Cinta Berbalut Politik Litsus

1273 Viewed Redaksi 0 respond
illustrasi: vimeo[dot]com
illustrasi: vimeo[dot]com

Sanggar Kertas | 4 Agustus 2016

 

Latar

 

Sebagai Semburating Lembayung yang anak tokoh aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat mantan istri salahsatu tokoh utama gerakan nasionalisme senirupa Indonesia yang kemudian menjadi anggota DPR RI hasil Pemilu 1955 dari fraksi PKI, sejak kecil aku sangat sadar politik praktis kekuasaan. Karena sejak muda kami terlatih dalam obrolan berat konsumsi orang-orang dewasa. Bacaan kami pun bukan klas ecek-ecek kisah picisan. Walaupun kami membaca Romeo and Juliet, tetapi itu kupandang dengan sebelah bahkan sudut mata saja.

 

Dengan kesadaran itu, aku menjadi sangat memahami perilaku dan sepakterjang para pelaku politik kekuasaan di ranah kenegaraan seperti dalam tubuh parpol, instansi pemerintahan atau lembaga-lembaga negara lain, dan juga dalam berbagai organisasi non-pemerintah seperti LSM, ormas sekuler, maupun ormas keagamaan. Jika orang-orang di dalamnya baku sikut dan jegal, bagiku itu lumrah. Karena aku – berdasarkan pengalaman hidupku yang walaupun baru saja genap 18 tahun – memang memahami manusia dalam pemahaman lupus est homo homini, non homo, quom qualis sit non novit, sebagaimana ditulis dalam baris ke-495 drama “Asinaria” karya Plautus. Sang pujangga menulis bahwa pada dasarnya manusia adalah pemangsa bagi sesamanya.

 

Jika sudah memahami demikian, maka oleh sebab itu aku menyingkirkan diri ke sangtuari yang – semoga, demikian harapanku kini dalam usiaku yang belia 18 tahun ini – bisa memberi kenyamanan dalam menapaki hidup yang tampaknya masih panjang di depanku.

Dan aku menemukan sangtuari itu. Sebuah komunitas gereja berfalsafah pasifisme pantang kekerasan. Pendeta dan Gembala Jemaatnya, Pdt.Soemartono telah berhasil meyakinkanku tentang sebuah keniscayaan, bahwa komunitas gereja bisa menjadi sekumpulan manusia pantang kekerasan dalam arti sesungguhnya.

 

Itu menghapus pemahamanku dari bacaanku tentang sejarah gereja selama ini yang berkelindan dengan kekerasan, kekejian, baku bunuh, baku siksa, pemerkosaan, dan berbagai perbuatan di luar perikemanusiaan lainnya demi kekuasaan dan harta atasnama Tuhan dan gereja. Kemudian aku menggabungkan diri dengan komunitas damai gerejawi di kota kecil pesisir Utara Pulau Jawa di ujung sebuah semenanjung besar itu. Lalu aku menyediakan diri dibaptis.

 

Jika tadi kupanjanglebarkan dalam empat alinea mendahului paragraf-paragraf berikut, itu memang kumaksudkan memberi kisahlatar bagi kisah selanjutnya. Dan itu memang berkaitsimpul erat dengan Sriharsanti dalam tuturan kisah ini.

 

 

Sriharsanti

 

Aku mengenal Sriharsanti dalam kegiatan paduan suara gereja kami. Dia masih belia, baru klas dua SMP. Umurnya mungkin berjarak sekitar tiga sampai lima tahun lebih muda dari usiaku. Entahlah, aku belum pernah bertanya kepadanya. Bagiku dia sangat menarik, dan cantik. Anaknya cenderung pendiam, tidak banyak bicara, sederhana. Dan pemalu. Paling tidak itulah kesan utamaku tentang dia: pendiam, bersahaja, dan pemalu. Walau dia masih belia, tetapi Sriharsanti tampak lebih dewasa dari usianya. Mungkin karena ia sulung dari tiga bersaudara. Kecantikannya pun juga sudah mekar layaknya seusiaku.

 

 

Paduan Suara

 

Cabang seni pertunjukan yang satu ini adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan sejak kecil di dunia pentas. Saat klas 3 di SD YBPK di Jl.Salemba 10-12 di Jakarta Pusat sembilan tahun lalu, aku sudah bernyanyi di paduan suara gabungan klas 3 sampai klas 6. Suaraku mungkin dianggap lumayan karena aku disandingkan duet dengan seorang teman perempuan dalam kidung “Lilin-lilin Menyalalah”.

 

Aku juga terbiasa mendengarkan suara emas ibu tiriku yang juara nasional Bintang Radio sejak 1959 secara berturut-turut kalau tidak salah sampai 1966 ketika “terpaksa harus” dikalahkan oleh Pranawengrum, mungkin demi regenerasi. Ibu tiriku menurutku memang belum tergantikan sampai saat ini dalam hal kualitas dan kapasitas sebagai penyanyi seriosa di negeri ini.

 

Maka aku pun menggabungkan diri ke kegiatan paduan suara gereja kami di kota kecil ini. Bahkan seperti saat ini ketika pelatih kami berhalangan hadir karena tugas panjang di luar kota, aku diminta melatih paduan suara kami. Aku sangat menikmati diberi kepercayaan ini. Bukan apa-apa ‘sih. Karena dengan “jabatan” ini aku bisa memandang dengan bebas Santi, demikian aku biasa memanggil Sriharsanti, menyaksikan kecantikannya, dan memandang kebolehan dan kesederhanaannya dalam bernyanyi di paduan suara. Demikian sederhananya dia tampil dan juga dalam hal memproduksi suara yang datar dan tanpa vibrasi, sehingga dia sangat ideal sebagai penyanyi paduan suara. Tampaknya aku mencintai Santi, berawal dari pelayanannya di paduan suara.

 

Dan selanjutnya aku memang lebih sering berbicara dengan Santi daripada dengan perempuan lain di gereja kami. Walau tentu saja aku bergaul erat dengan teman-teman lelaki yang ada. Tetapi di antara perempuan aku mulai beranggapan hanya ada Santi di duniaku. Aku memang mencintai dia. Sangat mencintainya. Dan dugaanku, aku tidak bertepuk sebelah tangan. Tetapi sampai hari ini aku belum pernah menyatakan cintaku kepada Santi.

 

 

Anjangsana Paduan Suara

 

Tradisi di antara gereja-gereja kami di seputar Masa Raya Natal adalah baku kunjung antar-gereja dengan memboyong tim paduan suara. Dalam perjalanan ke sebuah gereja di desa Nguling, hujan deras mengguyur sejak sore hari sebelum berangkat. Minibus Colt T120 yang kami tumpangi tidak bisa bergerak lantaran setiap kali pedal gas diinjak perlahan, roda penggerak slip di jalan tanah merah padat yang licin. Akhirnya diputuskan untuk turun dan berjalan kaki.

 

Entah bagaimana, pemimpin rombongan kami mempersilakanku mendampingi Santi agar tidak kehujanan saat berjalan menuju gedung gereja yang berjarak sekitar 150an meter dari mobil kami berhenti. Dan karena kehabisan payung, seorang warga setempat membagikan pelepah daun pisang dan aku menerima satu.

 

“Santi, ayo turun dan berjalan ke sana. Maaf, payung habis, adanya ini” aku gugup berbicara. Santi pun memandangiku dalam diam di keremangan bagian dalam mobil. Ah cantiknya kamu, Santi. Pleaseeeee, jangan pandangi aku demikian, aku bisa kau buat gugup karenanya. Namun dalam hitungan detik, Santi pun tersadar dan dia tersipu sambil menunduk.

 

“Iya…,” hanya itu yang diucapkannya. Santi turun. Kugandeng tangannya agar tidak terjatuh karena licin. Lalu kami berjalan di bawah lindungan payung pelepah daun pisang. Aku merasakan keindahan suasana tiada tara. Ini akan menjadi salahsatu momen terindah bagiku bersama Santi. Memang cinta teragung tercipta dalam suasana sederhana namun manis. Ehmmm…lebih indah diucapkan dalam Bahasa Inggris: love of masterpiece created on a simple moment of sweet. Tetapi entah apa yang berkecamuk dalam batin Santi.

 

Aku sangat ingin menggamit pinggang Santi agar kami bisa saling berdekatan tanpa harus berbasahan walau hujan sudah mulai mereda. Tetapi aku tidak berani. Tak satu kata pun keluar dari mulut Santi yang berhias bibir kecilnya. Dia berjalan perlahan, sambil menunduk. Aku gugup di sampingnya dalam jarak sedemikian dekatnya. Karena tidak pernah terjadi sebelumnya.

 

“Sepatumu jadi kotor. Nih, sepatuku juga jadi tebal,” aku memecah kesunyian sembari berjalan, untuk menghilangkan kegugupanku.

 

“Iya, emang selalu begini…,” Santi menjawab singkat. Dia agaknya mengacu ke pengalamannya tahun-tahun sebelumnya ketika aku belum datang ke kota kecilnya.

 

 

Dinding Politis

 

Waktu berjalan terus. Aku dan Sriharsanti semakin akrab. Aku merasa semakin membutuhkan kehadirannya dalam kehidupanku. Agak aneh juga ‘sih menurutku. Karena aku masih klas tiga STM sejak setahun lalu aku mulai mencintainya. Sedangkan Santi juga masih klas 3 SMP, seorang gadis yang terlalu belia untuk berpacaran. Namun aku juga merasa kalau Santi juga mencintaiku. Dalam sikapnya yang pemalu, pendiam, dan sederhana, aku melihat dengan nyata kalau ia memberi perhatian lebih kepadaku.

 

Hubungan istimewa kami yang tidak pernah terucapkan ini agaknya dicermati dan dipantau banyak pihak. Tampaknya beberapa sesepuh juga sudah mulai mencium, memahami, dan bahkan merestui, karena mengira bahwa kami dalam status pacaran. Padahal kami tidak pernah mengikatkan diri dalam status itu.

 

Ketiadaan status itu memang ciptaanku yang terpaksa kulakukan dengan sangat sedih hati penuh penderitaan batin. Aku sengaja membangun dinding tebal yang membatasi kami. Semoga kamu tidak salah paham dengan sikapku ini, Santi.

 

Aku memang tidak mau memacari Santi, yang kuasumsikan kelak melangkah ke jenjang pernikahan jika itu kulakukan. Tidak. Walau aku sangat ingin, bahkan amat sangat ingin mengingat rasa cinta mendalamku kepada gadis sederhana ini. Terlebih lagi Sriharsanti adalah primus amor-ku. Cinta pertama agungku, dan aku sebetulnya tidak ingin menyia-nyiakan cinta kami. Aku sangat meyakini cinta kami akan abadi. Dan jika naik ke jenjang pernikahan pun, kami akan menjadi pasangan ideal yang abadi. Itu dapat kupastikan, dan akan kubela sampai maut memisahkan kami.

 

Namun aku teringat 23 November 1965. Kisah masa kecilku yang membekas ketika Ibu ditangkap sekelompok gerombolan entah di bawa ke mana. Itu bisa disimak di http://tinyurl.com/kekerasanpolitik. Baru sekitar tujuh tahun kemudian aku memahami bahwa Ibu dipenjarakan karena garis politiknya. Aku tidak mau kedua orangtua Santi yang pegawai negeri bernasib sama seperti Ibuku. Cukup Ibu dan kakakku saja. Jangan ada lagi orang yang kucintai menderita seperti Ibu, kakak sulungku, dan pengalaman yang kurasakan sebagai akibat dari penangkapan Ibu karena petualangan politik para maniak kekuasaan seperti DN Aidit, Soeharto, dan konco-konco mereka.

 

Dengan situasi seperti hari-hari ini pada tahun 1976 ketika Soeharto dan para jendral pengikutnya menguasai semua lini kehidupan masyarakat dan bangsa, kesalahan kecil dalam melangkah bisa berakibat fatal. Aku membayangkan, jika aku berpacaran dengan Santi, dan pasti kemudian kami lanjutkan dalam jenjang Daub Suci atau pernikahan suci di Gereja, Pak Saridi dan Ibu Rukmini akan menjadi korban. Kedua orang tua Santi adalah pegawai negeri di kota Kabupaten ini. Pihak Kodim, Koramil, dan Kabupaten di mana Bapak dan Ibu bekerja sebagai pegawai negeri pasti tidak akan tinggal diam. Bahkan ketika kami mendaftarkan diri di Catatan Sipil pun, dapat dipastikan para cecunguk rejim Soeharto sudah menelisik siapa gerangan calon menantu yang akan menikahi Santi. Itu dilakukan dalam sistem yang dikenal luas sebagai Operasi Penelitan Khusus.

 

 

Operasi Penelitian Khusus Soeharto

 

Penelitian Khusus atau Litsus adalah sebuah operasi yang dilakukan oleh pihak inteljen militer bekerjasama dengan semua instansi pemerintahan sipil, menelisik seluruh aparat pemerintah baik sipil, militer, maupun kepolisian. Setiap aparat akan ditelisik, siapa saja orang di sekitarnya dan apa serta bagaimana kegiatan orang-orang di sekitar mereka itu di seputar tahun 1965 sampai dengan sekitar tahun 1967. Walau aku masih kecil pada tahun 1965, tetapi Ibu dan kakakku ditangkap dan dijebloskan ke penjara sebagai tapol PKI.

 

Dengan kondisi itu, aku berstatus “tidak bersih lingkungan,” sebuah status mengerikan pada jaman Soeharto dan mesin politiknya Golkar menjadi penguasa tunggal seperti sekarang ini.

Manusia tidak bersih lingkungan seperti aku akan memvirusi dan membuat keluarga besar mertuaku tidak bersih lingkungan juga. Itulah teori dasar operasi Litsus Soeharto. Maka kubayangkan Pak Saridi dan Ibu Rukmini pasti akan dipecat dari statusnya sebagai pegawai negeri. Bahkan mungkin beliau berdua akan juga bernasib seperti Ibu, digelandang ke sebuah truk dan dibuang entah ke penjara mana. Lalu bagaimana dengan nasib Tatik dan Toton adik Santi yang masih kecil jika aku menikahi kakak mereka?

 

Pamit

 

Tidak! Aku tidak mau egoistis hanya memikirkan jalinan cintaku pada Santi. Bapak, Ibu, Tatik, dan Toton, dan tentu juga Santi, tidak mau kupertaruhkan keselamatan dan nasib mereka hanya demi kebahagiaanku karena bisa hidup sebagai suami Santi. Bagaimana jika karena langkahku itu, kemudian Santi dipaksa menjadi simpanan atau gundik pejabat demi menyelamatkan nasib kedua orangtuanya sebagaimana banyak kasus terjadi di seputar tahun 1965 sampai 1967?

 

Dengan kebulatan tekad tersebut hari ini aku sowan Bapak dan Ibu di rumah mereka, setelah beberapa hari lalu aku pamitan dengan Santi di sebuah kedai mie di Pecinan. Pak Saridi dan Bu Rukmini menerima kedatanganku di teras. Santi ikut menerimaku, lalu ia masuk kamarnya entah apa yang dilakukannya di dalam. Semoga dia tidak menangisi kepergianku. Aku tidak melihat Tatik dan Toton. Mungkin mereka sedang belajar.

 

“Ya sudah jika Nak Lembayung mau pergi. Hati-hati ya, dan selalu ingat Tuhan…”

 

Pak Saridi menutup percakapan kami. Lalu aku berpamitan. Mereka memanggil Santi keluar, tetapi yang dipanggil tidak muncul. Entah mengapa. Ibu Rukmini akan membuka pintu kamar menjemput Santi keluar, tetapi aku mencegahnya.

 

“Jangan, tidak apa-apa Bu. Kemarin saya sudah berpamitan koq dengan dia. Maturnuwun, pareng”

 

Aku segera beranjak, lalu cepat kukayuh sepedaku segera keluar dari kampung tempat tinggal Santi di samping belakang Kantor Kabupaten ini. Hatiku berkecamuk…

 

 

Kamu Primus Amor-ku, Santi!

 

Santi, aku beranggapan getar cintaku telah menggapai hatimu. Dan getar cinta yang sama juga kurasakan kau kirim ke dalam lubuk hatiku selama setahun terakhir ini. Aku sangat yakin kita saling mencinta, Santi. Tetapi maafkan aku. Dengan sengaja aku tidak menyampaikan rasa cintaku kepadamu, karena falsafahku sekali itu kukatakan maka kita harus menikah. Dan itu akan menjadi bencana bagi kedua orangtuamu, bagi kamu, dan bagi kedua adikmu.

 

Tapi percayalah Santi. Cintaku kepadamu akan kurawat sampai akhir hayatku. Kamu adalah cinta pertamaku yang bersifat abadi. Tidak akan pernah cintaku kepadamu kubunuh demi apa pun, termasuk demi cinta yang mungkin saja kelak kubagikan pada calon istriku jika aku memang akan menikah. Kamu adalah primus amor-ku sebagaimana disuratkan oleh Publius Ovidius Naso atau Ovid, seorang sastrawan Romawi Kuna dalam kisah ‘Daphne and Apollo’.

Maafkan aku Santi. Aku sangat meyakini bahwa mencintai tidak harus memiliki. Inilah saatnya aku membuktikan keyakinanku tersebut. Percayalah sayang, kamu akan bahagia dengan suamimu kelak yang akan kau temukan entah bagaimana dan di mana kamu akan berjumpa dia. Jangan pikirkan aku. Akan kucari dan kutempuh jalan hidupku sendiri.

 

Percayalah, suatu saat nanti kita akan bertemu kembali. Dan saat itu akan kaudapati, cintaku kepadamu masih sama dengan hari ini. Itu ‘tak ‘kan lekang oleh apa pun. Dan jika Sang Sunyi merestui dan berkehendak, kapan pun akan kita abadikan keagungan cinta kita. Itu pasti akan terjadi ketika kuucapkan cintaku kepadamu.

Selamat tinggal, Sriharsanti…

___

https://www.facebook.com/notes/sanggar-kertas/cinta-berbalut-politik-litsus/10153865737766247

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Diah Wahyuningsih Naat

Tahun Itu Memang Tak Pernah Berakhir Tuan?

illustrasi: amazine

Memutus Mata Rantai Kebencian Terhadap Golongan Kiri

Related posts
Your comment?
Leave a Reply