Jejak “Ruyung Kawung” di Sindangheula

618 Viewed Redaksi 3 responds
SAYUDI:  Sayudi, 84 tahun (berdiri nomor 2 dari kanan) dalam foto bersama Ketua YPKP 65 Bedjo Untung yang berkunjung ke Brebes [Foto: Humas YPKP 65]
SAYUDI: Sayudi, 84 tahun (berdiri nomor 2 dari kanan) dalam foto bersama Ketua YPKP 65 Bedjo Untung yang berkunjung ke Brebes [Foto: Humas YPKP 65]
  •  Catatan Tragedi 1965-66 Sindangheula

Tragedi 1965 di Sindangheula menyisakan trauma mendalam di kalangan korban. Di perbatasan Jawa Barat dan Tengah yang masuk wilayah Brebes ini pun berlangsung perburuan atas orang-orang yang dituding komunis. Tudingan ini, tak lain, menjadi legitimasi buat para penyerang untuk –bila perlu- membunuh para korbannya. Sayudi adalah saksi korban dalam tragedi itu. Hingga September 2018 lalu, bahkan; keluarganya baru selesai dari berpuluh-puluh tahun menyalahkan dan menyudutkannya. Sayudi pernah dibantai semasa tragedi 1965 ini …   

Tak selesai dengan membantai, belum puas dengan merampas, tragedi 1965 pun menggerakkan orang-orang untuk membakar rumah-rumah, bahkan seperangkat gamelan dan wayang golek Sindangheula turut pula diberangusnya. Herman, seniman penabuh kendang; tewas dipersekusi di masa itu.

Penghancuran pun merambah hingga wilayah budaya. Selain itu, banyak rumah kampung di perbukitan Banjarharjo Brebes ini hangus dan dirubuhkan rata dengan tanah. Rumah Sayudi termasuk satu diantaranya. Bersamaan dengan itu dirusak pula rumah Dulwahid, Suparno, Rukadi, Sumarna; sebelum akhirnya juga dirobohkan.

“Waktu itu orang-orang tengah beringas karena perintah pembasmian dari Soeharto yang rebut kuasa”, kisah Sayudi sambil menahan nafasnya.

Sayudi, yang kini berusia 84 tahun, ingat betul pesan Soekarno pada situasi krisis di masa itu untuk “jangan melawan, tunggu komando..”. Meski tak ada komando perintah selanjutnya setelah itu, oleh karena pasca Gestok 65, Bung Karno tersandera; tapi pesan dari sang “pemimpin besar revolusi” ini seperti dibawa oleh kilat badai dan dengan begitu cepat merata sebaran instruksinya hingga jauh menjangkau pula pelosok desa.

Seperti korban lainnya, Sayudi yang menantu dari seorang tentara pun tak melakukan perlawanan saat orang-orang menangkap dirinya dengan perlakuan semena-mena. Ratusan orang membekuk dirinya di Cijambe, ratusan lainnya mengepung memadati jalanan desa. Seringai massa ini seperti sekawanan hewan liar yang lapar tengah menyerbu arena pesta. Mengerikan jika dibayangkan tapi Sayudi dan “orang-orang merah” di Sindangheula itu tak sedang membayangkan, melainkan benar-benar mengalaminya.

Sayudi diseret dan dipukuli oleh massa. Mulut banyak orang kampung itu menyebut dia ikut dalam G30S, meneriakinya terlibat kudeta PKI, yang ditandai dengan pembunuhan 6 jenderal dan 1 perwira di Jakarta sana. Padahal masa itu Sayudi tak pernah ke Jakarta.

“Mengapa kok kamu ikut orang jahat?”, sergah orang-orang itu

“Jahat? Saya tak tahu apa..”

“Hah.. Bukan nggak tahu, kamu memang penjahat itu”.

Tak ada guna lagi membantah mempertentangkan siapa yang jahat, pikir Sayudi dalam hati. Sedikit yang dia kenali dari para penyerbu kampung-kampung adalah beberapa tetangga lain desa. Ingin dia menegur saat itu, beberapa pemuda dikenalinya sebagai Ansor, tapi keberingasan yang riuh pun serta merta melibasnya. Hatinya tak kecut, sedikit marah, tapi tak sebanding dengan kemarahan massal yang entah oleh dorongan sinting apa; menyeret dan memukuli tubuhnya.

Sayudi tergeletak, dengan kepala retak; orang-orang mengiranya sudah mati didera luka aniaya di sekujur tubuhnya. Para pengeroyok bersenjata berbagai jenisnya, menghentikan aniaya yang dilakukan, begitu Sayudi terkapar. Ada senjata aneh yang selalu dibawa seorang yang disebut dari kalangan marhenis Wahong. Orang menyebutnya “Ruyung Kawung”, senjata jenis blandring yang mematikan.

Rupanya senjata ini pula yang menghantam kepala Sayudi. Kepalanya memberat, itu dirasakannya sebelum sekarat; sakitnya tak terkira. Ada banyak alat pukul lain menghujani tubuhnya. Sakit, tentu saja. Tapi tak ada yang memahami bahwa yang jauh lebih sakit adalah hati dan kemanusiaan Sayudi.

Seorang petani Cijambe yang mengenalinya memberanikan diri mendekat “mayat” Sayudi. Dirabanya, tak ada tanda kehidupan pada tubuh yang teronggok di tepi jalan desa itu.

“Sayudi telah mati..”, pikirnya.

Diam-diam warga Cijambe ini pun bergegas menyampaikan kabar lelayu ke Sindangheula. Murani, istri Sayudi menangis sejadinya, dibawanya kain bakal kafan bagi mayat suaminya.

 

Sayudi Hidup Lagi  

Sayudi hidup lagi, 3 jam setelah ditemukan istrinya. Ini keajaiban. Tapi, masa-masa setelah itu, ia tak bisa seutuhnya menerima kembali memori otaknya yang lama. Otak di kepalanya mengalami gegar cukup parah. Halusinasi sering memenuhi celah memorinya, melindih ingatan tentang semua kebaikan dari masa lalunya.

Suatu pagi, Sayudi pergi ke Pasar Pon yang tak seberapa jauh dari rumah tinggal Sindangheula. Saat menyusur jalan kampung, peningnya menyerang. Lalu dilihatnya para pengeroyok itu kembali menyerang dan membunuhnya. Banyak sekali. Dan bertubi-tubi. Setelah itu, semua gelap. Sayudi terkapar di sisi jalan. Lalu orang-orang menggotongnya pulang.

Setengah abad tragedi yang juga tak luput melanda kampungnya berlalu. Banyak diantara orang-orang yang menangkap dan menginterogasi itu kini telah lebih dulu keburu mati, setelah rata-rata menderita pada usia tuanya. Juga tetangga sebelah yang dulu ikut melakukan kekejian massal, walau masih familinya; tapi hari ini sudah sakit-sakitan juga.

Di mata tetangga yang tak lain adik dari istrinya ini Sayudi dipandang sebagai “orang jahat” tanpa mereka sendiri tahu kejahatan apa yang pernah dilakukan Sayudi atau pun keluarganya. Sebegitu “jahatnya” Sayudi, hingga Murani, istrinya; tak boleh menerima bagian harta warisan orangtua. Sinting juga otaknya.

“Suaminya kan PKI, Jangan kasih warisan dia”, larang adik iparnya itu

“Sayudi BTI, Sayudi komunis jahat..”, serapah itu diterakan, tiap hari dan berkali-kali stigma itu dibangunkan. Dan orang-orang terhasut oleh kebohongan yang terus diulang-ulang. Lambat-laun kebohongan dianggap sebagai kebenaran. Begitu lah politik hasut bekerja menghakimi habis-habisan para korbannya, menghabisi sampai akar-akarnya.

Sebegitu jahatnya politik hasut demonisasi (Salil Shetty, 2017) ini bekerja mendorong masuk stigma menyusupi pikiran banyak orang, sampai-sampai ihwal hak waris pun tak luput terlanda ekses bekerjanya. Ia tak dibolehkan nerima waris harta. Tapi, masa itu, orang-orang dibolehkan membakar dan merobohkan rumahnya, merampas harta (kambing) miliknya, memperkosa perempuan sesukanya. Tak berhenti di situ, stigma jahat dilekatkan pada mereka yang jadi korban. Dan anehnya, cap “jahat” itu menurun pula pada anak-anaknya.

Seperti desa-desa lainnya di perbatasan provinsi Jawa Barat ini, desa Sindangheula, Rancaboled, Lebakherang, Cijambe, Cipajang, Rembet, Penanggapan, Kertasari, juga Cisadap; adalah kampung-kampung yang menjadi sasaran buat diserbu. Tanpa perlindungan, tanpa pengadilan. Alih-alih dicegah ekses perluasannya, aparatus negara malah berada bersama mereka; sebarisan dengan persekutor.

Persekusi menyasar orang-orang yang aktif berorganisasi. Tapi bagi Sayudi, menjadi anggota sebuah organisasi itu bukan lah kejahatan. Sebab kejahatan itu hanya bisa diukur dari apa yang diperbuatnya. Dan ia tak pernah melakukan sesuatu kejahatan di kampungnya, atau dimana saja.

“Saya ditanya bahkan dipaksa mengakui ikut kudeta G30S”, akunya. Sayudi diinterogasi dibawah todongan pistol tentara interogatornya.

Pertanyaan ini diulang-ulang dalam apa yang disebut interogasi pada masa screening yang, meski tak kepada semua Tapol, tiap interogasi selalu dibarengi dengan siksaan bertubi-tubi. Setrum listrik tegangan tinggi adalah cara menyiksa yang populer di masa Tragedi 65.

Dalam pandangan Sayudi, setiap interogator atau pun orang-orang yang menyiksanya, bisa memutuskan apa saja. Ia seperti kuasa seorang hakim yang memaksakan hukumnya sendiri. Sehingga dalam pengetahuan Sayudi, sejarah main hakim sendiri meneguhkan akarnya dari sini. Sayudi lebih dari sekedar merasakannya, tapi mengalaminya; bahkan kematian pun telah menimpa dia. Testimoni soal kematiannya dituturkan para kolega petani di desanya yang masa itu telah menyiapkan pemakaman.

Meski Sayudi memang seorang petani, namun ia mengerti itu semua kerna ia juga mengalaminya. Meski “cuma” berpendidikan SR seperti tuturannya, namun ia seorang Pemuda Rakyat yang lalu jadi anggota Barisan Tani Indonesia; tak buta akan peta politik. Tetapi justru lantaran itu, Sayudi dianggap layak sasaran buat diserbu. Hasut demonisasi telah bekerja dan menemukan titik didih kulminasinya; kekacauan meluas. Dan kejahatan atas kemanusiaan pun merajalela dimana-mana.

Pada tahun tragedi 1965 itu, tepatnya pada 25 November ia ditangkap di Cijambe oleh massa yang dikawal aparat negara. Disiksa hingga pingsan lalu disekap di Cipajang selama 3 hari sebelum kemudian dipindahkan dan mendekami sel pada kamp Banjarharjo selama 4 hari. Sejak itu Sayudi berstatus sebagai Tapol dan dipenjara hampir 7 tahun tanpa proses pengadilan hingga tahun 1972 ia dibebaskan bersama lainnya.

Sayudi, Korban dan Penyintas Tragedi 1965 dari Sindangheula, Brebes [Foto: Humas YPKP 65]

Sayudi, Korban dan Penyintas Tragedi 1965 dari Sindangheula, Brebes [Foto: Humas YPKP 65]

Tapol Yang Dibunuh

Kehidupan Tapol di penjara masa itu tak lebih bermartabat ketimbang penjahat kriminal. Kenyataan demikian terjadi dimana-mana, tak terkecuali di penjara Brebes dan tempat-tempat yang dijadikan bui bagi Tapol. Tetapi pada masa ini lah, sedikit demi sedikit Sayudi dapat memahami realitas politik yang tengah dilakoninya. Tak sia-sia ia jadi anggota Barisan Tani Indonesia, bahwa dalam situasi yang bagaimana pun juga; nalar warasnya tak pernah sirna.

Tak percuma karena sebagai Pemuda Rakyat Sayudi terdidik secara langsung dalam praktik organisasinya. Saat ia memasuki BTI, hasil tempaan pemudanya terbawa. Ia dipercaya “membawahi” 5 regu RSB (Rukun Saling Bantu) sebuah kolekte yang merupakan unit terkecil dalam BTI.

Dicarinya informasi guna mengetahui nasib teman-teman petani lainnya. Dari telisik ini beberapa petani Sindangheula Rancaboled, diketahuinya telah mati dieksekusi dan dikubur di makam (belakangan ditandai ada monumen Bamburuncing) pada tahun 1965 itu juga. Eksekusi ini tanpa melalui proses hukum.

Beberapa tahun kemudian Sayudi mengetahui bahwa kolega dekatnya juga telah tiada: Dulwahid, Kirno, Martono, Marno. Ada 2 tempat yang difungsikan sebagai kamp konsentrasi Tapol di Brebes; di Cipajang dan Tersana. Sayudi, ayah dari Rahmat, Suharna, Sahiroh, Kusriah, keempat anaknya; menghimpun semua informasi itu dalam catatan yang dibuatnya. Berikut diantara catatan orang-orang yang mati dibunuh dalam Tragedi 1965:

Sindangheula, Rancaboled: Suharja, Arwan, Carmuki, Herman.

Cijambe, Lebakherang: Setiawan, Basari, Sujana, Gunedi.

Penanggapan: Santa Rawin, Casmita, Gitolo.

Cipajang, Rembet: Harjo dan Karnoto.

Kertasari: Marsono, Wasja, Tasja.

***

Sayudi memang tergolong pemberani. Di suatu hari, ia pernah menemui pengeroyoknya, seorang eks pemuda Anshor yang dikenalnya, untuk menanyakan alasan ia dianiaya di tahun 1965.

“Kenapa saudara mukuli saya tahun 65, apa dasarnya?”, tanya Sayudi.

Ditodong pertanyaan itu, gelagapan juga si pemuda Ansor.

“Kalau dulu tahu duduk perkara, tak mau saya mukul orang”, jawabnya terbata.

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
SETUMBU: Roedi Subroto, penyintas Tragedi 65 tengah menunjuk lokasi kuburan massal Setumbu, pada 2 titik yang berbeda di atas tanah keluarganya [Foto: Humas YPKP 65]

Pembunuhan Tapol 65 Setumbu

Photo-Credit: Bedjo Untung [ist]

Obituari: Trikoyo Ramidjo

Related posts
3 Responses to “Jejak “Ruyung Kawung” di Sindangheula”
  1. Tony
    # Maret 8, 2019 at 11:02 am

    Good Morning

    I hope you are well.

    I would like to contribute to your blog one of the articles I have written on blockchain-based gun control.

    I have saved the article on my google drive which you can find here:

    https://drive.google.com/drive/folders/12vxe0Uo7O1Qzon2Yuj0AhGI3dxJaONIo?usp=sharing

    I am sorry but I did not have any time to find any royalty free images so it would be fab if you could add some.

    I will try to write up a few more articles on my gun collection as and when I get some free time!

    I hope your readers enjoy reading my article. It would be great if you could send me a link once you have had a chance to put it up so that I could show it off to my friends haha!

    Cheers

    Tony

  2. # Maret 8, 2019 at 1:37 pm

    Hello there,

    My name is Aly and I would like to know if you would have any interest to have your website here at ypkp1965.org promoted as a resource on our blog alychidesign.com ?

    We are in the midst of updating our broken link resources to include current and up to date resources for our readers. Our resource links are manually approved allowing us to mark a link as a do-follow link as well
    .
    If you may be interested please in being included as a resource on our blog, please let me know.

    Thanks,
    Aly

  3. # April 27, 2019 at 7:50 am

    Hello there,

    My name is Aly. Would you have any interest to have your website here at ypkp1965.org promoted as a resource on our blog alychidesign.com ?

    We are in the currently updating our do-follow broken link resources to include current and up to date resources for our readers.

    If you may be interested please in being included as a resource on our blog, please let me know.

    Thanks,
    Aly

Leave a Reply