Penelitian Korban Tragedi 1965-1966

4006 Viewed Redaksi 1 respond
Bedjo Untung, Ketua YPKP 1965/66

Oleh: Bedjo Untung

Sampai sekarang belum bisa menghitung secara pasti berapa jumlah korban pembunuhan massal Tragedi 1965-1966. Hal ini disebabkan sebaran tempat yang meluas di seluruh Indonesia dari ujung utara/barat Sumatera sampai ke ujung timur di Papua, tidak adanya sumber daya manusia dan finansial yang cukup memadai untuk melakukan penelitian menyeluruh tentang Tragedi 1965-1966. Untuk melakukan penelitian dibutuhkan kemauan serius dari Negara dan masyarakat.

Sampai hari ini negara belum memprioritaskan pelurusan sejarah, melakukan penelitian atas terjadinya peristiwa yang mengorbankan jutaan jiwa tidak berdosa itu. Apa yang dilakukan Komnas HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia) baru sebatas penelitian/penyelidikan secara acak (random) dengan mengambil sampel 349 korban dari kira-kira 3.000.000 sampai 20.000.000 jiwa korban dan keluarga korban di seluruh Indonesia.

 

Pembunuhan massal di berbagai tempat

Pembunuhan massal terhadap orang-orang yang dituduh sebagai anggota Partai Komunis Indonesia dilakukan secara di luar batas kemanusiaan, dengan cara pengeroyokan oleh massa, kemudian dipukuli secara beramai-ramai dan bahkan ada yang langsung dipenggal kepalanya. Ada juga yang setelah ditangkap, disiksa dan ditahan, setelah beberapa hari kemudian dibon (istilah yang dipakai sebagai pengganti kata diculik) kemudian mereka dibunuh dengan cara ditembak dan mayatnya dibuang ke sungai atau dimasukkan ke lubang yang sudah disiapkan. Ini terjadi di Boyolali, Solo, Klaten, Wonogiri, Pati dan di berbagai tempat lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Di Boyolali Jawa Tengah, tentara melakukan pengkapan orang-orang anggota PKI dengan memobilisasi massa bayaran. Orang-orang yang sudah ditangkap itu kemudian diikat kedua tangannya menggunakan tali goni (tali yang biasa dipakai mengikat/membuat karung beras). Mereka kemudian digiring ke tempat penahanan di Boyolali. Sepanjang jalan mereka dipukuli dan bahkan ada yang dilukai dengan kelewang hingga berlumuran darah. Ada juga yang dipenggal lehernya dan dipajang di sudut-sudut jalan. Suasana desa mencekam, menakutkan (Kesaksian EK anak korban yang ketika itu berusia 10 tahun, baru pulang dari sekolah didapatinya sekolah tidak ada guru yang mengajar. Ayah EK dibunuh oleh massa).

Ada lagi cara pembunuhan yang lebih keji dan hampir tidak bisa diterima oleh nalar sehat. Para tahanan, setelah dikumpulkan di sebuah rumah besar, mereka dikeluarkan ke halaman, kemudian diadu, disuruh berkelahi sampai salah satu meninggal. Apabila tidak mau, maka sang tentara akan memukuli dan menendang sampai sang tahanan jatuh pingsan. Ini terjadi di berbagai tempat antara lain di Pekalongan Jawa Tengah, Padang Pariaman, Batusangkar dan Bukittinggi Sumatera Barat.

Di Pariaman Sumatera Barat. Ada seorang Kepala Nagari yang diduga bersimpati kepada Partai Komunis Indonesia ditangkap, dipukuli dengan menggunakan batang bambu maupun kayu hingga menemui ajalnya. Ada lagi, yang dilempari batu sampai berlumuran darah. Belum sampai meninggal, tubuhnya diikat dengan tali dan diseret sepanjang jalan dengan menggunakan mobil. Masih di Sumatera Barat, tepatnya di daerah Lubuk Basung, orang-orang yang diduga sebagai anggota Partai Komunis Indonesia, kepalanya dipenggal dan dijadikan sebagai alas pembuatan bendungan irigasi. Mereka dijadikan tumbal. Tempat pemenggalan di daerah Kelok Dalam, di pinggir jalan di dekat hutan. Tubuh yang sudah tak berkepala dilempar begitu saja dan jatuh di ngarai yang dalam.

Di Sumatera Utara, di kota Medan, di tepi Sungai Ular, tiap malam dijadikan tempat pembuangan mayat para tapol. Seorang algojo bernama RB mengaku tiap malam mendapat kiriman orang-orang tangkapan yang dikawal tentara. RB ini ditugasi untuk memenggal kepala para tahanan dan kemudian mendorongnya ke sungai. Saksi mata seorang anak korban bernama AR Norman melihat di muara Sungai Ular sejauh 3 kilometer dipenuhi mayat terapung.

Di Brebes Jawa Tengah. Para tahanan politik dibawa ke jembatan kali Pemali dan kemudian dibunuh dengan cara ditembak oleh aparat tentara, mayatnya dihanyutkan. Seorang ibu berinisial SR yang ketika peristiwa itu terjadi adalah anggota Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Ia sesungguhnya juga akan dibunuh, namun karena ia sedang mengandung, kemudian dilepas. Hanya suaminya yang kemudian dieksekusi di kali Pemali tersebut. Sang ibu itu kini masih hidup tinggal di kota Brebes.

Di Kampung Empang Sumatera Utara. Semua rumah para anggota Partai Komunis Indonesia di desa tersebut dibakar; dibumihanguskan. Orang laki-laki termasuk anak-anak harus mengungsi menyelamatkan diri dari pengejaran massa. Sebab bila tertangkap akan dibunuh atau disiksa secara kejam.

Si Palembang, tepatnya di kamp konsentrasi Pulau Kemarau. Ribuan orang tahanan politik orang-orang anggota PKI dan organisasi massa pendukungnya harus mengalami penyiksaan. Mereka tidak diberi makan selama 7 hari berturut-turut. Akhirnya banyak tahanan mati dan mayatnya bergelimpangan. Kisah ini dituturkan oleh saksi yang pernah ditahan di Pulau Kemarau bernama Ibu Murtini (kini sudah meninggal dunia). Kisahnya sudah ditulis di Majalah Soeara Kita majalah Korban 65.

Kesaksian adanya pembunuhan massal di berbagai kota di seluruh Indonesia diceritakan oleh korban maupun keluarga korban yang menyaksikan secara langsung, kepada Tim Peneliti YPKP’65 (Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/66) yang datang ke berbagai pelosok tempat di Jawa,Sumatera, Kalimantan Timur dan Bali. Masih banyak kesaksian yang belum terpublikasikan.

 

Berapa Jumlah Korban Tragedi 1965/66 ?

Dari catatan resmi menurut Komisi Pencari Fakta (Fact Finding Mission) yang dipimpin oleh Oei Tju Tat atas instruksi Presiden Soekarno melaporkan bahwa jumlah korban pembunuhan massal Tragedi 65 tercatat 78.000 orang. Namun angka sesungguhnya adalah sepuluh kali lipat yaitu 780.000 orang. Ini terjadi hanya dalam kurun waktu Oktober 1965 sampai Maret 1966.

Sementara itu Sari Dewi Sukarno (istri mendiang Presiden Sukarno) mengatakan korban pembunuhan massal 1965/66 mencapai 2.000.000 jiwa.

Menurut Soedomo Panglima Kopkamtib (Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban) sebuah lembaga resmi negara yang harus bertanggung jawab dalam hal penangkapan dan pembasmian orang-orang yang diduga anggota PKI mengatakan sekurang-kurangnya ada 1.000.000 jiwa terbunuh.

Menurut pengakuan Sarwo Edhi Wibowo (mertua Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono) yang ketika Tragedi 1965/66 terjadi, dia adalah Komandan Pasukan Khusus RPKAD (Resimen Pasukan Khusus Angkatan Darat) sebuah pasukan elite yang ditugasi oleh Soeharto untuk menlakukan pengejaran, penumpasan dan pembunuhan terhadap orang-orang PKI dan golongan Kiri/pendukung Soekarno lainnya. Dengan bangga ia mengakuinya, jumlah orang yang dibunuh adalah 3.000.000 jiwa. Ini diungkapkan kepada Permadi, anggota DPR-RI dari Fraksi PDI-Perjuangan.

Pers Barat mengambil angka moderat according to estimates, between 500.000 and one million people were slaughtered during the purge, with 750.000 others imprisoned or forced to exile”.

Diperkirakan 500.000 sampai 1.000.000 dibantai dengan 750.000 orang dipenjarakan atau dibuang.              

YPKP’65 telah dan sedang mengumpulkan data korban pembunuhan massal 1965/66, yang ditahan/dipenjarakan, mengidentifikasi tempat-tempat penyiksaan, kamp konsentrasi dan kuburan massal di seluruh Indonesia. Methode penelitian dengan mendatangi kota-kota, desa tempat terjadinya pembunuhan juga mengumpulkan data dari laporan para relawan yang tersebar di berbagai kota/cabang YPKP’65 kota kabupaten/provinsi.

Melakukan wawancara dengan saksi korban, keluarga korban mau pun pelaku. Karena keterbatasan sumber daya manusia/tenaga dan finansial juga sebaran korban yag meluas terjadi di seluruh Indonesia, laporan masih terus dikerjakan. Jumlah pasti belum bisa disimpulkan, namun bisa jadi lebih dari 3.000.000 jiwa korban yang terbunuh pada peristiwa 1965/66. Dan jumlah korban/keluarga korban yang masih hidup sekarang diperkirakan mencapai 20.000.000 jiwa.

Pada 1965 tercatat anggota Partai Komunis Indonesia sejumlah 2.000.000 orang. Di luar jumlah tersebut ada banyak simpatisan yang tergabung dalam berbagai organisasi massa, seperti: SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), BTI (Barisan Tani Indonesia), Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), Pemuda Rakyat, HSI (Himpunan Sarjana Indonesia), CGMI (Central Gerakan Mahasiswa Indonesia), PGRI Non Vaksentral (Persatuan Guru Republik Indonesia), IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia), Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia), dll.

Organisasi massa maupun organisasi profesi tersebut adalah organisasi independent tidak terkait dalam satu partai politik tertentu atau pun bagian dari Partai Komunis Indonesia.

Namun, oleh penguasa militer Orde Baru Soeharto, organisasi massa/profesi tersebut dianggapnya berafiliasi kepada PKI. Jumlah pengikut organisasi massa tersebut tidak kurang dari 20.000.000 orang.

Selain itu, masih ada organisasi/partai politik yang juga menjadi korban Tragedi 1965. Partai politik tersebut adalah Partai Nasionalis Indonesia (PNI Ali-Surahman), Partindo (Partai Indonesia). Di kalangan partai agama juga ada yang ditangkap. Sehingga bisa dihitung betapa besar jumlah korban Tragedi 1965 tersebut. Oleh penguasa militer rezim Soeharto semua orang yang berbau komunis ditangkap, disiksa dan dipenjarakan, dibuang dan dibunuh; tanpa melalui proses hukum.

Jakarta, 21 Maret 2016

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Menjadi Indonesia Pasca-1965

Djakarta 1966: Hiruk Pikuk Supersemar yang Samar-samar

Related posts
Trackbacks/Pingbacks
  1. Berapa Jumlah Korban Pembantaian / Pembunuhan Massal 1965-66? [Bukan Cuma Angka, Mereka Bernama dan Sepenuhnya Manusia] – Genosida 1965-1966 - September 6, 2017

    […] Penelitian Korban Tragedi 1965-1966 – Bedjo Untung YPKP65 […]

Leave a Reply