Mengenal Pramoedya Ananta Toer lebih dekat lewat catatan dan surat-surat

44 Viewed Redaksi 0 respond
pram_bbc

Sastrawan kawakan Pramudya Ananta Toer, yang karyanya selama ini menjadi inspirasi orang dalam memaknai sejarah perjuangan di tengah penindasan, ternyata memiliki sisi-sisi lain yang tak banyak orang mengetahuinya. Apa saja?

Hallo, Gus.

Kau sudah besarkah sekarang? Kau sudah di klas 1 SD sekarang? Bagaimana angka-angkamu? Ingin benar aku lihat kau.

Gagahkah kau? Pasti kau bakal gagah seperti kedua kakekmu. Kau rajin belajar dan membantu bunda bukan? Cium padamu, dan sampaikan juga cium papah pada semua kakakmu dan pada bundamu.

Ayahmu selalu,

Pram.

Surat itu tertanggal 6 Oktober 1972, atau tepat tiga tahun setelah si pencerita ulung meninggalkan keluarganya. Dia ‘dibuang’ ke Pulau Buru.

Tak terbayang bagaimana orang itu, Pramudya Ananta Toer, di usia yang tak lagi muda, menahan kerinduan akan keenam putrinya dan putra satu-satunya, Yudisthira Ananta, yang pada saat itu baru menginjak tingkat pertama sekolah dasar.

Begitu banyak tanya di suratnya, menandakan rasa ingin tahunya akan kabar keluarganya yang terpisah sekian lama. Memastikan keluarganya tetap baik-baik saja meski dia terpaksa ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan di pulau terpencil di Timur Indonesia.

Surat menyurat memang sudah menjadi kebiasaan Pram dan keluarganya untuk bertukar kabar selama satu dekade mereka terpisah. Sayangnya, mereka harus mati-matian bersabar untuk menerima balasan dari sang ayah yang sepulangnya dari Pulau Buru memiliki hobi membakar sampah.

Itu diakui oleh salah satu putri Pram, Astuti Ananta Toer, “Kalau surat, kirim surat dari Jakarta ke Pulau Buru itu satu tahun. Lain halnya kalau ada pejabat yang mau ke Pulau Buru, kita baru titip,” kepada BBC Indonesia usai membuka pameran ‘Namaku Pram: Catatan dan Arsip’ di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta Selasa (17/04)

Itu pun butuh waktu berbulan-bulan untuk menanti pejabat yang kebetulan akan berkunjung ke Pulau Buru.

Berpuluh lembar surat, foto-foto yang sudah memudar dipajang di diorama selama pameran berlangsung hingga 20 Mei 2018

Berpuluh lembar surat, foto-foto yang sudah memudar dipajang di diorama selama pameran berlangsung hingga 20 Mei 2018

“Pak Pram tuh biar pun dia di Pulau Buru, dia pasti mengirim surat selalu. ‘Hormatilah ibumu, sayangilah ibumu, jangan sakiti hati ibumu’. Selalu dia bilang seperti itu di dalam surat,” ungkap perempuan yang akrab disapa Titi itu.

Dalam surat-surat balasannya dengan tulisan tangan yang sangat rapi, Titi bercerita banyak hal, termasuk celotehnya soal cedera kepala yang harus dideritanya lantaran kecebur got.

Gaya bertuturnya sangat runtut dan lugas, mirip seperti ayahnya.

Mengenal Pram lebih dekat

Surat-surat Titi kepada sang ayah merupakan salah satu dari surat-surat anak-anak Pram yang kini sedang dipajang dalam pemeran bertajuk Namaku Pram di Dia.Lo. Gue artspace, Kemang.

Pameran arsip dan catatan penulis yang sudah menulis lebih dari 50 judul buku seumur hidupnya ini membuat kita lebih mengenal dia secara lebih dekat.

Pameran ini memperlihatkan bagaimana Pram mengumpulkan cerita, mencari data, menjilid potongan-potongan berita untuk kemudian dirangkai dan diceritakan kembali, melalui tokoh-tokoh yang telah menggerakkan pemuda-pemudi yang tak terhitung jumlahnya.

Selama ini, Titi menjelaskan, orang mengenal Pram dari karyanya, namun tidak pernah tahu bagaimana proses berkarya seorang Pram.

“Jadi Pram itu menulis bukan asal menulis saja, Pram menulis hasil riset. Hasil Pram mempelajari sekian tahun untuk mendapatkan karyanya,” papar Titi.

Astuti Ananta Toer mengaku butuh waktu satu tahun untuk menerima balasan surat ayahnya yang kala itu diasingkan di Pulau Buru

Astuti Ananta Toer mengaku butuh waktu satu tahun untuk menerima balasan surat ayahnya yang kala itu diasingkan di Pulau Buru

“Untuk membuat seperti Bumi Manusia saja, Pram itu harus berhari-hari di perpustakaan,” ungkapnya kemudian.

Di balik buku-buku, tumpukan hasil riset yang dilakukannya bertahun-tahun, catatan-catatan soal ingatan yang dimilikinya dan sikap yang dibentuk oleh ketidakadilan yang dirasakan sekelilingnya, masih banyak tentangnya yang tidak diketahui, tertimbun dalam tumpukan buku dan pelan-pelan jadi tipis tergerus zaman.

Berpuluh lembar surat, foto-foto yang sudah memudar dipajang di diorama, termasuk tiruan ruang kerja Pram dan lembar-lembar ensiklopedia yang belum sempat jadi.

Salah satu ensiklopedia yang belum selesai itu adalah Ensiklopedia Citrawi Indonesia, kumpulan sejarah nusantara yang mulai Pram susun sejak 1958.

Sempat terhenti lantaran dia harus ditahan di Nusakambangan dan kemudian di Pulau Buru, Pram kemudian melanjutkan penyusunan ensiklopedia ini pada tahun 1980an, setelah dia dibebaskan dari Pulau Buru.

“Panjangnya bisa sampai 16 meter,” cetus Titi.

Salah satu pengunjung pameran tengah menikmati nukilan Ensiklopedia Citrawti Indonesia yang dipamerkan

Salah satu pengunjung pameran tengah menikmati nukilan Ensiklopedia Citrawti Indonesia yang dipamerkan

“Ensiklopedia Citrawi Indonesia, itu sebagian sudah dirampas sama pemerintah. Jadi ini tinggal sebagian, penggalan-penggalan,” imbuhnya.

Lalu bagaimana sang putri memandang ayahnya yang tak pernah berhenti menjadi inspirasi banyak orang demi memaknai sejarah perjuangan di tengah berbagai penindasan?

“Oh dia bapak yang baik, bapak yang adil yang bijaksana,” ujarnya sambil tersenyum.

Dia lalu menuturkan bahwa selama ayahnya hidup, Pram tidak pernah berhenti bekerja sampai-sampai sang ibu membebas tugaskan ayahnya untuk urusan dapur.

“Pram itu tidak pernah tahu urusan dapur. Jadi ibu bilang ‘Papah ini aja, menulis. Urusan dapur, urusan saya.’ Jadi Pram seumur hidupnya bekerja, bekerja terus makanya dia menghasilkan banyak karya,” tutur Titi.

Dinding perjalanan hidup yang memuat sepak terjang sejak Pramudya Ananta Toer

Dinding perjalanan hidup yang memuat sepak terjang sejak Pramudya Ananta Toer

Siapa sangka, pameran arsip Pram ini bermula dari nazar yang diucapkan Happy Salma, artis yang menjadi sutradara pementasan Bunga Penutup Abad, adaptasi dari karya Pram, Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa dua tahun lalu.

“Apabila pementasan ini menuai kesuksesan, saya ingin sekali membuat sebuah pameran yang berfokus pada Pram. Karya-karya Pram telah memberikan pengaruh besar dalam cara saya memandang dan menjalani hidup,” tutur Happy.

Dia lalu mengungkapkan pameran ini merupakan bentuk rasa terima kasihnya untuk Pram yang secara tidak langsung menjadi guru hidupnya.

“Saya ingin lebih banyak lagi orang yang tahu tentang Pram dan membaca karya-karyanya. Bahwa karya sastra mampu menggerakkan hati banyak orang dan membangun karakter seseorang dan pada akhirnya karakter bangsa adalah benar,” kata dia.

Lukisan dan sketsa Pram beserta keluarganya turut dipamerkan di pameran arsipnya

Lukisan dan sketsa Pram beserta keluarganya turut dipamerkan di pameran arsipnya

Gaung bersambut, pemilik Dia.Lo. Gue Artspace yang juga penggemar Pram, Engel Tanzil menyediakan ruang agar arsip dan bibliografi Pram bisa dinikmati khalayak.

“Pelan-pelan kami berproses bersama untuk mencari fokus dari pameran ini. Pameran inipun tidak mungkin terselenggara tanpa kerja sama dari keluarga besar Pramoedya Ananta Toer,” ujar Happy.

Lalu, mengapa pameran ini diberi judul Namaku Pram?

Tiruan ruang kerja Pram, menjadi salah satu yang dipamerkan di pameran 'Namaku Pram'

Tiruan ruang kerja Pram, menjadi salah satu yang dipamerkan di pameran ‘Namaku Pram’

Engel mengaku tak mudah memberi judul pameran ini, apalagi untuk seorang Pram. Namun, pada intinya, melalui pameran ini dia ingin berbagi dengan orang-orang tentang apa yang dia lihat dari Pram dalam proses pameran arsipnya ini.

“Mungkin dalam satu abad hanya satu orang seperti dia, bagaimana dia bekerja, bagaimana dia mengumpulkan catatan dan menggabungkan itu sebagai sebuah alur cerita bagaimana dia memberikan pemikiran itu begitu intens. Itu saya rasa adalah sebuah perkenalan, makanya judulnya adalah Namaku Pram,” kata Engel.

Sumber:  BBC Indonesia
Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
lbh_catahu2017

Redupnya Api Reformasi: Catatan Akhir Tahun Hukum dan HAM 2017

rip_mard.1

Lelayu | Mardadi Untung | 28 April 1937 – 11 Mei 2018

Related posts
Your comment?
Leave a Reply