Aktivis HAM Korsel Ziarahi Kuburan Massal Jegong

461 Viewed Redaksi 0 respond
TRUTH: Song So-yeon dan Sarang Lee, aktivis HAM South Korea "The Truth Foundation" berada di tengah lokasi "mass-graves" korban Tragedi 65 di hutan Jegong, Barisan, Jaken, Pati. [Foto: Humas YPKP65]
TRUTH: Song So-yeon dan Sarang Lee, aktivis HAM South Korea "The Truth Foundation" berada di tengah lokasi "mass-graves" korban Tragedi 65 di hutan Jegong, Barisan, Jaken, Pati. [Foto: Humas YPKP65]

Salah satu korban kejahatan HAM rejim South Korea yang distigma sebagai pembelot mata-mata North Korea, Song So-yeon, berkunjung ke Indonesia untuk suatu jalinan persahabatan dan bersolidaritas bagi pengungkapan kejahatan Genocide 65 Indonesia. Kehadiran Song So-yeon didampingi salah satu asisten peneliti Sarang Lee pada organisasi nirlaba The Truth Foundation; dimana Song So-yeon menjadi Direktur riset pencari fakta kasus mata-mata.

 

Kedua tamu aktivis HAM Korea Selatan tiba pada Sabtu (4/3) sore di bandara Soekarno-Hatta Jakarta dijemput Ketua YPKP 65 Bedjo Untung didampingi Sekretaris Eddy Sugianto dan salah satu korban Tragedi 65, Tuba. Pada hari berikutnya, keduanya berkeliling di seputar Tangerang untuk napak-tilas lokasi penjara Tapol 65, beberapa titik yang merupakan kamp-konsentrasi dan kerjapaksa para Tapol di era rejim Orba Soeharto.

 

Kunjungan selama sepekan ini juga akan dimanfaatkan untuk saling tukar pengalaman, mengingat para penyintas korban kejahatan HAM berat di Korea Selatan berhasil melancarkan gugatan hukum dan memenangkan perkara melalui jalur yudisial; termasuk untuk kasus yang terjadi sebagai akibat dari “Perang Korea” 1950.

 

Berkaca dari pengalaman aktivis HAM Korsel ini, maka tak ada alasan bagi Indonesia untuk menginterupsi penuntasan kasus Genosida 1965 dengan dalih kejadiannya (genosida’65_Red) telah lama lampau. Terlebih dalam konteks supremasi hukum dan bagi penyelesaian kejahatan HAM berat masa lalu, telah ada UU No. 26 Tahun 2000 yang mengamanatkan pembentukan pengadilan HAM Indonesia.

 

Padahal telah pula ada penyelidikan awal pro-justisia yang menghasilkan rekomendasi dugaan kuat bahwa militer telah melakukan pelanggaran HAM berat pada Tragedi 65. Dari perspektif hukum, putusan sidang pengadilan rakyat internasional (IPT 65) Den-Haag juga telah membuktikan adanya kejahatan HAM dan Genosida 1965 di Indonesia.

 

Ziarah Kuburan Massal

 

JEGONG: Jalan setapak menuju hutan "Jegong" di kawasan Perhutani Barisan [Foto: Humas YPKP65]

JEGONG: Jalan setapak menuju hutan “Jegong” di kawasan Perhutani Barisan [Foto: Humas YPKP65]

Selain “napak-tilas” jejak kejahatan HAM berat rejim Orba di seputar Tangerang bersama rombongan YPKP 65, kedua aktivis dan peneliti Korsel ini melakukan ziarah makam ke lokasi kuburan massal di hutan Jegong, kawasan perhutani Desa Barisan, Jaken, Pati.

 

Penemuan lokasi kuburan massal korban Tragedi 65 yang jumlahnya bakal terus bertambah selain data 122 lokasi yang telah dilaporkan YPKP 65, dapat merupakan bukti paling valid jika memang berkemauan untuk secara serius menyelesaikan kasus yang menjadi beban sejarah bangsa.

 

Menurut Song So-yeon, Korsel juga melakukan pendataan dan penelitian mendalam soal keberadaan kuburan massal di sana. Bahwa ada reaksi dari kalangan tertentu yang berkaitan dengan pelaku kejahatan HAM di negeri ginseng ini, itu tak mengurangi itikad pemerintah yang merespons desakan para korban. Situasi di Korsel dalam proses yudisial, rekonsiliasi dan rehabilitasi korban; tak berbeda dengan Indonesia.

 

Ada juga kelompok reaksioner yang melakukan serangan politik dan bahkan serangan fisik secara terbuka kepada korban dan aktivis HAM di sana; termasuk saat melakukan penelitian kuburan massal.

JEJAK: Jejak galian di titik lokasi kuburan massal hutan "Jegong" Pati, ditemukan (6/3) bekas-bekasnya. [Foto: Humas YPKP65]

JEJAK: Jejak galian di titik lokasi kuburan massal hutan “Jegong” Pati, ditemukan (6/3) bekas-bekasnya. [Foto: Humas YPKP65]

Untuk kuburan massal di hutan Jegong, Pati; penelitian seperti ini juga pernah diintimidasi oleh aparat intel militer dan polisi. Bahkan pada ziarah hari Senin (6/3) didapati tanda-tanda bahwa di lokasi kuburan massal hutan Jegong telah dilakukan penggalian. Jejak galian itu masih ada hingga hari ini, meski belum mencapai kedalaman seukuran liang lahat.

 

“Sekitar dua pekan lalu saya mendapat laporan warga sekitar sini tentang adanya dhokeran (galian_Red) ini”, Supardi menjelaskan apa yang sebelumnya telah disampaikan padanya.

 

Menurut Supardi yang juga Ketua YPKP 65 Pati ini, pihaknya tak mau berspekulasi apakah jejak galian ini sebagai upaya diam-diam guna “membongkar” isi kuburan massal, atau kesengajaan untuk tujuan lain, misalnya menghapus jejak kuburan massal manusia.

 

Setidaknya agenda ziarah hari ini telah menemukan bukti kebenaran laporan yang ia terima, namun belum meneliti lebih jauh, siapa pelakunya dan apa maksud tujuannya. Rombongan yang disertai tamu dari Korsel ini lalu memanjatkan doa bersama sebelum kemudian meninggalkan lokasi.

[hum]

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
illustrasi: foto "ingatan sunyi" [ist]

Kekerasan Pasca Gestok 65: Dari Politik Kepada Seks

Song So-yeon (memegang kamera) aktivis HAM pada "The Truth Foundation" Korea Selatan, tengah mengambil gambar pada "Aksi Kamisan" ke 484 di depan istana (9/3) Jakarta [Foto: Humas YPKP'65]

Song So-yeon dan Sarang Lee “Aksi Kamisan” di Jakarta

Related posts
Your comment?
Leave a Reply