[Cerpen] STIGMA oleh Sri Her

306 Viewed Redaksi 0 respond
Screen Shot 2022-02-11 at 8.25.00 PM
Cerpen STIGMA ditulis oleh mBak Sri Her (Nama Singkat) putri korban 65 Pak Mhr asal Pekalongan tetapi tinggal di Yogyakarta. Selama hidupnya Pak Mhr aktif perjuangkan hak-hak para korban: datangi Komnas HAM, ikuti seminar, pertemuan untuk desak Negara pertanggungjawabkan keterlibatannya dalam genosida 1965.
Cerpen STIGMA adalah salah satu kisah tragedi 1965 yang ikut dalam Sayembara Penulisan Kisah berlatarbelakang genosida 1965 yang diselenggarakan YPKP65.
Salam tetap semangat

 

 

Aku tumbuh dengan predikat negatif yang kusematkan sendiri dalam diriku. Aku bodoh, anak dari seorang atheis, PKI, pembunuh dan masih banyak sederet penilaian negatif dalam diriku sendiri. Aku meyakini bahwa kelak tidak akan ada pendamping hidup untukku. Pria manapun tak akan mau mempertaruhkan nama baiknya dengan menjadi suamiku.

 

“Hera!”

Suara nenek melengking memanggilku dari dalam kamarnya. Aku khawatir, jangan-jangan nenek akan menyuruhku untuk membeli obat sakit perut lagi. Sebenarnya, bukan akutidak mau menuruti perintah nenek, namun aku malas harus melewati jembatan itu.

Kios obat Pak Bosari, satu-satunya toko obat di kampungku. Untuk mencapainya, aku harus melewati jembatan. Tempat tinggal kami ada di barat sungai. Aku harus jalan kaki kira-kira enam ratus meter, melewati jembatan kayu selebar lima meter.

Bukan masalah jaraknya yang jauh, atau pun jembatan kayu yang sudah tampak tua itu. Tapi, di sisi jembatan itu banyak pemuda desa bergerombol di tepiannya. Hampir setiap hari para pemuda itu duduk-duduk di sisi kiri dan kanan jembatan. Ada sekitar lima atau tujuh pemuda, dengan beragam kebiasaannya. Ada yang mengobrol, ada yang santai merokok, atau hanya sekedar melihat melihat orang lalu-lalang.

Namun begitu aku menginjakkan kaki di ujung jembatan, semua aktivitas para pemudaitu sontak berhenti. Semua mata memandang ke arahku.

“Hai cantik! Cantik tapi, anak PKI!”

Begitulah sapaan itu. Berulangkali setiap kali aku melewati jembatan itu. Aku hanya mampu menunduk, diam dan tetap berjalan. Batinku sedih, kesal, tidak ada daya untuk membalas sapaan meyakitkan dari mulut mereka. Aku tak pernah menceritakan perlakuan para pemuda itu pada nenek. Aku tidak mau menambah beban pikirannya. Di usia senja yang seharusnya nenek tinggal menikmati masa tuanya dengan tenang, ternyata nenek masih harus membanting tulang. Nenek harus mencukupi kebutuhan hidup dengan membatik. Aku yang tadinya diasuh oleh ibu dan bapakku, tiba-tiba harus diasuh oleh nenek.

***

Aku ingat samar-samar. Waktu itu, usiaku mendekati lima tahun. Suatu siang menjelang sore, ayah naik ke bak truk dan dibawa pergi entah ke mana, oleh para tentara. Aku melihat ibu dan nenek menangis tersedu-sedu. Beberapa kerabat dekat datang ke rumah, untuk menemui ibu dan nenek. Mereka menanyakan perihal penjemputan paksa ayahku oleh tentara.

Perlahan ibu juga pergi. Kepergian ibu berbeda kisah dengan kepergian ayah. Ibu dibawa paksa oleh kerabatnya. Belakangan aku tahu, kerabat ibu memaksa agar ibu menikah lagi denganpria pilihan mereka. Aku sedikit mengingat perkataan kerabat ibu waktu itu.

“Suami kamu dibawa tentara untuk mati, tahu? Apa yang kamu tunggu di sini?”

Setelah itu hanya ada sepi, tapi batinku begitu ramai. Ramai oleh tanya tanpa jawaban. Aku menghadapi sepi itu bertahun-tahun. Aku menjadi remaja putri yang linglung, sejak terbit matahari hingga tenggelamnya. Pandangan mata serta tingkahku tidak sama dengan remaja lain. Aku tidak bisa bergaul normal dengan kawan-kawan. Setiap kali mencoba untuk berbaur dengan mereka selalu ada beban membelenggu di dalam jiwa. Otomatis aku tersisih dari lingkungan yang sesungguhnya amat penting bagiku. Ini merupakan cacat dalam proses hidupku. Tidak heran jika nilai raportku selalu berhiaskan angka merah. Bagiku itu bukan apa-apa, toh hanya angka. Aku tetap naik kelas. Barangkali ada campur tangan Tuhan. Beratus pertanyaan sangat mendasar saja belum kutemukan jawabannya, lalu otakku dipaksa menjawab matematika, IPA, dan banyak lagi pelajaran sekolah yang tak mampu aku jawab. Untuk apa aku mencari jawabansemua itu?

 

Aku hanya ingin jawaban dari pertanyaan sederhanaku. Dimana ayahku? Dimana ibuku? Itu saja! Hari-hariku penuh kebuntuan, kebingungan dan derita batin. Tidak seorang pun bisa aku jadikan tempat mengadu.

 

***

“Hera! Pergilah beli obat di kios Pak Bosari, ini uangnya!”

 

Teriakan nenek lebih keras terdengar. Aku beranjak dari lamunanku. Kalau bukan karena kasihan dengan sakit perut nenek yang sering kambuh, malas sekali aku berangkat. Keringat dingin membasahi telapak tanganku. Aku menerima selembar uang dari nenek, lantas perlahan keluar dari rumah.

 

Kakiku mulai menapaki ujung jembatan kayu. Beberapa pemuda itu sudah bergerombol di kiri dan kanan jembatan. Aku berjalan sambil meremas ujung blouse lusuh yang kukenakan. Keringat dingin bercucuran di pelipisku.

 

“Lihat! Ini dia, Hera, putri cantik dari PKI pembunuh!” Salah seorang diantaranya yang berperawakan cukup tinggi dan berambut cepak memulai olokannya padaku.

 

“Whuuu! Anak PKI!” Sorakan pemuda-pemuda lainnya.

 

Lantas pemuda yang belakangan aku tahu namanya Dhakim, mendekatiku. Aku sempat mundur beberapa langkah. Namun punggungku menabrak pagar pembatas jembatan, aku tidak bisa mundur lagi.

 

“Heh, Hera! Kamu pantas dapat ini!”

 

CUIH

 

Aku hanya sempat menghalau dengan tanganku sekenanya. Namun refleks gerakku tidak lebih cepat dari gerakan bibir Dhakim yang melemparkan ludahnya, tepat mengenai sebagian wajahku..

 

Sambil mengelap wajahku, buru-buru aku berlari melewati gerombolan Dhakim dan kawan-kawannya. Cemoohan dan sorakan para pemuda itu tak kuhiraukan lagi. Sungguh keterlaluan mereka. Mereka menuduh ayahku PKI yang suka membunuh orang.

 

Sepulangnya dari kios Pak Bosari, aku langsung membasuh wajahku. Aku tidak ingin nenek mengetahui bahwa aku menangis sepanjang perjalanan pulang dari kios Pak Bosari tadi.

 

“Ini Nek, obatnya.” Setelah menyerahkan obat sakit perut pada nenek, aku bergegas melangkah ke kamar.

 

“Hera. Duduk dulu. Nenek mau ngomong.” Perintah nenek menghentikan langkahku.

 

Episode baru dalam kehidupanku dimulai. Tinggal di kota yang jauh dari desa

kelahiranku bersama keluarga bibiku, adik bungsu ayahku. Buku rapor sekolahku kini berganti. Tertera nama suami bibi sebagai wali murid. Aku pun menjadi anggota keluarga bibi dan pamanku secara administratif. Aku diberi pinjaman nama wali murid, entah bagaimana aku harus berterimakasih dan membayar kebaikan pamanku kelak. Seolah nama ayah wajib sirna begitu saja. Menurut nenek sangat berbahaya jika ketahuan nama ayah digunakan untuk syarat administrasi dan semacamnya.

 

Aku sangat membatasi pergaulanku di lingkungan sekolah mau pun di masyarakat sekitar tempat tinggal bibi. Ketakutanku seandainya aku menemukan sosok seperti Dhakim dan kawan-kawannya semasa di desa, masih sangat erat menempel dalam benakku.

 

Aku tumbuh dengan predikat negatif yang kusematkan sendiri dalam diriku. Aku bodoh,anak dari seorang atheis, PKI, pembunuh dan masih banyak sederet penilaian negatif dalam diriku sendiri. Aku meyakini bahwa kelak tidak akan ada pendamping hidup untukku. Pria manapun tak akan mau mempertaruhkan nama baiknya dengan menjadi suamiku.

 

Namun ternyata aku salah. Ada sesosok pria baik-baik yang mendekatiku saat aku duduk di bangku akhir SMEA. Aku tidak yakin benar dia mau serius denganku.

 

“Maaf, sebaiknya Anda tidak mendekatiku. Aku ini putri PKI. Aku anak seorang

pembunuh,” pintaku lugas.

 

Aku memang tidak pandai bicara basa-basi, niatku agar dia segera sadar, siapa

perempuan yang sedang didekatinya, lalu menjauh dariku. Aku mau hidup sendiri sampai tua. Aku tidak ingin ada orang lain yang ikut menanggung aibku.

 

“Itu tidak masalah bagiku,” kekeh pria berperawakan tinggi kurus itu.

 

“Di kota kecil tempatku lahir, para tertuduh itulah yang dibunuh dan jumlahnya tidak sedikit.” Masih dengan jawaban santainya, pria itu duduk di taman depan rumah bibi. Menemaniku yang sedang menyiram pot bunga sore itu.

 

Aku meletakkan gembor yang kupakai untuk menyiram pot. Aku sangat heran

mendengar jawabannya. Aku melihat dengan tatapan penuh tanya ke arahnya. Sungguh amat heran aku mendengar jawabannya. Baru kali ini aku saksikan, ada orang yang begitu biasa saja komentarnya tentang anak dari orang yang diberi label PKI, atheis dan sejenisnya.

 

Pria itu melambaikan tangan, memintaku untuk duduk di kursi anyaman rotan di terasdepan rumah bibi.

 

“Barangkali ada sepertiga atau lebih penduduk negeri ini yang memiliki kerabat tapol . Aku nggak pernah mempermasalahkan asal-usulmu, Dik.”

 

Demikianlah pria yang sejak pertamakali mengenalku, hingga kini memanggilku Dik, memintaku menjadi istrinya. Cinta putih dan kasih sayangnya yang tulus hanya padaku, membuatku percaya. Percaya bahwa aku bisa menghapus stigma buruk yang sekian lama melekat dalam diriku. Percaya bahwa masih ada orang-orang baik yang menyayangiku dengan tulus.

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in
aroma-tanah-moncongloe-ilustrasi-budiono-jawa-posw

Aroma Tanah Moncongloe

Related posts
Your comment?
Leave a Reply