Kliping

Latest News on Kliping
MI/MOHAMAD IRFAN
Dokumen Rahasia AS Momentum Ungkap Keben...

Dokumen Rahasia AS Momentum Ungkap Kebenaran Peristiwa1965

Jum’at, 20 October 2017 17:58 WIB | Penulis: Christian Dior Simbolon DEKLASIFIKASI dokumen-dokumen rahasia milik sejumlah lembaga Amerika Serikat (AS) mesti dijadikan momentum mengungkap tabir gelap yang menyelimuti Tragedi 1965. Menurut Direktur Direktur Amnesty International Indonesia... read more »

Tentara menangkap tahanan PKI dalam Operasi Trisula. 
Foto: Vannessa Hearman dari Museum Brawijaya.
Laporan Pembasmian Komunis dalam Dokumen...

Laporan Pembasmian Komunis dalam Dokumen Rahasia AS

Martin Sitompul | Jum’at 20 Oktober 2017 WIB Konsul AS di Surabaya melaporkan pembasmian orang-orang komunis di Jawa Timur. DARI 39 dokumen rahasia AS yang telah dideklasifikasi, lima di antaranya memuat laporan dari Konsulat AS di Surabaya. Dokumen itu melaporkan situasi yang terjadi di... read more »

Ishak, bekas anggota pasukan Cakrabirawa. Foto: Muhammad Ridlo/KBR.
Pengakuan Anggota Cakrabirawa: Di Lubang...

Pengakuan Anggota Cakrabirawa: Di Lubang Buaya Hanya Ada Militer

Jumat, 20 Okt 2017 17:05 WIB | Muhamad Ridlo Susanto “Saya hanya diperintah Letkol Untung supaya ikut ke Lubang Buaya. Di sana adanya ya militer dari Angkatan Udara, Angkatan Darat, Brigif.” Purbalingga – “Saya berkali-kali mengatakan tidak tahu masalah G30S. Saya hanya diperintah... read more »

Sulemi, bekas anggota pasukan Cakrabirawa. Foto: Muhammad Ridlo/KBR.
Pengakuan Anggota Cakrabirawa: Kalau Min...

Pengakuan Anggota Cakrabirawa: Kalau Minta Ampun ke Soeharto, Lebih Baik Sa...

Jumat, 20 Okt 2017 16:40 WIB | Muhamad Ridlo Susanto  “Kalau suruh minta ampun kepada Pak Soeharto, ya maaf lebih baik saya ditembak mati saja. Bagi saya haram. Saya sudah sakit sekali.” Purbalingga – Lelaki di hadapan saya ini berperawakan tinggi-kurus. Dan meski usianya sudah... read more »

Siauw Giok Thjan (kiri) bertemu dengan Presiden Soekarno di tahun 1960. 
Foto: Istimewa
Pemerintah RI Diminta Mengakui Pembantai...

Pemerintah RI Diminta Mengakui Pembantaian Massal 1965 Setelah Adanya Dokum...

20 Oct 2017 | Sastra Wijaya Pemerintah Indonesia pimpinan Presiden Joko Widodo wajib mengeluarkan pengakuan mengenai kekejaman yang dilakukan terhadap mereka yang dituduh komunis di tahun 1965 menyusul tersedianya dokumen dari pemerintah Amerika Serikat mengenai kejadian tersebut. Hal... read more »

More from Kliping

newsdtk_1

Dokumen Rahasia AS Soal Tragedi 1965, Korban Tuntut Tanggung Jawab AS

BBC Indonesia – detikNews | Jumat 20 Oktober 2017, 15:22 WIB Jakarta -Penguakan sejumlah dokumen berklasifikasi rahasia Amerika Serikat ke publik dilihat oleh Pemerintah Indonesia... read more »

cn_USA-Benar-Suharto-Perintahkan-Pembantaian-Massal-1965

USA: Benar, Suharto Perintahkan Pembantaian Massal 1965

JURNALIS: HANIF IBNU ROFAD Sejumlah dokumen kabel diplomatik Amerika soal tragedi 1965 kembali dibuka ke publik oleh tiga lembaga Amerika, ketiga lembaga itu menguak sejumlah surat dari... read more »

Pembakaran atribut dan material komunisme setelah peristiwa G 30S PKI. Foto/Arsip Gahetna

Arsip Rahasia AS: Pembantaian di Bone pada 1965

Reporter: Petrik Matanasi | 20 Oktober, 2017 Massa menyerbu penjara untuk menghabisi orang-orang yang dianggap terlibat dengan PKI. Pembantaian di Bone disebut dalam arsip rahasia... read more »

Konferensi pers beberapa lembaga swadaya masyarakat soal tragedi 1965 | BBC INDONESIA/TITO SIANIPAR

Dokumen rahasia Amerika dibuka, TNI disarankan melakukan hal yang sama

Tito Sianipar | 20 Oktober 2017 Berbagai lembaga swadaya masyarakat di Indonesia meminta TNI Angkatan Darat untuk mau membuka dokumen sejarah 1965, seperti yang dilakukan Amerika... read more »

Foto besar di Museum Soeharto di Yogyakarta, Indonesia. (GETTY IMAGES]

Dokumen AS soal 1965: Apakah Suharto terlibat dan enam hal lain y...

20 Oktober 2017  Setelah muncul beberapa laporan terkait sejumlah dokumen kabel diplomatik Amerika soal tragedi 1965 yang dibuka ke publik, kami mengundang pembaca untuk mengajukan pertanyaan... read more »