Trauma Screening dan “kembalinya mata” Mardadi Untung [2]

156 Viewed Redaksi 0 respond
LPSK: Mardadi Untung. 80 tahun, didampingi putrinya Anggita tengah diperiksa petugas dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) saat menunggu pemeriksaan di Klinik Mata Nusantara Kebonjeruk, Jakarta (29/11) dalam persiapan operasi mata {Foto" Humas YPKP'65]
LPSK: Mardadi Untung. 80 tahun, didampingi putrinya Anggita tengah diperiksa petugas dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) saat menunggu pemeriksaan di Klinik Mata Nusantara Kebonjeruk, Jakarta (29/11) dalam persiapan operasi mata {Foto" Humas YPKP'65]

Cerita Screening

Mardadi Untung diciduk militer sebelum ia berangkat ke Jakarta atas ajakan Nyoto yang mempermanai kekuatan sketsa dari karyanya. Nyoto adalah redaktur Harian Rakyat kala itu, dimana Mardadi Untung rajin memasok cergam bersambung seperti komik Wolter Monginsidi dan Untung Suropati di rubrik cerita. Banyak pembaca koran menunggu ceritanya, tetapi Mardadi keburu ditangkap satuan regu polisi yang menciduknya. Dan sejak itu lah rupa dunia dan kebudayaan berbalik arah.

Mardadi menghabiskan waktu lebih 4 tahun di penjara Pemalang dan di kamp SDN Nasional kota itu. Pada rentang ini lah dia seperti banyak tapol lainnya berhadapan dengan tim penyiksa yang sakit secara kejiwaan. Kelompok psikopat ini dijuluki Tim Screening. Tim ini diberi kuasa sepenuhnya untuk menentukan seseorang termasuk pada kelas golongan mana ia “terlibat dalam suatu pemberontakan” terhadap negara yang nyata-nyata tak pernah dilakukannya. Penggolongan ini diklasifikasikan dengan kategori A, B dan C.

Di dalam kuasa ini para psikopat bilamana dianggap perlu dibolehkan menyiksa orang dengan cara paling sadis yang bisa mereka bayangkan. Dari sisi hukum, barangkali kasus ini hanya layak disebut sebagai penyiksaan brutal. Dan masih sangat lekat pada ingatan Mardadi bagaimana anak saudara sepupunya yang bukan tentara menginterogasi tapol lain di ruang yang hanya dibatasi oleh dinding kayu dalam kamp tapol kota itu.

“Hei, kau tahu si Mardadi Untung?”, tanya sang kemenakan.

“Untung, si pelukis itu..”, jawab si tapol lain.

“Ya, dia paman saya. Jangankan kepada mu, kepada paman saya tak segan membunuhnya jika menyulitkan pemeriksaan ini”, sergahnya.

Alangkah jumawa anak kemenakannya itu. Para penyiksa memang dipilih dari orang-orang yang naluri hewannya lebih mengemuka ketimbang nalar kemanusiaannya. Dengan begitu mereka bisa melakukan banyak model penyiksaan yang tak pernah dibayangkan orang. Pukulan, tendangan, jepitan kaki meja, cambukan rotan atau toya, sabetan ekor ikan pari hingga setruman listrik tegangan tinggi.

“Di masa inilah saya sering mendapatkan pukulan berulang-ulang”, kenang Mardadi di hadapan komisioner Komnas HAM yang memeriksa.

“Pada bagian mana bapak acap dipukuli tiap kali, badan atau kah kepala?”.

“Lebih sering bagian kepala ketimbang bagian tubuh lainnya”, jelas Mardadi.

Pada tahun kelima dia dikirim ke Nusakambangan sebelum kemudian pada 16 Agustus 1970 ia diangkut ke pembuangan Pulau Buru dengan kapal tua ADRI-15. Di kapal itu ada pula Pramoedya Ananta Toer, Achdiat Kartamihardja, Prof Dr Soeprapto dan banyak lagi intelektual lain dari ITB. Selama 10 tahun di Pulau Buru, siksaan fisik relatif berkurang namun perlakuan kejam tonwal tak ada bedanya.

 

Setelah Masa Buangan itu

Sepulang dari Pulau Buru, kepada para tapol termasuk Mardadi Untung masih dikenai wajib lapor selama masa dimana Sospol ada dan dibuat untuk terus menstigma dan mengawasi para tapol ini. Seiring berjalannya waktu sepulang dari 10 tahun pembuangan Pulau Buru, mata kanan Mardadi dirasa mengalami perubahan penurunan fungsi penglihatan.

Setelah tahun 2010 keadaan matanya makin memburuk terutama mata kanannya. Dan pada 5 tahun terakhir pandangannya makin gelap dan ia merasa syaraf penglihatan mata kanannya telah non-aktif. Di luar mau dia, kini Mardadi hanya mengandalkan mata sebelah kirinya saja. Pun mulai pula digerogoti katarak sejak 2 tahun yang lalu, sebelum kemudian dioperasi di Jakarta atas koneksi Lions Club.

Pada Februari 2017 Mardadi menjalani operasi namun pasca operasi malah tak bisa melihat apa-apa. Keadaan makin memburuk, padahal sebelum operasi JEC di Kedoya ini dia masih bisa melukis dan berkarya.

“Untuk apa adanya saya, untuk apa sih, apa artinya saya ada”, begitu usik tanya pada dirinya.

Perupa ini hanya bisa mengandalkan mata kirinya, pun kemampuan saraf penglihatannya, menurut dokter spesialis; berada pada tingkat di bawah 30 persen dari kemampuan mata normal pada umumnya. Sedangkan mata kanannya memang sudah tak mungkin lagi diselamatkan. Menurut dokter spesialis mata yang menguji pada pemeriksaan pertama, syaraf-syaraf penglihatan seputar mata kanannya disinyalir telah lumpuh dan berhenti fungsinya.

SCREENING: Lukisan sketsa Mardadi Untung yang menggambarkan pengalaman tapol menghadapi interogasi "tim screening" pasca tragedi 65. Siksaan fisik, terutama pada bagian kepala yang berulang-ulang, disinyalir jadi penyebab sindrome syaraf penglihatan yang membutakan mata kanannya [Foto Kredit: Lukisan Mardadi Untung]

SCREENING: Lukisan sketsa Mardadi Untung yang menggambarkan pengalaman tapol menghadapi interogasi “tim screening” pasca tragedi 65. Siksaan fisik, terutama pada bagian kepala yang berulang-ulang, disinyalir jadi penyebab sindrome syaraf penglihatan yang membutakan mata kanannya [Foto Kredit: Lukisan Mardadi Untung]

Kembalinya Mata Mardadi

Dan seperti yang diceritakan kembali oleh pelukis pengidap katarak akut ini, dengan mengutip vonis dokter soal kemungkinan -terutama- ihwal kebutaan permanen pada mata kanannya; yakni ada sebab yang secara kronologi diduga berkorelasi secara signifikan dengan pengalaman traumatik akibat dera siksaan bertubi-tubi di masa lalu yang melampaui batas kemampuan fisik dan psikisnya. Pada tingkat kerentanan mana dimungkinkan telah memutus dan menghancurkan simpul syaraf-syaraf penglihatan pelukis surealis ini.

“Trauma di masa screening disertai pukulan di bagian kepala memang terjadi berulang kali”, kenang Mardadi menerawang. Ada nada sesal serupa kabut yang memberati bungkus lisannya. Meskipun lalu lenyap oleh ketabahan paling mapan dari seorang penyintas sebuah tragedi kemanusiaan terbesar.

“Tapi saya merasa lebih baik ketika masih di penjara”, curhatnya. Karena apa? Pengalaman pahitnya sebagai tapol yang dibui penguasa di penjara Pemalang, Nusakambangan dan Pulau Buru; tokh Mardadi masih bisa bekerja. Meski fisiknya dikurung, kemerdekaannya dikekang, namun matanya masih bisa diajaknya menggeluti proses berkarya seni. Dia ingat betapa produktif guru lukisnya di masa lalu, mendiang Affandi; kepada siapa Mardadi berpuruhita melayani pelukis ekspresionis ini selama 2 tahun.

Awal tahun 2017 dia mendapati kepastian soal matinya syaraf penglihatan pada mata kanannya itu dari diagnosa seorang dokter spesialis mata di Jakarta Eye Center. Pemeriksaan kedua pada akhir November 2017 dari seorang spesialis mata lainnya di Klinik Mata Nusantara kembali ia menerima kabar buruk itu, meski yang terakhir ini tak dijelaskan kait traumatik sebab-musababnya.

Hasil uji laboratorium klinik terakhir ini diketahui bahwa mata kanannya memang sudah sama sekali kehilangan kemampuan merespons cahaya yang paling fokus, sekalipun sumber cahaya itu berada di dekatnya. Bahkan hingga jarak 1 cm jarak konsentrasi cahaya dari kornea, matanya tak mampu mendeteksi lagi.

Kini, Mardadi Untung, pelukis berusia 80 tahun itu menunggu keajaiban yang diharapkannya, pulihnya penglihatan mata kiri sehingga dia dapat  berkarya kembali… [arp]

***

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
MARDADI UNTUNG: Pelukis Mardadi Untung, 80 tahun, di depan karya yang belum diselesaikannya lantaran keburu mengalami kebutaan karena menderita katarak [Foto: Humas YPKP'65]

Trauma Screening dan “kembalinya mata” Mardadi Untung [1]

tirto_papua65

1965: ‘Kekerasan Brutal’ Perdana Militer Indonesia di Papua

Related posts
Your comment?
Leave a Reply