Puisi-Puisi | Astaman Hasibuan

77 Viewed Redaksi 0 respond
Astaman Hasibuan {Foto: BoL]
Astaman Hasibuan {Foto: BoL]

astaman hasibuan :

 

namaku purwono

— anak laki-laki dari desa yang dihilangkan itu

ini ceritanya
namaku purwono, katanya membuka
aku anak pertama, yang tertua
sebelum tahun-tahun celaka itu
usiaku sembilan tahun
kelas dua sekolah dasar

bapak pesan, sebelum masuk sekolah kelas satu
aku harus jadi orang pintar
jaga adik-adikmu, jangan menipu
jangan mencuri, jangan jahat.
bapak memang sayang kami, anak-anaknya

dulu kalau masuk beras dari kebun. bapak yang periksa
buruh kebun dapat jatah sembilan bahan pokok
nama catu
semisal, beras ada kutunya, dipulangkan lagi ke pabrik
kerjaan bapak masnis loko, montik
kereta-api, lebih kecil

menginjak ke kelas tiga, pecah kejadian G-30-S.
bapak lapor tiga hari sekali
ke puterpra, perwira urusan territorial perlawanan rakyat
di kecamatan

hari itu, bapak tidak lapor
bapak sembunyi di ladang tebu
aku bawakan nasi waktu selepas magrib
pak iki segone sampeyan pangan
pak ini nasi kubawakan, makanlah
iyo
iya

pokoke kowe mengko dadi bocah
di didik adike sing apik
sing apik nak dadi wong
laku mu yang baik kalau jadi orang
didik adik-adik mu
nek semisale bapak nggak panjang umur
nnek mbesok mamakmu pengen rabi maneh
jarke wae
misalnya bapak tak panjang umur
makmu ingin menikah lagi
biarlah

malam itu, malam hari pukul sembilan
ada mobil masuk
ramai turun dari mobil, suara sepatu berderap
banyak orang mengelilingi rumah
aku, mamak, nenek, kakek, kedua adikku
perempuan dan laki-laki, juga bapak di ruang dapur.

ku tanya sama mbah,
mbah enek opo latare kok dileboni
kakek ada apa beranda, mereka masuki
enek montor kok kateng gedebuk opo yo mbah,
ada mobil
wes meneng wae, koe sik bocah, nenek yang jawab
sudah diam saja, kau masih kanak-kanak
bapak bilang ke mamak
wes kono gowo mlebu anakmu.
sudah sana bawa kekamar anak-anak
enek opo to pak, tanyaku .
kowe isek bocah, wes ndang mlebu wae nang kamar
disuruh masuk kamar

mereka masuk rumah, tidak mengucapkan salam
gedor pintu dan langsung bilang
mbah. mbah senen, nang ngendi sudjoto
koe ndang metu
mana sudjito, suruh keluar
isek ngurus anake
masih ngurus anaknya, jawab kakek
bapak nyahut, iyo aku metu
tunggu sebentar aku isek ngopeni anakku.
aku nanya sama mamak
kenek opo wong-wong iku gedor-gedor pintu,
wes awakmu isik bocah meneng wae
jawaban mamak
sama
pertanyaanku tak terjawab

bapak menciumku, mencium mamak, adik-adik
juga kakek dan nenek.bapak menantu kakek
sing ati-ati yo mak, pak, putune di urusi
cucu-cucumu tolong diurusi
itu pesan bapak yang masih aku ingat.
mamak dari kamar nyerahkan kain sarung
dia menangis.

dua hari kejadian malam itu, aku nanya sama mamak
bapak nang ngendi mak, kok ora balik-balik
bapak kemana mak, mengapa tak pulang-pulang
bapakmu sik kerjo dandani montik
bapakmu masih kerja, memperbaiki montik
tapi, mamak menangis.

bapak tidak balik sudah tiga hari
nenek bilang, bapakmu digowo, iki sarunge tok sing bali
bapakmu sudah dibawa, ini sarungnya
cuma ini yang pulang

aku putus sekolah
sempat menginjak kelas tiga
mamak kerja upahan, “dereb” di ladang orang
di tebiran, setengah hari jalan kaki
aku jaga adik-adik

sebelum desa dirampas aku main-main ke pondok papan
ada pesta, aku sudah agak besaran, sudah bisa mikir.
di pesta sempat mau kelahi sama anaknya wak sardjo
sepupuku anak abangnya mamak

wawak sardjo bilang, hajar aja anaknya wong pki
wah kok arep dihajar anake wong pki
apa wong pki iku elek, kok sampe aku arep dihajar
wah anak pki kok mau dihajar
apa orang itu jahat
sampai sekarang aku masih sakit hati

si wawak meninggal di rumah stasiun
desa kita sudah dirampas waktu itu
mamak bilang, koe gak ngelayat.
aku nggak ngelayat
aku arep kerjo gawe mangan putumu
mak bilang apa aku tak melayat
kujawab, aku mau kerja buat makan cucuk mak
nyahutin mamak, ingat ucapan wawak sardjo
iku anak pki kentes wae

aku nggak tammat kelas tiga
kedua adikku nggak ada yang sekolah.

ingat sekali aku mereka datang lalu bilang
mbah, mbah senen, nang ngendi sudjoto
mana sujito
iki aku nang njero
metu aku mengko nggak pala kamu paksa
ini aku dikamar
aku akan keluar tak pala kalian paksa
kejadiannya, hampir bersamaan dengan hilangnya mbah langkir
kepala desa sidomulyo.

aku pulang sekolah
hari itu dia kok nggak ada diladang.
di rumah aku nanya sama mamak
podo wae rasaku, iku digowo bareng karo bapakmu
sama saja mungkin dibawa bersamaan dengan bapakmu

nggak sempat ditahan
sempat digudangkan, di pabrik
cerita nenek malam pengambilan bapak
ada pak sunar dan lurah karanganyar pak miko.

sak tenane bapak iku nang ngendi.
Yang benar bapak itu dimana
jawab kakek, bapakmu iku di gowo,
digorok emboh nang ngendi rimbane
bapakmu dibawa, dibunuh entah dimana rimbanya
kawane sopo mbah, opo karo mbah langkir
apa sama kakek langkir
nggak
nggak karo mbah langkir
tidak, bukan

desa dirampas, pindah ke tempat penampungan
sesok iki arep dibongkar,
besok ini akan dibongkar, perintah aritonang
perwira tentara pengawas kebun
kalau tidak besok akan disorong traktor
mbah wedok dan mbah lanang nanya
kami kendaraan nggak ada pak
yang penting dibongkar,.nanti diambilkan lori
lalu disorong

sore baru kebagian lori dan pindah ketempat penampungan
malamnya tidur diatas papan bekas rumah

aku mau mengambil kelapa yang sudah ditebang tumbang
di atas tanah yang dirampas
aritonang bilang, jangan kau ambil itu
tapi ini kan tanaman kami
sudah ada ganti rugi.
ganti uang paku cuma enam ratus perak

adik-adikku sudah punya cucu sekarang
mau ziarah kubur, ya, di perempatan jalan
.
hari itu wono ditemani gadis mungil, cucu kecilnya
hadir di pertemuan perkumpulan petani
korban pengusiran paksa

sudah sewindu, delapan tahun
lahan sawit itu di jadikan hunian.
dijadikan lahan kehidupan.
kampung baru sidomukti
ada hati terekat disini.

terimakasih, kaumku, kerabatku,
telah mengizinkan aku merawat dendam hari-hari ini
disini
dikampung baru sidomukti

dendam itu hak ku, hak kita
jangan biarkan dirampas siapapun
bukan hutang nyawa dibayar nyawa
atau hutang siksa dibayar siksa.
bukan

tanah leluhur dirampas
setelah mereka dibedil atau ditebas dengan parang
tanah ini hutang pemangku kuasa
enam desa dari sembilan desa itu
hutang pemangku kuasa
hari-hari ini, kita rawat dendam sewindu kampung baru sidomukti
dan aku ada disini.kampung baru

sidomukti, 15 maret 2017

 

astaman hasibuan:
ketiga kalinya
— pohon rambutan itu berbunga.

ketiga kalinya pohon rambutan itu berbunga,
sesudah pohon-pohon sawit itu, ditata menjadi hunian kembali.
enam tahun sudah,
tak henti dengan provokasi, intimidasi, malah teror,
membuat sebagian yang semula menjadi pemercik,
beralih luntur, takut,
akhirnya membuang harapannya.

pohon rambutan itu, sudah dua kali berbuah ranum.
merah, masih kental dengan asal induknya.

suatu hari, kau bertanya,
ada apa dan mengapa dengan hunian baru ini?
hunian yang kami namai, kampung baru sidomukti.

mengapa harus berkeras mempertahankannya,
dengan hitungan dipenjara,
dengan letupan bedil, dibubar paksa.
lain lagi tudingan si penyerobot tanah,
atau lebih mengejutkan lagi,
hantu partai komunis malam,
membangun mimpi para orang-orang kufur.

belum terjawab.
dengarlah, kisah tentang seorang laki-laki belia.
wardik, itulah panggilan emaknya

agustus satu sembilan enam sembilan
senja, kota siantar terus diguyur hujan.
di kantin seberang markas korem, pantai timur,
seseorang menegurnya, mendekatinya. “bang, aku suratman” ,
“desa kita, digusur perkebunan.
yang tak mau meninggalkan desa, ditangkap.
ada juga yang dipukuli sampai mati”,
bertahan tak mau menyerahkan surat tanahnya.
dia berbisik “tentara, bang”.
“mak abang pindah ke patok besi”

laki-laki belia itu menangis,
adiknya mati tenggelam didalamnya perigi.
berupaya membersihkan diri,
agar berharap diterima menghadap nya
pencipta langit dan bumi.
bagda magrib malam,
menunggu isya
sendal jepit terapung,
telekung tersangkut dipinggir perigi

dipenghujung tahun satu Sembilan enam lima
dan diawal satu sembilan enam-enam
mayat-mayat terapung di sungai-sungai,
dibelukar-belukar, atau
dibuang kejurang di pengkolan parang bengkok.

padang halaban yang damai, tak ada lagi.
malam hari, sunyi, orang-orang ketakutan,
diculik, dibunuh.

komando aksi,
kocik dalimunte, tukiman berkeliling desa, beringas,
kasan dan sumardi menyandang tombak berlumur darah,

ramut, remaja yang tak berdosa lari.
rumahnya dibakar, tersuruk dibawah kandang ayam.
ususnya terburai di celurit.

saru, karsan, mahmun, lehernya hampir putus,
terapung di sungai di titi panjang,
antara panigoran dengan kampung selamat.

para pembantai itu berteriak pongah telah menghabisi
lasiman, selamat, rachman, dan djali,
sebelum mati menggelupur
baba hok seng menyaksikan, mendadak menjadi gila.

abangnya diculik.
kabar terdengar, dibunuh di pinang lombang.
ayahnya yang kepala desa hilang,
diambil dari kurungan kodim,
di markas puterpra, aek tapa.

sembilan puluhan orang,
suami dibunuh isterinya diusir dari pondok perkebunan.
dalam hujan lebat anak digendongan,
tanpa arah entah akan kemana.
menangis.

masih berlaksa, cerita duka dari desanya.
juga masih berlaksa pertanyaan yang belum terjawab.
apa salah mereka?

itulah sebabnya hari ini, empat belas april,
sesudah enam tahun, tanah ini kami jadikan hunian
kami namai kampung baru sidomukti,
dan sesudah hampir setengah abad, petaka itu terjadi
kami tandatangani manifesto itu
dengan darah.
dan sumpah
bukan hanya kesetiaan pada aturan perkumpulan
tapi, mengukuhkan, kesetiaannya pada tanah ini
yang pernah menjadi sumpah
para pemula.
darah dan tanah.
sebab itulah hidupnya.

kampung baru sidomukti, 12-18 april 2015
Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Ziarah Kepayang ilustrasi K Nawasanga | Kompas

Ziarah Kepayang

Soebandrio, salah satu loyalis Sukarno yang ditangkap. 
[Foto: Arsip Nasional Belanda]

Meringkus Loyalis Sukarno

Related posts
Your comment?
Leave a Reply