Terpasung Dalam “Pengamanan” | Bagian Kedua
Oleh: Misbach Tamrin | 19 September 2016
Pada sebuah lobang di salah satu celah pinggiran tebing gunung. Kami memperoleh ruangan untuk bersembunyi dengan aman. Katakanlah ini semacam sebuah gua batu cadas dalam ukuran, sekitar 2 x 4 meter, dengan tinggi 3 meter lebih. Masih cukup untuk tidur sebanyak 6 orang secara berdempetan. Memang situasi keberadaan kami di sini, mengingatkan kesederhanaan orang-orang primitif di zaman batu. Bayangkan, ironisnya rona nasib kami, bagaikan sebuah mimpi di siang bolong.
Tapi, karena sebelumnya, lobang gua ini adalah tempat bersarang kelelawar (kalong). Maka keadaanya sangat kotor. Terpaksa kami bersihkan, sampai cukup layak untuk ditinggali. Lantainya kami lapisi dedaunan sebanyaknya. Sehingga menjadi lebih tebal, setelah digelar selimut diatasnya. Buat kami berbaring dan tidur, agak sedikit enak.
Boleh dibilang beruntung, jika di antara kami masih sempat, masing-masing membawa segala sesuatunya untuk keperluan pelarian masuk hutan. Meski terpacu oleh ketergesaan. Dikejar ancaman operasi penangkapan yang sudah mulai dilakukan aparat polisi dan militer, relatif cepat. Keputusan lari ke hutan secara bulat disetujui oleh semua kami.
Tapi persediaan bahan makanan yang kami bawa, hanya cukup untuk bertahan selama 2 minggu. Padahal masa pelarian kami sampai hari ini, sudah berlangsung sekitar 3 minggu lebih. Hampir mendekati 1 bulan. Sehingga jatah makanan yang hanya cukup buat selama setengah bulan itu, terpaksa lebih kami hemat lagi. Sebagai tambahan usaha, semua kami bergerak untuk mencari apa saja yang bisa dimakan di sekitar hutan tempat kami tinggal ini.
Terkadang kami berhasil mendapatkan jamur hutan yang tak beracun, dikumpulkan cukup banyak bersama daun kenikir sebagai asupan. Di sungai kecil berarus deras dengan batu-batu jeram yang dangkal dan berlumut. Tidak sulit bagi kami untuk mendapatkan ikan gabus gunung yang cukup hanya ditangkap dengan tangan. Di salah satu pojok dalam gua, kami buat tungku keperluan memasak dan membakar ikan. Kami berupaya agar supaya api tungku dan asapnya tak mudah tampak dari jauh. Di waktu malam, lampu lilin cuma kami pakai di kala perlu.
Kini, hari Saptu pada awal minggu keempat masa pelarian kami di hutan pegunungan Meratus ini. Kemarin, kami berenam berunding, dengan keputusan, mau tak mau dari di antara kami harus ada yang berangkat menghubungi seseorang. Persediaan “logistik” sudah kian kritis. Lagi pula selama ini kami buta situasi. Di antara kami tidak ada yang sempat teringat untuk membawa radio transistor. Hal yang sangat vital terlupa.
Dalam kelompok pelarian politik lokal ini, terdapat pemuda remaja Andy, berusia sekitar 16 tahun. Ia aktivis “Pemuda Rakyat” cabang Tabalong, anak ortu ibu Dayak dan ayah Bugis. Memang Andy tampak cerdas dan terampil.
Sedangkan saya, meski punya orang tua dan keluarga yang tinggal di daerah ini. Namun, karena sudah lama merantau di Jawa. Selama 5 tahun sekolah di ASRI Yogya. Dan kemudian bertugas di Banjarmasin selaku pimpinan Lekra. Dengan alasan saya di daerah ini tidak begitu dikenal oleh aparat penguasa. Maka saya ditunjuk sebagai utusan bersama Andy selaku pengawal. Sekaligus penunjuk jalan.
Kami berangkat di subuh yang dingin, menuruni tebing kearah sungai kecil. Dari jauh, sekitar setengah km, kami melihat keatas. Gua tempat kami tinggal lenyap menghilang ditutupi semak belukar yang rimbun. Terbayang wajah 4 orang kawan yang tinggal. Tadi melepas kami dengan was-was bercampur rasa rawan. Seolah-olah kami akan berpisah lama dan selamanya tanpa kembali lagi ke gua. Memang misi kami sangat penting, namun berisiko cukup tinggi dan sangat berbahaya. Maklum selama ini kami sama sekali buta situasi dan lingkungan.
Andy berjalan di depan saya. Ia melangkah gesit dengan “butah” (keranjang rotan) tergantung di punggungnya dan berselempangkan parang Mandau di pinggang. Layaknya seorang anak Dayak yang lincah. Kami menyusuri pinggir sungai, dengan arah menuju ke selatan. Terkadang Andy mencabut parang mandaunya untuk menebas semak, akar pohon dan batang rotan yang berseliwiran merintangi jalan di hadapan kami.
Kami berdua terus berpacu, sambil meretas jalan. Sampai kemudian menemukan jalan setapak yang sudah biasa dilalui orang-orang dan para petani karet pada umumnya. Pemandangan pegunungan Meratus yang permai dan indah di arah pandang terbuka, jauh di samping kami. Hanya kadang-kadang saja kami nikmati. Perhatian kami terutama terus berupaya berpacu dengan waktu, mempercepat langkah perjalanan.
Bagi saya pribadi, menyusup di antara hutan belantara yang lebat ini, boleh dikatakan jarang dan langka. Bahkan, seingat saya belum pernah sebelumnya. Pilihan kami masuk hutan, sebenarnya bukan hanya terdorong untuk menghindari penangkapan saja. Meski kami tahu, alternatif di antara lari masuk hutan dan bertahan di tempat untuk siap ditangkap. Relatif menanggung resiko dan konsekwensi bahaya yang sama. Pasti tak terhindarkan bagi nasib pejuang politik yang telah ditakdirkan hidup menyerempet bahaya.
Namun, jika lari masuk hutan dianggap merupakan langkah provokatif, terpancing oleh naluri romantisme pembelajaran ideologi dan politik yang kami dapat selama ini. Maka masih kami anggap di saat-saat itu. Sebagai solusi pilihan, punya harapan lain yang cukup signifikan.
Dalam sejarah yang kami baca lewat buku-buku perjuangan Mao dan Che Guevara. Bahwa revolusi yang benar-benar revolusioner, di negara-negara sedang berkembang. Terutama di negeri nasion-nasion tertindas, jarang diterima dan diperoleh melalui perjuangan parlementer. Melainkan dirintis mulai dari gerilya di hutan-hutan melalui perjuangan bersenjata, seperti di Kuba dan Tiongkok.
Tapi, apakah disini, di tanah air kita Indonesia. Yang walaupun juga sudah berpengalaman dalam perang gerilya sebagai pemicu dalam memenangkan Revolusi Agustus 1945 atas penjajahan kolonialis Belanda. Betapapun revolusinya masih belum selesai. Namun situasi dan kondisi nasionalnya berbeda dengan kedua negeri tersebut diatas. Apakah di sini, bisa berlaku pula?
Kini sangat nyata jawabnya. Ketika pertanyaan yang menghentak di benak kepala saya itu dihadapkan dengan realitas keras yang rawan di depan perjalanan kami. Semua itu hanya sebagai acuan teori yang sangat tak gampang terlaksana lewat praktek di lapangan. Ia kini, adalah sebuah bayangan fatamorgana menggelantung di kejauhan yang tak mungkin terjangkau. Di sini, sungguh tak meyakinkan. Lain dan berbeda tantangannya.
Lantas saya terkejut dari lamunan khayali. Tatkala kami berpapasan dengan seorang petani penyadap karet di tengah jalan. Kami tak sempat menghindar. Dan kami terus berlalu, menjauh dari petani karet yang sempat menatap kami dengan mata curiga itu.
Meski topi rotan telah saya tekan lebih dalam ke bawah menutupi separo jidat kepala saya. Tapi rupanya mungkin petani karet itu agak terheran oleh pakaian katelpak biru dan ransel punya ayah (buruh Pertamina) yang saya pakai. Sudahlah lupakan saja, kami terus melangkah cepat, berpacu dengan matahari senja yang semakin menurun.
Sesudah magrib, kami pun memasuki desa Makupom. Tadi, kami sempat beristirahat sekitar sejam lebih di bawah pohon yang cukup terlindung. Sambil dengan sengaja menunggu hari menjadi gelap. Jalan ke arah rumah yang dituju masih agak temaram. Di kiri dan kanan, rumah-rumah penduduk agak jarang. Saat temaram itu, ada dua hingga tiga orang penghuni kampung berpapasan dengan kami. Tampaknya mereka cuek saja; tanpa curiga.
Saya tidak meragukan atas peran Andy yang telah mengidentifikasi tentang “kawan” yang bakal kami temui. Dari info Andy, tuan rumah yang akan kami kunjungi adalah seorang aktivis tani sederhana yang dapat dipercaya. Andy sudah beberapa kali bertamu. Tapi, ia pernah ke sini terakhir kali, sudah setengah tahun yang lalu. Jadi, setelah peristiwa G30S meletus, kami sama sekali tidak tahu perkembangannya kemudian.
Harapan kami ia bisa membantu mengusahakan keperluan logistik untuk kami bertahan selaku pelarian. Juga kami perlukan sebuah radio transistor pemantau situasi, yang barangkali ia dapat mencarikan.
Setelah Andy mengetuk pintu.Tak lama kemudian pintu terbuka. Dan si tuan rumah muncul dengan wajah sangat terkejut melihat kami. Dengan terpaksa, sambil menjenguk kekiri dan kekanan luar rumah, ia menyilahkan kami masuk dengan cepat. Di dalam rumah, selama beberapa menit ia tampak bersikap kaku. Seakan ia sedang bergulat untuk meredam rasa kegelisahannya. Lantas begitu saja ia menyuruh isterinya yang tengah berada di dapur untuk menyediakan makan malam buat kami.
Ketika kami makan malam bersama, kelihatan si tuan rumah mulai tenang dan ramah. Sambil makan kami saling bertanya jawab. Lantas ngobrol berlanjut sehabis makan, sambil dengan santai mengisap rokok kretek yang disediakan tuan rumah. Tentu, saya coba juga melaporkan sekedarnya tentang penganalisaan perkembangan situasi politik sejak peristiwa G30S meletus. Betapapun, mengenai situasi terakhir kami sendiri tak tahu, alias buta samasekali.
Kemudian si tuan rumah menyilahkan kami beristirahat. Setelah ia menggelar kasur tipis dan dua buah bantal di tengah ruangan rumah. Kami berdua telah menuruti kehendaknya. Dengan segera kami berbaring melepaskan lelah, sehabis perjalanan merambah hutan seharian penuh. Saya tidak terlalu menghiraukan, ketika beberapa lama kemudian ia mengajak Andy menemaninya keluar rumah.
Saya merasa lega dan bersyukur. Bila kali ini, kami dapat menikmati makan malam bersama yang jauh lebih enak dan begizi. Ketimbang selama sekitar tiga minggu lebih, berada di gua sana. Kami selalu makan seadanya, di bawah standar darurat.
Rupanya tuan rumah selaku aktivis petani Dayak yang sederhana ini, keberadaan sosial ekonominya relatif cukup mapan. Bukan saja terbukti dari perabot seisi rumahnya yang cukup lumayan. Juga dari sumber bahan makanan yang dimilikinya. Tadi kami sangat lahab dan kenyang oleh asupan makanan dan sambal terasi yang disajikan isterinya.
Kini, dampak makan terlalu kenyang ini, mulai terasa dengan merambatnya rasa kantuk yang juga didorong oleh kelelahan fisik. Meski kami tak sempat memandikan diri, karena hawa udara di daerah pegunungan di malam hari sangat dingin menggigilkan. Entah berapa lama terlelap dalam keadaan semacam itu. Hanyut terbuai kenikmatan mimpi di bawah sadar.
Tiba-tiba gelegar dobrakan pintu depan yang diterjang sepatu-sepatu larsa. Membangunkan kesadaran pikiran dalam benak saya menjadi terjaga dari tidur nyenyak. Sebelum saya sempat berupaya bangkit berdiri, benturan keras dari tumbukan popor bedil menerpa rahang dagu saya. Sambil saya dengar teriakan kasar mereka menghardik dan membentak saya penuh ancaman : “Angkat tangan! Menyerahlah! Jika melawan, kami tembak!”.
Darah muncrat memercik mengenai katelpak biru yang masih saya pakai tak tergantikan. Lantas beruntun sepatu-sepatu larsa menendang tubuh saya entah dari mana-mana, secara bertubi-tubi. Sejenak saya terhuyung-huyung, hingga kemudian jatuh tersungkur mencium lantai.
Kesadaran saya masih berfungsi, terbukti saya rasakan dari perihnya rasa sakit yang tak terperikan. Sehingga saya sempat berpikir, di balik dera-an yang tak kenal henti. Terus menghantam tanpa ampun. Diperlukan kiat tertentu untuk menangkis serangan mereka berikutnya yang bisa membinasakan dan mematikan hidup saya itu. Lalu saya segera membuat trik pura-pura pingsan, dengan melumpuhkan diri sampai tampak tak berdaya lagi.
Ternyata tampaknya berhasil. Mereka mulai meredakan siksaannya kepada diri saya. Tapi rupanya mereka mengetahui juga atas getaran gerak tubuh dan dengusan nafas saya. Sehingga tak lama kemudian terasa mereka menarik kedua tangan saya kebelakang dan mengikat sekuatnya dengan tali belati. Rupanya tak cukup sebatas di pergelangan tangan saya saja ikatannya. Tapi juga melilit kepinggang dan badan saya lainnya. Kini saya benar-benar terpasung.
Demikianlah, bagi nasib saya yang tengah nahas. Penjelajahan seorang pelarian politik lokal yang bebas bergerak di tengah hutan pegunungan Meratus ini. Telah berakhir dengan tragedi musibah yang getir dan menyakitkan. Untung saja saya tak sempat terlanjur dieksekusi mati. Ketika di antara 7 orang petugas polisi Hansip yang menggerebek kami. Salah seorang mencoba menyayat atau menyembleh leher saya dengan parang Mandau yang tadinya ditangan Andy yang tertinggal di rumah.
Hanya karena seseorang kebetulan bekas teman saya di SD, kini menjadi camat di daerah kejadian, kenal saya. Dia menyelamatkan nyawa saya yang melarang anak buahnya mengeksekusi. Karena suatu alasan, bahwa saya harus segera diserahkan ke komite resort militer setempat.
Namun, tadinya saya sempat diangkut mereka lewat mobil pick-up tua. Ketengah kerumunan orang ramai pada saat-saat malam Minggu. Di sebuah kota kecil pedesaan yang tak jauh dari tempat kejadian penangkapan (TKP). Saya diarak dan dipertontonkan mereka di bawah terang sinar lampu petromax. Selaku pesakitan seorang pecundang PKI yang dianggap kelas kakap. Tertangkap basah oleh operasi tertib kampung, sebagai hasil sukses kebanggaan mereka yang spektakuler.
Bagaimana nasib Andy dan sang tuan rumah yang keluar menghilang, beberapa saat sebelum saya digerebek? Saya tak tahu, hanya tinggal tenggelam secara misterius. Saya merasa tak berhak untuk mencurigai mereka sebagai pengkhianat terhadap saya.
Namun, kemudian ketika saya diangkut terkapar dalam truk yang terpacu menuju Tabalong. Sebuah kota yang kebetulan sebagai tempat tinggal keluarga saya bersemayam. Serta barangkali juga sebagai tempat pembuangan sampah (TPS) saya selaku tahanan, buat waktu berjangka panjang. Dalam suatu label sebutan mereka dengan istilah yang cukup keren : “pengamanan”. Terdengar dari obrolan para pengawal militer yang membawa saya dalam satu truk. Bahwa satu peleton tentara dikerahkan untuk memburu dan menangkap 4 orang kawan saya yang berada di gua sana. Dengan membawa Andy sebagai penunjuk jalannya.
***



Your comment?