Forum 65 sakit hati Wiranto sebut peristiwa 65 tindakan makar

202 Viewed Redaksi 0 respond
Wiranto di Hotel Arya Duta. ©2016 Merdeka.com/dede rosyadi
Wiranto di Hotel Arya Duta. ©2016 Merdeka.com/dede rosyadi
Rabu, 12 Oktober 2016 15:34 | Reporter : Rizky Andwika
Merdeka.com – Menko Polhukam Wiranto menyebut peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S) dapat dibenarkan secara hukum. Wiranto menilai saat itu negara melakukan tindakan penyelamatan karena adanya tindakan makar, yaitu tindakan darurat dalam kondisi negara yang sedang darurat dan dapat dibenarkan secara hukum.

Menanggapi hal tersebut, Forum 65 menegaskan pernyataan Wiranto itu dapat mencoreng rasa keadilan dan sangat menyakitkan. Pernyataan Wiranto tersebut berbanding terbalik dengan sikapnya yang ingin menyelesaikan kasus ini.

“Ini betul-betul sangat menyakitkan. Di satu sisi beliau ingin rekonsiliasi nasional. Tetapi dia (Wiranto) mengawali dengan suatu pernyataan bahwa tragedi 65 adalah makar. Itu tidak benar. Kami korban yang tahu persis soal peristiwa itu,” kata Bedjo Untung, Ketua YPKP 65 dan Tim Koordinasi Forum 65 di LBH Jakarta, Selasa (12/10).

Bedjo menambahkan pernyataan Wiranto tersebut sangat bertentangan dengan beberapa temuan dari sejarawan, ahli maupun dari Komnas HAM yang menyebut peristiwa 65 merupakan sebuah tragedi kejahatan kemanusiaan. Bedjo meyakini peristiwa 65 dirancang khusus untuk melakukan kudeta terhadap Presiden Indonesia kala itu, Soekarno dan menyingkirkan para pendukungnya melalui cara pembunuhan massal. Sehingga, dia pun menegaskan tak ada tindakan makar dalam peristiwa tersebut.

“Itu dikatakan ada makar. Kami sangat sakit. Sangat melukai hati kami,” tegasnya.

Akibat mengecam pernyataan Wiranto tersebut, Bedjo yang mewakili Forum 65 mendesak perlunya Komite Ad-Hoc yang bertujuan mengungkap kebenaran dan penyelesaian tragedi 65 yang langsung dikomandoi oleh Presiden Joko Widodo.

“Komite ini harus diisi orang-orang yang berwawasan dan memiliki integritas tinggi untuk penegakan dan penyelesaian pelanggaran HAM 1965,” katanya.

Forum 65 juga meminta Presiden Joko Widodo menerbitkan Keppres Rehabilitasi Umum dan Rekonsiliasi Nasional sebagai landasan hukum Penyelesaian Pelanggaran HAM Tragedi 1965 sebagai tindaklanjut dari UU-UKR No 27/2004 yang dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi dalam putusan MK No 006/PUU-IV/2006.

Forum 65 juga mendesak segera diumumkan Hasil Rekomendasi Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965 yang diselenggarakan di Hotel Aryaduta, Jakarta pada 18-19 April 2016.

Seperti diketahui, sebelumnya, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto mengatakan, saat peristiwa 1965, negara melakukan tindakan penyelamatan karena dinyatakan dalam keadaan bahaya dan tidak bisa dinilai dengan hukum sekarang.

“Dari kajian hukum pidana peristiwa tersebut termasuk dalam kategori “the principle clear and present danger”, negara dapat dinyatakan dalam keadaan bahaya dan nyata. Maka tindakan yang terkait National Security merupakan tindakan penyelamatan,” kata Wiranto usai upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Lubang Buaya, Sabtu (1/10/).

“Dari peristiwa tersebut juga dapat berlaku adagium “abnormaal recht voor abnormaale tijden”, tindakan darurat untuk kondisi darurat (abnormal) yang dapat dibenarkan secara hukum dan tidak dapat dinilai dengan karakter hukum masa sekarang,” sambungnya.

Wiranto menyampaikan ?pula bahwa pada tahun 1965 dan tahun sebelumnya telah terjadi perbedaan secara ideologi politis yang berujung pada makar.

“Sehingga menimbulkan kemunduran dan kerugian besar bagi bangsa Indonesia,” katanya. [dan]

https://www.merdeka.com/peristiwa/forum-65-sakit-hati-wiranto-sebut-peristiwa-65-tindakan-makar.html
Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in
Presiden Jokowi. Foto: Dok/Metrotvnews.com

Presiden: Indonesia Negara Hukum, bukan Negara Undang-undang

Penyintas 65/66 pada aksi kamisan ke-457 di depan Istana Negara, Jakarta. (Foto: Antara)

Penyintas 65 Sebut Wiranto Sebar Kebohongan Publik

Related posts
Your comment?
Leave a Reply