Suara Keadilan dari Kuburan Massal

53 Viewed Redaksi 0 respond
TABUR BUNGA: Ketua YPKP 65 Pusat Bedjo Untung bersama para peziarah melakukan tabur bunga di lokasi kuburan massal korban Tragedi 65 di Pandanwangi, Pemalang (28/8). [Foto: YPKP'65/Hum]
TABUR BUNGA: Ketua YPKP 65 Pusat Bedjo Untung bersama para peziarah melakukan tabur bunga di lokasi kuburan massal korban Tragedi 65 di Pandanwangi, Pemalang (28/8). [Foto: YPKP'65/Hum]
  • Tabur bunga di kuburan massal korban Tragedi 1965-66 Pemalang [3] 

Di Pemalang ada begitu banyak guru disangkutkan dengan PKI, lalu kepada para pendidik ini dituduhkan keterlibatannya dalam kudeta G30S di Jakarta. Tuduhan seperti ini menjadi pola umum yang digeneralisasi dalam interogasi di kamp-kamp tahanan politik (tapol), terutama pada fase paling ngeri yang disebut masa screening.

Mengerikan karena hampir semua tapol di kamp-kamp mendapatkan siksaan berat dari para interogator yang mengeroyoknya. Mulai dari pukulan rotan, kayu, pipa besi dan pilin kawat baja hingga disetrum listrik bertegangan tinggi; sembari dicecar segala tuduhan makar yang membabi-buta.

Setelah melampaui fase ini, entah berdasarkan standarisasi seperti apa para tapol diklasifikasi guna menentukan apakah yang bersangkutan bakal cukup dipenjara, dibuang atau dieksekusi mati. Kematian yang sama juga bisa terjadi dengan cara dijemput (dibon_Red) di rumahnya. Ngeri memang, terlebih karena semua yang terjadi itu dilakukan tanpa proses hukum di pengadilan.

Kengerian lain juga menimpa para perempuan, baik itu pegiat organisasi macam Gerwani, Lekra, BTI maupun para istri –bahkan juga anak gadis- dari para tapol yang lebih dulu dijebloskan sel penjara. Para perempuan ini mengalami perkosaan hampir tiap malam, bahkan siang juga; hingga 2-3 bulan lamanya.

Selain itu, setidaknya ada 7 perempuan yang dipenjara dengan beberapa kali pemindahan dari kamp tapol, penjara Pemalang, Ambarawa, Bulu dan berakhir di penjara Plantungan Kendal. Dan sekali lagi, semua hukuman ini dijatuhkan bukan melalui putusan pengadilan.

km-Widuri

Ziarah pantai Widuri dan lokasi Pandanwangi

Siapa sangka di obyek wisata populer pantai utara Pemalang ini pun didapati ada kuburan massal para korban Tragedi 65. Menurut data yang dihimpun YPKP 65 Pemalang, ada 12 orang dikuburkan di lokasi dekat garis pantai ini. Dari kesaksian yang dicatat menyebutkan ada lagi 1 korban lainnya yang melarikan diri namun akhirnya dibunuh dan dikubur tak jauh dari lokasi pertama.

Petugas polisi telah siaga dan menjaga lokasi sejak sebelum para peziarah tiba. Perlakuan simpatik ini juga dirasakan para peziarah dari tiap Polsek sesuai wilayah kecamatannya, yakni Petarukan, Taman dan Pemalang.

Meskipun tak mencolok, para peziarah tahu ada pengawalan sepanjang perjalanan, hingga berakhir di pedukuhan Pandanwangi di arah jalan menuju Asemdoyong. Dimana lokasi kuburan massal terakhir ini berada di sisi halaman dan pekarangan warga.

km-Pandan

“Perlakuan aparat terhadap para peziarah dan pengamanan yang dilakukannya ini sangat pantas diapresiasi”.

Foto: YPKP'65/Hum

Foto: YPKP’65/Hum

[hum]
Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
PEZIARAH: Ratusan peziarah bergambar bersama di dekat lokasi kuburan massal Penggarit, Taman, Pemalang (25/8) seusai melaksanakan prosesi tabur bunga. [Foto: YPKP’65/Hum]

Kuburan Massal Penggarit Tak Boleh Hilang

KAMP KERJAPAKSA: Dari arah sebrang sungai Cisadane, Bedjo Untung menunjukkan eks lokasi kamp kerjapaksa yang terbentang seluas 110 hektar dan terbagi dalam 2 blok yang berbeda. Sebagaimana diketahui, Bedjo Untung pernah dipenjara di RTC Tangerang dan menjadi pekerja paksa di kamp Cikokol ini [Foto: YPKP65/Humas}

Napak Tilas Penjara Tapol Orba di Tangerang

Related posts
Your comment?
Leave a Reply