Para Pencari Terang: Peluncuran Buku Cahaya Mata Sang Pewaris

451 Viewed Redaksi 0 respond
Said Agung Pangestu
Said Agung Pangestu

Said Agung Pangestu | April 22, 2017

Habis gelap terbitlah terang, begitu kira-kira adagium yang familiar dari seorang emansipatoris kita, R. A. Kartini. Sama seperti hari yang terdiri dari siang dan malam, sejarah setiap bangsa juga memiliki sisi terang dan gelap. Tiap bangsa tumbuh dan berkembang bersama ingatan akan sejarahnya.

Sayang, perjalanan bangsa Indonesia belum menemui titik terang, khususnya terkait tragedi 1965. Indonesia belum mau untuk secara terus terang mengungkap tabir kelam yang hingga kini masih bersemayam dalam alam pikiran sebagian besar manusia Indonesia. Sebagian besar dari kita masih percaya dengan cerita-cerita yang dibangun oleh orde baru.

Alasan inilah yang kemudian membuat Lembaga Kreativitas Kemanusiaan (LKK) bekerjasama dengan Goethe Institute melaksanakan kegiatan peluncuran buku Cahaya Mata Sang Pewaris (2016), sekaligus diskusi umum dengan tema “Mencari Terang”.

LKK merupakan ruang ekspresi seni dan budaya yang didirikan pada tahun 2005 oleh beberapa pekerja seni, akademisi, dan penggiat HAM. Kegiatan utama LKK antara lain memproduksi film dokumenter dan menerbitkan buku. Putu Oka Sukanta adalah inisiator dan penanggung jawab program LKK.

 

Jalan Berliku Mencari Terang

Pada pukul 18.30, gong dipikul oleh dua orang pemuda ke atas panggung, kemudian dipukul oleh Putu Oka Sukanta sebanyak tiga kali sebagai tanda dimulainya acara. Setelah Putu Oka dan Christel Mahnke (Kepala Informasi dan Perpustakaan Goethe Institute) memberikan sambutan, MC memulai rangkaian acara dengan menayangkan sebuah cuplikan video komentar Fritz Bauer (Jaksa Agung negara bagian Hessen, Jerman) tentang eksekusi Adolf Eichman (1961) – tangan kanan Hitler sekaligus otak dibalik dibantainya jutaan orang Yahudi di kamp-kamp maut.

Fritz Bauer mengatakan bahwa masyarakat Jerman secara bersama-sama berani menguak dan mencari jalan kebenaran terhadap sejarah kelam yang pernah menimpa mereka. “Kita di Jerman berupaya mengungkapkan kebenaran itu di pengadilan dan di sekolah.”

Apa yang dilakukan oleh Jerman merupakan buah kesadaran betapa sejarah kelam yang pernah menimpa mereka perlu dibicarakan, dan oleh karenanya, saat ini Jerman bisa berdamai dengan masa lalu. Jerman telah move on dan kini dikenal dengan kemajuan ekonomi yang pesat serta sistem demokrasi yang mumpuni. Hal yang kontras dialami oleh Indonesia, bangsa yang sama-sama pernah merasakan sejarah kelam, namun hingga saat ini masih berkutat dengan persoalan negara perlu meminta maaf atau tidak — terhadap para korban tragedi kemanusiaan 1965.

Untuk memahami inti permasalahan yang menimpa para pendahulu kita dan mewarisi ingatan yang panjang, tentu kita perlu menyimak dan mendengarkan secara langsung dari para pelaku tragedi tersebut. Hal ini penting untuk menghadirkan fragmen utuh yang saat ini keberadaannya simpang-siur. Maka dari itu, peluncuran buku Cahaya Mata Sang Pewaris merupakan bagian dari cara kita untuk mengetahui fragmen tersebut.

Cahaya Mata Sang Pewaris adalah ruang bebas yang berisi kisah-kisah kemandirian dan jati diri generasi kedua dan ketiga korban dan penyintas tragedi kemanusiaan 1965. Mereka adalah para anak atau cucu tahanan politik atau PKI yang mendapat cap diskriminatif dari lingkungan, dan berlangsung selama berpuluh-puluh tahun.

Cahaya Mata Sang Pewaris merupakan sebuah kumpulan cerita yang ditulis berdasarkan pengalaman pahit para penyintas tragedi 1965. Berbagai cerita dalam bentuk tuturan dalam buku ini merupakan gambaran banyak pribadi yang sebenarnya dan selayaknya, dapat disumbangkan kepada pemahaman sejarah atau masa lalu bangsa kita sendiri yang gelap dan belum tertuntaskan. Dalam buku inilah kita akan mendapat berbagai macam makna kesaksian, penyebaran nilai, dan penerusan realitas.

Buku yang memuat 25 cerita ini dihimpun oleh Putu Oka Sukanta dan diterbitkan oleh LKK bersama Ultimus. Ke-25 penulis yang juga merupakan pemilik ceritanya masing-masing tersebut adalah: Astuti Ananta Toer, Awal, Dhianita Kusuma Pertiwi, Efdi, Fidellia Dayatoen, Gita Laras, Gusti, I Wayan Willyana, Ieda Fitriani, IGP Wiranegara, Karina Arifin, Konrad Penlaana, pdt., Mado, Nasti Rukmawati, Ni Wayan Sinten Astiti, Nurhasanah, Phoa Bing Hauw, Putranda, Siauw Tiong Djin, Soe Tjen Marching, Sono, Syafrina Alam Sitompoel, Tuti Martoyo, Uchikowati, Wangi Indria.

Nasti Rukmawati (kanan) dan IGP Wiranegara (tengah) menjadi narasumber

Nasti Rukmawati (kanan) dan IGP Wiranegara (tengah) menjadi narasumber

IGP Wiranegara dan Nasti Rukmawati, didaulat menjadi perwakilan narasumber pada diskusi tersebut. IGP Wiranegara, seorang film maker, yang juga anak dari korban atau penyintas ’65, menceritakan betapa tragedi itu telah menghancurkan masa kanak-kanak dan masa depannya. Sebagai anak tahanan politik atau PKI, Wira selalu mendapatkan sikap diskriminatif dari lingkungan sekitar.

“Sebutan ‘anak PKI’ menjadi beban berat dan sangat menyakitkan.” Dengan suara bergetar Wira menyampaikan di depan hadirin yang memenuhi ruangan. Hal itu terus berlanjut hingga ia dewasa, sampai ia masuk ke jenjang perkuliahan pada usia 40 tahun.

Dahulu ia harus secara sembunyi-sembunyi untuk menceritakan kisahnya karena malu dan takut. Bahkan untuk menceritakan kepada anak-anaknyanya ia perlu menggunakan perantara e-mail. Menurutnya, ia tak sanggup membendung derai air mata ketika harus menceritakan secara langsung kepada anak-anaknya, hal yang sama ia lakukan ketika menulis untuk buku ini dengan judul “Meniti Jalan Hidup Berliku”. Kini, ia menceritakan kebenaran tanpa dendam.

Berbeda namun dengan rasa kepahitan yang sama dialami oleh Nasti Rukmawati. Wanita yang telah memiliki cucu ini dengan berani mengatakan secara langsung kepada anak-anaknya tentang apa yang telah terjadi terhadap kakek-neneknya (S. Sudjojono dan Mia Bustam, anggota Lekra). “Saya sampaikan saja secara langsung kepada anak-anak saya. Mungkin lingkungan juga (maksudnya lingkungan yang lebih akomodatif dan menerima) mempengaruhi kali, ya. Jadi saya berani berkata secara terus terang” begitu kira-kira yang ia sampaikan kepada hadirin.

 

Dialita dan Upaya Rekonsiliasi Budaya

Beberapa anggota Dialita yang hadir di Mencari Terang (urutan keempat dari kiri sampai urutan kesembilan)

Beberapa anggota Dialita yang hadir di Mencari Terang (urutan keempat dari kiri sampai urutan kesembilan)

Dengan jalan tertatih-tatih ibu-ibu yang mayoritas paruh baya itu jalan ke atas panggung untuk diperkenalkan kepada hadirin. Sesaat kemudian, Christel Mahnke menyambut mereka dengan memberikan bunga mawar merah. Ibu-ibu itu adalah Dialita.

Dialita, dengan akronim Di Atas Lima Puluh Tahun adalah kelompok paduan suara beranggotakan perempuan-perempuan para penyintas tragedi kemanusiaan 1965/66. Sebagian dari mereka pernah merasakan penjara tanpa peradilan yang jelas dan sebagian lainnya pernah merasakan kehilangan sanak keluarganya akibat peristiwa yang sama.

Dunia Milik Kita adalah salah satu album Dialita yang berisikan lagu-lagu ciptaan komponisnya pada saat berada di penjara pengasingan. Dua diantaranya Utati (istri Koesalah Soebagio Toer) dan Moedjiati yang pernah ditahan selama kurang lebih 10 tahun.

Pada mulanya, Dialita tidak berani menunjukkan diri secara terang-terangan. Dialita sempat merasakan saat-saat dimana mereka terpaksa menyanyi dalam hati dan lagu-lagu mereka dibawakan dalam diam. Hal ini menimbulkan tekanan bagi mereka yang ingin merasakan musik tidak hanya sebagai kegiatan individual, tetapi juga sikap komunal dimana suara mereka lantang terdengar di hadapan orang-orang tanpa harus merasakan takut.

Kehadiran Dialita merupakan semangat lain dari mencari jalan kebenaran yang ditempuh. Dialita ingin menyampaikan perasaan-perasaan yang selama ini, khususnya pada masa baru tidak bisa disampaikan. Melalui lirik-liriknya Dialita mencurahkan segenap perasaannya kepada kita bahwa pada masanya Indonesia pernah mengalami tragedi kemanusiaan yang, bukan hanya merenggut korban jiwa, tapi korban pemenjaraan jiwa dan pikiran para keluarga tahanan politik.

Dialita adalah upaya untuk merekonsilisiasi secara kultural tentang beban masa lalu. Ia tidak hadir dengan membawa sebuah kebenaran tunggal, melainkan ia ada untuk menawarkan catatan sejarah alternatif yang tidak ada pada bangku sekolah.

Segala yang terucap hanyalah menguap dan yang tercatat dalam tulisan akan selalu abadi. Cerita-cerita sentimentil yang melekat pada sepanjang hidup para anggota Dialita kini dapat dijumpai pada penggalan-penggalan lirik lagu mereka. Bait-bait kebenaran yang perlu mendapat perhatian saksama.

Keberanian para perempuan-perempuan tangguh yang tergabung dalam Dialita merupakan semangat kolektif, masih banyak di luar sana para korban atau penyintas tragedi 1965 yang tidak berani atau enggan untuk menceritakan kisah-kisahnya. Keberanian untuk menyampaikan kebenaran ini merupakan sebuah upaya mengukir sejarah demi terangnya msa depan.

Meski harus menempuh jalan panjang dan berliku, para korban atau penyintas 1965 baik yang tergabung dalam Dialita maupun yang lainnya, tidak akan sendirian. Karena kami meyakini masih banyak manusia Indonesia yang peduli dan berada dalam barisan para pencari terang. ♦

Sumber: Narazine 

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in
Jaksa Agung Prasetyo yakin penanganan pelanggaran HAM akan intensif seiring pembentukan direktorat khusus itu. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Kejagung Berencana Bentuk Kembali Direktorat Pelanggaran HAM

Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI 2011−2013 Laksamana Muda TNI (Purn.) Soleman B. Ponto, S.T., MH (Ist)

Allan Nairn dan ‘Makar Para Jenderal’

Related posts
Your comment?
Leave a Reply