Lelayu | Tak ada lagi senyum Bu Pandu….

121 Viewed Redaksi 0 respond
RiP | Ibu Soerip Pandu Sardjono, 84 th.
RiP | Ibu Soerip Pandu Sardjono, 84 th.

Lilik HS

Siang itu, Bu Pandu datang ke kantor Sekber 65, Solo dengan senyum tak henti merekah. Semua orang disalami. Ia baru pulang dari RS Moewardi untuk operasi bedah mulut dan pasang gigi. Sebarisan gigi depan yang sudah 10 tahun ludes dimakan usia, diganti dengan gigi palsu. Putih.

Berbaris rapi. Kini senyumnya tak lagi ditahan seperti biasa. Dulu, ia merasa tak enak makan. Bicaranya pun sering cedal. Dia hadapanku, ia memamerkan sehelai ‘buku hijau’ dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) yang membuat ia bisa operasi gigi dan kini senyumnya bebas mengembang.

“Ndak menyangka bisa punya gigi lagi. Tidak ompong lagi. Hehehe…”

Itu dua tahun lalu.

Rekahan senyum itu lah yang pertama berkelebat, saat kudengar kabar lelayu. Ibu Soerip Pandu Sardjono wafat pada 16 Juni 2019 pada usia 84.

Beberapa bulan terakhir, kesehatannya ambruk seiring usia menua. Keluar masuk RS. Kini tak lagi memakai buku hijau, tapi BPJS yang dibayarkan oleh negara.

Usai disuapi makan siang oleh sang anak, ia berbisik pelan bahwa waktunya tak lama lagi. Sang anak menepis, menyangka semata igauan ibunya, lantas memintanya tidur. Barangkali hanya karena kecapekan. Bu Pandu pun pejamkan mata. Ia tidur. Ternyata, untuk selamanya.

Sewaktu muda, ia aktif di Pemuda Rakyat Solo. Ia suka berkesenian, termasuk melatih drumband remaja.

Di usia tua, ia menolak diam. Turut aktif ikut kegiatan, rajin datang ke temu rindu sesama penyintas, juga melatih senam rekan-rekannya sesama lansia dalam pertemuan.

Satu satu berpulang. Ada bongkahan nyeri di ulu hati. Aku ingin mengenang saat senyumnya mengembang dengan sebarisan gigi baru. Lebih dari semata urusan gigi, ia senang untuk pertama kali dalam hidup, negara hadir dan membantunya berobat.

Ia merasa dirinya diakui. Tak lagi dipandang sebelah mata seperti biasa.

Sugeng tindak, bu. Maafkan. Baru ini yang terjadi. Pengharapan puncak tentang penyelesaian kasus, masih menjadi pekerjaan rumah yang panjang.

Padamu, kami berguru tentang nilai hidup, tentang kesetiaan, kesabaran, juga tentang sebuah daya juang..

SoeripPanduSardjono-lilik-h2

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
SUDARNO: Mantan tahanan politik (tapol) 65, Sudarno, yang menjadi penyembuh terapi akupunktur tengah melakukan pemeriksaan awal sebelum terapi dijalankan [Foto: Humas YPKP 65]

Dari Penyintas Tragedi 65 ke Penyembuhan Trauma [1]

Related posts
Your comment?
Leave a Reply