Cokrokembang, Bumi yang Menolak Jadi Kuburan Massal 65

598 Viewed Redaksi 0 respond
GEGER GESTOK 65: Gumbul "Tirto Giri Kalangan" pada masa Tragedi 65 gagal dijadikan lokasi kuburan massal (mass-graves) meskipun telah diperintahkan otoritas militer masa itu {Foto: YPKP'65 Pacitan]
GEGER GESTOK 65: Gumbul "Tirto Giri Kalangan" pada masa Tragedi 65 gagal dijadikan lokasi kuburan massal (mass-graves) meskipun telah diperintahkan otoritas militer masa itu {Foto: YPKP'65 Pacitan]

Pucuk gunung Lawu (yang sekarang pajal bagian puncaknya) dalam suatu legenda tutur perbatasan Magetan – Ngawi tengah dipikul punakawan Semar, Gareng dan Petruk. Dari tempatnya, potongan gunung ini dibandhet tali gulma sembukan dan dipikul kayu pohon ketela. Dalam perjalanannya ke arah selatan, gotongan ini melintasi Cokrokembang di Pacitan dan melewati pedukuhan kecil di bawah pegunungan Ngasem. Malam terang bulan dimana pada sepagi buta telah ada orang menyapu halaman dan terdengar pula orang menimba air di sumur pedukuhan itu. Aktivitas penduduk sepagi buta itu mengejutkan para punakawan, sehingga terpaksa menghentikan pekerjaan rahasianya…

Lokasi yang menjadi tengara perbatasan Desa Cokrokembang dan Desa Cangkring ini dahulunya adalah paparan air, maka lalu disebut dengan Tirto Giri Kalangan (gunung dikelilingi air_Red), dimana pucuk Lawu ini akhirnya ditaruh pada titik itu karena khawatir keburu siang tiba dan jadi tontonan warga. Konsekuensi moral mirip kutukan atas prosesi boyongan pucuk Lawu yang terpaksa diakhiri disini diyakini menyebabkan sengkala warga lokal pedukuhan itu jadi sulit berjodoh sebelum usia beranjak tua. Kutukan ini dianggap nyata terbukti berlaku bagi gadis warga dusun Ngasem di Cangkring dan bagi jejaka dari Dusun Barak di Cokrokembang.

Hingga hari ini cerita legenda tutur ini diarsip dalam ingatan spiritual orang-orang tua Desa Cokrokembang, bersanding dengan cerita tentang wayang orang dan reog; seni rakyat yang pernah berjaya di dua kampung itu. Ini berlangsung hingga masa sebelum stelengan dimana komersialisasi seni menggejala dan komunitas tradisi mulai berorientasi pada perolehan profit bagi pentas-pentasnya. Panggung Wayang Orang dan Reog adalah dua seni tradisi yang tumbuh, populer dan merakyat di Cokrokembang pada masa itu hingga pertengahan 1960-an.

 

STELENGAN: Gedung sekolah 3 lokal yang rintisannya dibangun pemerintah kolonial ini pernah digunakan sebagai area panggung wayang, dengan sistem ticketing bagi warga apresian yang menonton pementasan seni masa itu [Foto: YPKP'65 Pacitan]

STELENGAN: Gedung sekolah 3 lokal yang rintisannya dibangun pemerintah kolonial ini pernah digunakan sebagai area panggung wayang, dengan sistem ticketing bagi warga apresian yang menonton pementasan seni masa itu [Foto: YPKP’65 Pacitan]

Cokrokembang juga mengantarkan Ismadi warga pedukuhan Barak Tengah menjadi bintang Reog yang di akhir popularitas zamannya, seniman ini diculik tentara pada masa tragedi pasca Oktober 1965; hilang tanpa jejak dan tak kembali hingga hari ini. Warga Barak Tengah lainnya bernama Soekirno dikenal umum pada masa itu sebagai “pistul tuding” (informan_Red) yang ikut pula memasukkan nama-nama orang desa yang harus dibunuh dan disingkir oleh “negara”. Pembantaian meluas ini juga merangsek masuk desa Cokrokembang dan Cangkring di sebelahnya.

Tetapi setiap Cokrokembang akan disasar untuk pembantaian dengan disiapkan lubang bagi para korbannya, bumi Tirto Giri Kalangan menolak. Ihwal penolakan ini ditengara secara alamiah melalui anomali ekstrim cuaca. Kejadian ini berulang hingga 3 kali dengan ditandai munculnya hujan badai disertai halilintar; selalu saja air menggenangi liang yang telah disiapkan bagi penguburan orang-orang yang diskenario untuk dihabisi di Tirto Giri Kalangan. Warga meyakini bahwa perlakuan orang, terutama pembantaian yang dilakukan militer, sebagai nggege-mangsa (mendahului kehendakNya_Red). Melakukan tindakan yang secara hukum alam tak diperbolehkan karena belum tiba saatnya, lantaran belum berbuat.

Itu sebabnya, pada masa pembantaian massal korban 65 melanda hingga pelosok desa, Cokrokembang luput dari tragedi pembunuhan dan tak ada jejak kubur ditemukan di sana.

 

Persekusi Itu Ada Komandonya

Ihwal persekusi massal yang dibilang nggege-mangsa itu memang nyata, karena secara faktual seluruh pembunuhan massal di Pacitan pasca Geger Gestok 1965 itu memang dilakukan di luar proses hukum. Perintahnya bukan bersumber dari putusan pengadilan yang menilai suatu perkara, melainkan dari poros kekuasaan, ditandai dengan tragedi Lubang Buaya yang merupakan penggalan fase kudeta merangkak di Jakarta sebagi pusat kekuasaan.

“Itu mendahului jaiz takdir”, kata Parngadi. “Lha tidak melakukan apa-apa kok rakyat malah sudah dibunuhi dimana-mana”, sambungnya menuturkan pembantaian massal yang masuk hingga desa-desa.

Parngadi, 82, adalah mantan Mantri Malaria yang membawahi 6 desa sebagai wilayah kerja kemantren pada masa itu. Karier pengabdiannya di lapangan kesehatan publik harus berakhir karena Geger Gestok tahun 1965. Menurutnya, penculikan dan pembantaian meluas ini jelas-jelas ada perintahnya; sama seperti perintah culik dan bunuh yang merambah desanya. Jadi, perintah kematian itu jelas ada mata rantai komandonya.

Juminem (73) saat menuturkan kisahnya

Juminem (73) saat menuturkan kisahnya

Di wilayah yang pada masa itu disebut Distrik Lorok, Juminem (73) masih ingat benar bagaimana para tahanan politik (tapol) dijemput dari mana-mana. Para tapol itu ditampung di markas distrik yang membawahi tiga kecamatan: Ngadirojo, Sudimoro dan Tulakan. Para tapol dibawa dalam keadaan terikat tangannya lalu dijemur di halaman terbuka. Lalu diabsen, dibawa truk tentara, dan hampir dipastikan kalau mereka yang dibawa (dibon_Red) itu menemui ajalnya. Juminem adalah perempuan juru masak yang direkrut militer atas rekomendasi lurah desanya, Isis Gunarto. Dia bekerja selama lebih tiga minggu di sana dan tanpa upah.

“Tugas saya memasak untuk tentara dan tahanannya di kantor distrik”, kisahnya.

Juminem yang saat itu berusia 25 tahun melakukannya dengan suka cita. Ia melakoni pekerjaan juru masak tiap hari sebagai bagian dari “tugas negara”. Begitu yang sering dikatakan para kumendan di sana, di tengah para tentara itu gencar menangkapi musuh-musuhnya. Namun diantara yang disebut para musuh itu didapati pula tetangganya yang dia tahu tak pernah memusuhi negara, tetapi sejak itu; tak bisa ditemuinya kembali hingga hari ini.

Juminem tak sendirian, ada 5 perempuan desa lain bersamanya, tetapi semua telah mati. Kini perempuan sendirian ini makin merenungi hari tuanya di kampung melewati malam-malamnya yang disenyapkan diantara bayangan tentang negara dan tentara yang pernah dilayaninya. Dan ia tak mampu memahami utuh semua yang pernah dialaminya..  []

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Mardadi Untung (81) kembali berkacamata, di masa pemulihan penglihatannya [Foto: Humas YPKP 65]

Trauma Screening dan “kembalinya mata” Mardadi Untung [3]

IMG_3839

1965 dan Upeti Orang Bekuan

Related posts
Your comment?
Leave a Reply