Temu Korban 65 Boyolali Dijaga Polisi

720 Viewed Redaksi 0 respond
BOYOLALI: Peserta temu korban/penyintas 65 Boyolali (14/4)bergambar bersama aparat kepolisian dari Polres setempat [Foto: Humas YPKP'65]
BOYOLALI: Peserta temu korban/penyintas 65 Boyolali (14/4)bergambar bersama aparat kepolisian dari Polres setempat [Foto: Humas YPKP'65]

Pertemuan (16/4) korban/penyintas tragedi kemanusiaan 65-66 yang berasal dari berbagai wilayah kecamatan se Boyolali, dijaga dua aparat polisi dari Polres setempat.

“Ini sesuai perintah Kapolres, kami harus menjaga masyarakat dari berbagai ancaman”, kata Joko Suseno. Petugas yang hadir disertai Adi polisi lainnya itu bahkan dipersilahkan mengikuti keseluruhan acara hingga usai dan berfoto bersama peserta.

“Tak ada masalah. YPKP 65 juga organisasi yang legal”, Bedjo Untung menanggapinya sebagai hal positif dan sebagai Ketua YPKP 65 Pusat, dia menyampaikan terimakasihnya atas sikap kepolisian di Boyolali yang menunjukkan sikap yang semestinya.

 

Apresiasi Polisi

TERBITAN: Terbitan YPKP 65 "Soeara Kita" digemari oleh para korban/penyintas 65 di daerah [Foto: Humas YPKP 65]

TERBITAN: Terbitan YPKP 65 “Soeara Kita” digemari oleh para korban/penyintas 65 di daerah [Foto: Humas YPKP 65]

 Selain sebagai upaya konsolidasi internal organisasi korban/penyintas 65, pertemuan seperti ini dinilai penting untuk mengkomunikasikan banyak hal dan perkembangan situasi kontemporer. Pada umumnya di beberapa daerah fokus pembicaraan lebih pada bagaimana para korban kejahatan HAM berat masa lalu dapat mengakses layanan kesehatan dan psyco-social dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Ini paradoks dengan apa yang selalu dilansir kelompok reaksioner tentang fitnah kebangkitan komunis di Indonesia. Tak ada alasan untuk menaruh curiga apalagi membubarkan acara-acara seputar tragedi 65 yang digelar di berbagai tempat. Karena harus dibedakan antara problem dan konstelasi politik dengan masalah universal kemanusiaan.

“Tak benar korban 65 hendak membangkitkan kembali PKI”, tegas Bedjo Untung. Sebagai Ketua YPKP 65 Pusat, ia mengapresiasi kehadiran aparat kepolisian dengan memproteksi pertemuan-pertemuan para korban.

Meskipun hingga saat ini, di Boyolali masih ada aparat pemerintah yang memberlakukan politik stigma dan perlakuan diskriminatif terhadap para korban. Namun terhadap masalah seperti ini, jika tak segera membaik; YPKP 65 akan melibatkan kewenangan Ombudsman RI.

Sebagaimana diketahui di beberapa daerah, seperti Pati, Pekalongan dan Cilacap, sikap aparatur keamanan khususnya dari kalangan intel militer masih phobia dan bertindak berdasarkan asumsi impunitasnya. [hum]

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Song So-yeon (memegang kamera) aktivis HAM pada "The Truth Foundation" Korea Selatan, tengah mengambil gambar pada "Aksi Kamisan" ke 484 di depan istana (9/3) Jakarta [Foto: Humas YPKP'65]

Song So-yeon dan Sarang Lee “Aksi Kamisan” di Jakarta

tribute-jokja.2b

YPKP ‘65 Mengecam Keras Gerombolan “Pemuda Pancasila” pada Pembubaran Pameran “Tribute of Wiji Thukul” Yogyakarta

Related posts
Your comment?
Leave a Reply