Kartini dan Gerwani

304 Viewed Redaksi 1 respond
illustrasi: RA. Kartini [wartasolo]
illustrasi: RA. Kartini [wartasolo]

Catatan: Diah Wahyuningsih Naat

Setiap 21 April, semua perempuan mengingatnya sebagai hari istimewa. Perayaan bermunculan dimana-mana. Segala macam gaya berbusana ala Kartini pastinya ditampilkan dalam event fashion show demi satu alasan mengenang gaya berpakaian perempuan yang dianggap pendobrak emansipasi perempuan Indonesia. Pendobrak atas ketabuan akan peran perempuan yang dulunya hanya berkisar pada sumur-dapur-kasur. Bukan sampai disitu saja, talk show, pagelaran, diskusi-diskusi mulai dari yang sederhana hingga spektakuler punya tempat demi mengingat perjuangan perempuan di negeri ini.

Namun domplang rasanya bila kita cuma menyebut Kartini sebagai satu-satunya perempuan pendobrak kegelapan situasi perempuan. Masih banyak tokoh perempuan lain yang lebih dulu bicara kesetaraan gender. Sebut saja Malahayati (seorang Laksamana laut dari Aceh), Martha Christina Tiahahu (Pemimpin Perang Ambon), Rohana Koedus (Penulis dan pendiri sekolah Perempuan dari Sumbar) dan sebagainya.

Illustrasi: Malahayati [atjehcyberNet]

Illustrasi: Malahayati [atjehcyberNet]

Mereka tersebut adalah perempuan-perempuan perkasa pada zamannya yang semestinya tidak luput dari peringatan hari Kartini. Sebelum Kartini berkiprah atau sedang berkiprah, perempuan yang saya sebut di atas merupakan sebahagian kecil perempuan Indonesia yang sangat mengerti betapa kekuatan kaum Maskulin punya senjata untuk melemahkan keberadaan kaum feminim. Adat dijadikan patokan bicara “ketabuan” ketika perempuan bicara agar mendapatkan kesempatan yang sama. Setidaknya saat itu kesempatan yang berlaku berkaitan dengan kesempatan meraih pendidikan.

Dari sinilah semangat mewujudkan keinginan berhasil digerakan oleh satu organisai wanita pertama yang lebih sistematis. Tidak lengkap rasanya bila bicara hari Kartini tanpa membicarakan organisasi satu ini. Organisasi yang awalnya bernama Gerwis, terbentuk atas prakarsa S.K Trimurti, Salawati Daoed, Umi Sardjono, Tris Metty serta Sri Panggihan di tahun 1950 lalu tahun 1955 berubah menjadi Gerwani dimana konsentrasi gerakan bukan lagi bagaimana melawan tabunya adat tapi semakin meningkat melalui gerakan memberdayakan perempuan. Menolak Poligami, kawin paksa, serta advokasi hukum kepada perempuan yang dikriminalisasi karena perlawanan atas superioritas kaum maskulin. Bagaimana lengkapnya Gerwani berkiprah silakan baca [Di Sini]

Akan tetapi kiprah Gerwani terhenti oleh kekuasaan Orde Baru. Kisah dramatis Orba bak kisah dalam sinetron yang memanipulasi sejarah Gerwani seperti Kelompok Pelacur jahanam penyiksa para Jenderal. Orba begitu pintar mensutradarai film G30S dengan menampilkan keliaran perempuan Gerwani melalui adegan-adegan cabul dibarengi tarian Harum Bunga yang erotis. Bahkan makin pentingnya penghancuran Gerwani, Orba mengabadikannya di relief Monumen Pancasila Sakti.

Sejak saat itu, Gerwani hancur. Semua perempuan yang aktif didalam organisasi diburu dan dilenyapkan. Beralasan mencari logo Gerwani atau PKI, kaum militer melakukan penyiksaan, pelecehan seksual serta pembantaian.
Sungguh ironis sekali. Nasib perempuan-perempuan perkasa yang terus berjuang murni demi kesetaraan harus dibalas lewat penyiksaan. Sampai detik ini perjuangan mereka para perempuan hebat masih belum berhenti. Mereka tetap saja dianggap duri dalam daging meski penyiksaan dari kamp ke kamp yang dulunya dirasakan sudah hilang tapi tetap menorehkan luka, yang sulit untuk tersembuhkan. Kegetiran masa lalu perempuan Gerwani lepas dari catatan sejarah. Mereka terhempas gelombang, terpenjara dalam jeruji kebongan, Kebenaran Perempuan dalam penjara, walau dari kamp ke kamp telah dimerdekakan akan tetapi kepiluan tersebut terus saja menimbulkan derita.

Andai Kartini masih hidup, Malahayati masih berdiri gagah, Martha Christina Tiahahu masih menancapkan belatinya, atau Rohana Koedus tak henti mengeraskan suara-suara lewat tulisannya mungkin perempuan Gerwani yang melanjutkan perjuangan mereka tidak akan pernah mengalami ketidakadilan militerismenya maskulin. Mungkin saja mereka akan menangis darah mendengarkan jeritan pilu ketika bedil-bedil memopor nurani yang tak paham apa salah dan dosa, apa kejahatan yang telah diperbuat atau apa gerangan dasar pelecehan, perkosaan, dan penghinaan terhadap marwah mereka, Semoga nasib mereka tak berlaku pada generesi Gerwani sekarang.

***

Diah Wahyuningsih Naat, guru pengajar sejarah SMU di Batam 

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
17-04-12_19.29.26_kompolnas

Press Release | Hentikan Intimidasi dan Teror terhadap Korban Pelanggaran HAM 65

Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI 2011−2013 Laksamana Muda TNI (Purn.) Soleman B. Ponto, S.T., MH (Ist)

Allan Nairn dan ‘Makar Para Jenderal’

Related posts
Leave a Reply