Tag Archives Pulau Buru

KEYANG: Jembatan Keyang, saksi bisu pembantaian massal para korban Tragedi 65 di Jetis, Ponorogo [Foto: Humas YPKP 65]
Dari Koblan ke Nusakambangan dan Buangan...

Dari Koblan ke Nusakambangan dan Buangan Pulau Buru [2]

Kisah Tapol Pulau Buru Musibah Pertama Unit S Pada keesokan paginya beberapa Tapol diperintahkan kembali ke Namlea untuk mengambil barang-barang yang masih tertinggal di kapal. Rudy merasa tak sanggup untuk tugas menempuh perjalanan kembali ini dan memilih tinggal di Unit 19 untuk memulai... read more »

KEYANG: Jembatan Keyang, saksi bisu pembantaian massal para korban Tragedi 65 di Jetis, Ponorogo [Foto: Humas YPKP 65]
Dari Koblan Ke Nusakambangan dan Buangan...

Dari Koblan Ke Nusakambangan dan Buangan Pulau Buru [1]

Kisah Tapol 65 Ponorogo Rumah kontrakan itu tak seberapa besar, bahkan tergolong kecil. Petaknya hanya terdiri dari kamar tidur dan ruang dapur. Bagian depan serupa teras yang hanya muat 3 kursi sekaligus berfungsi sebagai ruang tamu. Keadaannya biasa saja untuk tak dibilang sangat... read more »

KOMNAS HAM: Ketua Komnas HAM Taufan Ahmad Damanik tengah memberikan keterangan pers pada Kamis (10/1) di aula Media Center Komnas  HAM, Jakarta. [Foto: BU]
Bedjo Untung: “Masalahnya di Jaksa Agung...

Bedjo Untung: “Masalahnya di Jaksa Agung”

Soal Mandeknya Penyelesaian Kasus “Genosida 1965-66” Pada hari Kamis (10/1/2019) Komnas HAM menggelar konferensi pers di Media Center kantornya di  kawasan Menteng, Jalan Latuharhary Jakarta. Kelima komisioner ada di pertemuan yang diagendakan bagi awak media itu. Ada Ketua Komnas... read more »

Putu Oka Sukanta. FOTO/Putu Oka Sukanta
Putu Oka Sukanta, Menemukan Akupuntur di...

Putu Oka Sukanta, Menemukan Akupuntur di Penjara Orba

Oleh: Jofie Dwana Bakti – 3 September 2018 Putu Oka Sukanta adalah bekas seniman yang dekat dengan Lekra. Kini, ia menggantungkan hidup lewat akupuntur, keahlian yang didapatinya di penjara Orba.  Setahun sebelum Gerakan 30 September (G30S) meledak, Putu Oka Sukanta pergi ke Jakarta untuk... read more »

monga_emas1
Petaka Tambang Emas di Pulau Buru

Petaka Tambang Emas di Pulau Buru

Oleh: Nurdin Tubaka [Pulau Buru] 10 June 2018 Tenda-tenda biru dari terpal tampak memenuhi beberapa bagian di gunung ini. Letak tenda berdekatan dan tak beraturan. Pondok-pondok itu adalah ‘rumah’ sementara para penambang yang datang dari berbagai daerah untuk berburu emas di Pulau... read more »

pram_bbc

Mengenal Pramoedya Ananta Toer lebih dekat lewat catatan dan surat-surat

Sastrawan kawakan Pramudya Ananta Toer, yang karyanya selama ini menjadi inspirasi orang dalam memaknai sejarah perjuangan di tengah penindasan, ternyata memiliki sisi-sisi lain yang tak... read more »

Tuba bin Abdurahim [Foto: Humas YPKP 65]

Menuju Pulau Buangan

Penulis: Bedjo Untung, sebagaimana dikisahkan oleh Tuba* Nama saya Tuba, ayah saya bernama Abdurahim. Dalam Kartu Tanda Penduduk, KTP -yang pernah ditandai “ET” itu- nama saya... read more »

LPSK: Mardadi Untung. 80 tahun, didampingi putrinya Anggita tengah diperiksa petugas dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) saat menunggu pemeriksaan di Klinik Mata Nusantara Kebonjeruk, Jakarta (29/11) dalam persiapan operasi mata {Foto" Humas YPKP'65]

Trauma Screening dan “kembalinya mata” Mardadi Untung [2]

Cerita Screening Mardadi Untung diciduk militer sebelum ia berangkat ke Jakarta atas ajakan Nyoto yang mempermanai kekuatan sketsa dari karyanya. Nyoto adalah redaktur Harian Rakyat kala... read more »

MARDADI UNTUNG: Pelukis Mardadi Untung, 80 tahun, di depan karya yang belum diselesaikannya lantaran keburu mengalami kebutaan karena menderita katarak [Foto: Humas YPKP'65]

Trauma Screening dan “kembalinya mata” Mardadi Untung [1]

Meski bukan musim kemarau, kota Pemalang begitu gerahnya siang itu, mungkin juga siang pada hari-hari lainnya di wilayah Pantura Jawa. Tapi ketika kami tiba, rumah kost besar dengan serambi... read more »

Oie Hiem Hwie

Ditangkap Karena Dekat Soekarno, Di Pulau Buru Dekat Pramoedya

28 September 2017 Peristiwa Gerakan 30 September 1965 telah mengubah jalan hidup seorang Oie Hiem Hwie, bekerja sebagai wartawan surat kabar “Trompet Masjarakat” pada zaman orde lama membuatnya... read more »