Markus Talam Dari Blitar Selatan: Ia telah memaafkan perbuatan eksekutor yang menumpas kerabat dan temannya dan berpesan pada anaknya untuk tidak mewarisi dendam

636 Viewed Redaksi 0 respond

Mass killings under Suharto recalled

Survivors paint a bloody picture of dictator’s reign

DEUTSCH, Anthony, 2008a, «Survivors Describe Mass Killings under Indonesian Dictator Suharto», The Boston Globe , January 27

****

“Itu gencar sekali, istilahnya operasi Tumpes Kelor!!!! Jumpa kelihatannya itu orang mencurigakan langsung dibawa, termasuk saya. Tinggal yang di rumah itu cuma perempuan-perempuan. Ada orang yang bertani dibawa, direntengi sampe 10, 7, 4 itu dibunuh. Pembunuhannya ya di tempat-tempat itu aja. Yang dibunuh di sini juga ada, yang dibawa di gunung di luar desa juga ada.”

Markus Talam lolos dari pembunuhan karena kabur saat diangkut tentara dari tempat persembunyiannya di Trenggalek, menuju Markas Kodim di Blitar. Tapi selama ia melarikan diri, giliran anggota keluarganya yang jadi sasaran. Ditangkap, lantas dieksekusi.

“Saya ini nggak kurang dari 30 dik, korban. Keponakan, terus saudara-saudara sepupu, banyak! Orang-orang yang nggak tahu apa-apa itu, petani. Ya mereka itu ditembak di sini saja, yang deket sungai ya dibuang ke sungai, kalo nggak ya ditaruh begitu saja, nggak dikubur. Seperti membunuh tikus. Tikus saja kalau dekat rumah kan dibuang, itu nggak.”

disalin dari Kuburan Massal di Basis PKI – Laporan ini disusun Reporter KBR68H Didik Syahputra.

****

Disana pak Yatman mempertemukan saya dengan temannya, sesama eks tapol yang bernama Markus Talam. Adapun pak Markus ini dulu bekerja di dinas perkebunan di daerah Blitar. Dan tanpa sebab yang jelas, pak Markus pun di tangkap dan di buang ke pulau Buru. Setelah bercerita tentang pengalamannya, pak Markus pun mengantar kami menuju lokasi kuburan massal berikutnya.

 Ladang itu cukup asri, pohon-pohon jagung dan singkong terlihat ditata dengan rapih. Sekitar 30 meter di belakang ladang itu, terdapat rerimbunan semak dan pepohonan yang oleh pak Markus, sang empunya ladang dibiarkan begitu saja. Di pinggiran ladang, tampak 2 buah nisan tanpa nama yang saling berdekatan. Menurut cerita pak Markus, para anggota/simpatisan yang tertangkap dalam operasi Trisula, dibawa dan dihabisi di lokasi ini yang dulunya adalah hutan. Jumlah korban pun kurang lebih sama seperti di tempat-tempat lain. Antara 10-15 orang dalam 1 lobang. Setelah memotret kuburan itu, kami pun berpamitan karena pak Markus harus segera pergi ke Jakarta karena ada adiknya yang sedang sakit keras.

dikutip dari Berziarah Ke Tanah Merah – Blitar (3) oleh Agan Harahap, selengkapnya disini 

Pak Talam paling kanan menunjukkan lokasi kuburan massal di Ngrejo Blitar Selatan dimana saudara-saudaranya dieksekusi di lokasi ini. Pada batu nisan ditulis Soekamto dkk untuk mengenang Korban Tragedi 1965-66 yang dilakukan aparat kekuasaan pada 1968 yaitu yang dikenal dengan sebutan Operasi Tri Sula. Namun korbannya adalah rakyat biasa yang tidak tahu apa-apa.

****

[Serial] Membaca Angka* Dengan Nama dan Wajah Manusia – Kompilasi Kisah Hidup 260 Korban dan Penyintas ’65

****

Kesaksian Markus Talam Dari Kuburan Massal di Blitar Selatan (video YPKP 1965)

dari kunjungan YPKP 8 Juni 2025

Markus Talam adalah salah satu informan dalam penelitian Vannessa Hearman ini

periksa Markus Talam – Unmarked Graves

simak pula Tinjauan Buku / Resensi (Book Review) Unmarked Graves: Death and Survival in the Anti-Communist Violence in East Java – Vannessa Hearman

*****

Upaya Rekonsiliasi Para Korban Peristiwa G30S – KOMPASTV

*perjumpaan Farida anak eksekutor PKI dengan Markus Talam mula menit 4

BLITAR, KOMPAS.TV – Peristiwa pembasmian anggota PKI dan simpatisannya, di wilayah Blitar pada tahun 1968, menjadi salah satu tragedi kelam bangsa Indonesia. Operasi militer trisula dijalankan pemerintah saat itu, untuk melakukan penumpasan anggota PKI.

Selain lebih dari 5 ribu anggota TNI AD, sejumlah organisasi sipil juga dikerahkan dalam operasi militer tersebut. Salah satu eksekutor yang ikut dalam penumpasan PKI, adalah Hasyim Asyari, seorang pemuda Ansor dari desa Bacem, kecamatan Sutojayan kabupaten Blitar.

Bukti penumpasan PKI berupa pedang sepanjang 60 sentimeter, masih disimpan oleh sang anak. Tidak hanya pedang, bukti yang melekat dan tidak bisa hilang dari Farida Masrurin adalah stigma anak seorang eksekutor PKI.

Rasa bersalah terhadap apa yang dilakukan oleh sang ayah, membekas hingga ia tumbuh dewasa. Satu persatu rumah korban tragedi PKI di seluruh Blitar ia datangi. Penolakan dan pengusiran jadi hal yang sering dijumpai Farida diawal upaya rekonsiliasi. 

Setelah bertahun-tahun mencoba untuk rekonsiliasi, kini Farida dapat meminta maaf kepada para keluarga dan korban tragedi penumpasan PKI.

Salah satu korban tragedi 68 Markus Talam, telah memaafkan semua perbuatan para eksekutor yang menumpas teman-temannya. Pria 81 tahun tersebut masih ingat betul betapa mengerikannya tragedi trisula yang mengakibatkan ratusan nyawa melayang.

Markus Talam juga berpesan kepada buah hatinya, agar tidak mewarisi rasa benci dan dendam, terhadap pelaku tragedi 68. Meski demikian, Markus Talam masih mempertanyakan kejelasan dan keadilan hukum, kepada pemerintah Indonesia atas tragedi yang menewaskan banyak orang tersebut.

…………

film pendek THE LAST SUPPER (WHISPER) – Daniel Rudi Haryanto: Sepenggal Kisah Mbah Talam, Mbah Sukiman dan Mbah Yatman Penyintas 1965 dari Blitar Selatan

simak pula

Operasi Trisula: Pembantaian atas Anggota dan Simpatisan PKI di Blitar Selatan  

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Kuburan Massal Pasar Miring Sumatera Utara

Gua (Luweng) Tikus: Tempat Pembantaian Massal Orang-orang Komunis di Blitar Selatan

Related posts
Your comment?
Leave a Reply