Berpikir Radikal tentang PKI

108 Viewed Redaksi 0 respond
ilustrasi: kredit foto Mahy E
ilustrasi: kredit foto Mahy E

Belakangan bapak presiden, Joko Widodo bersama para intelektual dari berbagai kampus mendeklarasikan Indonesia melawan radikalisme. Padahal radikal berasal dari kata radix (mengakar), artinya ketika menganalisis persoalan harus mendalam hingga ke inti. Di mana itu inti persoalan? Ya itu tugas para intelektual, terutama pegiat filsafat yang dari awal kuliah diberi tahu bahwa satu di antara sifat ilmu filsafat adalah radikal.

Anehnya tak satu orangpun yang menyarankan para pejabat dan terpelajar itu untuk memilih istilah lain. Menimbang-nimbang makna beberapa kata, ekstremis, fanatik, atau bigot misalnya. Alasannya sangat sederhana, kata radikal diidentikkan dengan terorisme dan sudah digunakan secara umum. Tak perlu dipertanyakan.

Saya curiga, para intelektual itu betul-betul tak teliti atau memaghfumkan sesuatu bahwa jangan-jangan memang kebanyakan masyarakat Indonesia tidak terbiasa berpikir radikal? Sehingga dengan mudah digembalai oleh wacana umum tanpa mencari bacaan pembanding? Termasuk dalam pemaknaan kata “radikal” itu sendiri?

Apa mungkin masyarakat apalagi kaum intelektual dibiarkan tak kritis dan akhirnya tak radikal? Untuk berpikir radikal mengandaikan pengetahuan yang mumpuni tentang hal yang tengah direnungkan. Pengetahuan yang tak hanya diperoleh dari satu pihak, penentang atau pendukungnya saja. Karena usaha mengetahui ini juga usaha menjadi adil sejak dalam pikiran seperti kata Pramoedya Ananta Toer.

Begini prosesnya, katakanlah kita renungkan perkara komunisme. Analisis yang medalam hanya dapat dilakukan ketika kita sudah mengetahui segala tetek bengek perihal komunisme dan akhirnya PKI. Dari pengetahuan yang diizinkan pemerintah hingga seluk beluk komunisme yang diajarkan Karl Marx dan rekan-rekannya.

Pengetahuan mumpuni ini menjadi bekal kita untuk menalar apakah PKI berbahaya atau tidak. Penalaran mensyaratkan makna sebuah term yang digunakan dalam premis-premis adalah tepat. Ingat, makna bukan arti. Jika pemaknaan terhadap suatu term keliru, kesimpulan yang diambil pasti keliru. Apa makna dari term komunisme? Apa makna dari term atheis?

Makna yang tepat hanya dapat diperoleh dengan pengetahuan yang mencukupi tentang seluk beluk dan penerapan term itu di dunia nyata. Dan akhirnya diperoleh kesimpulan yang kita harapkan cukup adil. Tentunya setelah proses menganalisis dan menyintesiskan dua premis yang tak hanya butuh daya kritis, tapi juga nurani yang bersih.

Premis 1: PKI berbahaya karena atheis. Premis 2: PKI berasal dari ideologi komunis yang menolak konsep ketuhanan karena agama dianggap sebagai pelarian masyarakat yang teropresi secara ekonomi politik. Lantas apakah kita masih menyimpulkan bahwa PKI berbahaya? Karena setelah dipikir dan dipikir lagi, mungkin saja agama membutakan mata masyarakat yang tertindas di bawah sistem kapitalisme.

Masyarakat menganggap upah murah dan kelebihan jam kerja adalah takdir Tuhan dan sepatutnya disyukuri. Masyarakat menjadi tak punya daya untuk mengubah keadaan yang diciptakan oleh tindak-tanduk manusia. Jadi, apakah menjadi atheis adalah betul-betul pakem komunisme? Jika tetap menyuarakan ketidakadilan dalam proses produksi, apa salahnya beragama? Apa fakta yang berkaitan dengan konsep ketuhanan dan komunisme?

Itulah yang dinamakan berpikir dialektis. Contoh kecil saja namun terasa menjadi pekerjaan yang membutuhkan waktu seumur hidup untuk membaca dan menelaahnya. Oleh karena itu mungkin para anti-PKI tidak punya cukup waktu untuk berdialektika, yang penting: imani! Jika sudah memasang panji keimanan tanpa kompromi, apa yang akan terjadi jika mereka disodorkan Manifesto Komunis apalagi Kapital?

Para anti-PKI memang dengan hebat memberangus segala yang berkaitan dengan PKI sambil berteriak bahwa mereka tahu apa itu komunisme dan akhirnya PKI. Namun menjadi geram atau menjadikannya bahan guyonan saja tidak cukup. Lucu sih, tapi tak mengubah apapun. Para intelektual yang terpelajar dan sebisa mungkin menempatkan diri pada kondisi tanpa-praduga seharusnya bertindak. Menyampaikan apa-apa yang berkenaan dengan komunisme dan PKI dengan bahasa yang mudah dikonsumsi dan tentunya tak bikin marah. Jika penyampaian itu sudah selesai, biarkan masyarakat sampai pejabat membenci atau mencintai karena memang mereka tahu. Itulah kesadaran, mengambil sikap karena memang tahu.

Baiklah, ternyata radikalisme ada gunanya juga. Jangan sampai salah mengartikannya lagi ya.

____

Eva H, Alumni Filsafat UGM dan dapat disapa di @evahudaeva_ atau evahudaeva93@gmail.com

Sumber: Geotimes

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Sukmawati Soekarnoputri, putri dari Presiden Pertama RI Soekarno, saat ditemui di kantor PARA Syndicate, Jakarta Selatan, Jumat (30/9/2016).(Kristian Erdianto)

“Bapak Menangis di Depan Saya Mendengar Jutaan Rakyatnya Dibunuh Setelah G30S”

Presiden bersama para seniman.

Kerugian Nasional Akibat Genosida Politik 1965-1966

Related posts
Your comment?
Leave a Reply