Kisah Kelam Jembatan Cindaga

181 Viewed Redaksi 0 respond
CINDAGA: Runtuhan Jembatan Cindaga yang ambrol pada 27 Juni 2011 kini tinggal puingnya. Tetapi jembatan ini menyimpan kisah tragedi pembantaian tak kurang dari 300-an Tapol 65 . Seseorang penyintas tragedi 65 menunjukkan bekas lokasi hanyutnya mayat korban pembantaian [Foto: Humas YPKP 65]
CINDAGA: Runtuhan Jembatan Cindaga yang ambrol pada 27 Juni 2011 kini tinggal puingnya. Tetapi jembatan ini menyimpan kisah tragedi pembantaian tak kurang dari 300-an Tapol 65 . Seseorang penyintas tragedi 65 menunjukkan bekas lokasi hanyutnya mayat korban pembantaian [Foto: Humas YPKP 65]

Senin, 27 Juni 2011 pagi itu cerah ketika Sumarno (kini 39 tahun) warga Banyumas asal Desa Rawalo berada di atas jembatan Serayu setelah memarkir motor Supra miliknya. Masa itu orang memanfaatkan bentang jembatan untuk menjemur padi atau jagung hasil panen, karena memang jembatan ini tak lagi diaktifkan. Namun lelaki ini tak menyangka bahwa sejurus kemudian fondasi jembatan di bawahnya itu roboh lalu diikuti runtuhnya bentang sekira 75 meter dari bagian badan jembatan.

“Kejadiannya (waktu itu_Red) berlangsung sangat cepat”, tuturnya berkisah mengenang peristiwa sewindu yang telah lalu. Wajah Sumarno sobek terkena serpihan aspal dari titik patahan jembatan dan mendapat tiga jahitan setelahnya. Belang luka jahitan itu masih ada dan membekas di sana.

CINDAGA RUNTUH: Jembatan Cindaga yang dibangun kembali 1993 hingga 1998 akhirnya runtuh pada Juni 2011 [Foto Kredit: KomikWordpress]

CINDAGA RUNTUH: Jembatan Cindaga yang dibangun kembali 1993 hingga 1998 akhirnya runtuh pada Juni 2011 [Foto Kredit: KomikWordpress]

Kisah Guru Ikatan Dinas

Kabar runtuhnya “Jembatan Soekarno” Cindaga (27/6/2011) yang lokasi antara desa Rawalo dan Cindaga Kebasen di atas Sungai Serayu pada jalur selatan Bandung–Yogyakarta ini, begitu mengusik ingatan Taslam (84) akan Peristiwa 1965 yang meruntuhkan penggal jalan hidupnya. Dia mengenang peristiwa itu sebagai sebuah tragedi besar yang mustahal, tetapi benar terjadi secara nyata.

Saat itu, tanggal 5 November 1965 Taslam diciduk dan kemudian dikeroyok oleh massa. Tapi dia tahu dari hari sebelumnya kalau massa ini tak bertindak sendiri. Kronologi kejadiannya dimulai saat ia baru saja tiba di SD Kedungrandu II untuk mengajar sebagai Guru Ikatan Dinas kala itu. Tiga orang pemuda menyusul ke sekolahnya saat Taslam hampir memulai mengajar pagi hari.

“Pak.. bapak diminta pulang karena di rumah lagi banyak tamu”, kata pemuda yang mendatangi sekolahnya.

Bagi Taslam, kabar ini telah menggetarkan insting curiganya yang tak berharap datang tamu tak diundang menyela tugas paginya. Lagi, diingatnya 2 hari lalu, rumah Djapon juga diserbu massa. Djapon adalah kolega terdekat Taslam, seorang guru bahasa yang cakap mengajar di sekolah yang berbeda.

“Benar ternyata, rumah saya telah dikepung”, kisahnya mengenang. “Dan pada pagi itulah saya dihakimi massa, diseret dan ditetapkan sebagai tapol yang dibui hingga 14 tahun lamanya tanpa pernah diadili di pengadilan manapun”.

Saat didatangi di rumahnya, mantan guru SD Kedungrandu II, Patikraja dan eks tapol Pulau Buru warga Desa Mandirancan Kebasen Banyumas ini tak bersela mengurai kisah hidupnya; manakala dia dibui selama 5 tahun di penjara Banyumas ditambah 40 hari di Nusakambangan. Dia masih harus menjalani 9 tahun di kamp Unit-8 pengasingan Pulau Buru. Kisah kelam yang menjadi bagian paling gelap dari jalan sejarah bangsanya pada tahun 1965 dan setelahnya.

 

Jembatan Cindaga Tempat Pembantaian Tapol 

Jembatan Cindaga bagi sebagian warga masyarakat Kebasen tua menyebutnya dengan “Jembatan Soekarno” ini merupakan tinggalan sejarah. Pada masa Perang Dunia II, jembatan pernah dibom oleh Jepang tapi kemudian dibangun kembali. Awalnya dibangun pemerintah kolonial Hindia Belanda pada 1938 dengan rancangan bestek yang dibuat Soekarno. Dibangun tiga tahun setelah Soekarno lulus insinyur dari Technische Hochschule Bandung (sekarang ITB_Red) dan bertahan selama 65 tahun hingga 1993.

“Soekarno itu seorang insinyur handal”, tutur Taslam di sela kisahnya. “Tetapi karya monumentalnya dikotori oleh tumpahan darah rakyat yang dibunuhi tentara”, sambungnya.

Dan Taslam adalah bagian dari korban tragedi kemanusiaan 1965 yang dia sendiri terseret dan mengalaminya.

JEMBATAN SOEKARNO: Penampakan Jembatan Cindaga dengan konstruksi baja hasil karya Ir. Soekarno (1939) [Source: ]

JEMBATAN SOEKARNO: Penampakan Jembatan Cindaga dengan konstruksi baja hasil karya Ir. Soekarno (1939) [source: googling]

Ihwal pembantaian massal para tapol oleh tentara di Jembatan Cindaga banyak dituturkan saudaranya di gunung Wilangan. Entah untuk alasan apa, ada permakluman dari aparat bagi masyarakat sekitar dibolehkan menyaksikan orang-orang yang ditembak mati dari atas jembatan itu. Mayat orang-orang ini kemudian hanyut terbawa arus Sungai Serayu. Beberapa warga yang memiliki cukup keberanian melihatnya dari jarak cukup dekat, tapi sebagian lainnya hanya mengintip dari sela rumpun batang pisang yang banyak tumbuh di sekitar lokasi.

 

TASLAM: Di usianya menjelang 85 tahun, Taslam, masih runtut menuturkan kisahnya yang dijebloskan penjara selama 14 tahun di masa Orba [Foto: Humas YPKP 65]

TASLAM: Di usianya menjelang 85 tahun, Taslam, masih runtut menuturkan kisahnya yang dijebloskan penjara selama 14 tahun di masa Orba [Foto: Humas YPKP 65]

“mBoten wonten pengadilan kangge tiyang-tiyang sing dipejahi niku”, tutur seorang saksi yang minta dirahasiakan. Tak ada pengadilan bagi orang-orang yang dibunuh di Jembatan Cindaga itu.

Menurut kesaksian, orang-orang yang dimaksud adalah para tapol yang diburu dan ditangkapi oleh tentara; entah berasal dari mana. Namun ada juga yang datang dari beberapa daerah di perbatasan Jawa Barat. Mereka diangkut dengan truk, baik truk tentara maupun truk milik warga yang tentunya; dengan pengawalan tentara. Muatannya bisa berisi antara 30-50 orang tiap kali ada eksekusi.

Harian Suara Merdeka kolom Suara Banyumas, 28 Mei 2011; sehari setelah runtuhnya jembatan ini pernah menulis:
“Kasus Jembatan Cindaga konon menjadi tempat eksekusi bagi mereka yang terlibat Peristiwa G30S tahun 1965. Banyak tokoh partai yang akhirnya dilarang itu, tewas dan dihanyutkan dari atas jembatan ini. Namun tidak pernah ada dokumen resmi yang mengungkap peristiwa jembatan Cindaga tersebut”.

***

Dua Orang Lolos dari Pembantaian Massal Cindaga

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Ilustrasi: Aksi Kamisan tak pernah diindahkah oleh negara. Tirto/Lugas

20 Tahun Reformasi: Macetnya Kasus-Kasus Pelanggaran HAM

monga_emas1

Petaka Tambang Emas di Pulau Buru

Related posts
Your comment?
Leave a Reply