Api di Kereta dari Moscow ke Berlin [3]

566 Viewed Redaksi 0 respond
Interogasi [Kredit Gambar: Sketsa Mardadi Untung]
Interogasi [Kredit Gambar: Sketsa Mardadi Untung]
  • Interogasi  Malam 

Malam itu juga, kapan tiba di Kodim Tasikmalaya, Willy diinterogasi oleh tentara berpangkat sersan dua.

“Saudara warga Rusia..?”, tanya Sersan

“Bukan, saya orang Indonesia..”. potong Willy

“Mana KTP nya?”, cecarnya.

“Saya tak punya KTP”, jawab Willy “Tapi saya punya passport..”.

“Apa itu passport? Saya minta KTP, tunjukkan yang saya minta..”.

Sadar bahwa ia petugas berpangkat sersan mesti lebih dimaklumi, tak guna berdebat soal identitas. Rupanya amplifikasi kabar miring bahwa orang bernama Willy R Wirantaprawira telah menjadi warganegara Rusia bukan isapan jempol belaka. Isyu ini beredar pula di Tasikmalaya dan bekerja dengan baik, seperti mata rantai politik demonisasi; muncul, menyebar luas dan dipercaya karena akhirnya menjadi sebuah laporan resmi kepada tentara.

Padahal saya masih warganegara Indonesia, punya idealisme kuat buat mengabdi kepada negeri. Tapi idealisme itu abstrak, tidak material, sehingga tak terlihat; apalagi di depan mata seorang sersan tentara.

“Saudara mengerti apa itu Manipol-Usdek?”, tanya sersan tiba-tiba.

“Saya mengerti, pak..”, sahut Willy.

Entah mengapa, interogasi malam ini mengarah ke sana secara tiba-tiba. Tetapi dalam hati Willy tertawa sekeras-kerasnya. Kenapa? Ya, karena sebelum berangkat ke Rusia (1963) ia adalah juara Manipol-Usdek ranking tiga se Indonesia. Bahkan mendapat piala penghargaan pula dari DN Aidit. Publikasi kejuaraan ini dilansir Yayasan Res-Publica yang kelak di kemudian hari bermetamorposis menjadi universitas Trisakti.  

“Sialnya, sejak malam saya ditangkap saya ditetapkan sebagai tahanan politik”, kisah Willy.

Ia tak sepenuhnya mengerti kenyataan yang menimpanya itu berdasar pada standar dan kriteria apa. Apa kah hal seperti ini merupakan takdir yang harus ia jalani?

Kenyataan yang sama menimpa dan dialami pula kenalan Willy di Banten, seorang insinyur metalurgi Rusia yang bekerja di Krakatau-Steel; Djoko Sri Mulyono.

“Ah, benar kah militer juga tengah menyusun dan mempersiapkan pula takdirnya; takdir bagi para korbannya..?”, batin Willy jauh menyusuri kenangan akan sel tapolnya yang pengap.

“Akhirnya, waktu itu, ayah saya minta pertolongan pada seorang Kepala PLN dan saya boleh pulang lagi ke rumah tapi masih jua dengan status tahanan rumah, tidak boleh ke luar kota”, tuturnya dalam sebuah wawancara.

 

Kembali –lagi- ke Rusia

Tahun 1968 ini nasib apa lagi yang akan tiba kepadanya, mau dituduh apa lagi? Segala apa yang mereka mau, telah pula dikatakan semuanya; keseluruhannya. Kenyataan bahwa kekuasaan Soekarno telah jatuh. Terasa benar situasi pada masa itu tengah menyorongkan bandul pendulumnya ke kalangan tentara.

“Dan Soeharto bertengger jumawa di puncaknya..”, batin Willy. Berfikir demikian, Willy menguruskan peluang ijin untuk bisa pergi –kembali- ke luar negeri; tentu saja dengan cara sembunyi-sembunyi.

Meminta surat ijin bagi Willy yang sebelumnya dikenai tahanan rumah, bukan lah perkara mudah. Akan tetapi kapan didengarnya rumor soal “jual passport” di sekitar bulan September 1968 masa itu, maka ia pun memburunya. Sebenarnya terpikir juga olehnya untuk menikah selagi di Tasikmalaya. Tetapi di bulan September itu terlalu banyak urusannya dan tak sebanyak waktu yang tersedia buat dia.

Pekerjaan tak pula dimilikinya, urusan Departemen PD dan K sulit, ditambah urusan screening terkatung-katung di Kemlu (Bakispalu) sepulang ia dari Rusia. Semua terasa sangatlah menyita waktu dan perhatiannya. Akhirnya terpikir buat berangkat kembali ke luar negeri saja, melanjutkan pendidikan pascasarjana. Dan Ukraina kembali menjadi pilihan, apalagi di Kiev, kota yang pernah ia tinggali selama lima tahun, Willy punya pacar mahasiswi jurusan linguistik yang selalu menjaga kontak dengannya.

Soal passport dapat dikompromikan dengan pertama-tama menemui si “penjual” syarat di lingkup Departemen PD dan K. Secara formil ia harus menandatangani surat seolah-olah akan membawa barang pindahan dari luar negeri. Dengan siasat ini, selain akan mendapatkan surat ijin dari Kepala PD dan K; juga ada dialokasikan dana penunjangnya. Syarat kompromisnya, uang diambil petugas dan Willy beroleh surat ijin dari si Kepala PD dan K untuk ke luar negeri lagi.

 

Menjadi Mahid dengan Passport Kedua

Willy tak memperpanjang passport lama yang dikeluarkan tahun 1963 dan berlaku lima tahun. Alih-alih memperpanjang masa berlaku passport yang telah terdaftar di KBRI, ia mengajukan permohonan passport baru. Situasi makin genting, selain berspekulasi, ia menyadari perlunya upaya antisipasi dan perhitungannya beruntung; ia pun mendapatkannya. Jadilah Willy berangkat –lagi- ke Rusia buat yang kedua dengan passport baru keduanya.

Pada 5 November 1968, berangkatlah Willy ke Rusia dengan Aeroflot Jakarta-Moscow yang tiketnya telah disiapkan sebelumnya bersama cadangan tiket penerbangan domestik Jakarta-Medan yang akhirnya batal ia gunakan.

“Sebenarnya tujuan utama saya adalah Belanda”, inginnya. “Sedangkan Amsterdam akan saya tempuh dari Moscow dengan kereta”, pikir Willy.

Setiba di Moscow pagi hari ia merasakan kemeriahan kota menjelang selebrasi Hari Raya Oktober yang dihelat pada 7 November di hari berikutnya. Langkah pertama yang dilakukan Willy adalah mendatangi Atase Kebudayaan. Willy menyoal tentang tawaran beasiswa dengan pilihan negara Inggris, Perancis atau Rusia lagi.

“Kalau mau belajar, silahkan saja. Nah, begitu katanya”, kenang Willy bersuka hati. “Sedangkan kalau saya datang ke Belanda, ke Inggris atau Perancis, belum tentu diterima karena terlambat matrikulasinya, tapi ini orang menawarkan lagi, saya balik lagi ke Kiev. Nah, jadilah saya melanjutkan pelajaran S2 di tempat yang lama”, kisahnya.

Semasa kuliah di tahun 1969 Willy menikah dengan kolega studinya di institute bahasa asing Universitas Kiev, Olga Wladimirowna Mostowenko, seorang mahasiswi asli Ukraina. Willy menggelar pesta cukup mewah di restoran dengan 120 tamu, sesuatu yang jarang dan bahkan hampir tak pernah terjadi di Uni-Soviet masa itu. Tak heran kalau para tamu mengira Willy adalah anak Soekarno dari Indonesia. Dari pernikahan ini lahirlah putri Lilya Wirantaprawira pada 1970.

Pada tahun yang sama, ketenangannya diusik oleh penguasa. Datanglah “Atan” (Atase Pertahanan) ke Kiev; menemui Willy dan keluarga. Aparat militer ini menanyakan banyak hal kepada Willy.

“Mengapa saudara balik lagi ke Kiev?”, tanya si aparat.

“Bukan alasan politik, pak.. tapi urusan perut. Kalau saya di Jakarta diberi pekerjaan, saya gak balik lagi ke luar negeri. Saya pilih akan bekerja di Indonesia. Tapi saya kan tak diberi pekerjaan, luntang-lantung mau apa. Saya tak bisa menggantungkan diri pada orangtua yang miskin bahkan mereka mengharap kan dari saya yang sebagai sarjana..”.

Panjang lebar Willy mengemukakan alasan sampai kemudian passport miliknya diambil sang Atan. Passport lamanya memang telah daluwarsa. Tetapi di pihak lain, sebenarnya Willy sudah akan diusir dari Ukraina lantaran sikap apolitis yang dipegangnya. Ia tak mau berpolitik, juga tak memiliki kecenderungan aliran politik kanan maupun kiri. Bagi orang Rusia apatisme seperti ini dianggap tak berguna karena tak berkontribusi pada negara mereka.

Willy beruntung karena profesor pembimbing berupaya mempertahankan dia sampai akhir masa studinya, manakala pada sekitar November 1971 Willy berhasil mempertahankan uji disertasinya. Tetapi itu artinya Willy harus keluar dari Ukraina sebelum Desember berakhir di tahun 1971.

“Wah, kalian tak punya kepekaan kemanusiaan”, Willy mencoba berargumen. “Saya kan juga ingin merayakan Natal bersama keluarga di Ukraina”, sambungnya.

Rupanya dalih ini berhasil pada tujuan sebenarnya, setidaknya dapat menjadi alasan mengulur waktu hingga satu dua bulan berikutnya, agar ia tetap memiliki ijin tinggal sambil menanti ijin agar istrinya, Olga Wladimirowna Mostowenko juga bisa dibawa serta keluar dari Rusia.

 

Menyelamatkan Passport Kedua

Beberapa hari kemudian, pada tanggal 3 Februari 1972, pagi-pagi Willy mendatangi KBRI dengan tidak memperlihatkan passport miliknya yang kedua, yang tak didaftarkan di kedutaan. Dia diterima langsung sang Atase Militer di kantornya. Willy tahu siapa orang yang lebih berkuasa ketimbang duta besarnya pada masa itu.

“Pak, saya sekarang bersedia pulang ke Indonesia tapi saya minta jaminan bahwa saya diberi pekerjaan karena saya sekarang punya tanggungan keluarga”, pinta Willy di muka pejabat itu.

Alih-alih berempati pada sesama warganegara, sang Atan berceramah dengan pasang muka tak ramah.

“Hoo, hoo.. Saudara jangan mentang-mentang karena sudah doktor dan pandai beberapa bahasa pula”, ketusnya. “Di Indonesia itu kan banyak pekerjaan, saudara bisa jadi sopir di Kedutaan, bisa jadi penterjemah; bisa kerjakan itu ini..”.

Dalam hati Willy membatin, “Kalau cuma jadi sopir, nggak usah makan kentang selama tujuh tahun sembari belajar dan menetap di Rusia ini, tapi ya oke dengerin saja..”

“Wah, kalau gitu ya sudah, pak…”, cetus Willy

“Nanti dulu, mana passport saudara..?”, desak sang Atan.

Terkesiap juga hati Willy diminta menunjukkan passportnya, identitas yang sebelumnya telah dirampas juga. Namun ia cepat menguasai diri

“Di hotel, pak..”, jawab Willy yang sebenarnya tahu maksud sang Atan yang akan merampas passport keduanya.

Biasanya setelah passport dirampas lalu diberi surat jalan, Lesepase; Nah kali ini saya nggak mau itu terjadi, batin Willy.

“Kalau begitu, saya pulang saja dulu ke Kiev lagi, pak..”, kata Willy.

Yang terjadi kemudian, malah Willy diberi ongkos jalan buat pulang ke Kiev. Padahal pada malem harinya ia telah berencana berangkat ke Berlin. Malamnya, ia benar-benar berangkat sekeluarga ke Berlin yang pada masa itu Berlin adalah kota dunia terbuka, ke Jerman juga tak perlu Visa. Kebetulan istri Willy adalah warga Rusia.

Karena dianggap “pelarian politik”, orang Rusia akan diterima dengan tangan terbuka. Pada gilirannya, Willy seakan nebeng sama sang istri dan  langsung mendapat ijin tinggal di negeri yang pernah berada di bawah hegemoni politik sang Fuhrer, Adolf Hitler…

Pada 4 Februari 1972, malam setelah ia mendapatkan ijin keluar itu, berangkatlah Willy beserta keluarganya meninggalkan Uni-Soviet. Jadilah ia bertolak pada jam sembilan malam dengan kereta api Trans-Siberian Railway dari Moscow ke Berlin. Meski awalnya ia bermaksud tinggal dan menuju kota Amsterdam di Belanda melalui Jerman pula.

TSR: Trans-Siberian Railway [Photo Credit: Smithsonian Journey]

TSR: Trans-Siberian Railway [Photo Credit: Smithsonian Journey]

Trans-Siberian Railway

Hati Willy berkecamuk di dalam kereta yang kelak hari menjadi legenda Rusia dan dikenal dunia. Ia tak bisa mengingkari betapa rasa nasionalime dan pikiran idealisnya menyeruak dengan kuat, mengimbangi cintanya pada Olga dan Lilya; dua perempuan yang merupakan istri dan anaknya dan yang menyertai perjalanannya ke Eropa.

Betapa pun Willy ingin menetap dan berbakti kepada negaranya, kemelut politik masa itu tak memungkinkannya diterima sebagaimana lazimnya warga suatu negara. Bukan tidak mungkin, pintu sel penjara lebih dulu terbuka buat menerimanya andai ia tetap tinggal lebih lama manakala ia kembali ke Indonesia. Martabat kemanusiaan tengah dikalahkan oleh kepentingan politik akan kekuasaan.

Rezim Soeharto nyata memerangi anak bangsanya sendiri yang terlunta di luar negeri, bisiknya..

Derit roda rangkaian kereta Trans-Siberian Railway dengan loko mesin uap lebih mewakili jentera putaran nasib yang tengah membawanya, memantulkan asa tak menentu kepada tebing-tebing berbatu, pada selimut dan onggokan salju. Tetapi dalam hati Willy, bara semangat itu mulai menyala-nyala.. [ap]

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
KIEV UNIVERSITY: Universitas Taras Shevchenko (Kiev University of Taras G. Shevchenko) bercat merah pada dinding bangunan utama sementara bagian atas dan bawah kolomnya dicat warna hitam. [Photo-Credit: Vincent Beretti, Encyclopedia of Ukraine]

Api di Kereta dari Moscow ke Berlin [2]

Related posts
Your comment?
Leave a Reply