Prof Eric Stover: “We may forgive but we may not forget”

107 Viewed Redaksi 0 respond
BEDJO UNTUNG: Ketua YPKP 65 Bedjo Untung dalam sesi tanya-jawab pada kuliah umum HAM bersama Prof Eric Stover dari UC Berkeley, School of Law [Foto: Marsha Augekin]
BEDJO UNTUNG: Ketua YPKP 65 Bedjo Untung dalam sesi tanya-jawab pada kuliah umum HAM bersama Prof Eric Stover dari UC Berkeley, School of Law [Foto: Marsha Augekin]

Tak kurang dari 150 peserta mengikuti Kuliah Umum Hak Asasi Manusia yg diselenggarakan oleh Yap Thiam Hien Foundation di Balai Agung DKI Jakarta pada Senin (4/12). Kuliah umum bertema “Taking the Gloves Off: the US, Torture and the War on Terror” menghadirkan Prof Eric Stover yang memaparkan uraian ilmiahnya dalam bahasa Inggris ini diikuti oleh aktivis HAM, kalangan NGO dan para jurnalis media.

Dalam kapasitasnya sebagai akademisi pada Human Right Center from University of California, Berkeley (UC-Berkeley) School of Law; Prof Eric Stover tak banyak menyinggung apa yang terjadi di Indonesia pada sekitar tahun 1965-66 dan setelahnya. Kendatipun tragedi kemanusiaan ini diketahui sebagai kejahatan HAM berat yang pernah terjadi di dunia. Penyiksaan dan pembasmian sejumlah besar manusia yang menandai berdirinya rezim militer Indonesia dibawah pimpinan Soeharto.

Profesor UC Berkeley ini lebih mengemukakan perlakuan keji rejim militer terhadap masyarakat sipil di berbagai negara seperti Afganistan, Irak serta bentuk-bentuk penyiksaan model penjara yang terkenal sadisnya; Guantanamo. Namun tak sedikit pun menyinggung bagaimana kejinya penyiksaan dan bahkan pembantaian massal yang meluas oleh militer terhadap para Tapol 65; yang semuanya dilakukan di luar pengadilan.

 

“Kita mungkin memaafkan tapi tak mungkin melupakan”

Kuliah umum bertema “Taking the Gloves Off: the US, Torture and the War on Terror" menghadirkan Prof Eric Stover dari UC Berkeley, School of Law[Foto: Marsha Augekin]

Kuliah umum bertema “Taking the Gloves Off: the US,  Torture and the War on Terror” menghadirkan Prof Eric Stover dari UC Berkeley, School of Law; di Balai Agung DKI  (4/12)  Jakarta. [Foto: Marsha Augekin]

Ungkapan ini muncul dalam sesi tanya-jawab dengan Eric Stover yang pada gilirannya sependapat sepenuhnya. Kuliah umum ini juga dihadiri oleh banyak tokoh nasional. Nampak hadir: Teten Masduki (KSP), Komisioner Komnas HAM, Usman Hamid (Direktur Amnesty Internasional Indonesia), Todung Mulya Lubis (Ketua Tim Jaksa Penuntut pada Internasional People’s Tribunal 1965), Harbrinderjit Singh HS. Dillon (Penerima Bintang Jasa Pratama 2007 dan Global Award bidang HAM dari Priyadarshni Academy Mumbay), Makarim Wibisono (Pelapor Khusus PBB bidang HAM Somalia), Asrul Sani dari kalangan DPR-RI.

Sedangkan dari pihak korban tragedi 65 ada Bedjo Untung (Ketua YPKP 65) dan Tuba (eks PR Jakarta), beserta para penyintas lainnya. Juga dari kalangan jurnalis berbagai media nasional.

Ketua YPKP 65 yang tak puas dengan paparan pembicaraan Eric, lebih mengkritisi profesor Berkeley ini dengan fakta-fakta seputar kekejian rejim militer di era orba. Menurut mantan anggota Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) ini, pengungkapan kebenaran sejarah seputar tragedi 1965-66 dan setelahnya, yang terjadi di Indonesia; adalah kejahatan HAM berat yang tak bisa dibiarkan berlalu tanpa pelurusan.

“Terlebih dokumen rahasia USA yang sudah dipublikasikan (deklasifikasi_red) secara kasat mata menunjukkan rencana jahat militer untuk gulingkan Presiden Sukarno dan hancurkan PKI”, dalihnya.

“Anda tahu bahwa pada 1965 korban 65 mengalami torture (penyiksaan_red) maha dahsyat, penuh kekejaman dari rejim militer”, sambungnya.

“Dan sampai hari ini Korban 65 yang merupakan pendukung Bung Karno, dari golongan nasionalis, agama dan simpatisan PKI masih mengalami persekusi;  pengejaran dan teror?”, tanya Bedjo.

Pada akhirnya Eric Stover juga sependapat dengan Bedjo Untung, perlunya terus menerus lakukan kampanye publik yang meluas seputar masalah tragedi 1965. Kita tidak boleh melupakannya.

“We may forgive but we may not forget”, demikian Eric Stover pada sesi dialog kuliah umumnya.

Eric juga sependapat rekonsiliasi dan rehabilitasi tidak bisa dilakukan tanpa melalui pengungkapan kebenaran terlebih dahulu.

“Truth is the first step”, pungkasnya.

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
tirto_papua65

1965: ‘Kekerasan Brutal’ Perdana Militer Indonesia di Papua

koperham

Deklarasi Koalisi Peringatan Hari HAM (Koper HAM)

Related posts
Your comment?
Leave a Reply