Melampaui Kelam Masa Lalu, Menjadi Saksi…. Kisah Ibu Nadiani, Nahkoda YPKP 1965-1966 Sumatera Barat

97 Viewed Redaksi 0 respond
Screen Shot 2022-01-13 at 3.48.28 AM

*cover foto CNN Indonesia

CNN Indonesia “Akhir Api Gerwani dan Serpih Kenangan Bersama Hartini Sukarno”

Di sisa hidupnya, Nadiani menyatakan bangga pernah bergabung dengan Gerwani. Nenek 75 tahun itu kini bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. Dia juga aktif memimpin Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan (YPKP) 1965 Sumatera Barat, organisasi yang memperjuangkan hak para korban Tragedi 1965.
 
“Saya beruntung masuk Gerwani. Saya bisa mengatur ekonomi keluarga sampai bisa menjadikan anak-anak tamat kuliah. Kalau enggak kami hanya kuli,” kata Nadiani.

.

Masa Lalu Kelam Jangan Kembali: Gelap di Hati Nadiani Penyintas 65 – langgam.id

Pagi di bulan November 2021 itu, merupakan pertama kalinya Manismar datang di kuburan massal korban peristiwa 1965. Hal yang selama ini tak berani ia datangi karena pedih mengingat semua itu

Hari itu Manismar mau saja diajak Nadiani ke situs yang berjarak sekitar 7 km dari rumah Nadiani di ruas jalan utama Kota Bukittinggi. Nadiani menguatkan dan meneguhkan hati Manismar untuk datang berziarah ke makam kawan-kawan mereka yang meninggal secara tak manusiawi. Ini sekaligus juga jalan menguak tabir sejarah pahit itu.

Di jurang itu, Nadiani menunjukkan kuburan massal. Dulu mayat-mayat hanya dilempar begitu saja ke jurang, di antaranya adalah mayat warga yang tinggal di sekitar Gadut. Para saksi mata orang kampung sini, mengenal mereka yang menjadi korban karena berasal dari Gadut.

 

 

Jurnal Socius: Journal of Sociology Research and Education Vol. 8, No.2, Th. 2021

The ex-PKI Political Prisoners Motive to Produce the Memories of 1965/66 Mass Violence in West Sumatra. Haldi Patra, Anatona Anatona, Yenny Narny

In this article, we use a qualitative approach. This approach provided a comprehensive perspective and a deep understanding of a social phenomenon (Bryman, 2016, pp. 366–367) So, the data will serve by more sentences to give deep knowledge. We collect the data from written and interviews. There are six source people that we interview from 2018 to 2020. Five informants are ex-PKI political prisoners, and one is the chairman of the YPKP branch in West Sumatra. They are; Pak Ali Munar (77) in Bukittinggi, Ibu Manisma (85) in Bukittinggi; Ibu Zulbainar (80) in Padang Pariaman; Ibu Janiar (76) ini Padang Pariaman; and IbuYohana (79) in Padang Pariaman. We also interviewed Ibu Nadiani (80). Ibu Nadiani is the head of the YPKP West Sumatra Branch. She is not a former political prisoner; instead, she was affected by the 1965/66 violence be cause her husband Akhiar Boer (alm) was in detention. After all, the Government suspects he had a connection to PKI by his job as a teacher in BAPPERKI’s (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia) School in Bukittinggi.

****

Yayasan Pejuang Hak Eks-Tapol 1965: Studi pada YPKP 1965 Sumatera Barat – Aulia Ramolan, Siti Fatimah

Vol 3 No 3 (2021): Jurnal Kronologi

Abstrak

Artikel ini merupakan kajian sejarah yang membahas mengenai sebuah lembaga atau yayasan yang bernama YPKP 1965 (Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965). Sesuai dengan namanya yayasan ini berkomitmen untuk meneliti dan mengungkap kasuskasus pelanggaran HAM berat yang terjadi pada peristiwa 1965. Penelitian ini mengambil studi kasus pada YPKP 1965 cabang Sumatera Barat sebagai objek penelitian karena Sumatera Barat merupakan salah satu daerah dengan korban terbanyak di luar pulau Jawa. Sejak awal pendiriannya, YPKP 1965 konsisten untuk memperjuangkan hak-hak para ekstapol yang dilanggar dalam peristiwa 1965 seperti adanya penyiksaan, penangkapan sewenang-wenang, pemerkosaan, bahkan pembunuhan secara masal. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mendeskripsikan perjuangan YPKP 1965 Sumatera Barat dalam memperjuangkan hak-hak tapol dan penyelesaian kasus pelanggaran HAM 1965. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang bertumpu pada empat langkah kegiatan yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan dalam perjuangannya eks-tapol melalui YPKP 1965 meminta pertanggungjawaban negara atas pelanggaran HAM tersebut dengan diadakannya rekonsiliasi, rehabilitasi dan kompensasi. Tidak dilakukannya penggungkapan kasus pelanggaran HAM dan pemberian sanksi terhadap kejahatan HAM masa lalu akan menjadi inspirasi di kemudian hari bagi mereka yang kuat dan berkuasa untuk menghalalkan segala cara termasuk melanggar HAM demi mempertahankan kekuasaan yang dimilikinya.

unduh disini 

 

Simak pula

Kekerasan Anti-Komunis di Sumatera Barat / *Violence in the Anti-Communist Tragedy in West Sumatra; *Resilience of West Sumatran Women: Historical, Cultural, Social Impacts by Yenny Narny

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Screen Shot 2022-01-13 at 4.21.21 PM

Para Penyintas 1965 di Aksi Kamisan : Para Sepuh, Setia Tegak Berdiri Demi Kebenaran dan Keadilan

Screen Shot 2022-01-21 at 10.57.00 AM

Surat Terbuka Desakan Pembatalan Untung Budiharto Menjadi Pangdam Jaya *YPKP65 Salah Satu Organisasi Yang Mendukung Petisi/Surat Terbuka

Related posts
Your comment?
Leave a Reply