7 April 2022 : YPKP 65 (YAYASAN PENELITIAN KORBAN PEMBUNUHAN 1965-1966) GENAP 23 TAHUN
Tak terasa pada hari ini Kamis 7 April 2022, YPKP65 genap berusia 23 tahun. Suka dan duka dialami dalam usahanya untuk mewujudkan visi dan misinya: ikut mencerdaskan bangsa, turut serta mewujudkan Indonesia yang lebih maju, yang menghormati hak asasi manusia , demokrasi dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945.
YPKP 65 didirikan oleh Sulami, Pramoedya Ananta Toer, Hasan Raid, Veronika Sumini Martono, Koesalah S. Toer, Suharno dan Tjiptaning pada 07 April 1999.
Dalam pernyataan pertama di awal pendirian YPKP 65, Ibu Sulami yang juga mantan Tapol 65 yang dipenjarakan selama 20 tahun mengatakan: YPKP 65 akan membongkar kebohongan rejim fasis Suharto orde baru, dan ingin buktikan siapa sesungguhnya yang melakukan kudeta dan menghancurkan republik ini.
Untuk membuktikan adanya pembunuhan massal yang dilakukan oleh apparat negara, YPKP 65 melakukan penggalian kuburan massal (exhumasi) di hutan Situkup Wonosobo dan diketemukan 21 kerangka jenasah tapol tragedy 1965.
Sampai 2022 ini YPKP 65 telah menemukan 356 kuburan massal yang tersebar di seluruh Indonesia. Jumlah masih bisa bertambah lagi karena masih banyak lokasi kuburan tempat eksekusi tahanan politik tragedy 1965 belum terjamah karena keterbatasan logistik dan transportasi.
Hasan Raid sebagai mantan politisi dengan tegas mengatakan: YPKP 65 berjuang untuk melawan depolitisasi dan deideologisasi. YPKP 65 tetap konsisten untuk perjuangkan hak warganegara khususnya para mantan tapol untuk memperoleh hak-hak politik, memulihkan nama baik (rehabilitasi), dan hak-hak korban sesuai Undang-Undang Hak Asasi Manusia Nomer 39 Tahun 1999.
Di awal berdirinya YPKP 65 sudah langsung mendapat stigma dan persekusi oleh kelompok intoleran, kaum konservatif. Di berbagai daerah banyak para korban 65 selalu dimonitor, dan mendapat ancaman dan terror oleh apparat militer.
Pertemuan-pertemuan yang mengangkat isu 1965 selalu dibubarkan. Bahkan, Symposium membedah Tragedy 1965 melalui Pendekatan Sejarah pada 18 April 2016 di Hotel Aryaduta Jakarta yang diselenggarakan oleh Menko Polhukam, Kemenkumham, Komnas HAM, Jaksa Agung tidak luput dari tuduhan bangkitkan PKI.
Kini pada 2022 ada sesercah harapan. Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa dalam pernyataannya mengatakan: “Anak, Cucu mantan PKI bisa ikut mendaftar untuk menjadi anggota TNI”
Kiranya ini menjadi langkah kecil, awal introspeksi dan koreksi TNI.
Dalam kurun waktu 23 tahun sejak YPKP 65 berdiri banyak hal-hal kemajuan maupun tantangan yang dihadapi dihadapi YPKP 65:
– Keputusan Tim Penyelidik pro justisia tragedy 1965 Komnas HAM yang rekomendasikan Tragedy 1965 adalah kejahatan kemanusiaan, perlu digelar Pengadilan HAM ad hoc (2012).
– Keikutsertaan dalam memberi kesaksian di Mahkamah Rakyat Internasional (International People’s Tribunal) Tragedy 1965 di Den Haag , Belanda (10-13 November 2015)
– Mengikuti Seminar Internasional Sejarah Tragedy 1965 di Universitas Goothe Frankfurt Jerman (9-13 November 2016)
– Mengikuti Seminar Genocide di Pulau Jeju Korea Selatan (2018)
– Mengikuti International Conference Cold War, US involvement and Genocide 1965 di Yale University New Haven, Connecticut , Amerika Serikat (13 April 2019)
– Ikut Aksi Dukung Korban Perang di Korea di depan National Assembly di Seoul South Korea (Mei 2019)
– Aktif berpartisipasi dalam Gwangju 5.18 Democracy Forum (2019)
– Memperoleh Award dari Truth Foundation South Korea pada 26 Juni 2017
– Memperoleh Award dari May 18 Memorial Foundation pada 18 Mei 2020
– Menemukan 356 Kuburan Massal – angka masih terus akan bertambah –
– Mendorong Korban 65 memperoleh layanan medis/psikososial LPSK
– YPKP 65 terus menerus lakukan advokasi, pertemuan dengan para korban, lembaga negara dan menjalin jaringan kerja ke berbagai organisasi masyarakat sipil untuk tujuan penuntasan pelanggaran hak asasi manusia tragedy 1965 untuk menegakkan keadilan, kebenaran dan demokrasi.
Tantangan ke depan
Para Korban 65 sudah berusia lanjut (70-90 tahun), hidup dalam kesulitan ekonomi dan kondisi kesehatan yang memprihatinkan, bahkan satu per satu telah berguguran meninggal dunia.
Belajar dari pengalaman organisasi korban yang ada, kini juga telah berguguran bahkan nyaris punah. YPKP 65 yang tersisa hadapi problema regenerasi. Saatnya generasi muda lanjutkan perjuangan untuk
wujudkan cita-cita untuk memperoleh keadilan, kebenaran, kemanusiaan, pemulihan, dan hak-hak korban seperti yang diamanatkan UU Hak Asasi Manusia 1999.
Pada kesempatan refleksi 23 Tahun YPKP 65, atas nama Pengurus/Relawan YPKP 65 dengan ini saya haturkan terima kasih tak terhingga kepada segala pihak yang telah mendukung perjuangan YPKP 65, teristimewa para Korban 65 di mana pun berada. Tanpa dukungan, solidaritas Kawan-Kawan, YPKP 65 tidak berarti apa-apa.
Memang, hari ini perjuangan belum berhasil, namun cepat atau lambat pasti kebenaran akan terungkap dan Korban memperoleh hak-haknya. Biarlah Anak, Cucu generasi penerus yang akan memetik perjuangan para pendahulunya.
“Siapa yang menanam, akan memetik hasilnya”
Salam, teruskan perjuangan
Salam hangat,
Bedjo Untung
Ketua YPKP 65
YAYASAN PENELITIAN KORBAN PEMBUNUHAN 1965/1966 (YPKP 65)
Indonesian Institute for The Study of 1965/1966 Massacre
SK Menkumham No.C-125.HT.01.02.TH 2007 Tanggal 19 Januari 2007 Tambahan Berita Negara RI Nomor 45 tanggal 5 Juni 2007.
Alamat: Jalan M.H.Thamrin Gang Mulia No. 21 Kp. Warung Mangga,RT 01 RW 02 Panunggangan , Kecamatan Pinang, Kab/Kota Tangerang 15143,
Banten,INDONESIA Phone : (+62 -21) 53121770, HP: 082210567865
E-mail ypkp_1965@yahoo.com; Website: www.ypkp1965.org
1. Bedjo Untung Korban 65 ikut aksi solidaritas bersama Korban Perang Korea di depan Gedung National Assembly Seoul South Korea
2. Korban 65 ikut aksi bersama kaum buruh peringati Hari Buruh 1 Mei di Jakarta
3. Korban 65/YPKP 65 Kulon Progo adakan temu Korban untuk memotivasi para korban, agar terus menjaga kesehatan dan tetap bersemangat.
4. Delegasi Akademi Gwangju 5.18 Memorial Foundation kunjungi situs Kamp Kerja Paksa Tapol 1965 di Cikokol Tangerang Banten INDONESIA. Dalam gambar tampak Ketua yayasan Gwangju 5.18 Mr. Chullwoo Lee sedang dengan tekun mendengarkan penjelasan dari Bedjo Untung yang pernah ditahan di kamp Tangerang ini (1972-1979) dan di Kamp Interogasi Kalong serta Penjara Salemba (1970-1972)
5. Delegasi Truth Foundation South Korea Selatan mengunjungi kuburan massal Jeglong Pati dan mampir di rumah Pak Supardi Ketua YPKP 65 Kabupaten Pati Jawa Tengah.








Your comment?