Trauma Screening dan “kembalinya mata” Mardadi Untung [1]

179 Viewed Redaksi 0 respond
MARDADI UNTUNG: Pelukis Mardadi Untung, 80 tahun, di depan karya yang belum diselesaikannya lantaran keburu mengalami kebutaan karena menderita katarak [Foto: Humas YPKP'65]
MARDADI UNTUNG: Pelukis Mardadi Untung, 80 tahun, di depan karya yang belum diselesaikannya lantaran keburu mengalami kebutaan karena menderita katarak [Foto: Humas YPKP'65]

Meski bukan musim kemarau, kota Pemalang begitu gerahnya siang itu, mungkin juga siang pada hari-hari lainnya di wilayah Pantura Jawa. Tapi ketika kami tiba, rumah kost besar dengan serambi terbilang luas pun belum cukup menyusutkan suhu udara yang memicu kucuran peluh. Rumah kost di Pelutan ini setahun terakhir jadi tempat seorang pelukis bernama Mardadi Untung bernaung. Pada siang yang gerah itu dia muncul bercelana pendek saja dengan singlet putih yang rupanya juga lebih sreg mengkrabi suhu udara sekitarnya.

“Rumah kost Pelutan ini milik Mansyur”, terangnya bertutur.

Mansyur, seorang pengusaha bengkel AC mobil yang juga membuka usaha rumah makan di seberang bengkelnya; di tepi jalan sebelah utara palang pintu rel KA. Lokasi ini hanya sejauh setengah kilometer jarak dari rumah kost Pelutan; di rumah mana sang pelukis Lekra ditampung di rumahnya. Pelukis yang pada masa awal karier diketahui aktif pula di Sanggar Bumi Tarung Yogyakarta.

Mardadi Untung, pelukis kelahiran Padureksa Pemalang 80 tahun silam; tepatnya 28 April 1937. Adalah anak dari seorang haji kampung bernama Yahya. Oleh kolega seniornya Sundoro, selepas SMA dia disarankan masuk ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) Yogya. Jadi lah dia, kala itu, mahasiswa seni rupa hingga tamat dan diwisuda pada tahun 1962.

 

Katarak dan Trauma Screening

Pada awal tahun 2017 Mardadi Untung menjalani operasi katarak yang hampir membutakan matanya. Menurut Untung, sang pelukis, seseorang bernama Rismanto mewakili Lion Club (LC) membawanya ke Jakarta untuk menjalani operasi katarak yang dideritanya. Keberangkatannya ke rumah sakit mata di kawasan Kedoya sempat tertunda lantaran menurut pendampingnya itu kehabisan tiket kereta.

 

SETRUM: Sketsa karya Mardadi Untung yang melukiskan cara militer menyiksa para tapol 65 dengan setruman listrik bertegangan tinggi [Foto Kredit: Mardadi Untung]

SETRUM: Sketsa karya Mardadi Untung yang melukiskan cara militer menyiksa para tapol 65 dengan setruman listrik bertegangan tinggi [Foto Kredit: Mardadi Untung]

Untung mengenal Rismanto paska dia diwawancara jurnalis SM seputar penyakit katarak yang dideritanya dan beritanya dilansir di sebuah koran terbesar di Jawa Tengah itu. Singkatnya, pada pertengahan Februari 2017 Untung menjalani operasi katarak setelah menunggu giliran di mess LC di kawasan Rawabadak, ditemani anak perempuannya.

“Operasinya sendiri berlangsung sekitar setengah jam”, kisahnya.

Paska operasi katarak, Untung kembali menginap di mess itu dimana ibu Theresia sebagai pengurusnya. Lalu meminta Untung membawa contoh lukisan “Indonesia Menggugat” yang belum juga diselesaikannya. Pelukis berusia 80 tahun ini tenang karena ia hanya butuh kesabaran sebulan untuk bisa memulihkan penglihatannya agar dia bisa bekerja seperti kata dokter mata yang mengoperasi sakitnya.

“Ini menunggu proses kira-kira sebulan”, katanya menirukan sang dokter.

Sebulan pun ia lewati. Harapannya untuk bisa melihat sehingga dapat melanjutkan beberapa lukisan yang tertunda diselesaikannya pun ia redam dengan penuh sabar. Namun setelah setengah tahun ia menunggu dan perkembangan penglihatannya tak kunjung membaik; ia mulai gelisah. Penantiannya pun serasa berujung pada asumsi bahwa operasi matanya telah gagal.

“Apakah kebutaan saya ini akibat dari katarak yang saya derita?”, tanya Untung pada suatu konsultasi dengan dokternya.

“Bukan sepenuhnya. Boleh jadi (kebutaan_Red) itu akibat pukulan dan benturan berulang kali yang pernah terjadi”, begitu penjelasan dokter matanya.

Untung terhenyak. Kapan benturan berulang-ulang itu terjadi, ada nada marah saat ia menceritakan kembali semua pengalamannya di masa lalu. Pernah kah sang pelukis eks Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) ini dipukuli?

“Ya di masa screening itu..!”, ketusnya. “Lha, nggebuki orang pada saat di screening itu kaya apa, kan nggak itung-itungan ya?”, sambungnya.

Untung tak pernah melupakan siksaan pada bulan Oktober 65, saat ia ditangkap militer orba; sebelum ia berangkat ke Jakarta atas ajakan Nyoto… [bersambung]

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Para pegiat YPKP 1965 wilayah Pati berdoa di lokasi yang diyakini merupakan kuburan massal di Desa Grogolan, Kabupaten Pati.

Ditemukan ‘kuburan massal korban kekerasan 1965 ‘ di Purwodadi, Jawa Tengah

LPSK: Mardadi Untung. 80 tahun, didampingi putrinya Anggita tengah diperiksa petugas dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) saat menunggu pemeriksaan di Klinik Mata Nusantara Kebonjeruk, Jakarta (29/11) dalam persiapan operasi mata {Foto" Humas YPKP'65]

Trauma Screening dan “kembalinya mata” Mardadi Untung [2]

Related posts
Your comment?
Leave a Reply