Menuju Pulau Buangan

231 Viewed Redaksi 0 respond
Tuba bin Abdurahim [Foto: Humas YPKP 65]
Tuba bin Abdurahim [Foto: Humas YPKP 65]
  • Penulis: Bedjo Untung, sebagaimana dikisahkan oleh Tuba*

Nama saya Tuba, ayah saya bernama Abdurahim. Dalam Kartu Tanda Penduduk, KTP -yang pernah ditandai “ET” itu- nama saya tertulis Tuba bin Abdurahim. Saya tidak tahu, mengapa ayah saya memberi nama “tuba” yang berarti zat atau racun herbal untuk membius ikan saat nelayan atau penduduk kampung akan mencari ikan. Racun herbal ini -sesungguhnya- tidak mematikan tapi membikin mahluk air, terutama ikan atau udang, seperti mabuk sehingga mudah ditangkap.

 

Pada  tahun 1965 sebelum apa yang disebut G30S meletus, saya masuk organisasi Pemuda Rakyat (PR). Sebagai seorang pemuda rakyat yang ingin mendarma-bhaktikan jiwa-raganya demi bangsa dan negara, saya mengikuti latihan sukarelawan Dwikora kala itu,

Relawan yang dilatih dan dipersiapkan untuk dikirim ke medan tempur semasa “Konfrontasi Malaysia”. Ini kebijakan strategis Nasional presiden Soekarno yang anti Nekolim (neo-kolonialisme dan imperialisme) menghadapi Malaysia, yang dinilai sebagai sebuah negara boneka bikinan imperialis Inggris yang oleh Bung Karno dinilai sebagai ancaman bagi Republik Indonesia.

Namun, ketika peristiwa G30S meletus, saya malah menjadi korban persekusi, target pengejaran dan akhirnya saya ditangkap, disiksa dan ditahan untuk akhirnya dibuang ke Pulau Buru.

Saya ditahan sejak 16 November 1965 dan dibebaskan pada 13 November 1979, lama dalam tahanan 14 tahun, tanpa pernah diadili di pengadilan manapun. Tempat-tempat  penahanan yang saya singgahi, diantaranya: Polres Brebes, Buterpra/ Koramil Sawah Besar, Kodim Jakarta Utara/Kota, Penjara RTC (Rumah Tahanan Chusus) Salemba, Kamp Kerja Paksa Tangerang, Penjara Permisan Nusakambangan, Limus Buntu Nusakambangan dan Kamp Kerja Paksa Pulau Buru

 

Penangkapan dan Interogasi 

Peristiwa 1 Oktober 1965 dimana 6 jenderal dan 1 perwira menengah  Angkatan Darat terbunuh oleh Operasi Penyelamatan Presiden RI Soekarno  oleh sekelompok militer Pasukan Pengawal Tjakrabirawa mengubah nasib jutaan putra-putri rakyat Indonesia yang tidak berdosa. Tidak kurang dari 500.000 – 3.000.000 jiwa diprediksi terbunuh dan puluhan ribu orang-orang yang dituduh anggota PKI dan pendukung Sukarno  ditahan di kamp-kamp konsentrasi. Tidak terkecuali, saya sendiri sebagai seorang pemuda desa yang ingin mengabdikan jiwa dan raga kepada bangsa dan negara tetapi justru saya ditahan dan mengalami siksaan di luar batas perikemanusiaan.

Ketika  itu, saya ditangkap di Brebes pada 16 November 1965 lalu ditahan di Polres Brebes  selama satu hari satu malam, kemudian dibawa ke Jakarta dengan menggunakan mobil operasi militer. Tangan saya diborgol dengan 2 orang  tahanan yang lain (satu borgol digunakan untuk 3 orang), masih diperkuat dengan tali yang melilit lengan tangan saya. Tentu saja, keadaan ini menyulitkan bagi saya untuk bergerak apalagi untuk makan dan minum.

Perjalanan malam ke Jakarta berakhir jam 03.00 dini hari berikutnya, pagi itu saya diturunkan di Koramil Sawah Besar. Pada esok harinya setelah menginap satu malam di Koramil, saya dibangunkan dengan cara ditendang dan diinjak kepala saya oleh seorang tentara yang mengenakan sepatu lars, sambil membentak:

“Bangun, kamu akan dibon”.

Bon adalah istilah populer di kalangan tapol untuk “diambil secara paksa”, biasanya dihilangkan setelah itu. Saya berfikir negatif, saya akan dibunuh. Mobil yang membawa saya berputar ke arah Ancol, pengawal yang terdiri dari 4 orang tentara turun dari mobil dan seakan-akan mempersiapkan eksekusi buat saya. Saya tidak berdaya, lemas karena akan menghadapi maut dengan cara itu. Namun kemudian 4 orang pengawal segera melanjutkan perjalanan dan akhirnya saya dibawa ke Kodim Jakarta Utara (Kota Toea). Saya lega karena maut tidak terjadi menjemput.

 

Interogasi itu Momok 

Saya dibawa masuk sebuah ruang di Kodim Jakarta Utara sekira jam 05.30 pagi; saat itu keadaannya menyeramkan.Tapol sebanyak kira-kira 1.000 orang, duduk melipat kaki di lantai. Ruang itu terasa penuh sesak. Masa ini memasuksi masa pemeriksaan, masa interogasi.

Para tapol satu persatu diperiksa dengan cara diinterogasi, yang selalu disertai tekanan mental, dan terutama penyiksaan secara fisik. Ini berlangsung dari pagi sampai sore hari. Saya mendengar langsung jeritan dan raungan para tapol yang disiksa, ada yang diiris-iris badannya dengan menggunakan silet, ada yang diinjak kaki meja, ada yang disetrum dan ada pula yang dikupas kuku jarinya. Ada tangan tapol dipaksa menengadah untuk dijadikan asbak rokok sembari diinjak kakinya. Tim pemeriksa duduk di atas meja sambil memaksa tapol untuk menjawab sesuai kemauan interogator. Saya melihat sendiri, betapa kejam dan sadisnya pemeriksaan, setiap tapol selesai diinterogasi, bisa dipastikan ia dalam keadaan terluka berlumur darah, luka memar dan terkadang dipapah karena sudah tidak bisa jalan sendiri.

Hari ke-4  berada di tahanan Kodim Jakarta Utara, barulah saya dapat giliran untuk diperiksa. Saya harus siap mental, apa pun akan saya hadapi.

Pertama-tama saya harus menjawab pertanyaan, saya ada di mana pada 30 September 1965.Saya harus pandai menjawab pertanyaan jebakan. Kalau saya menjawab yang sebenarnya pastilah akan menyulitkan saya, dan teman-teman saya,  bisa jadi akan mengalami siksaan lebih sadis untuk mengorek informasi lanjut dari saya.

Karena  itu saya menjawab, saya menjadi tukang koran dan penjaga parkir mobil di Bioskop Cathay Gunung Sahari. Sebab memang itu adalah pekerjaanku saban hari sebelum melamar jadi sukarelawan Dwikora (Dwi Komando Rakyat) yang dikomando Bung Karno, dengan misi gagalkan pembentukan proyek Nekolim Malaysia: Perhebat ketahanan revolusi Indonesia, Bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sarawak dan Sabah; untuk menghancurkan Malaysia.

Siksaan seperti yang saya uraikan di atas juga terjadi pada diri saya: dipukuli, kaki diinjak di bawah kaki meja, sementara sang interogator duduk di atas meja, tangan saya menengadah dijadikan asbak. Kuku jari-jari tangan kiri dan kanan saya dipukuli menggunakan stik drum-band sehingga kuku-kuku saya menjadi hitam, bengkak karena darah tidak keluar. Sampai sekarang hitamnya masih membekas. Hal ini dilakukan oleh sang interogator setiap kali selesai bertanya langsung memukuli jari- jari saya. Proses interogasi berlangsung salama 2 jam 30 menit mulai jam 08.00 pagi sampai jam 10.30 siang.

 

Di Penjara Salemba

Saya merasa lega karena masa interogasi yang mengerikan itu telah lewat. Interogasi adalah hal yang paling ditakuti bagi setiap tapol masa itu. Seminggu kemudian saya dipindahkan ke RTC (Rumah Tahanan Chusus) Salemba bersama 100 tahanan yang lain dengan menggunakan 3 truk, di bawah pengawalan ketat 4 orang tentara bersenjata lengkap bertanda pengenal CPM (Corps Polisi Militer) untuk setiap truk.

Begitu turun di depan pintu utama Penjara Salemba, para tapol dipukul dengan rotan untuk segera meloncat turun dengan menghitung nomer urut yang diberikan oleh petugas. Saya mendapat giliran hitungan dengan pukulan rotan nomor urut 2.973. Berarti masuknya saya ke penjara Salemba sudah terisi sejumlah 2.973 orang.

Perlu saya terangkan, ketika para tapol dihitung dan dipukul rotan, tiap tahanan dalam posisi tangan di tengkuk sambil  kepala menunduk. Setelah dipanggil nomornya, saya harus  menirukan nomornya sambil mengangkat tangan kanan kemudian kembali ke posisi semula tangan di kuduk dan kembali menunduk.

Penjara Salemba adalah penjara yang sangat ditakuti, menyeramkan. Ketika saya tiba di Salemba pada akhir bulan November 1965, yang menjadi Komandan Kampnya adalah Sani Gonjo, seorang Mayoor berasal dari Aceh. Orangnya tinggi besar dan terkenal karena bengisnya. Dibantu oleh seorang Kepala Security namanya Letnan Satu Mardjuki, yang kemudian naik pangkat menjadi Kapten menggantikan Sani Gonjo pada tahun 1970 an.

Banyak yang menginformasikan pencopotan Sani Gonjo karena ia mengeksploitasi Tapol Tangerang, Sani Gonjo menjalin suatu kerja sama dengan seorang sipil pengusaha yang bernama Badaruddin. Hasil dari proyek pertanian Kamp Kerja Paksa di Tangerang untuk memperkaya dirinya.

Penjara Salemba  adalah bangunan kuno Belanda yang berbentuk huruf “U” kalau dilihat dari dalam penjara. Tetapi kalau dilihat dari luar, penjara ini memiliki sudut delapan atau berbentuk pentagon. Terdiri dari 17 Blok dengan  nama Blok A, B, C dan seterusnya sampai Blok R.

Untuk menuju ke Kamar Sel yang dihuni tahanan harus melewati 7 pintu yang masing-masing pintunya dijaga ketat oleh petugas jaga militer. Ada pomeo candaan di antara para tahanan: “jangankan orang atau tahanan, setan pun tidak bakalan bisa lolos dari penjara” saking begitu berlapisnya penjagaan.

Saya masuk ke penjara Salemba dan ditempatkan di “Blok K”. Semula blok ini dikhususkan untuk tahanan kriminal namun karena jumlah tapol semakin banyak dan kamar sel sudah penuh, maka Blok K ini dikosongkan untuk menampung Tapol baru yang terus berdatangan.

Sedangkan tahanan kriminal dipindahkan ke penjara lain.

Kondisi makanan sangat buruk, saya diberi makan dua kali sehari namun jumlah nasi sangat sedikit kurang lebih 12 sendok, kwalitas nasi penuh pasir, terkadang pecahan kaca dan nasi berwarna kuning karena berasal dari  beras sweeping yang kotor. Menunya ditambah sayur bayam hasil tanaman tapol, tanpa bumbu atau pun garam ditambah lauk tempe atau tahu sebesar 1 cm persegi, terkadang diselingi dengan lauk ikan asin yang busuk dan tak layak makan, sebesar jari kelingking.

Menurut seorang teman dokter yang juga ditahan, dengan kondisi makanan rendah gizi seperti itu, para Tapol akan mati dalam tempo 3 bulan.

 

Kerja Paksa di Kamp Tangerang

Tidak lama saya di penjara Salemba, hanya satu bulan kemudian dipindahkan ke Kamp Kerja Paksa Tangerang bersama 500 tahanan politik lainnya, menggunakan 6 truk diisi tapol berjejal penuh sesak. Dengan pengawalan ketat dan bunyi sirine meraung-raung. Pemindahan ini diduga dalam rangka mengurangi populasi penjara Salemba yang sudah penuh sesak. Dan juga ada rencana jahat pihak militer untuk memanfaatkan tenaga tapol untuk dikerjapaksakan di lahan-lahan pertanian. Membuka sawah dan ladang, menanam padi, palawija, beternak kerbau, kambing, bebek, ayam, ikan, dan sebagainya; dimana hasilnya untuk kepentingan penguasa militer.

Ketika saya pertama kali masuk ke penjara Tangerang, sudah ada tahanan politik sebelumnya yang berada di Blok C sebanyak 900 orang. Saya menempati Blok B bersama 500 tapol yang baru datang dari Salemba. Setelah saya berada di Tangerang  selama 90 hari jumlah tapol telah mencapai 1.800 orang.

Kira-kira awal Februari 1966 dimulailah Proyek Kerja Paksa di Penjara Tangerang itu.

Medan yang akan dijadikan lahan pertanian berupa bukit-bukit tandus yang ditumbuhi ilalang dan rumput serta semak belukar berduri. Saya dipaksa untuk mencabuti rumput dan membabat belukar dengan alat yang tidak memadai, seperti sabit tumpul, rusak dan cangkul terbatas. Terkadang saya harus mencabuti rumput dengan tangan kosong sehingga berlumuran darah akibat tergores semak berduri. Ini dialami para tapol yang tidak kebagian alat.

 

Penebang Kayu

Setelah 3 bulan kerjapaksa di proyek pertanian untuk mempersiapkan lahan sampai ke penanaman padi, saya kemudian dipindahkan untuk kerja di bagian formasi dapur yang tugasnya disamping masak-memasak mempersiapkan rangsum tapol juga jatah makan para peleton pengawal (Tonwal) serta petugas sipir penjara. Bukan itu saja, saya juga ditugasi untuk mencari kayu bakar dengan cara menebang kayu ke perkebunan karet di daerah Serpong, Tigaraksa, Gunung Sindur, Ciseeng, Lengkong, Karawaci dan Kota Tangerang sendiri.

Saya bersama dengan 25 orang anggota tim penebangan kayu yang dibagi dalam 2 kelompok, 10 orang penebangan kayu di dalam kota dan 15 orang untuk penebangan kayu di perkebunan karet. Saya termasuk yang ikut penebangan kayu  perkebunan. Ketika itu tidak menggunakan gergaji mesin tetapi hanya menggunakan alat-alat manual yang sangat menguras tenaga. Oleh teman-teman saya dijuluki sebagai ahli memanjat pohon karena usia saya masih cukup muda dan punya tenaga agak kuat dibanding rata-rata tapol lainnya.

Saya masih ingat, anggota tim penebang kayu antara lain Pak Darmadji dari Cirebon dan Pak Jaimin dari Pasar Minggu Jakarta serta Pak Samin bin Jebul dari Pasar Minggu yang ketiganya juga ahli memanjat pohon. Ia berani bergelantungan bagaikan monyet dengan menggunakan seutas tali di atas pohon, meloncat dari satu cabang ke cabang yang lain.

Selama kerja sebagai tim penebang kayu, saya dikawal oleh seorang CPM bernama  Sersan Mayor Suatmadji dan 2 orang Hansip Penjara yaitu Ohim dan Sudjono yang berkoordinasi dengan Babinsa setempat. Kemana pun pergi saya dikawal ketat oleh petugas keamanan tersebut.

Saya menjalani kerja paksa di kamp penjara Tangerang sampai tahun 1973 selama 7 tahun dari tahun 1966. Untuk selanjutnya saya bersama 600 tapol dari kamp kerja paksa Tangerang dipindahkan ke penjara Salemba.

 

Menuju Tanah Pembuangan 

Setelah  satu bulan berada di penjara Salemba -ternyata ini hanyalah tempat transit untuk sementara- dan selanjutnya saya bersama 1.000 tapol pindahan dari Tangerang dan tambahan dari Salemba diberangkatkan menuju ke suatu tempat yang dirahasiakan. Saya masih ingat kata-kata  seorang perwira menengah militer CPM dalam suatu briefing sebelum pemberangkatan,

“Kalian akan dipindahkan ke suatu tempat yang tidak jauh, kalau saya bohong, ludahi muka saya”

Nampaknya sang perwira itu sengaja untuk menenangkan para tapol agar  tidak merasa takut maupun kecil hati. Namun sebagian besar tapol sudah  siap mental apa pun yang akan terjadi akan dihadapi. Ternyata omongan sang perwira itu bohong belaka. Tapol akhirnya dibuang ke Nusakambangan dan selanjutnya sebelum akhirnya dibuang ke Pulau Buru.

Para tapol sudah menyiapkan perbekalan untuk mengantisipasi bila pada akhirnya akan dibuang ke tempat yang jauh dan tidak ada tanaman yang menghasilkan bahan makanan, dengan membawa bibit tanaman sayuran, kangkung, bayam, jagung, kedelai, sawi, kacang-kacangan, dan lainnya.

Di hari pemberangkatan, kira-kira jam 05.00 pagi, sejumlah 1.000 orang tapol yang sudah didaftar sebelumnya untuk diberangkatkan ke suatu tempat yang konon tidak jauh itu, dikumpulkan di lapangan dalam penjara Salemba. Saya ikut berbaris dengan membawa rangsel karung goni buatan sendiri untuk membawa perbekalan menuju Tanah Pembuangan. Tiba-tiba iring-iringan tapol diberhentikan di depan pintu 3, selanjutnya tiap-tiap tapol diperintahkan untuk membuka mulutnya lebar-lebar dan sang petugas dari militer melemparkan dua tablet yang saya tidak tahu namanya, kemudian saya menelan pil tersebut.

Petugas yang lain membagikan sebuah ketupat ukuran kecil dengan lauk tempe orek dalam plastik kecil nampaknya untuk bekal dalam perjalanan.

Sebanyak 20 kendaraan  truk militer ukuran besar sudah menunggu dan berbaris di depan penjara Salemba sepanjang jalan Percetakan Negara hampir sampai ke pintu Kereta Api.

Satu per satu para tapol menaiki truk. Karena truknya tinggi para Tapol harus dibantu dengan bangku untuk naik, sementara itu bagi teman yang sudah di atas truk membantu menarik tangannya .  Lagu-lagu perjuangan gubahan para tapol mengiringi keberangkatan. Lagu-lagu tersebut antara lain: Selamat Tinggal Jakarta Tercinta, Rangsel Goni (karya Karatem), Tikar Rombeng dan Lalap Daun Kenikir (karya Nur Jaslan).

Lalap, lalap, daun kenikir

Semangat, semangat

Jangan dipikir

Derita pasti berakhir

Ada lagi sebuah lagu yang juga menyemangati Tapol  di dalam penderitaan dan penyiksaan di kamp konsentrasi  Kerja Paksa Penjara Tangerang yaitu

Penebang Kayu

 

Di kaki langit sebelah timur

Sebelum yang merah merekah

Aku dan Kawan telah bangun

Bekerja

Mandi keringat dan banting tulang

Oh, sungguh berat Kawan

Hidup sebagai Penebang Kayu

Kelana

Bukan untukmu dan untukku

Tapi kuabdikan untuk kita semua

Pemilik hari esok lusa

Cemerlang!!!

 

Iring-iringan truk militer yang mengangkut tapol mulai bergerak dengan pengawalan sirene militer meraung-raung, semua kendaraan berhenti  hanya iringan kendaraan tapol yang lewat. Sementara itu orang-orang yang menyaksikan di pinggir jalan bagaikan patung menyaksikan iring-iringan  kendaraan militer yang sedang lewat, mengangkut tapol, dibawa ke mana; tidak ada yang tahu.

Jalan yang dilaluinya ialah, jalan Gunung Sahari, belok kiri ke jalan Mangga Dua dan akhirnya sampai ke Stasiun Beos (Kota). Barulah saya menyadari bahwa saya dan teman-teman akan diberangkatkan ke suatu tempat dengan menggunakan kereta api!

 

Naik Kereta Api

Gerbong kereta sudah siap terbuka pintunya. Dengan cepat para tahanan  diperintahkan naik dan masuk gerbong mencari tempat duduk masing-masing.  Kereta api yang mengangkut  para tahanan terdiri dari 12 gerbong, cukup panjang. Petugas dari militer yang  memakai tanda pengenal CPM melakukan pengecekan dengan menghitung, berkali-kali sampai lima kali.  Setelah meyakini jumlah tahanan sesuai dengan manifest perjalanan, mulailah diberi aba-aba untuk  berangkat.

Kira-kira jam 17.00  pintu kereta ditutup dan dikunci,  masing-masing gerbong dijaga 4  militer, pintu depan dan pintu belakang. Peluit panjang dari Kepala stasiun Beos berbunyi  melengking  dan menandakan kereta segera diberangkatkan.

Saya dan teman-teman mulai kepanasan karena kereta ketika itu tidak menggunakan penyejuk ruangan.Ada yang mulai membuka baju bahkan celana, sehingga mereka hanya pakai celana dalam saja.Saking panasnya udara di dalam kereta.Makanan  yang berupa ketupat dan tempe orek mulai dilahap karena perut sudah lapar.  Setelah beberapa menit  makan  dan karena sudah lelah, semua tapol tertidur lelap – ini karena pengaruh obat yang kita telan sebelum berangkat.

 

Di Setasiun Kereta Api Cilacap  

 

Saya dan teman-teman tahanan terbangun kira-kira jam 06.00 pagi. Baru  kita ketahui kalau sudah sampai di stasiun kereta api Cilacap Jawa Tengah. Saya mulai sadar bahwa saya dan tapol lain akan dibuang ke Pulau Nusakambangan  di selatan Pulau Jawa.

Para petugas keamanan CPM yang mengawal berteriak sambil menggedor pintu jendela kereta,  

“Bangun, Bangun, Bangun” 

“Cepat, Cepat, Cepat, Turun, Turun, Turun..!”

“Siapkan barang-barangnya “

Sebagian besar dari teman-teman saya, baru terbangun dari tidur lelap karena pengaruh obat bius yang ditelan sebelum keberangkatan. Dengan tergagap-gagap tidak mengetahui sekarang berada di mana. Para tapol secepatnya segera turun berikut rangsel perbekalan masing-masing.

Saking terburu-burunya, ada di antara tapol yang masih mengenakan celana dalam dan tanpa mengenakan baju, harus segera turun dan berbaris di peron stasiun, dengan formasi 5 shaft ke samping, duduk jongkok dengan tangan di kuduk kepala menunduk, berbaris ke belakang menghadap ke arah pintu keluar khusus.

Para tapol kemudian dihitung berkali-kali oleh petugas. Inilah momen  menghitung berulang kali yang sering melelahkan bagi saya dan teman tapol lainnya. Kami mirip binatang piara yang boleh diperlakukan dengan seenaknya.

Di stasiun kereta api Cilacap sudah dalam keadaan konsinyier. Tak ada  penumpang lain selain petugas militer yang jumlahnya diperkirakan satu SSK (sekitar 300 tentara) untuk mengawal 1.000 tapol. Memang, saya perhatikan di dalam maupun di luar stasiun penuh dengan tentara berjaga-jaga dalam formasi siap tempur; bersenjata lengkap. Di seberang pintu ke luar sudah berderet truk-truk militer yang siap mengangkut para Tapol.

Para Tapol kemudian diangkut  dengan menggunakan truk yang sudah disiapkan menuju  ke arah selatan di pantai Dermaga Jayapura. Perjalanan menempuh waktu kira-kira 25 menit.

Jam 12 siang saya bersama teman-teman tapol lainnya sudah  sampai di dermaga Jayapura. Letaknya di pinggir pantai Cilacap. Tak jauh dari dermaga telah nampak gugusan bukit karang berwarna putih kekuningan.  Nampak pulaa pos-pos jaga.  Itulah dia Pulau Nusakambangan yang telah menanti sebagai tempat pembuangan tapol tragedi 1965.

 

Ke Nusakambangan

Setelah diapel, lagi-lagi, rutinitas yang sangat menjemukan, yang selalu dihitung dan dihitung bagaikan ternak yang dikuatirkan hilang. Saya kemudian diperintahkan untuk melompat ke kapal ferry penyeberangan berkapasitas terbatas hanya 100 orang. Itupun kapal terdiri dari 2 kapal yang disatukan. Jarak tempuh dari dermaga Jayapura menuju ke dermaga Sodong di Nusakambangan sekira 20 menit saja.

Saya memperhatikan laut Samudera Indonesia yang begitu luas berwarna biru dan bergelombang besar bergulung-gulung terkadang buih putih menerobos lubang goa di pantai Nusakambangan. Di lain sisi, gelombang dahsyat itu terpecah menabrak karang tepian pulau, memutar masuk ke Teluk Penyu dari sebelah timur Pulau Nusa Kambangan yang berdekatan dengan penjara Karang Tengah.

Tidak terasa kami sudah sampai di dermaga Sodong. Dan diperintahkan melompat turun dengan hardikkan beberapa petugas militer,

“Cepat, Cepat, Cepat, Turun !!!”

Segera para tapol diperintahkan menunggu di depan Patung Selamat Datang di Nusakambangan.  Kira-kira 2 jam kemudian 1.000 tapol telah selesai diseberangkan dari dermaga Jayapura ke Sodong. Para Tapol diperintahkan berbaris lima shaf ke belakang dalam posisi jongkok dan tangan di kuduk. Petugas kemudian menghitung berkali-kali dengan menggunakan tongkat kayu panjang, memukuli punggung tapol laksana kerbau piara.

Semua petugas menghitung sampai berulang kali, tak ketinggalan dengan memukul tongkat ke punggung tapol. Para tapol terbiasa menghadapi situasi seperti ini. Namun, yang tidak bisa disembunyikan ialah perasaan lelah karena sejak keluar dari penjara Salemba hingga tiba di Sodong itu sudah  memakan waktu tempuh 36 jam.

Sepanjang perjalanan ini perut kosong, lapar karena hanya diisi satu biji ketupat kecil yang sudah habis dimakan saat dalam kereta api; dimana kami menhan haus karena cuaca amat panasnya…

Tuba bin Abdurahim [Foto: Humas YPKP 65]

Tuba bin Abdurahim [Foto: Humas YPKP 65]

____

* Tuba, lahir 14 April 1944 di Brebes, Jawa Tengah.Sekembalinya dari Pulau Buru, kini tinggal dan menetap di Jembatan III, Pejagalan, Penjaringan Jakarta Utara.
Eks Tapol 65 ditangkap dan dipenjarakan rejim orba di Brebes, dijebloskan ke RTC Salemba, penjara/ kamp kerjapaksa Tangerang, dikirim ke Nusakambangan dan akhirnya dibuang ke Pulau Buru. Saat peristiwa G30S, Tuba berada di Lubang Buaya sebagai Pemuda Rakyat yang tengah menjalani pelatihan relawan Dwikora.
Penulis:Bedjo Untung | Editor: Aris Panji
Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
2/5 - 1
You need login to vote.
Filed in
Ilustrasi Putri HB I yang Membantai Orang Tionghoa. tirto.id/Fiz

Sejarah Indonesia | Kisah Kelam Pembantaian di Tepi Sungai Bengawan Solo

Di Gedung Agung Yogyakarta, Oemiyah dan Ngaisyah menurunkan bendera Jepang pada September 1945. Sumber: Wikimedia.org.

Perempuan Yogyakarta dalam Perjuangan

Related posts
Your comment?
Leave a Reply