Dari Koblen ke Nusakambangan dan Buangan Pulau Buru [2]

322 Viewed Redaksi 1 respond
KEYANG: Jembatan Keyang, saksi bisu pembantaian massal para korban Tragedi 65 di Jetis, Ponorogo [Foto: Humas YPKP 65]
KEYANG: Jembatan Keyang, saksi bisu pembantaian massal para korban Tragedi 65 di Jetis, Ponorogo [Foto: Humas YPKP 65]
  • Kisah Tapol Pulau Buru

Musibah Pertama Unit S

Pada keesokan paginya beberapa Tapol diperintahkan kembali ke Namlea untuk mengambil barang-barang yang masih tertinggal di kapal. Rudy merasa tak sanggup untuk tugas menempuh perjalanan kembali ini dan memilih tinggal di Unit 19 untuk memulai kewajiban Tapol dalam sebuah kamp kerjapaksa.

Diantara para tapol ini ada pula seorang dokter, dr Karyadi namanya. Setahu Rudy, dr Karyadi adalah dokter di perusahaan Semen Gresik yang bukan dari kalangan militer tapi banyak orang menyebut dokter ini sebagai Kapten. Hal itu dimungkinkan karena pada masa sebelumnya banyak pemuda dan mahasiswa kena wajib militer di masa pembebasan Irian Barat.

Rudy yang kala itu telah bekerja di Postel Surabaya, termasuk dalam barisan sukarelawan Dwikora yang mendapat latihan dasar-dasar kemiliteran di Cimahi yang kemudian ikut mobilisasi umum di bawah instruksi dan komando Bung Karno.

Selang 3 hari di Unit S Pulau Buru, sang dokter mengantar beberapa pasien ke Mako, karena disana lah dokter asli dari kalangan tapol berada. Sepulang dari Mako ini musibah pertama Unit S terjadi. Perahu kecil bermuatan 7 tapol yang akan menyeberangi Sungai Waiapu terbalik tak lama setelah perahu didorong ke tengah arus oleh Tonwal.

Kepanikan merenggut para penyeberang itu dan kesemuanya tewas terbawa arus deras; termasuk dr Karyadi. Orang-orang mengira ini nahasnya si dokter, karena sang Kapten ini sebenarnya bisa berenang kalau dia cuma fokus menyelamatkan diri sendiri saja.

Kepanikan dalam menghadapi sesuatu musibah memang berpotensi memperbesar resiko dan kerentanan musibah itu sendiri melebihi ukuran yang seharusnya. Keinginan dokter menyelamatkan pasien yang tak mampu berenang justru telah menyebabkan ia ikut binasa di Sungai Waiapu. Begitu lah garis pepesthen bekerja atas makhluk-Nya..

 

Tak Ada Pemalas di Barak-Barak itu

Banyak hutan sagu di Pulau Buru, bahkan kalau pun butuh daunnya untuk mengatapi rumah rumbia, tinggal tebang saja berikut pohonnya dan lalu ambil semua daunnya; pohon itu tak kan ada habisnya. Begitu pun dengan ikan mujahir di Sungai Waiapu yang belum lama ini telah menenggelamkan perahu pasien berikut dokter itu dalam pusar arusnya.

Seluruh sumberdaya alam pulau ini, jika dikelola dengan disiplin budidaya yang benar akan mencukupi kebutuhan seluruh penduduknya, tetapi tak kan pernah cukup kenyang menutup satu saja mulut orang yang memuja keserakahan hidupnya.

Dan ratusan ribu Tapol yang dihukum buang di pulau ini mulai nyata membuktikan kebenaran teori itu. Saat rombongan penghuni Unit S tiba di pulau ini, puluhan hektar sawah telah mulai menunjukkan hasil dari petak-petak produksinya. Bantuan lembu juga telah berkembang biak, selain dimanfaatkan tenaganya untuk membantu petani membajak lahan sawahnya.

Setiap barak memiliki kepala-kepala yang mengatur pekerjaan sesuai minat dan keahlian anggotanya. Kalaupun orang itu tak memiliki skill tertentu, tapol sejawatnya akan mengajarinya bercocok tanam, berkebun, berternak, menukang kayu atau batu, meramu jamu dan pekerjaan-pekerjaan produktif maupun jasa lainnya. Banyak tapol juga belajar ilmu akupuntur, akupressure dan kebisaan bidang seni atau lainnya.

Tak ada Tapol bermalas-malas menghuni barak-barak itu, meski tak pula dipungkiri semua pekerjaan berada dibawah tekanan hebat pihak tentara melalui Tonwal yang acap kelewatan menerapkan hukuman. Bagi tapol yang sebelumnya terbiasa duduk di belakang meja, memang terasa berat melakoni semua perubahan drastis ini. Tetapi bagi petani yang terbiasa bekerja keras di lapangan terbuka mudah saja menyesuaikannya.

Tapi pada akhirnya semua bisa tertolong oleh keguyuban luar biasa yang terbangun diantara sesama tahanan politik.

 

Tapol, Bendung dan Jaringan Irigasi

Dalam beberapa kesempatan para tapol berseloroh dengan membuat joke plesetan menyebut Pulau Buru sebagai sebuah Institute yang disingkat dengan inrehab Pulau Buru (IPB). Boleh jadi plesetan ini memang dianekdot sekaligus sebagai “rival  saintik” Institute Pertanian Bogor karena dalam hal pembangunan bidang pertanian, riset maupun pengembangan keilmuan praksisnya; sangatlah nyata perwujudannya.

Di unit-unit lain di Inrehab Pulau Buru banyak Tapol intelektual yang memiliki pengetahuan akademis dan keahlian teknis, seperti arsitek dan ahli bidang irigasi. Itu pula sebabnya Tapol Pulau Buru pun mampu membangun bendung sendiri berikut jaringan irigasi teknis dengan berbasis sumberdaya lokal sepenuhnya. Para Tapol ini membangun sendiri jaringan irigasi bukan dengan konstruksi beton; melainkan kayu!

Kayu untuk pekerjaan sipil basah? Ya. Kayu dalam berbagai jenisnya memang banyak terdapat di pulau ini terutama di kawasan hutan. Kayu Meranti termasuk yang terbaik dalam hal dayatahan dan kekuatannya di dalam air. Pintu-pintu air, bendung pembagi dan turap saluran tersier maupun kwarter; dengan kayu pula membangunnya.

Kemandirian dan pengalaman empirik budidaya pertanian dari Inrehab Pulau Buru bahkan diproyeksikan ulang oleh mantan Tapol paska pembebasan 1979. Salah satunya oleh mbah Paiman dari Mojogedang Karanganyar.

 

PULAU BURU; Roedi dengan cikar lembu [Foto; Doc. Pribadi/Roedi]

PULAU BURU – Rudy dengan cikar lembu [Foto; Doc. Pribadi]

Lembu Cikar dan Sabit Tapol

Belum genap setahun menjadi Tapol Pulau Buru, Rudy Subroto telah bisa menguasai ketrampilan baru mengendalikan lembu penarik cikar pedati guna mengangkut sarana produksi maupun hasil bumi dari pertanian dan perkebunan.

Suatu pagi, ia mendapat masalah dengan kendali atas cikarnya. Si lembu begar persis sapi gila, lari montang-manting dan tak mau dikendalikan sais sampai akhirnya paha Rudy terjepit antara pohon dan roda cikar. Kali ini ia harus belajar benar bahwa kebisaan mengendalikan laju cikar pun harus memahami perlakuan atas lembunya. Ternyata memang disini dasar masalahnya. Rupanya si lembu penarik cikarnya salah pasangan. Hewan memamahbiak ini tak mau bekerja dengan baik kalau bukan dengan sapi mana ia biasa dipasangkan!

Populasi lembu di pulau buangan tapol ini bermula dari bantuan dari pemerintah. Lembu dimaksudkan bukan cuma untuk pemenuhan ternak, melainkan juga untuk menyokong pekerjaan pertanian dalam mengolah lahan dan ketersediaan pupuk organik. Hanya untuk bisa dilibatkan dalam kerja, si lembu mesti diajari. Begitu juga membajak sawah dengan tenaga tarikan lembu dengan wluku hingga garu buat meratakan lahan persawahan menjelang benih padi ditanamkan.

Model tanamnya bisa pula dengan cara kedua, dimana bulir benih gabah disebarkan merata. Saat benih itu tumbuh dengan tinggi sekitar 15 hingga 30 centi baru diurai tumbuhnya secara merata agar jarak tumbuh tak terlalu berdempetan. Penguraian ini akan memastikan jumlah anakan tanaman berkembang maksimal sampai menghasilkan panen terbaik.

Hanya peraturan yang diberlakukan secara kaku membuat Roedi maupun Tapol lain jengah berkepanjangan. Setiap petani berangkat ke sawah yang jadi lahan garapannya, tentulah membawa serta cangkul ataupun sabit karena itu memang merupakan alat kerjanya.

Menurut peraturan, tiap kali berpapasan dengan Tonwal harus menunduk dan menjatuhkan sabit atau cangkulnya ke tanah. Jika ini tak dipatuhi, maka bisa saja Tapol disalahkan dan akan menerima sangsi hukumannya, berupa pukulan atau bahkan hantaman popor senjata. Urusan selanjutnya bisa lebih pelik dari itu semua.

Di Unit S ada 7 barak, setiap barak berisi 100-an Tapol meskipun ada pula yang berisi 80 atau 90 anggota. Total tak kurang dari 500 tapol menjadi penghuni Unit 19 yang terbangun agak belakangan ini. Tetapi lebih baik bangunan baraknya, bisa dibilang sudah lebih enak keadaannya berdinding papan yang telah disiapkan dan beratap seng pula bagian atasnya.

Sketsa Inrehab Pulau Buru [Kredit Gambar: Mars Nursmono]

Sketsa Inrehab Pulau Buru [Kredit Gambar: Mars Nursmono]

Hubungan Tapol Antar Unit  

Mungkin memang karena rombongan Unit S tiba belakangan, maka Rudy merasakan sikon Pulau Buru masa itu pun sudah jauh lebih baik dari banyak cerita sebelumnya. Ia tak menafikan korelasi ini semua dengan peran rintisan Tapol yang lebih dulu dikirim jauh sebelum kedatangan rombongannya. Begitu ia tinggal disana, pun tak ada aral berkunjung ke Unit-unit yang lama, atau bahkan untuk meminta bantuan ke sana.

Banyak penghuni Unit lama, berhasil sebagai penekun ternak ayam, punya telur atau tetasan bibit ayam, dikasihkannya pada Tapol yang baru datang itu; acapkali tak harus dengan membelinya. Bahkan untuk suatu supervisi cara beternak pun dimungkinkan. Kunjungan seperti ini harus pakai surat jalan, ada ijin meski hanya antar Unit. Surat ini akan diperiksa dan diserahkan kepada Tonwal di posnya.

Begitu pula interaksi yang terbangun dengan penduduk lokal pulau yang pada awalnya terkesan ada ketegangan. Mungkin memang ada suatu kampanye kebohongan mengenai tahanan politik yang akan dikirim dari

Jawa menghuni unit-unit di pulau itu. Tetapi dalam perkembangannya hubungan ini terjalin baik, ada saling kunjung dan dalam setiap kesempatan, penduduk asli menyebut tapol sebagai “warga” pulau. Tak ada stigma, tak ada dikriminasi.

Di unit S banyak tumbuh tanaman kencur, entah siapa yang menanam tetapi tumbuh laksana rumput saja. Pada masa awal banyak Tapol penghuni Unit 19 ini memanfaatkan daun mudanya untuk bahan sayur atau bahkan lalap yang akan dipadu dengan sambal terasi atau ikan asin sebagai lauk.

Olahan ini mengingatkan Rudy pada kehidupan masa kecil di kampung Jawa Timurnya dan pada hematnya menu ini pun menyehatkan karena mengandung unsur dan manfaat jamu bagi kesehatan tubuh.

 

Pembebasan itu Bukan karena Kebaikan Penguasa

Pembebasan Tapol Pulau Buru juga dilakukan secara bergelombang antara tahun 1979 hingga Oktober 1979. Tetapi satu hal, pembebasan tahanan politik ini bukan karena kebaikan rezime militer yang seluruh mata rantai kekuasaannya berada di bawah kontrol Soeharto. Bukan. Pembebasan itu dihasilkan dari proses yang panjang. Baik di dalam negeri sendiri maupun dari tekanan Amnesty International, International Red-Cross dan lainnya. Tokoh yang paling gencar melakukan tekanan ini adalah Jimmy Carter.

Rudy hanya menjalani 4,5 tahun menjadi tapol inrehab Pulau Buru. Masa tahanannya lebih banyak dihabiskan di penjara Koblan Surabaya, Kamp CI dan Nusakambangan. Dulu dia dikirim ke pulau pembuangan ini melalui gelombang akhir pengiriman tapol. Total keseluruhan masa dalam tahanan yang dia jalani 10 tahun, kurang separuhnya ia menguni Pulau Buru sampai ia dibebaskan bersama lainnya pada Oktober 1979.. [hum]

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
KEYANG: Jembatan Keyang, saksi bisu pembantaian massal para korban Tragedi 65 di Jetis, Ponorogo [Foto: Humas YPKP 65]

Dari Koblen Ke Nusakambangan dan Buangan Pulau Buru [1]

mamiek2

Selamat Jalan Christina ‘Mamiek’ Sumarmiyati…

Related posts
One Response to “Dari Koblen ke Nusakambangan dan Buangan Pulau Buru [2]”
  1. # April 29, 2019 at 9:42 am

    Thank youThanks for any otheranothersome otherevery other greatwonderfulfantasticmagnificentexcellent articlepost. WhereThe place else may justmaycould anyoneanybody get that kind oftype of informationinfo in such a perfectan ideal waymethodmeansapproachmanner of writing? I haveI’ve a presentation nextsubsequent week, and I amI’m at theon the look forsearch for such informationinfo.

Leave a Reply