Dari Koblen Ke Nusakambangan dan Buangan Pulau Buru [1]

621 Viewed Redaksi 1 respond
KEYANG: Jembatan Keyang, saksi bisu pembantaian massal para korban Tragedi 65 di Jetis, Ponorogo [Foto: Humas YPKP 65]
KEYANG: Jembatan Keyang, saksi bisu pembantaian massal para korban Tragedi 65 di Jetis, Ponorogo [Foto: Humas YPKP 65]
  • Kisah Tapol 65 Ponorogo

Rumah kontrakan itu tak seberapa besar, bahkan tergolong kecil. Petaknya hanya terdiri dari kamar tidur dan ruang dapur. Bagian depan serupa teras yang hanya muat 3 kursi sekaligus berfungsi sebagai ruang tamu. Keadaannya biasa saja untuk tak dibilang sangat sederhana.

Sebagai pegawai di kantor Postel dan telah beberapa tahun menikah, Rudy Subroto mengontrak sebuah rumah di Surabaya untuk ditinggalinya bersama istrinya.

Hari itu, tanggal 14 Agustus 1970, pintu rumah kontrakan ini diketuk orang. “Ada tamu rupanya”, batin Roedi. Dan ia membukakan pintu rumahnya. Ternyata di teras rumah telah berdiri seorang tentara berpangkat Pelda yang tanpa mengenalkan diri langsung menanyakan nama dan hal-hal lainnya. Belakangan Roedi mengetahui nama petugas berpangkat Pelda ini adalah Isliku.

Oleh petugas ini, disuruhnya Rudy keluar dari rumah kontrakannya. Dan saat itulah Rudy tahu kalau rumah kecil itu sudah dalam keadaan terkepung sepasukan tentara bersenjata lengkap.

Beberapa petugas menerobos masuk dan melakukan penggeledahan di dalam rumah kecilnya. Tak ada sejengkal pun ruang terlewati oleh penggeledahan yang dilakukan para petugas negara ini, mulai dari sela dapur hingga kamar tidur. Almari juga dibongkar seluruh isinya.

Entah apa yang dicarinya, apa pula yang akan atau telah diambilnya; Rudy tak mengerti. Dan ia tak protes maupun bertanya lebih, nalurinya berkata bahwa situasinya gawat serta amat tak menguntungkan dia.

SCREENING: Lukisan sketsa Mardadi Untung yang menggambarkan pengalaman tapol menghadapi interogasi “tim screening” pasca tragedi 65. Siksaan fisik, terutama pada bagian kepala yang berulang-ulang, disinyalir jadi penyebab sindrome syaraf penglihatan yang membutakan mata kanannya [Kredit Gambar: Sketsa Mardadi Untung]

SCREENING: Lukisan sketsa Mardadi Untung yang menggambarkan pengalaman tapol menghadapi interogasi “tim screening” pasca tragedi 65. [Kredit Gambar: Sketsa Mardadi Untung]

Dibawa ke Kodim, Korem dan CI

Tanpa banyak debat dibawanya Rudy ke Jalan Kayun Surabaya, tempat markas Kodim berada. Dilihatnya di markas tentara itu banyak orang juga lebih dulu ditangkap, sebagian dikenalnya sebagai anggota Serikat Buruh. Tapi Rudy pun tak bisa berbicara lebih jauh.

Tak lama Rudy berada di Jalan Kayun itu, sebelum kemudian ia dibawa pergi lagi, kali ini ke Korem 084 Baskara Jaya. Rupanya komandan tentara yang menjemputnya hanya perlu melapor perihal penangkapan dirinya ke Kodim tadi.

Tiba di markas Korem, dilihatnya salah satu penjaga adalah bekas teman sekolahnya di Surabaya. Namun, lagi-lagi, Rudy tak berani bahkan untuk sekedar menyapa. Selain situasinya memang genting, saat itu orang-orang akan saling bersikap seolah tak mengenalnya juga. Rudy mulai menyadari gentingnya situasi pada umumnya pada wilayah yang lebih luas.

Demikian juga ketika akhirnya Rudy dibawa kembali sampai ke sebuah tempat di Jalan Undakan Wetan 100 Surabaya. Orang menyebut lokasi itu sebagai markas CI (Corps Intelegent) yang difungsikan sebagai kamp konsentrasi Tapol 65.

Rudy Subroto yang sejak tahun 1966 telah dipecat “dengan tidak hormat” dari tempatnya bekerja di Postel Surabaya mendapati kenyataan bahwa ia kini tak lebih dari seorang “Tapol” (Tahanan Politik) yang kelak masih akan menerakan kode “ET” pada Kartu Tanda Penduduknya.   

 

Interogasi dan Cerita Rekaan 

Di kamp konsentrasi CI inilah para Tapol yang diciduk dari berbagai daerah disentralisir untuk menunggu tiba giliran diinterogasi tentara. Para Tapol akan diperiksa satu per satu “peran dan keterlibatannya” dalam apa yang disebut sebagai G30S.

Tanpa menunggu lama hitungan hari, Rudy memahami benar apa yang tengah terjadi dan ia sendiri juga bakal mengalami saat giliran jatuh pada dirinya. Interogasi dilakukan di sebuah ruangan khusus tetapi hampir semua Tapol melihat akibat yang diderita teman senasibnya yang keluar dari ruang momok di sana.

Hampir semua Tapol yang keluar dari ruang interogasi dalam keadaan yang sama sekali berkebalikan dari ketika ia mau memasukinya. Banyak yang keluar dengan wajah lebam, tubuh luka berdarah-darah, kaki melepuh dan pincang sehingga harus dipapah sebab tak lagi bisa normal berjalan; bahkan juga ada yang pingsan dan mati setelah keluar dari interogasi.

Semua seperti sengaja dipertontonkan kepada semua tapol yang jadi penghuni kamp konsentrasi CI. Dan Rudy memahaminya sebagai suatu cara pertunjukan kekejian. Termasuk ketika ada seorang tahanan yang sangat mengenal Rudy dalam sehari-hari, datang menemuinya dari pintu selnya. Rudy berfikir ini sebuah taktik psy-war baginya.

Tak urung Rudy pun tiba giliran buat diperiksa akhirnya. Tapi anehnya, yang memeriksa seorang Tapol juga; hanya tentu saja didampingi oleh tentara komandan kamp. Tapol yang menginterogasi ini seorang Mantri Pulisi bernama Sutomo dan Rudy mengenalinya pula.

Tak urung Sutomo tega hati juga menyiksa teman seakan dia tak pernah mengenal sebelumnya. Si Mantri Pulisi ini betul-betul menghancurkan teman sendiri. Dalam situasi terpojok karena Rudy memang harus meladeninya, malah timbul pikiran iba di hatinya. Bahwa bukan tak mungkin Sutomo ini malah lebih sakit ketimbang perasaan apa yang tengah ditanggung dan dihadapi Rudy sendiri.

“Hatimu lebih sakit ketimbang badanku yang kau pukuli..”, batin Rudy. Tapi kalau aku harus menjawab pertanyaan tentang keterlibatanku, maka “Aku harus mengakui apa..?”. Soal G30S dimana para jenderal terbunuh itu, jangankan terlibat, tahu pun tidak sama sekali. “Ah, Jakarta itu..”.

Tapi rupanya si Mantri Pulisi ini juga tak peduli. Ia tak cuma memukul dengan bogem mentahnya, tetapi mulai main kayu pula. Kurangajar dia. Berfikir demikian, Rudy kemudian mengarang ceritera namun bukan G30S atau Lubang Buaya yang kejadian intinya berlangsung pada malam Gestok di Jakarta. Ketika interogator bertanya soal organisasi apa yang dia ikuti, serta merta Rudy menimpali:

“Sobsi..”, jawabnya tegas bersebab marah juga akhirnya.

“Nah, Sobsi itu pekai”, ketus Sutomo bersungut

“Siapa yang mengajak kamu ikut Sobsi?”, sergah si tentara di sebelahnya.

Rudy sadar bahwa jawaban yang ia berikan, meski hanya cerita rekaan, tak urung bakal mendatangkan kesulitan dengan pertanyaan lain yang mengejarnya. Dengan suara tinggi, Rudy menyebut orang-orang yang dikenalnya dan diketahuinya telah mati dieksekusi tentara; sebagai yang mengajaknya.

Habis perkara !

 

Menjadi Tapol Koblan Kalisosok 

Rudy kembali dijebloskan ke sel dengan badan berasa remuk redam. Sementara banyak Tapol lain masih nunggu giliran atau bahkan interogasi ulang yang ditunda karena pingsan pada interogasi pertama. Dibanding yang ini, Rudy masih merasa beruntung; banyak Tapol lain lebih parah dan buruk keadaannya.

Lebih beruntung karena sang istri rajin dan setia membesuk suaminya. Sri Sumarsih banyak dibantu orang tua dan paman yang kebetulan juga seorang anggota Corps Polisi Militer di Surabaya. Sejak hari ketiga Rudy menghuni kamp CI, istrinya telah membezoek buat pertama kalinya. Dan kesetiaan seorang istri ini terpelihara hingga tahun-tahun berikutnya.

Bahkan manakala sang suami tak lagi bisa memberikan nafkahnya, karena sejak 1966 Rudy dipecat, lalu sempat bekerja di Konsulat Uni Soviet dengan gaji lumayan besar untuk ukuran masa itu; namun Rudy sudah tak bergaji lagi setelah dia menikah dan ditangkap tentara. Benar bahwa kesetiaan seorang istri itu memang diuji saat suami tak berada di dekatnya buat sekian lamanya. Dan Sri usai melampaui semuanya.

Di kamp konsentrasi CI ini Tapol dirangsum nasi bungkus setakar dengan 6 sampai 10 suapan senduk. Lauknya sayur kubis afkiran, dicacah dan kadang dikasih kulub meski kelapanya sedikit sekali untuk makan pagi. Siangnya ada dikasih sayur tapi ya kubis afkiran juga yang direbus begitu seadanya. Kadang-kadang jika ada sayur lebih bisa diminta lalu akan dicuci untuk tambahan makan pagi berikutnya.

Setahun lebih menghuni kamp konsentrasi CI tersiar kabar ada 6 Tapol yang melarikan diri dari penjara Kalisosok dengan menjebol branjang kawat penjara. Imbas dari insiden ini adalah pengetatan di semua tempat tahanan politik 65. Kalau tadinya Tapol bisa keluar sesekali dan berjemur sinar matahari, setelah insiden ini aturan diperketat lagi.

Bersamaan dengan itu, Rudy mendapat kabar ada masalah di kantor Postel tempat dulu ia bekerja. Tak diketahui secara detail apa masalahnya tapi ia dengar dari teman-temannya di Serikat Buruh, bahwa Ketua Kesatuan Buruh Marhen [KBM] yang berafiliasi pada PNI terciduk pula. Ini berimbas pada Roedi yang kemudian dipindah dari CI ke penjara Koblan “menjemput” koleganya untuk dibawa menghadap Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) Kodam V buat diperiksa.

Rudy diperiksa tersendiri oleh interogator lain yang sama-sama berasal dari Ponorogo juga. Awalnya dia tak mengenali siapa pemeriksanya di SUAD V kali ini. Tapi selain interogator yang satu ini tak begitu “keras” memperlakukannya, juga karena tentara ini memainkan kakinya dari bawah meja dinasnya. Akhirnya Rudy mengenalinya sebagai teman satu angkatan di SMP, hanya beda sekolah saja. Kalau Rudy bersekolah di SMP Katolik, maka tentara ini dulu bersekolah di SMP PGRI Ponorogo.

Dari SUAD V ini, akhirnya Rudy dibawa ke Kalisosok dan menghuni sel “double-slot” khusus. Disebut “double-slot” karena pada sel ini dipasang 2 kunci, satu di pintu kamar sel dan lainnya di pintu halaman selnya. Sel  yang mestinya berisi 1 tahanan, kala itu harus dihuni 5 Tapol, terasa sesak untuk beberapa bulan, sebelum kemudian Rudy dikembalikan lagi ke kamp CI.

 

Dibuang ke Nusakambangan

Pada tahun 1973 Rudy dipindah lagi ke Koblain atau Rumah Tahanan Negara (RTM) yang mengawali masa pembuangan ke Nusakambangan pada tahun 1975 berikutnya.

Dengan kereta api, Rudy dan Tapol lainnya dibawa ke Cilacap dan turun di Pantai Sodong untuk menyeberangi selat menaiki kapal menuju pulau Nusakambangan dengan pertama-tama menghuni penjara Kembang Kuning di pulau yang membentengi samudera Indonesia itu.

Selama 18 bulan ia berpindah-pindah dari Lapas satu ke Lapas lainnya, Nirbaya, Ngliger dan penjara Karangtengah juga pernah dirasakan dingin lantainya. Istrinya yang setia, Sri Sumarsih, sempat dua kali tandang membesuknya ke Nusakambangan; tentu setelah menyelesaikan segala tetek-bengek urusan administrasi ke pihak penguasa militer. Dari Surabaya, Sri menumpang kereta api ke stasiun Kroya untuk kemudian ganti kendaraan umum mengambil arah jurusan Cilacap.

Tak terbayangkan bagaimana repotnya menjadi istri seorang Tapol masa itu. Sri bahkan sampai terpaksa menjual “kain pengantin” yang menjadi kebanggaan sejarah pernikahannya, sejak suaminya masih jadi penghuni kamp CI Surabaya. Sementara ia tak boleh mengabaikan kebutuhan susu bagi anak bayinya juga, karena puting tetek ibunya tak mengeluarkan air susu buat sang orok itu.

Lalu romantisme seperti apa yang bisa diceritakan kepada orok ketika ia besar kemudian hari. Membezoek Tapol 65 ke Nusakambangan itu juga bukan perkara yang seenteng kelihatannya. Akan tetapi, baik Rudy maupun Sri; keduanya terkuatkan perekat pernikahannya justru oleh nilai-nilai perjuangan yang terpupuk semasa menjadi tahanan politik rezim militer orba hingga jauh masa-masa sesudahnya.

Membezoek Tapol 65 Nusakambangan dibolehkan ketemu bukan di penjara pulau yang terpisah dari Jawa itu, melainkan di pantai Sodong. Jadi si Tapol yang dibawa antar dengan kapal kecil, menyeberang selat ke pesisir Cilacap kala itu.

PULAU BURU: Kamp Kerja Paksa Tapol Pulau Buru [Foto: Dokumen Pribadi Roedi]

PULAU BURU: Kamp Kerja Paksa Tapol Pulau Buru [Foto: Dokumen Pribadi]

Menuju Buangan Pulau Buru

Dari Lapas Karangtengah, Tapol 65 Nusakambangan ini diangkut kapal menuju pembuangan ke Pulau Buru. Perjalanannya memakan waktu hampir satu pekan lamanya. Rudy Subroto, entah untuk gelombang yang ke sekian kalinya, termasuk yang dimuat di kapal yang hanya layak untuk angkutan ternak antar pulau jika menilik kondisinya. Kapal tank ini memang bekas dipakai mengirim lembu sebelumnya, terbukti dari sisa-sisa rumput dan kotoran yang ditinggalkannya.

Biarpun telah dibersihkan tetap saja bau tletong lembu menyeruak ke seluruh bagian kapal; dan pengap kandang sapi pula pada bagian kabin maupun palkanya. Di situlah para Tapol menidurkan dirinya secara unyel-unyelan. Dan Rudy tak bisa tidur oleh karena dia mabuk laut dalam perjalanannya. Tapi dirasanya ia masih beruntung karena ketemu pamannya di hari pertama; pertemuan yang sungguh tak pernah terkira.

Secara tak sengaja ia memeriksa besek-besek yang tertera nama-nama penghuni kapal itu, diketemukan olehnya nama Dakun dengan alamat asalnya. Besek yang berjejer  itu menjadi tempat untuk menaruh bahan makanan dan pakaian pemiliknya. Meski awalnya si paman tak mengenali anaknya karena masih kecil saat terakhir ketemu sehingga pangling rupanya. Tapi Rudy merasa lebih beruntung karena masih ada familinya di kapal keparat itu.

Separuh dari perjalanan kapal menuju Pulau Buru ditimpa hujan di tengah samudera. Sesekali badai laut selatan menerjangnya pula yang membuat kapal terasa olengnya. Rudy mabuk karenanya dan ia setengah berbaring posisi duduknya, hingga pagi saat apel hari pertama tiba; dimana Tapol harus duduk berdiam diri di tempat duduknya masing-masing.

Hari terang membuat matanya jelas melihat pemandangan seisi kapal. Dilihatnya seorang Angkatan Laut yang dikenalnya sebagai tetangga tak jauh dari rumahnya di Surabaya. Tapi Rudy tak cukup berani buat langsung menyapanya. Sadar akan resiko karena ia tahu di kapal itu bukan saja ada dokternya, melainkan juga banyak intelnya.

Saat ada sesama Tapol yang corvey hendak menuju ke dapur kapal dan melewati tempatnya berdiam, ia menggamit lengan orang itu dan berpesan seperlunya:

“Tulung, kandakno karo petugas kae, yeng mengko aku titip surat”, pesan Rudy bermaksud mau titip surat kepada petugas si Angkatan Laut itu.

Rudy memang menyiapkan surat untuk istrinya dan berkabar soal keberangkatannya ke Pulau Buru yang menjadi tempat pembuangan para Tapol 65. Dalam surat yang dikirim dari atas kapal itu Rudy berpesan:

“Bu, nanti Wawan nggak usah menyusul. Kelak, kalau Wawan sudah selesai kuliah, boleh lah kamu menyusul ke Pulau Buru”, tulis Rudy pada suratnya, kartupos terbuka.

Padahal si Wawan, anaknya itu belum lagi bersekolah TK. Jadi isi surat ini hanya untuk mengelabui petugas kalau-kalau diketahui oleh tentara lainnya. Tetapi itu artinya Rudy tak tahu sampai kapan ia berada di Pulau Buru sana, setidaknya ia telah mengabarkan ihwal keberadaannya kepada istrinya.

Sampai kapan, itu seperti tak penting lagi ukuran waktunya. Tetapi paling tidak Rudy telah mengabarkan keberadaannya dan dengan begitu akan menumbuhkan harapannya buat kembali bersua kapan waktunya tiba. Pesan tersirat dan substansial yang mau disampaikan telah melampaui apa yang tersurat menjadi sekedar teks dalam surat itu. Itu lah makna dari harapan.

Harapan menjadi satu-satunya yang penting untuk menjaga daya hidup Tapol 65 dan keluarganya agar tetap menyala di tengah ketidakpastian.

 

Tonwal dan Pukulan Lembu

Pada pagi di hari ke 6, matahari menghangatkan pantai Sanleko dan keheningannya terpecah oleh suara derak turunnya jangkar. “Kreteg..kreteg..kreteg..”, meskipun haluan dan badan kapal seolah masih berada di tengah laut. Kapal tak bisa lagi merapat lebih dekat ke dermaga dan untuk mencapai daratannya orang harus menyeberang air setinggi paha orang dewasa.

“Semua turun, ayo.. Cepat.. Bawa semua barang, cepat..”, teriak petugas yang mengacungkan bedil.

Tak ada satu suara pun teriak lebih lantang melebihi teriakan Tonwal. Peleton pengawal ini adalah kakitangan kekuasaan yang paling sah memberi perintah apapun kepada Tapol pagi itu; juga di hari-hari lain sebelum mendaratnya kapal kandang sapi yang mendarat terakhir pagi ini.

Belum pernah diantara ratusan Tapol yang memanggul beban itu, menapaki pulau asing di depannya sebelum ini. Roedi bergandengan dengan teman sesama Tapol asal Jember memikul beban yang dibawa milik keduanya.

Begitu mencapai daratan, semua Tapol dibariskan dan diabsen satu per satu, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan darat yang tak terkira jauhnya. Rudy dan Tapol asal Jember itu memikul beban yang berada di tengah pikulan bambu yang melindih pundaknya. Rudy berada di depan, sehingga beban pikulan itu berada di belakang punggungnya.

Tanpa harus berteriak keras pun seluruh Tapol akan mematuhi perintah Tonwal tanpa syarat. Tapi entah karena dorongan sindrome apa, mereka bukan hanya berteriak keras, tapi acapkali teriakan perintah itu disertai pukulan di punggung Tapol; seolah itu lebih remeh dari punggung lembu.

Saat melewati pos pertama dimana terjadi pergantian Tonwal untuk melanjutkan perjalanan ke pos selanjutnya; kekerasan fisik itu terulang kembali.

“Ayo, cepat jalannya.. Kalau tidak kalian bakal kemalaman”, teriak Tonwal pengganti. Sambil berteriak ini, setiap Tapol mendapat gebuk di punggung atau pantatnya. Kalau bukan lembu maka perlakuan ini hanya pantas buat kuda.

Rudy menggeser maju tongkat pikulannya dan dengan begitu punggung dia lebih lekat pada beban goni dan besek yang dipikulnya berdua, meski akan berakibat beban lebih berat terasa. Tapi perhitungannya tak meleset. Saat berada dekat dengan Tonwal, petugas ini hanya bisa memukul goni yang dipikulnya. Dan itu menyelamatkan punggung Rudy dari gebuk. Tapi teman Tapol di belakang dia; tak kuasa menyelamatkan boyoknya.

 

Disangka Malari

Rudy melihat sekilas ada Tapol yang mengenakan batu akik sebagai mata cincin yang dikenakan, diminta berhenti oleh Tonwal dan dimintanya paksa cincin yang dipakainya itu. Ia berfikir kalau ada Tapol mengenakan jam tangan, boleh jadi bakal dirampasnya pula arlojinya. Kebanyakan tentara Tonwal ini ia dengar berasal dari Batalyon Pattimura.

Tanpa maksud merendahkan, Rudy menangkap kesan wajah para Tonwal ini memang beringas rautnya.

“Aduh, ini seperti kembali ke era hukum rimba”, batinnya.

Setelah melewati pos kedua, Rudy melihat deretan barak di kejauhan, konon itu Unit tempatnya para Tapol yang lebih awal dikirim ke pulau pembuangan ini. Ada kejadian yang tak terduga, banyak orang berdiri di tepian jalan dengan wajah kaku. Makin dekat makin terasa kekakuan itu.

Tetapi begitu hendak melewati deretan itu, tiba-tiba suasana berubah sebaliknya; dan terdengar suara-suara setengah bersorak..

“Lho, jebul kowe tah..?”, teriak seseorang yang mengenali siapa yang ada dalam barisan yang akan lewat itu.

“Oii.. Ini teman kita sendiri; wonge dhewee…”, riuh teriakan lainnya.

Beberapa orang lainnya berlarian dari arah barak membawa sesuatu yang nampak dijinjing atau dipanggulnya. Makanan dan minuman. Dalam sekejap di depan Unit itu berubah menjadi ajang makan minum, setelah orang-orang menawarkannya pula pada para Tonwal.

Rupanya bagi para Tonwal dalam menyikapi tawaran penghuni Unit ini telah kehilangan semua alasan buat menolaknya. Orang-orang itu adalah rombongan gelombang awal yang lebih dulu dikirim ke Pulau Buru. Ketika bertemu orang-orang yang senasib, maka leburlah kekakuan yang beku seolah berhala di waktu sebelumnya.

Akhirnya moment itu jadi ajang ramah tamah, bahkan entah karena diperintah Tonwal atau sebab lain, kegembiraan demikian terulang kembali di Unit-Unit berikutnya. Dari perbincangan antar Tapol ini diketahui bahwa sebelumnya telah terdengar kabar akan datangnya orang-orang Malari. Rudy tak memahami sepenuhnya siapa yang dimaksud sebagai orang Malari itu.

Selentingan yang ia dengar menyebut orang Malari adalah orang-orang yang bermasalah dengan Jepang. Desas-desus lainnya mengabarkan bahwa kalau benar orang Malari mau datang ke pulau itu, meraka akan diperas karena Malari itu pemalas dan bukan orang dari kalangan kita. Begitu kabarnya.

Perjalanan dari Namlea ke Unit S atau Unit 19 memang jauh. Tapi dengan perjalanan yang dikawal Tonwal dan berganti pada tiap posnya, tak akan makan waktu seharian penuh. Tapi hari itu jatuh malam hari baru sampai ke lokasi, karena setiap melewati satu Unit jadi satu pos istirahat untuk makan minum secukupnya; dan semua bergembira.

Pada kira-kira separuh dari perjalanan ini seluruh Tapol pada gelombang pengiriman itu diistirahatkan di Markas Komando (Mako) Baperu (Badan Rehabilitasi Pulau Buru), sebelum kemudian menyeberangi sungai besar satu-satunya di pulau itu; sungai Waiapu.

Perjalanan sambil membawa beban memang melelahkan. Tapi menerima perlakuan sesama Tapol yang secara tulus menerima kehadiran kawan senasibnya telah memberikan sokongan tenaga tak terkira. Malam gelap baru lah rombongan Tapol tiba di Unit 19, disambut suara burung malam:

“Buru..Buru..Buru..”

Di pulau itu memang berbiak banyak jenis burung.

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Infografis: Humas YPKP 65

Jejak Kejahatan Genosida 1965 itu Nyata Adanya

KEYANG: Jembatan Keyang, saksi bisu pembantaian massal para korban Tragedi 65 di Jetis, Ponorogo [Foto: Humas YPKP 65]

Dari Koblen ke Nusakambangan dan Buangan Pulau Buru [2]

Related posts
Trackbacks/Pingbacks
  1. URL - April 16, 2019

    … [Trackback]

    […] Read More: ypkp1965.org/blog/2019/04/02/dari-koblan-ke-nusakambangan-dan-buangan-pulau-buru-1/ […]

Leave a Reply