunakan menembak menggunakan senapan laras panjang buatan Soviet. Saya yakin itu pasti buatan Amerika,” katanya pada Wasis yang berada di sebelahnya ikut membersihkan batok kepala sambil menangis sesenggukan.

 

Diambilnya keretek cerutu lintingan terbuat dari kulit buah jagung dan diberikan pada Wasis, sembari mengucapkan dengan santun, tetap menggunakan bahasa Rusia, “isaplah certutu ini bapak. Rokok cerutu seperti ini yang sering dihisap pembesar negeri mbah buyutku dulu hingga mati.”

 

“Terima kasih madame Irina atas kebaikanmu. Apakah besok kita akan pergi mecari tempat kuburan lain di luar kali Bacem ini. Masih banyak tempat tidak hanya di pinggir jembatan. Ada yang dikubur di ‘pulau’ di pinggir kampung Sewu sebelah utara. Kalau mau saya akan ikut menyelesaikan pekerjaan madame Irina Shekivara,” ujar Wasis Wicoro sembari mengeluarkan asap kretek cerutu pemberian Irina.

 

Tidaklah mengherankan bila Irina Shekivara, didaftarkan ibunya Prasasti Maeswaty melanjutkan pendidikan kedokteran forensik di Institute for Medicine yang didirikan pada 1964 di Rusia. Ibunya mewanti-wanti agar dirinya meneruskan perjuangan mengungkap penyebab genosida pada sesama penduduk negri yang tak berdosa di negeri leluhurnya Indonesia. Surat wasiat ibunya itulah yang membuat dirinya gigih ngotot mengungkapkan tokoh central memerintahkan tentara ‘tumpes kelor’. “Saya sekolahkan kamu di universitas kedokteran agar kamu bisa meluruskan dan mengungkap perintah memenjarakan dan membantai ‘tumpes kelor’ keluarga penduduk desa yang tak bersalah dan tidak tahu apa-apa,” tulis Prasasti Maeswaty,“bersaksilah di negri Belanda nanti, nduk.”

 

Diambilnya saputangan hitam berlambang bintang merah dari celana gunung yang dikenakan untuk menghapus keringat menetes menutup mripatnya sambal mengibas-ibaskan ‘kacu’ pemberian ibunya, ia bertanya pada Wasis, “apakah bapak ingin terus membantu saya sebagai kawan senasib unruk mengungkap kejahatan yang pernah bapak alami? Kalau bapak menyerah, tidak masalah, saya akan terus melakukan pencarian sendiri kubur kakek buyut saya Kastam.”

 

Mendengar pertanyaan itu, Wasis Wicoro bergeming dan menjawab dengan mantab akan tetap mengikuti perjalanan Irina sampai tuntas kemanapun. “Saya bukan pengecut dan takut mati madame. Hidup saya tinggal selangkah lagi untuk membuka tabir gelap orang yang memerintah membumikan kawan-kawan sewaktu di sel penjara,” ujar Wasis sembari mengepalkan tinjunya, “bagaimana kalau besok pergi ke daerah di lereng gunung sebelah tenggara Tawangmangu. Seingat saya dulu pernah bawa ‘bandeng’ –istilah mayat kurban pembunuhan 65 ditumpuk seperti ikan– dan dikuburkan disana.”

 

Jam dinding di penginapan sederhana dekat terminal Tirtonadi menunjuk angka 21.15 waktu Rusia. Disodorkannya 500 rubel lembar pada Wasis Wicoro untuk mencari penginapan mewah di sekitar stanplat dan makan malam di sekitar stasiun.

 

“Bapa ini ada sangu buat cari makan dan tinggal di hotel mewah dekat stasiun.

Tidak apa-apa terima saja. Saya tak mencoba penginapan sederhana, bapa tenang

saya aman,” kata Irina menggunakan bahasa Rusia di depan resepsionis hotel, “sekalian saya kasih handphone baru dengan huruf cyrilik buat bapa kalau ada apa-apa telpon segera. Besok kita ketemu lagi.” Spaciba madame Irina. Dha.

 

Большое Вам спасибо. счастливого хорошего сна

 

Belum waktunya ayam jantan memekikkan suara dari seberang rel kereta api stasiun mbalapan, pintu penginapan sederhana yang disewa Irina digedor-gedor orang dari luar. Meski ia mendengar ketokan pintu, Irina tidak sembarangan membukakan pintu. Dengan cekatan disambernya celana gunung dan scop beserta ID Card peneliti lembaga telik sandi, diintibnya dari lubang kecil pintu.

 

“Halo, ada keperluan apa dan siapa Anda,” tanya Irina pada tamu tidak diundang.

“Kami aparat gabungan dari Garnisiun. Buka pintunya. Kalau tidak saya dobrak,” bentak seseorang dari balik pintu di luar kamar.

 

“Apa perlunya datang pagi-pagi ingin ketemu dengan saya,” jawab Irina dengan tegas

 

“Tidak perlu tanya macam-macam, kamu. Buka pintu, saya hitung sampai tiga kali, kalau tidak dibuka saya dobrak,” kata seseorang yang mengaku komandan garnisun sambil meneriakkan angka,” satu… dua… tiga.” Gubrak. Pintu penginapan tumbang roboh tanpa ampun bersamaan letusan senjata api merobek internit menembus atap

genting.

 

Situasi seperti itu yang ia bayangkan ketika rombongan pasukan tentara menyambangi rumah orang yang dituduh anggota PKI sebelum diikat dan dibawa dengan truk ke jembatan Kali Bacem dieksekusi. Bayangan kelam seperti itulah yang selalu terlintas dalam benaknya ketika membaca buku “Tahun yang Tak Pernah Berakhir” laporan Elsam menelusuri cerita korban 65. Dan dipagi buta itu, ia alami jejak masalalu kekerasan yang pernah terjadi beberapa tahun lalu menimpa dirinya.

 

Tak bisa dibayangkan kejadian seperti itu juga menimpa dirinya di negara kelahiran kakèknya yang pernah memperoleh beasiswa langsung dari Bung Karno meneruskan pendidikan teknik ke Rusia. Irina Skheriva juga tidak menyangka bila ia pun diangkut menggunakan kendaraan tentara dibawa entah kemana. Masih beruntung ia bisa memberi sinyal melalui jaringan internasional ke hand phone Wasis Wicoro menggunakan basa sandi huruf cyrilic kepadanya agar diteruskan ke teman kantornya di Rusia.

 

Badannya terguncang-guncang di dalam mobil Land Rover tentara menuju ke arah utara menyeberang kali melintas rel di persimpangan Viaduck. Irina masih beruntung kedua tangannya tidak jadi diikat layaknya pencuri. Ia menolak keras atas sikap seorang tentara yang mengenakan topi baja dan memegang senapan laras panjang menghadap ke dadanya. Pertanyaan sama berulang-ulang tak dijawabnya. Meski Irina mengerti maksud pertanyaan itu, ia tak menjawabnya. “Saya tidak bisa berbahasa Indonesia,” jawabnya sembari menyodorkan hand phone canggih langsung menterjemahkan bahasa Rusia yang digunakannya ke dalam Bahasa Indonesia, dan sebaliknya.

 

Mobil yang ditumpanginya melewati jalanan terjal membawa Irina hingga terpental- pental ke arah utara di dalam tempat duduk kayu mobil tentara land rover. Meski matanya tidak tertutup layaknya pesakitan yang hendak diinterograsi di suatu tempat, Irina tidak tahu arah tujuan enam orang yang mengaku tentara garnisun terus-menerus menanyainya berulang-ulang dengan pertanyaan sama. Persis cerita ketika kakek buyutnya saat diinterogasi di beberapa tempat berpindah-pindah sewaktu di Solo dalam tahanan markas tentara, kala itu.

 

“Siapa nama orang tuamu, siapa kakekmu di mana tempat tinggalmu tahun 65 sebelum banjir. Benarkah nenek buyutmu anggota Gerwani? Pernah dilatih menembak di Jagalan? Siapa yang melatih? Kenapa kamu milih sekolah di Soviet? Siapa yang mengirim kakekmu dapat beasiswa? Sekarang masih hidup?

 

Pertanyaan itu yang terus ditanyakan, hingga membuatnya jengkel setengah mati. Irina tidak menjawab pertanyaan yang tidak diingatnya kembali. Ia hanya menyodorkan hand phone yang langsung menterjemahkan jawabannya, “я не знаю” / saya tidak tahu

 

Gambar layar yang tertera dalam hand phone memberi petunjuk ke arah utara kesebuah makam Krendowahono. Diliriknya keenam tentara disamping kanan-kiri dan depannya. Ia amati satu persatu raut muka keempatnya tak menunjukkan gentar sedikitpun. Jari-jemari Irina terus memencet keyboard berhuruf cyrlilic dan langsung termonitor rekan sejawadnya di Rusia. Termasuk pertanyaan tentara yang menanyainya berulang-ulang itu terekam dan langsung termonitor ditempat kelahirannya di Moscow, maupun didengar Wasis Wicoro yang merekam pembicaraan antara Irina dan tentara didalam kendaraan yang melaju dengan kenceng ke alas Krendowahono.

 

 

Mendengar pertanyaan orang yang mengaku tentara garnisun, Wasis, yang menginap di hotel mewah tak jauh dari penginapan Irina terminal Tertonadi, bergidik mengingatkan pada Irina agar merekam pembicaraan dan mentransmiterkan isi pertanyaan ke hand phonenya maupun ke Rusia.

 

“Госпожа Ирина, будьте осторожны, записывайте вопросы передатчика и разговаривайте напрямую со мной,” tulis Wasis Wicoro dengan gemetar di hotel,

 

“Jangan takut Ia akan datang.”

 

Di bawah ubin disamping kiri cungkup sebuah kuburan, Irina diinterogasi persoalan masalalu yang ingin diketahuinya. Bukan hanya sekali dia meyampaikan menggunakan bahasa Rusia yang langsung diterjemahkan melalui hand pone canggih miliknya. Ia mengaku nenek-buyutnya salahsatu anggota Gerwani yang pernah aktif di daerah Solo. Dia menampik tegas keterlibatan neneknya ikut terlibat dalam pergolakan tahun 65 di Lubang Buaya. Justru Irina mengatakan neneknya ikut kakek belajar di Praha sebagai penterjemah bahasa.

 

“Kemana waktu penculikan jenderal di ibukota dan dibawa ke Lubang Buaya, kakek dan nenekmu berada,” tanya salah satu tentara yang memakai topi pet hijau tahi kuda, pada Irina, “bukankah nenekmu anggota Gerwani?”

 

“Blajar di Praha sebelumnya di Rusia bersama nenek. Tidak ada hubungan dengan peristiwa itu. My great-grandmother penterjemah bahasa ikut mendampingi kakek belajar di Praha, diperintahkan presiden,” katanya sembari menambahkan,”apa yang salah mengikuti kakek jadi penterjemah di luar negeri?”

 

“Apa yang kamu lakukan di sini? Apa pekerjaanmu? Mana pasport kamu? Kamu tahu darimana kalau di sini banyak korban? Tahu apa saja soal ini semua.”

 

Bukan hanya Irina yang capai menjawab berondongan pertanyaan tak berujung pangkal arahnya. Irina tetap bungkam, lantaran pertanyaan-pertanyaan itu tak mudah diterjemahkan oleh hand phone yang digenggamnya ke dalam bahasa yang dimengertinya. Pikirannya melayang dan membayangkan interograsi pada korban sebelum dihabisi di atas kali Bacem.

“Saya mencari kakak angkat kakek buyut saya, Kastam namanya. Dia tidak terlibat apapun. Kakek buyut saya tentara seperti bapak-bapak, markasnya di banteng bikinan Belanda. Mengapa dia belum kembali hingga sekarang Saya ingin mencari keberadaannya. Kalaupun dia dibunuh, dimana kuburnya? Saya harus menemukan,” ujar Iriana sembari menambahkan, “apa salah kakak kakek buyut saya. Sebagai tenaga medis forensik dan paham DNA, saya harus mencocokkan rambut yang masih disimpan keluarga kami dengan temuan kerangka yang terkubur. Siapa tahu saya bisa menemukan kuburannya. Apakah bapak tahu, dimana kuburan korban dimakamkan?”

 

Pendengar penjelasan itu, keenam tentara yang menginterogasi Irina sewot bukan kepalang. Ia membentak sembari melepaskan peluru ke udara dari moncong senjata laras panjang di hadapan Irina, “enak saja kamu menuduh kami.” Kamu lihat kubangan di belakang sana, dengan bengis Irina digelandang untuk melihat lubang yang berada di ujung utara makam lawas yang menyeramkan itu, “kamu dengar suara itu’kan.”

 

Suara letupan senjata itu yang sebenarnya ingin ia dengarkan dan ditransmiterkan melalui hand phone yang dibawanya hingga sampai ke negaranya dan disebarluaskan Wasis Wicoro pada aktivis penegak hak asasi manusia di Belanda dan markas perserikatan bangsa-bangsa

Letupan senjata yang didengar Wasis Wicoro rekan Irina dalam pelacakan kuburan peristiwa 65, meskipun jauh dari lokasi dari alas Krendowahono, terdengar nyaring di telpon genggam pemberian Irina membuatnya tersentak. Wasis tergopoh-gopoh menghubungin rekan-rekan bekas tahanan yang masih aktif dan memiliki jraingan dengan dunia luar mengabarkan kejadian di pagi buta itu pada mereka, tentu berbahasa Jawa campur aduk.

 

Bukan hanya itu, melalui rekan-rekan sejawat sewaktu Wasis, pernah bekerja di jawatan kereta api tahun 60-an di Semarang, ia meminta tolong mengabarkan kejadian yang didengarnya dari Irina agar menceritakan ke komisioner pembela hak asasi manusi di Latuharhari Jakarta. Tidaklah mustahil berita yang diceritakan Wasis menyebar ke hampir pojok-kota dari radio dan terbaca di media massa.

 

Kegaduhan pemberitaan media di Jakarta dan terdengar di seluruh dunia itu, nyawa Irina yang berada di ujung liang kubur di alas Krendowahono, batal dieksekusi oleh komandan tentara. “Jangan sampai terdengar teman-temanmu di Rusia dan Jakarta. Awas kalau kelakuanmu diulang kembali membuat kegaduhan di tanah negara kami. Ini peringatan terakhir nyawamu terampuni,” bentak salah satu komandan sambal mengarahkan pestol di jidat Irina, “kali ini kami lepaskan. Pulanglah ke negrimu.”

 

Mendengar ucapan orang yang mengaku anggota tentara itu, Irina, berucap terima kasih sembari bertanya, memakai bahasa Rusia yang diterjemahkan lewat hand phonenya, “Bagaimana saya bisa pulang ke negara nenek-moyang kami, kalau seluruh identitas diri saya kamu bawa. Bolehkah saya meminta pasport dan press card maupun catatan lain?”

 

Mendengar perkataan Irina, anak buah komandan yang merampas seluruh identitas diri Irina melemparkan seluruhnya ke dalam lubang kuburan yang telah disiapkan untuk mengubur Irina sambil membentak dan menendang bokong Irina, hingga terjatuh. “Ambil dan segera pergilah. Kenapa kamu tak bilang dari awal wartawan media dan dokter forensik. Sana pergi Sebelum putusan kami melepaskan kamu berubah.”

 

Usai melempar seluruh identitas Irina ke dalam kubur, mereka meninggalkan Irina yang bengong dan berpikir sendiri dalam hati. Bagaimana keenam orang yang mengaku tentara garnisun mengetahui kalau dirinya bekerja sebagai awak media massa. Pantesan mereka tergopoh-gopoh melepaskannya di tengah hutan yang tidak diketahui petunjuk arah untuk kembali ke tengah kota. Dalam hati, Irina mengakui bisa bertemu dan berteman dengan Wasis Wicoro, kakek renta bekas tahanan politik sopir truk pengangkut mayat korban 65, yang menyelamatkan dirinya.

 

Diraihnya hand phone yang telanjur retak kaca chasing tertendang anak buah komandan yang mengusirnya dan menulis pesan sebelum menelpon pada Wasis Wicoro, “Спасибо, Отец, за спасение моей жизни. Я уверен, что все еще есть много людей, таких как отцы, которые делают добро в стране дедушки.”

 

Meski jalanan menuju tengah kota dari alas Krendowahono tak diketahuinya, Irina tak segan bertanya pada seseorang ibu sepuh pembersih kuburan di bawah pohon ketapang besar di ujung timur. Awalnya Irina ragu menanyakan arah jalan menuju stasiun lantaran tidak bisa menggunakan bahasa Jawa. Tapi ia nekat bertanya menggunakan bahasa Rusia yang tak dimengerti nenek renta pembersih makam itu.

 

Baru Irina sadar. Kemudian ia sodorkan handphone yang dapat menterjemahkan bahasa yang diucapkan ke dalam bahasa Jawa. Dengan santun si nenek renta itu mengajaknya menepi di samping cungkup bekas yang hampir roboh dan menjawab dengan sangat detail pertanyaan Irina.’

 

“Di ujung pohon itu dulu gundukan tanahnya besar. Saya pernah menangi — mengenali dan tahu dengan mata-kepala- kalau di situ pernah dikubur banyak mayat,” ujar nenek Nuraini, 82 tahun menjawab pertanyaan Irina lewat penterjemah dari hand phone

 

“Nenek tahu dari mana kalau di situ ada mayat yang dikuburkan bersama tubuh orang,” tanya Irina dengan santun

 

“Tahu. Saat itu saya masih seumuran kamu waktu kejadian orang membawa tumpukan mayat dan dikubur di situ. Setelah saya agak besar, saya juga diberi tahu, katanya itu korban banjir. Tapi saya tidak percaya. Mana ada korban banjir sampai matinya ditumpuk-tumpuk,” ujar dia menjelaskan

 

“Selain di kuburan ini, adakah tempat lain yang nenek ketahui? Dimana itu tempatnya?” tanya Irina minta penjelasan

 

“Ada di ndeso saya Purwodadi. Simbok-bapak saya juga dikuburkan di sana, ndak ngerti apa salah keluarga saya kok dibunuh. Kalau di Solo saya dengar di Purwoloyo juga ada, cuma saya ndak ngerti di kubur sisih mana,” katanya

 

“Kalau dari arah tempat ini, saya naik apa ke stasiun Balapan atau ke terminal bus. Saya akan ke Purwodadi dan ke kuburan yang lain?”

 

“Panjenengan nitih becak menopo andong kemawon, kalau mau tindak ke stasiun. Langkung sae nitih becak, mesakaken sopir becak mbothen saget nedho mbak,” ujar nenek Nurani menyarankan pada Irina.

 

Sembari pamit, Irina merogoh dompet dan diberikan lembaran duit rupiah dan rubel pada nenek Nurani sambil berpesan, “…nenek ini ada duit buat makan dan benerin rumah nenek yang gentengnya bocor. Duit Indonesia dan Rusia. Kalau yang duit rusia, nenek bisa tukarkan di bank terdekat, minta diantar mahasiswa biar tidak ditipu yach nek.”

 

Dipeluknya nenek Nurani, tak kuasa airmata Irina tak bisa dibendung. Ia menangis sesenggukan, lama dalam pelukan nenek sebatangkara yang ditingal mati kedua orangtuanya dan kerabatnya di Purwodadi. Bak sembilu hati Irina terkoyak teriris mendengar kisah pilu Nenek Nurani di belantara kubur yang pernah dijadikan tempat penganiayaan dan pembantaian biadab tentara atas perintah penguasa lalim untuk menghabisi rakyatnya.

 

Belum lagi arimatanya terhenti, Irina dikagetkan oleh kedatangan Wasis Wicoro yang menyusul ke alas Krendowahono naik speda onthel ‘kebo’ lawas Gazelle yang dibawanya dari rumah. Speda itu, yang selalu diingat Irina dalam foto keluarganya sewaktu kakak angkat kekeknya berfoto sebelum diciduk –istilah penahanan paksa– hingga kini tak diketahui rimbanya.

 

“Lho kok bapa malah menyusul kemari. Ini speda Gazelle yang dipakai kakak angkat kami, Kastam. Ini photonya. Ayo sekarang makan di warung bareng-bareng sego pecel sama nenek Nurani sekalian, saya akan dengar kesaksian kalian bercerita certa.”

 

cerpen bagian dua

cerpen bagian dua

 

 

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Jembatan Bacem : “…. Merah Bengawan Solo Mengalir Sampai Jauh Akhirnya ke Laut”

NYAWAMU TERBENAM DI KALI BACEM (Cerpen Bagian Kedua) oleh EDDY J SOETOPO

Related posts
Your comment?
Leave a Reply