Sastra | Saat Tubuh Bicara dalam Aksara

500 Viewed Redaksi 1 respond
Putu Oka Sukanta [Foto: NewYorkTime]
Putu Oka Sukanta [Foto: NewYorkTime]

Oleh Okty Budiati

 

sebab

sebab tangis tidak pecah
ia dibawa tidur menelusuri malam
sebab jerit tidak diteriakkan
ia larut dalam endap
sebab kata tidak terucapkan
ia diam di dalam bisu
seperti puisi dibelakang terali

[Putu Oka Sukanta, 1982]

 

Putu Oka Sukanta, sang pemilik aksara yang telah merangkainya menjadi bait-bait puisi berjudul sebab, ini sebuah puisi yang dicuplik dari kumpulan puisi Selat Bali (Sajak-sajak buat burung Camar) terbit pada tahun 1982. Puisi sebab merupakan satu puisi utuh yang mampu menggambarkan satu pengalaman tubuh manusia dengan segala rapuhnya.

Putu Oka Sukanta [Earshot]

Putu Oka Sukanta [Earshot]

Jika ditilik dari linimasa terbitnya puisi ini, tahun 1982, bisa dikatakan sebagai masa awal bergerak dimana dalam proses trauma healing, ada masa rentang waktu per lima tahun paska tahun 1976 saat Putu Oka dibebaskan dari tahanan selama sepuluh tahun akibat kejadian G30S (Gerakan 30 September) yang menjadi rekonstruksi sel organ dalam tubuh manusia. Namun pada tulisan ini, saya tidak akan membedah panjang lebar perihal post-traumatic stress disorder; sebuah kecemasan yang berkembang setelah pengalaman individu atau menjadi saksi peristiwa traumatis, tragis, menakutkan yang berakibat pada ancaman jiwa manusia terhadap individu maupun kelompok.

Kembali pada inti tulisan saya tentang masa perjalanan pengalaman manusia hingga pada satu kondisi saat tubuh bicara dalam aksara yang tertuang dalam sebab, saya akan mencoba membedahnya menjadi empat elemen dasar yang menjadi tiang kekuatan dari puisi tersebut.

Pada susunan baris pertama dan kedua // sebab tangis tidak pecah / ia dibawa tidur menelusuri malam // yang menjadi awal pembuka gerbang pembaca untuk memasuki dunia aksara tubuh ini. Penulis seakan sedang mencoba mengajak kita untuk memasuki ruang memori bawah sadar yang tertuang dalam kalimat /sebab tangis tidak pecah / sebuah wujud id sekaligus super-ego dalam teori Sigmund Freud dengan memililh perwujudan ego dalam kondisi melankolia (kesedihan yang mendalam sebagai refleksi humor dari sifat manusia).

Kecenderungan karya-karya bersifat melankolia dalam seni sastra hingga lainnya seperti seni rupa, musik, dan tari sesungguhnya menjadi elemen dasar dalam proses penciptaan karya. Bahkan kondisi melankolia ini sempat menjadi penutup abad pertengahan dengan adanya The Anatomy of Melancholy karya Robert Burton, tahun 1621 yang menjadikan sastra dan perspektif medis sebagai subjeknya. Hingga pada akhirnya dilanjutkan dalam baris kedua / ia dibawa tidur menelusuri malam /.. Kalimat dalam baris kedua ini menjadi satu wujud gerak tubuh, satu bentuk terapi yang dilakukan oleh tubuh atas pengalaman dari baris pertama di mana tangis tidak pecah.

Dalam proses gerak tubuh, kesedihan yang mendalam, hingga mampu membakar hati manusia yang akan berdampak pada ketegangan jaringan saraf terkadang membuat tubuh menjadi lelah atau lebih dari itu adalah tension. Namun di ujung proses, sebuah tangisan tidak dapat dikeluarkan karena ia larut pada malam. Sehingga di baris pertama dan kedua, saya katakan penulis mencoba membuat epilog kejadian hati serta pengalaman manusia yang paling dalam, hingga mampu bercermin sebagai pencerahan, yaitu tidur dan malam. Tidur dapat dipahami sebagai sebuah proses regenerasi sel organ anatomi tubuh, sedangkan malam menjadi wujud cermin eksistensi manusia atas ruang yang gelap dan sepi. Bentuk ini menjadi semacam proses embun yang jatuh menjelang pagi hari. Ada yang datang serta hilang, dan menjadi pencerahan atas keberadaan waktu dalam hidup manusia. Ada yang tetap mengalir (air atau darah) hingga ia menemukan muara sebagai tujuannya.

Namun pada baris ketiga dan keempat / sebab jerit tidak diteriakkan / ia larut dalam endap / muncul satu bentuk kegelisahan baru. Penulis menemukan jalan persimpangan. Ia menjadi butuh satu arah mata angin sebagai wujud dari perjalanan prosesnya. Di sini, Putu Oka menemukan tempat tujuan tersebut, berupa ruang endap, seperti gua atau lorong sunyi melalui proses penciptaan puisi itu sendiri. Hal ini menjadi bentuk proses meditasi (latihan penyelarasan) antara organ otak dengan empedu atau wujud pikiran dengan perasaan yang masih tetap terhubung dan mengalir sebagai nafas kehidupan.

Putu Oka tampak menyadari kondisinya sebagai wujud eksistensi manusia, ia tidak lain adalah sebuah proses perjalanan. Melalui kalimat di baris kelima dan keenam  / sebab kata tidak terucapkan / ia diam di dalam bisu /  Putu Oka memilih tubuhnya sebagai artefak hidup. Sebuah patung yang bergerak, arca yang bercerita. Lagi-lagi, di sini, Putu Oka benar-benar bergulat atas proses post-traumatic stress disorder sebagai jalan pencerahan dirinya. Saya menjadi teringat pada seorang sufi Ibn Kathir asal Damaskus, bahwa sebuah awal dan akhir adalah wujud dari sejarah waktu hingga ia menemukan tempatnya.

Hingga di baris akhir atau ketujuh dalam puisi “sebab” yang tertulis “seperti puisi dibelakang terali” menjadi refleksi kejadian akan kondisi eksistensi manusia dalam ruang berterali, seperti penjara visual dari itu sendiri. Soren Kiekergaard, filsuf asal Denmark pernah mengatakan bahwa hidup bukanlah masalah yang harus dipecahkan, tapi sebuah kenyataan yang harus dialami. Satu kalimat yang begitu individu namun mampu menjadi cermin bagi pembaca dan pencipta tulisan itu sendiri. Di sinilah, proses penciptaan karya seorang Putu Oka Sukanta menjadi tampak konsisten akan semboyan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.

putu-oka_satuharapanTubuh Putu Oka menjadi cermin refleksi eksistensi manusia dalam sejarah peradaban manusia dengan kemanusiaannya. Pada kondisi melankolia, manusia sebagai pelaku sekaligus pembaca secara otomatis mampu menjadi wujud proses kehidupan dengan semangat hidup yang akhirnya dimaknai sebagai bentuk puji syukur atas pengalaman-pengalamannya. Tubuh ritual itu dihadirkan oleh Putu Oka menjadi visual aksara sebagai terapi bagi dirinya, dan tentu saja secara otomatis menjadi terapi bagi orang lain. Sebuah penerimaan diri atas keberadaan dalam waktu.

Secara menyeluruh, saya katakan puisi “sebab” adalah satu wujud meditasi tubuh melalui bahasa aksara (puisi) di mana ritual tubuh tidak lagi terbatas pada hukum-hukum yang ada, namun menjadi bentuk keseimbangan gerak tubuh dengan sekitarnya. Sebuah bentuk penyatuan antara tubuh manusia dengan alam semesta. Jika dibedah baris perbaris, puisi pada baris pertama dan kedua merupakan simbol elemen dari wujud air, baris ketiga dan keempat adalah udara, kelima dan keenam menjadi batu, dan yang terakhir atau ketujuh adalah api.

Filosofi ini begitu kuat dan menyatu utuh sebagai satu puisi yang diberi judul sebabini. Judul itu sendiri merupakan penekanan akan proses hidup dalam kehidupan dimana segala yang ritus memiliki sejarah, dan akan tetap menjadi bagian dari sejarah selama pemilik tubuh mampu meruang dalam waktu di kesehariannya.

Konsep ini tidak akan hadir apabila Putu Oka Sukanta tidak pernah mengalami berbagai macam pengalaman serta trauma selama dipenjarakan tanpa proses pengadilan, tapi juga bagaimana ia selama di dalam tahanan mencoba hadir dan meruang dengan memahami filosofi hidup Tao dan filosofi hukum Konfucius untuk dunia akupuntur yang menjadi salah satu pilihan hidupnya selain menulis setelah dibebaskan sebagai Tapol pada tahun 1976.

“Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah”, sebuah kalimat dari Lao Tze menjadi wujud kekuatan dari puisi sebab karya Putu Oka Sukanta. Menjadi konsisten pada seni sebagai filosofi hidup, bahwa sastra dan medis bukanlah dua hal yang terpisah karena ia hadir dalam satu ritus tubuh; yaitu tubuh Putu Oka Sukanta. Seni sebagai proses terapi akan mampu dihadirkan oleh seorang seniman apabila ia telah mampu berdamai dengan kediriannya sebagai proses hidup yang termaknai jika ia meruang dalam waktu.

***
Jakarta, 13 Februari 2017

Okty Budiati, adalah penari, performer, koreografer, sekaligus penulis lepas yang fokus pada tulisan tentang sejarah, psikologi, hingga filosofi tubuh sebagai budaya dari ritual tubuh.

 

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in
ill: historia

Koh Memulangkan Pram

Martin Aleida [Foto: biemco]

Mengapresiasi “Tanah Air” karya Martin Aleida

Related posts
One Response to “Sastra | Saat Tubuh Bicara dalam Aksara”
  1. # Juli 20, 2017 at 3:57 pm

    thanks…

Leave a Reply