Penyintas 65 Sebut Wiranto Sebar Kebohongan Publik

166 Viewed Redaksi 0 respond
Penyintas 65/66 pada aksi kamisan ke-457 di depan Istana Negara, Jakarta. (Foto: Antara)
Penyintas 65/66 pada aksi kamisan ke-457 di depan Istana Negara, Jakarta. (Foto: Antara)

Rabu, 12/10/2016 18:11 WIB | Oleh: Yudi Rachman 

KBR, Jakarta – Kelompok penyintas tragedi 65/66 dan pegiat HAM yang tergabung dalam Forum 65 menilai Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto menyebarkan kebohongan publik. Hal tersebut terkait pernyataan Wiranto yang menyebut kejadian pada 1965 dan tahun-tahun setelahnya dilatari perbedaan ideologis yang berujung pada makar.

Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966 Bedjo Untung menilai, pernyataan tersebut berbeda dengan fakta-fakta sejarah yang diungkap dalam Simposium Nasional “Membedah Tragedi 1965” di Hotel Aryaduta, Jakarta pada 18-19 April 2016 lalu. Kesimpulan itu, menurutnya, juga bertentangan dengan hasil Persidangan Rakyat Internasional atau International People’s Tribunal (IPT) 65.

“Saya melakukan penelitian hampir 16 tahun itu di YPKP tidak menemukan satu bukti apapun bahwa PKI melakukan pemberontakan, tidak ada ya. Karena itu pernyataan Wiranto itu betul-betul merupakan kebohongan publik,” jelas Ketua YPKP 1965 Bedjo Untung di Kantor LBH Jakarta, Rabu (12/10/2016).

Usai upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2016 lalu, Menkopolhukam Wiranto menyatakan, Gerakan 30 September 1965 dapat dibenarkan secara hukum. Sebab dia menganggap, saat itu negara melakukan langkah penyelamatan atas tindakan makar.

Koordinator Forum 65, Bonnie Setiawan mengungkapkan, pernyataan itu bertolak belakang dengan penyelesaian tragedi 65/66 melalui rekonsiliasi.

“Ini kontradiktif, di satu sisi demi kerukunan nasional, tidak ingin menyalahkan pihak lain, namun diawali dengan pernyataan menyalahkan pihak lain,” tegas Bonnie yang juga menjadi anggota tim perumus penyelesaian tragedi 65/66 untuk Simposium Aryaduta.

Lagi pula menurut Bonnie, penyebab dan kronologi tragedi 1965 hingga kini masih menjadi perdebatan di antara para ahli dan sejarawan. Hal ini diamini oleh Ketua YPKP 65/66 Bedjo Untung.

“Temuan para sejarawan, ahli maupun Komnas HAM yang menyebut kejadian pada tahun-tahun itu merupakan tragedi kemanusiaan.”

“Maka itu, dalam forum ini mari kita gelar diskusi kesejarahan. Ahli-ahli sejarah silakan datang dan berkumpul untuk mendiskusikan, kita tidak mau berdebat kusir.Kita akan tunjukkan fakta-fakta,” lanjut Bedjo.

Itu sebab, Forum 65 juga kembali mendesak dibentuknya komite ad-hoc di bawah presiden untuk mengungkap kebenaran atas tragedi 65/66. Selain itu, Presiden Jokowi diminta turun langsung menuntaskan kasus yang sudah 51 tahun terkatung ini melalui penerbitan Keputusan Presiden terkait rehabilitasi umum dan rekonsiliasi nasional sebagai landasan hukum penyelesaian.

“Saatnya negara, Presiden Jokowi berani membuat surat Keputusan Presiden karena sudah ada rekomendasi dari Komnas HAM. Terbitkanlah Kepres yang berisi rehabilitasi umum kepada korban 1965/1966,” tukas Bedjo.

“Saya menunggu keputusan bijaksana untuk menerbitkan Keppres.Kami juga meminta negara melakukan pengakuan dan penyesalan dari negara,” pungkasnya.

Editor: Nurika Manan

http://kbr.id/10-2016/penyintas_65_sebut_wiranto_sebar_kebohongan_publik/85853.html

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Wiranto di Hotel Arya Duta. ©2016 Merdeka.com/dede rosyadi

Forum 65 sakit hati Wiranto sebut peristiwa 65 tindakan makar

Komnas HAM. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Komnas HAM akan laporkan 18 catatan situasi HAM di Indonesia ke PBB

Related posts
Your comment?
Leave a Reply