Mengenang Bung SAJI – Tapol Penebang Kayu Kamp Konsentrasi Kerja Paksa Pulau Buru

127 Viewed Redaksi 0 respond
Screen Shot 2022-01-09 at 8.28.45 PM

Di balik bilah – bilah papan kayu Namlea  itu memang ada darah, air mata, keringat dan nyawa ………………………

Rakit  lebar dua meter panjang  empat-lima  meter yang terbuat dari ikatan bambu, di atasnya ditumpuk bilah-bilah papan kayu meranti, mengapung di sungai Wae Apu. Rakit itu mengangkut  tumpukan papan kayu yang berukuran lebar 25-30 cm  dan panjang 3 meter hasil kerja para Tahanan Politik (Tapol) tragedy 1965  yang akan dihanyutkan menuju muara sungai  selanjutnya menyeberang lautan di Teluk Namlea,  menuju Namlea, untuk dijual.

Sungai Wae Apu lebar dan dalam,  berkelok-kelok sehingga tapol yang mengemudikannya harus bekerja ekstra  keras dan hati-hati.

Perjalanan dari hutan Waleman menuju Namlea  memakan waktu tempuh 4-5 hari. Lima orang Tapol ditugasi untuk mengemudikan rakit  dengan perbekalan seadanya: beras dan kendil untuk menanak nasi di atas rakit. Air cukup ambil dari sungai.  Dikawal 2 orang tentara Tonwal (Peleton Pengawal) dengan bersenjata api lengkap dengan peluru tajam yang siap ditembakkan setiap saat.

Setelah sampai di Namlea,  bilah-bilah papan kayu meranti itu dijual. Namun, uang hasil penjualan papan itu bukan untuk tapol yang telah bekerja dengan cucuran keringat, tetapi untuk Komandan  dan para tentara petugas di Kamp Konsentrasi  itu.

Inilah perbudakan di abad moderen, penghisapan tenaga manusia tanpa diupah.  Nyata adanya.

Inilah salah satu kisah nyata tentang Tapol regu penebang kayu:

Nyawa, darah dan air mata di balik bilah papan Namlea

Bung  Saji lahir tahun 1938  asal dari desa  Gerit kecamatan Cluwak kabupaten  Pati, Jawa Tengah. Ia Kepala  Regu Penebang Kayu Unit XVII Tapol Pulau Buru yang  terdiri dari 6 orang yaitu: 1. Bung  Saji asal Pati, 2. Bung Ponen asal Ngawi, 3. Bung  Jani asal Ngawi, 4. Bung Kasdi asal desa Wedusan Pati, 5. Bung  Rejo Jarwi asal desa Wedusan, dan 6. Bung Triyas asal Semarang.

Sebagaimana biasanya, pukul 05.00 pagi, Bung  Saji dan anggota regu Penebang kayu sudah bersiap untuk menuju ke hutan Waleman di mana di situ tumbuh pohon meranti. Peralatan yang  dibawa:

Kampak, Gergaji Tarik, Parang, Tali dan makanan ala kadarnya, nasi, ubi, singkong. Air minum biasanya merebus air dari sungai  di sekitar hutan.

Jam 06.00 pagi Bung  Saji dan kawan-kawan anggota regu penebang meninggalkan Unit XVII menuju hutan dengan berjalan kaki sejauh 7 kilometer, dan bekerja menebang kayu, menggergaji menjadi bilah-bilah papan  sampai pukul 16.00. Pulang sampai di barak biasanya hampir pukul 19.00 setiap hari!

Tibalah hari petaka bagi Bung  Saji.Peristiwa ini terjadi pada tahun 1977.

Ia menemukan sebatang pohon meranti yang cukup besar berdiameter kira-kira  70-90 centimeter, tinggi pohon 20 meter. Pohon ini berada di bukit  lereng  sungai  Wae Lata  yang batangnya condong ke arah sungai. Tanpa berpikir berlama-lama, teman-teman anggota regu penebang kayu mulai memanjat pohon bagaikan kera yang tangkas memotong dahan dan ranting. Semuanya dilakukan secara manual. Pohon meranti yang semula  kekar dengan cabang, ranting serta  dedaunan yang rimbun kini tinggal batang tunggal yang tegak berdiri tinggal menunggu ditebang.

Mulailah  Bung  Saji  memotong pangkal pohon meranti dengan cara menggergaji bersama seorang temannya.  Gergaji dipegang di masing-masing ujung dan ditarik, maju- mundur berirama.  Batang kayu itu pun tumbang. Pucuk batang jatuh di tebing sungai di seberang, melintang di atas sungai dan bagian pangkalnya terangkat ke atas dalam posisi menungging.

Kini saatnya batang kayu itu akan dipotong sesuai ukuran yaitu 3 meter. Memang posisinya miring,  agak sulit, tetapi Bung  Saji bersama temannya dapat menggergajinya.

Ketika pangkal kayu  hampir putus, ia  menyuruh teman untuk melepas gergaji, menghindar dari kemungkinan potongan kayu jatuh ke arah temannya  dan membiarkan dirinya menggergaji sendirian karena diperkirakan batang kayu akan jatuh ke arah berlawanan.

Namun, tidak disangka, tanpa diperkirakan sebelumnya, kayu itu tiba-tiba jatuh ke arah  Bung  Saji, menghantamnya, menghunjam dan jatuh bersama ke dasar sungai   sedalam 20 meter yang  berbatuan,  dengan posisi kayu menindih  Bung Saji. Tubuh Bung  Saji, Oh ……. maaf tak bisa dilukiskan dengan kata-kata – hancur  dan berdarah.

Bung  Saji (39 tahun) gugur sebagai korban di kamp kerja paksa. Tapol penghuni barak di Unit XVII berduka. Jenasah dimakamkan di Pemakaman Unit XVII.  Tidak ada kata  bela sungkawa dari sang petugas .Yang menyakitkan, berita petaka kematiannya  ini tidak pernah disampaikan kepada keluarganya di Pati. Berita kematian baru disampaikan  kepada keluarganya  oleh sesama teman  Tapol ketika semua Tapol dibebaskan secara massal pada 1979  karena tekanan masyarakat internasional.

Di balik bilah – bilah papan kayu Namlea  itu memang ada darah, air mata, keringat dan nyawa ………………………

(Kisah Nyata ini dituliskan Bedjo Untung  seperti yang disampaikan  oleh  Pak Jasi Tapol asal Pati Jawa Tengah untuk mengenang Bung Saji yang gugur di dalam tahanan kamp kerja paksa  kekejian rejim fasis Suharto).

131695945_10218343845687410_1732158643923019933_n

131941445_10218343845927416_6685205827652859675_n

131449481_10218343846567432_464565569068195094_n

Keterangan Gambar:

1. Suasana Tapol Penebang Kayu di Pulau Buru sedang beristirahat setelah kerja keras menggergaji kayu hasil tebangannya.

2. Peta Pulau Buru

3. Dalam kondisi sulit pun Tapol harus bisa  bertahan untuk hidup, di mana pun berada meski tidak tahu berapa lama harus ditahan.

(Foto kiriman dari sesama eks tapol Tuba bin Abdul Rochim asal Brebes Jawa Tengah yang kini menetap di Jakarta.)

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in
Screen Shot 2022-01-04 at 4.29.08 PM

Warli : Murid SD Menjadi TAPOL – Kesaksian Tragedi ‘1965’

Screen Shot 2022-01-10 at 1.10.16 AM

Kisah Eddy Sugianto : Eks Aktivis Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dan Tapol Pulau Buru *kini sekretaris YPKP 1965/1966

Related posts
Your comment?
Leave a Reply