Mengisahkan Sejarah Lewat Film

322 Viewed Redaksi 0 respond
Diskusi 2 film dokumenter di markas CLC Puralingga [Foto: raling.com]
Diskusi 2 film dokumenter di markas CLC Puralingga [Foto: raling.com]
Pemutaran Perdana Film Luka di Tanah Merah
Magang Dua | Rabu, 14 Desember 2016 – 11:15:36 WIB

PURBALINGGA, SATELITPOST-Sejumlah sineas muda Purbalingga mengikuti acara pemutaran film dokumenter berlatar tragedi ’65 di Mabes Cinema Lovers Comunity (CLC), Senin (12/12). Ada dua judul film yang disajikan dalam acara peringatan hari HAM Internasional ini, di antaranya “Luka di Tanah Merah”, dan “Masean’s Messages”.

Produser eksekutif film “Luka di Tanah Merah” Aris Andrianto mengatakan, film pendeknya bercerita tentang konflik tanah di wilayah Cilacap Barat. Konflik tanah seluas 12 ribu hektar yang melibatkan sekitar 17 ribu kepala keluarga di Cilacap Barat sudah berlangsung puluhan tahun.

“Ada kaitan sangat erat antara perampasan tanah rakyat oleh Negara dengan peristiwa pemberontakan yang sering distigmakan pada rakyat,” kata Aris yang juga Ketua AJI Kota Purwokerto tersebut.

Sementara sang sutradara “Luka di Tanah Merah”, Bowo Leksono mengatakan, pemutaran kali ini merupakan yang pertama kali setelah film selesai diproduksi. Menurut dia, film berdurasi 20 menit ini sebenarnya belum mampu merangkum persoalan hingga dalam.

“Terlalu kompleks persoalan tanah yang ditanggung ribuan warga. Namun setidaknya, lewat film ini bisa mengabarkan pada khalayak bagaimana perjuangan petani di wilayah Cilacap Barat yang kerap mendapatkan stigma PKI,” ujar Bowo yang juga Direktur CLC.

Film yang diproduksi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Purwokerto, CLC Purbalingga, dan Serikat Tani Mandiri (STaM) Cilacap ini bersanding dengan dengan film bertema serupa asal Bali “Masean’s Messages” yang disutradarai Dwitra J. Ariana yang juga hadir dalam program pemutaran tersebut.

Dwitra J. Ariana merasa lega bersemuka dengan apresian di Purbalingga dengan membawa filmnya yang sempat menjadi nominasi Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2016. “Film saya berkisah kearifan lokal budaya Bali dalam rekonsiliasi konflik ’65 yang terjadi di satu desa di Bali lewat upacara adat. Dan itu mulai memengaruhi desa-desa lain dengan persoalan sama,” katanya.

Pemutaran film yang dilanjutkan dengan diskusi ini juga diikuti oleh sejumlah pihak. Satu di antaranya pelajar SMA Negeri Bukateja, Sekar Fazhari. Ia mengapresiasi penuh acara tersebut. “Terus terang, kami tidak pernah diajari sejarah seperti ini di sekolah. Sejarah Indonesia yang kami pelajari selalu terkait dengan tokoh-tokoh heroik. Ternyata ada sejarah kelam yang terjadi paska kemerdekaan dan pengaruhnya hingga saat ini,” ujarnya.

Sementara Aris Panji dari Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan (YPKP) ’65 Kebumen mengatakan upaya penyelesaian konflik ’65 tidak bisa mengandalkan Negara. “Harus ada inisiatif komunitas warga untuk menyelesaikannya seperti pada film Masean’s Messages,” katanya. (bal)
Sumber Berita: http://satelitnews.co/berita-mengisahkan-sejarah-lewat-film.html#ixzz4SpUTYSRr

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Saudah dan kedua Cucunya, di Kampung Dampungan. (Foto: KBR/Muhamad Ridlo)

Korban Tragedi 65 Minta Kejelasan Status Tanah di Kampung Dampungan

DISKUSI HAM: Diskusi 2 Film Dokumenter "Masean's Messages" dan "Luka Di Tanah Merah" digelar (12/12) di markas CLC Purbalingga (Jateng) dalam rangka memperingati Hari HAM Internasional [Foto: Braling]

Jalan Sinema Dalam Kampanye Perjuangan HAM Indonesia

Related posts
Your comment?
Leave a Reply