Peringatan “gagalnya” Orde Reformasi

89 Viewed Redaksi 0 respond
AKSI: Peringatan 20 Tahun Reformasi (21/5) ditandai dengan aksi massa koalisi berbagai elemen buruh, mahasiswa, aktivist HAM, korban pelanggaran HAM berat. Aksi dimulai dari lokasi "patung kuda" dan bergerak menuju Taman Aspirasi di seberang Istana Merdeka, Jakarta [Foto: Humas YPKP 65]
AKSI: Peringatan 20 Tahun Reformasi (21/5) ditandai dengan aksi massa koalisi berbagai elemen buruh, mahasiswa, aktivist HAM, korban pelanggaran HAM berat. Aksi dimulai dari lokasi "patung kuda" dan bergerak menuju Taman Aspirasi di seberang Istana Merdeka, Jakarta [Foto: Humas YPKP 65]

Lepas asar Senin (21/5) sore itu matahari mulai menyurutkan teriknya, saat ratusan aktivis buruh dari KASBI mulai datang dengan sepeda motor.  Mereka adalah bagian dari peserta aksi peringatan “20 Tahun Reformasi” yang mulai menata barisan di sekitar “patung kuda”, tak jauh dari kantor Kementrian Pariwisata. Di sisi yang lain, di bawah jembatan penyeberangan “indosat” massa dari elemen lainnya mulai pula berdatangan menghampiri mobil komando.

Apa yang disebut “patung kuda” itu sendiri sebenarnya semacam monument kereta yang memang ditarik belasan kuda, gambaran monumental dari  suatu penggalan lakon “Karno Tandhing”, episode perang besar dari epos Bharata Yuda dalam jagad pewayangan. Sebagai panglima perang, Adipati Karno mengendarai kereta dengan sais Prabu Salya mertuanya; menuju medan Kurusetra. Tempat dimana panglima perang ini pada akhirnya gugur terlanda panah sakti Arjuna, ksatria Pandhawa yang dipandu sais Kresna.   

Barisan aksi pun bergerak menjauhi “patung kuda” setelah disemangati orasi dari atas mokom yang disiapkan tak jauh dari patung itu. Sebaris polisi pun ikut berjalan mengapit sisi kanan sepanjang baris seratusan massa yang bergerak. Tujuannya satu: ke depan istana negara. Ternyata di Taman Aspirasi sebrang Istana Merdeka itu telah ada sekelompok mahasiswa HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) yang juga tengah menggelar aksi didahului sedikit kericuhan dengan polisi.

PANGGUNG REFORMASI: Gelaran panggung dalam aksi memperingati 20 Tahun Reformasi (21/5) di seberang Istana Merdeka Jakarta [Foto: Humas YPKP 65]

PANGGUNG REFORMASI: Gelaran panggung dalam aksi memperingati 20 Tahun Reformasi (21/5) di seberang Istana Merdeka Jakarta [Foto: Humas YPKP 65]

 

Panggung Reformasi 

Kegagalan Orde Reformasi dalam mewujudkan agenda-agenda krussial menjadi sorotan dan keprihatinan meluas setelah 20 tahun berjalan sejak jatuhnya Soeharto. Refleksi atas perjalanan reformasi bahkan menengarai kembalinya kekuatan sisa-sisa Orba. Konsolidasi kekuatan Neo-Orba secara umum juga mengemuka dalam orasi-orasi di atas mimbar demokrasi yang digelar hingga petang harinya, setelah diselingi acara buka puasa bersama.

Sorotan terhadap kegagalan reformasi lebih disebabkan oleh gagalnya para politikus paska jatuhnya Soeharto dalam tambal-sulam lubang-lubang yang ditinggalkan sebagai warisan rejim Orba yang berkuasa sejak 1967 hingga 32 tahun berikutnya. Menjelang kejatuhan pemimpin rejim militeristik Soeharto ini, telah ditandai dengan serangkaian tragedy dan kerusuhan yang bernuansa pelanggaran HAM di Jakarta.

Namun hingga 20 tahun setelahnya, impunitas para pelaku kejahatan kemanusiaan ini tetap lah terjaga. Peradilan terhadap Soeharto tak terjadi dan proses kasus menyangkut penguasa Orba itu dihentikan dengan dalih sakit permanen. Alih-alih penegakan hukum, reformasi kalah sebelum diawali dengan rintisan pengadilan terhadap kejahatan kemanusiaan.

 

“Tak ada reformasi tanpa pengadilan terhadap Soeharto”, kata Bedjo Untung .

“Tak ada reformasi tanpa pengadilan terhadap Soeharto”, kata Bedjo Untung .

“Tak ada reformasi tanpa pengadilan terhadap Soeharto”, kata Bedjo Untung dalam orasi singkat di panggung 20 tahun reformasi.

Peserta aksi memperingati “20 Tahun Reformasi” sore itu berasal dari beberapa organisasi buruh, mahasiswa, aktivis dan korban pelanggaran HAM serta kelompok minoritas yang berkoalisi. Diantaranya KASBI, KPBI, KSN, Arus Pelangi, Front Mahasiswa Kerakyatan, INFID, BEM-FH UI, FPPI, Semar UI, AJI Jakarta, KontraS, LBH-YLBHI Jakarta, Perempuan Mahardika, Amnesty International Indonesia, Walhi Indonesia, YPKP 65, JSKK, Migrant Care, Purple Code dan Forum 65. []

bu_reformasi1a

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Ilustrasi: Aksi Kamisan tak pernah diindahkah oleh negara. Tirto/Lugas

20 Tahun Reformasi: Macetnya Kasus-Kasus Pelanggaran HAM

Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Abdul Haris Semendawai Ketika Ditemui di Kantornya, Jakarta, Selasa (15/8/2017). (KOMPAS.com/ MOH NADLIR )

LPSK Sebut jika Pelanggaran HAM Berat Tak Diselesaikan, Korban Terus Menuntut

Related posts
Your comment?
Leave a Reply