Aksi Ambil-Alih Pabrik Gula Tersana Baru Tahun 1957

3377 Viewed Redaksi 0 respond
Andreas Turiman
  • Dalam rangka perjuangan pembebasan Irian Barat

Oleh: Andreas Turiman  

Aksi ambil-alih Pabrik Gula Tersanabaru (AAPGT), jika dilihat dari proses terjadinya di sekitar Desember 1957 sampai dengan ditulisnya kisah ini pada bulan Mei 2017, ini berarti telah terbentang waktu kejadiannya selama 60 tahun yang lalu. Oleh karena itu jika seandainya ada ketidak-akuratan penulisan tanggal, fakta atau kesalahan penulisan ejaan nama seseorang atau jabatannya ketika itu; saya mohon maaf yang setulus-tulusnya.

Situasi nasional ketika itu terasa cukup hangat bahkan cenderung semakin memanas, karena adanya berbagai gejolak dalam masyarakat, seperti:

  1. Menurut Konferensi Meja Bundar (KMB) Agustus – Novemebr 1949 di Den Haag. Di dalam rapat-rapatnya Panitia Kecil KMB pada tanggal 15 dan 22 Oktober 1949 tentang Nieuw Guinea (Irian) antara lain menyatakan:

“Panitia Kecil yang berkewajiban membicarakan soal Nieuw Guinea, Seksi B dari Panitia Kecil I, dalam rapatnya minggu ini, memutuskan untuk membentuk Badan-Pekerja, yang harus menyelidiki: apakah Nieuw Guinea masuk RIS atau tidak. Pendirian fihak Indonesia: Nieuw Guinea harus masuk RIS. Badan-Pekerja ini selama minggu antara 15 dan 22 Oktober, telah mengadakan perundingan informal 2 kali, tetapi belum mendapat kecocokan dengan fihak Belanda”. [Dikutip dari; “Perjuangan Di Konferensi Meja Bundar” (penyelesaian pertikaian Indonesia-Belanda) August – November 1949, hlm. 82, dikeluarkan oleh: Kementerian Penerangan Republik Indonesia].

Begitulah menurut KMB, masalah Irian Barat tidak jelas penyelesaiannya, sampai bertahun-tahun Belanda tidak mau berunding.

  1. Oleh karena itu, maka di dalam salah satu pidato Presiden Soekarno di Sidang Umum PBB beliau menyatakan:

“Kami minta kepada Sekretaris Jenderal PBB untuk memasukkan persoalan ini (Irian Barat) ke dalam agenda PBB di tahun 1954. Sengketa ini dibicarakan. Tidak terjadi apa-apa. Kemudian diulang kembali pada tahun 1955, ‘56, ’57… Pendeknya setiap tahun..

“Akan tetapi sekarang saya terpaksa memulai politik kekerasan. Tidak ada jalan lain lagi supaya Old Established Forces tahu siapa Indonesia. Tidak lagi kami akan berdiskusi. Milau saat ini kami menjawab dengan meriam…”.

“Biarkan mereka melaporkan, bahwa Sukarno tidak hanya bicara dengan mulut, tapi juga bicara dengan meriam dan sudah siap pergi berperang”. (“Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, Cindy Adams, hlm. 435-436).

  1. Kemudian ada kejadian yang mengejutkan, yaitu pada tanggal 1 Desember 1956, Bung Hatta mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden. Menurut Bung Karno: “Hatta antara lain berkeyakinan soal Irian Barat masih dapat diselesaikan melalui perundingan bilateral dan atau melalui forum PBB. Ia juga berpendapat, demokrasi parlementer menurut UUD Sementara 1950 hasil Konperensi KMB perlu dipertahankan. Meskipun demikian Bung Hatta tetap sahabatku..”. (“Saksi Sejarah”, Dr R Soeharto, hlm 127-128, disarikan)
  1. Hampir setahun kemudian, tepatnya 30 November 1957 pukul 20.55 terjadi percobaan pembunuhan terhadap Presiden Sukarno di Sekolah Dasar Cikini, yang kemudian terkenal dengan sebutan “Peristiwa Penggranatan Cikini”. Para pelakunya adalah gerombolan pengacau DI/TII (Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia). Usaha pembunuhan terhadap Presiden Sukarno itu gagal total, karena Presiden Sukarno selamat. Tetapi korbannya adalah anak-anak SD Cikini yang tidak berdosa bergelimpangan tewas menyedihkan karena kebiadaban DI/TII itu. Jumlah konkrit korbannya adalah: 7 orang meninggal, 20 orang luka berat, 40 orang luka ringan. Para korban tersebut hampir semuanya murid SD Cikini dan para petugas alat negara yang mengawal Presiden RI. (“Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967”, H. Mangil Martowidjojo, hlm. 169-180, disarikan).
  1. Pada awal Desember 1957, pemerintah Indonesia menyerukan adanya aksi-aksi mogok di perusahaan-perusahaan Belanda. Kemudian pada tanggal 2 Desember 1957, Kantor KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij, perusahaan pelayaran Belanda) di Jln. Medan Merdeka Timur; diambil-alih oleh kaum buruh. Pada hari yang sama, kaum buruh juga mengambil-alih Hotel Des-Indes.

Mengenai pengambil-alihan KPM, kepada H. Maulwi Saelan yang ketika itu menjabat Wakil Komandan Tjakrabirawa, Presiden Sukarno mengatakan:

“Pada masa itu, setelah usaha kita memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah RI melalui cara diplomasi gagal, maka bapak mengijinkan bekas anggota-anggotanya Tentara Pelajar mengamil-alih Kantor Pusat Perusahaan Pelayaran Belanda KPM (Koninklijke Paketvaart Maattschappij) di Jakarta. Dunia Usaha terkejut!”. (“Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66, hlm. 332-333, H. Maulwi Saelan).

Selain ijin dari Presiden Sukarno (lihat kutipan diatas), sesungguhnya motor/ tenaga penggerak aksi-aksi ambil-alih perusahaan-perusahaan Belanda adalah SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia) dan KBKI (Kesatuan Buruh Kebangsaan Indonesia).

Pada tanggal 6 Desember 1957 Kementerian Luar Negeri RI menginstruksikan semua perusahaan Belanda di Indonesia untuk menghentikan aktivitasnya. Sehari kemudian SBBSI (Serikat Buruh Bank Seluruh Indonesia) berusaha menduduki dan menguasai Bank-Bank Belanda di Indonesia. Pokoknya gelombang aksi-aksi ambil-alih perusahaan-perusahaan Belanda hebat berlangsung di berbagai daerah di Indonesia.

Seiring dengan semakin menghebatnya aksi-aksi ambil-alih perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia, pada tanggal 7 Desember 1957, Panglima Angkatan Laut Amerika Serikat di Pasifik, Felix Sump menerima radiogram dari Kepala Operasi AL Laksamana Arleigh Burke tentang perintah pengerahan pasukan AL Amerika Serikat ke perairan Indonesia karena “situasi kritis di Indonesia”.

Sejurus dengan itu, atas permintaan Belanda, NATO (North Atlantic Treaty Organization) menggelar sidang darurat untuk mendengar dan membahas laporan dari Indonesia.

Tanggal 9 Desember 1957, pers di Indonesia memuat Keputusan Perdana Menteri Juanda yang antara lain menyatakan bahwa semua Perusahaan Belanda, juga campuran Belanda-Indonesia, termasuk harta benda tak bergerak dan tanah-tanah perkebunan, sejak itu berada di bawah pengawasan Pemerintah RI. Pemerintah juga mengambil-alih pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan Belanda, termasuk KPM dan KLM, Bank-Bank Belanda, Perusahaan Niaga, Kantor-Kantor, Perusahaan/ Pabrik Gula, Stasiun Listrik, Perusahaan Gas dan lain-lain.

Pertengahan Desember 1957, Serikat-Serikat Buruh Belanda menyatakan mendukung perjuangan buruh dan rakyat Indonesia dan menuntut agar penjajah Belanda meninggalkan Irian Barat. Selain itu, pada Januari 1958, kubu negara-negara Sosialis dan negara-negara Asia-Afrika, baik peserta Konferensi Asia-Afrika Bandung 1955 maupun yang lainnya menyatakan mendukung perjuangan rakyat Indonesia terkait perebutan kembali Irian Barat dari cengkeraman kolonialis Belanda.

Kemudian pada sekitar Februari 1958, pihak Imperilasi beserta antek-anteknya untuk sementara berhasil menyulut pemberontakan separatis PRRI (Pemerintah Revolusioner Rakyat Indonesia) di Bukittinggi (Sumatera) dan Permesta (Piagam Perjuangan Semesta) di Sulawesi, gerombolan DI/TII di Jawa Barat dan segala bentuk subversif asing, yang nyatanya berhasil ditumpas oleh ABRI di bawah komando Panglima Tertingginya, Presiden RI Bung Karno.

Begitu banyaknya peristiwa politik dan keamanan di tingkat Nasional maupun Internasional yang saat itu dihadapi oleh bangsa Indonesia, sama sekali tidak menyurutkan kepemimpinan Bung Karno untuk tetap fokus berjuang merebut kembali Irian Barat dari kolonialis Belanda. Bahkan suhu politik terasa semakin memanas.

LORI: Kereta "Lori" pengangkut tebu untuk pabrik gula [Foto: Youtube]

LORI: Kereta “Lori” pengangkut tebu untuk pabrik gula [Foto: Youtube]

Bagaimana Aksi Ambil-Alih Pabrik Gula Tersanabaru?  

Memang “uap panas” perjuangan pembebasan Irian Barat benar-benar semakin memanas dan “uapnya” melanda seluruh tanah air. Bahkan panasnya juga terasa melanda daerah Cirebon, khususnya pada daerah-daerah yang ada pabrik gulanya milik kapitalis Belanda.

Pabrik-pabrik gula di daerah Cirebon, kalau tidak salah adalah milik swasta asing yakni NV. NILM (Nederland Indische Landbouws Maatschappij). Oleh karena itu pasti terlanda juga oleh gelombang aksi-aksi ambil-alih. Aksi tersebut berlangsung di sekitar bulan Desember 1957 atau awal tahun 1958; khususnya yang saya alami di Pabrik Gula Tersanabaru.

Saat itu di daerah Karesidenan Cirebon ada 6 pabrik gula. Selain pabrik gula Tersanabaru, yang lainnya adalah: pabrik gula Karangsuwung, pabrik gula Sindanglaut dan pabrik gula Gempol. Ada 4 di Kabupaten Cirebon, sedangkan yang 2 lainnya lagi adalah pabrik gula Jatiwangi dan pabrik gula Kadipaten; termasuk di Kabupaten Makalengka.

PG Tersanabaru. [Kredit Foto: albert-gieseler.de]

PG Tersanabaru. [Kredit Foto: albert-gieseler.de]

Seperti telah saya katakan di bagian pengantar tulisan, kisah aksi ambil-alih yang saya sampaikan disini adalah yang saya alami langsung di pabrik gula Tersanabaru, yang terjadi pada Desember 1957; 60  tahun silam. Maka ada baiknya diketahui dimanakah letak pabrik gula Tersanabaru itu. Ia terletak di desa kecamatan Babakan, Kawedanan Ciledug, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Saat pabrik gula Tersanabaru diambil-alih, administrateur dan para stafnya adalah: (maaf jika nama-nama di bawah ini salah ejaannya)

  1. Tuan Moree: Administrateur
  2. Tuan Lapian: Chief Aanplant
  3. Tuan Patilaya: Eerte Machinist
  4. Tuan Beekmann: Boekhouder
  5. Tuan Watimena: (lupa sebagai apa)
  6. Tuan Rumambi: Kepala Bengkel
  7. Tuan Effendi: (lupa sebagai apa)

Dan lainnya lupa nama dan jabatannya.

Aksi ambil-alih pabrik gula Tersanabaru ini adalah bagian tak terpisahkan dengan gelombang aksi ambil-alih di seluruh Indonesia dalam rangka perjuangan pembebasan Irian Barat dan sekaligus melaksanakan komando Presiden Sukarno yaitu agar kaum buruh dan seluruh rakyat Indonesia bersiap-siaga dimobilisasi untuk mendukung perjuangan ABRI dengan mulut-meriam di satu front; dan di front lain perjuangan di bidang ekonomi yaitu memotong urat-nadi ekonomi kapitalis Belanda di Indonesia dengan cara mengambil-alih perusahaan-perusahaan Belanda. Oleh karena itu khususnya perjuangan SBG (serikat Buruh Gula) dan kaum buruh gula Tersanabaru di Babakan Ciledug Cirebon ini merupakan bagian keseluruhan dari perjuangan pembebasan Irian Barat.

Di saat-saat SBG Cabang Tersanabaru mempersiapkan diri untuk aksi ambil-alih pabrik gula, di saat itu pula kira-kira di awal Desember 1957, hampir semua Serikat Buruh di Cirebon diundang oleh Kepala Staf Resimen-9 di Jln. Karanggetas (kini Jln. Sunan Gunungjati) dan gedungnya kini digunakan oleh sebuah toko serba ada (toserba) yang cukup terkenal di Cirebon.

Kapala Staf Resimen-9 yang ketika itu dijabat oleh Mayor Mustafa Sudirja (maaf jika salah nama) di dalam rapat tersebut intinya memerintahkan kepada segenap Serikat Buruh yang ada di perusahaan/ pabrik gula milik Belanda di daerah Cirebon agar mempersiapkan diri melaksanakan pengambil-alihan pabrik-pabrik gula milik Belanda yang ada di daerah Cirebon.

Rapat juga menetapkan pembentukan Dewan-Dewan Pimpinan Perusahaan/ Pabrik (Sementara) , yang komposisi pimpinan dan anggotanya ditetapkan leh Korem-9 dan Surat Keputusannya juga diterbitkan oleh Korem-9 Cirebon. Khusus untuk di pabrik gula Tersanabaru susunan Dewan Pimpinan Pabrik (Sementara) adalah sebagai berikut:

  1. Ketua: Letda CPM Maryono
  2. Anggota: Inspektur Polisi Suyoto dari Resort Ciledug Cirebon
  3. Anggota: Gunardi, pimpinan PAGI (Persatuan Ahli Gula Indonesia) Tersanabaru
  4. Anggota: Turiman, Ketua SBG (serikat Buruh Gula) Cabang Tersanabaru
  5. Anggota: Hawik Pratiknyo, dari BRN (Biro rekonstruksi Nasional) Cirebon.

Tugas utama Dewan Pimpinan Pabrik (Sementara) Tersanabaru antara lain:

  1. Mempersiapkan pengambil-alihan Pabrik Gula Tersanabaru
  2. Menyiap-siagakan seluruh kekuatan kaum buruh untuk melaksanakan dan mengamankan pengambil-alihan PG Tersanabaru
  3. Menyosialisasikan aksi pengambil-alihan ini kepada masyarakat di sekitar pabrik.
  4. Menerima dokumen serah-terima yang ditanda-tangani oleh Tuan Moree, administrateur pabrik, dan Letda CPM Maryono Ketua Dewan Pimpinan Pabrik (Sementara).
  5. Menyerahkan dokumen serah-terima (berikut seluruh asset fisiknya) dari Ketua Dewan Pimpinan Pabrik (Sementara) Letda CPM Maryono kepada Negara RI melalui Komandan Resimen-9 Cirebon.

 

Kisah Kesibukan SBG Menjelang “Hari-D” Ambil-Alih.

Sesuai dengan pembagian tugas yang telah disepakati di dalam rapat Dewan Pimpinan Pabrik (Sementara) DPPS, maka tugas Ketua antara lain memimpin, mengkoordinir dan mengontrol pelaksanaan tugas-tugas anggota DPPS.

Saya sendiri (Turiman) disamping sebagai anggota DPPS juga sebagai Ketua SBG Cabang Tersanabaru, berkewajiban membagi tugas secara internal SBG. Pertama-tama menanamkan kedisiplinan kepada seluruh anggota SBG. Kemudian membulatkan tekad untuk mensukseskan aksi ambil-alih ini. Tindakan konkritnya adalah membentuk Seksi Kelompok Inti yang terdiri tenaga-tenaga buruh muda militan yang terbagi menjadi 5 seksi, yaitu:

  1. Seksi Perkantoran: 7 orang
  2. Seksi Gilingan: 7 orang
  3. Seksi Ketelan: 7 orang
  4. Seksi Puteran: 7 orang
  5. Seksi Bengkel/ Listrik: 7 orang

Pimpinan kelompok inti ini adalah Sdr. Was’an, langsung bertanggung jawab dan tunduk kepada Ketua SBG Cabang Tersanabaru. Adapun tugas pokok kelompok inti termasuk seksinya masing-masing adalah keselamatan dan keamanan pabrik terutama di setiap seksinya dengan berkoordinasi kepada sesama anggota SBG yang menjadi petugas security resmi pabrik yang sedang bertugas.

Saya sungguh-sungguh minta maaf karena benar-benar lupa tanggal “Hari-D” ambil-alih. Kemungkinan besar antara tanggal 8, 9 atau 10 Desember 1957.  

Di suatu pagi “Hari-D” itu, suasana di halaman tengah antara bangunan pabrik dan gedung perkantoran, tampak tersusun rapi meja dan kursi-kursi untuk para undangan pejabat dari Karesidenan dan Kabupaten Cirebon, dari Kawedanan dan Kecamatan, serta para undangan penting lainnya untuk menyaksikan peristiwa bersejarah Aksi Ambil-alih Pabrik Gula Tersanabaru. Selain tamu VIP setingkat Karesidenan dan Kabupaten Cirebon, tampak pula ratusan kaum buruh gula anggota SBG di sekitar halaman tempat upacara.

Sedangkan Ketua dan para anggota Dewan Pimpinan Pabrik (Sementara) berdiri berjajar dari kiri ke kanan menghadap ke arah jajaran kursi para tamu VIP yang di tengahnya terdapat sebuah meja yang akan digunakan untuk penanda-tanganan Naskah Serah-Terima Ambil-Alih Pabrik Gula berikut seluruh assetnya.

Saat itu, jarum jam di tangan saya menunjukkan pukul 10 kurang 10 menit (09.50). sedangkan upacara seharusnya dilaksanakan tepat pukul 10.00, tetapi Tuan Moree (Administrateur) yang ditunggu-tunggu belum juga muncul dari kantornya. Ketua Dewan Letda CPM Maryono tampak gelisah langsung memandang ke arah saya sambil menengok mengarahkan pandangannya ke kantor Tuan Moree.

Saya memahami apa yang tersirat di dalam isyarat Letda CPM Maryono itu. Selain itu, ada juga pandangan sepasang mata lain yakni Sdr Was’an Pimpinan Kelompok Inti yang menunggu “gerakan jempol tangan kanan saya sebagai komando sandi gerakan”  yang hanya dipahami oleh saya dan Was’an. Tetapi saat itu sebelum saya menggerakkan jempol tangan kanan, saya lebih dulu mendekati Letda CPM Maryono untuk membisikkan kata-kata:

“Let, bersama Inspektur Suyoto jemput lah Tuan Moree itu, jika dalam waktu 5 menit Letnan belum muncul bersama Tuan Moree, maka saya akan perintahkan Kelompok Inti saya untuk membujuk dan menjemput Tuan Moree ke sini dengan cara kami”.

Bersyukur lah, bahwa aksi Letda CPM Maryono dan Inspektur Polisi Suyoto berhasil menjemput Tuan Moree ke meja upacara, sehingga peristiwa “pembujukan dan penjemputan” oleh kelompok Inti Seksi Perkantoran; tidak perlu terjadi.

Maka setelah sedikit pengantar dari pembawa acara terjadi lah saat penanda-tanganan Naskah Serah Terima yang berlangsung dengan khidmat disaksikan oleh seluruh hadirin sambil berdiri sebagai penghormatan atas peristiwa bersejarah tersebut.

 

Issue Tentang Pimpinan Pabrik  

Ada issue yang beredar dan menjadi topik pembicaraan seru di kalangan kaum buruh dan masyarakat sekitar pabrik. Yaitu tentang nama-nama calon yang akan menjadi pemimpin pabrik gula setelah pabrik diambil-alih. Issue yang menonjol adalah yang menyebutkan:

“Ketua SBG (Turiman) mencalonkan diri untuk jadi pimpinan pabrik”.

Sebagai orang yang diissuekan demikian, tentu saya harus menanggapinya. Pertama, issue tersebut saya diskusikan di kalangan pimpinan cabang SBG Tersanabaru. Kedua, diskusi pimpinan itu sekaligus saya jadikan ajang untuk membahas konsep SBG untuk pemimpin inti yang akan memimpin pabrik sebagai Perusahaan Milik Negara. Singkatnya, SBG telah memutuskan: Konsep SBG untuk Calon Pemimpin Pabrik sebanyak 3 orang.

Ternyata benar juga issue “Turiman menjadi calon pemimpin pabrik”, terbukti oleh kedatangan Sdr Abdulmajid dan temannya yang menemui saya. Perlu diketahui bahwa mereka ini dari pimpinan PAGI (Persatuan Ahli Gula Indonesia). Tujuan utama menemui saya adalah menanyakan “issue yang hangat tersebut di atas”. Setelah melalui dialog yang akrab dan bersahabat, akhirnya berkesimpulan bahwa nama calon “Turiman” tidak ada di dalam Bursa SBG untuk calon pemimpin pabrik yang 3 orang itu.

Bahkan mereka senang karena konsep SBG dan konsep PAGI ternyata persis sama, yakni:

  1. Bapak Lapian sebagai Administrateur
  2. Bapak Watimena sebagai Chef Aanplant
  3. Bapak Ir Patilaya sebagai Eerste Machinist

Dengan adanya kesamaan konsep tersebut, maka terbantah lah issue tentang “Turiman calon pemimpin pabrik”. Kalau issue semacam ini timbul di tahun 2016-2017 an, orang menyebutnya sebagai hoax.

Saya ingatkan, pengalaman ini mengisahkan peristiwa/ fakta sejarah pengambil-alihan pabrik gula Tersanabaru yang terjadi di sekitar tahun 1957 – awal 1958. Sehingga fakta-faktanya tentu sesuai dengan situasi dan kondisi yang amat sangat berbeda dengan situasi dan kondisi ketika kisah ini saya tulis pada Mei 2017. Ini berarti peristiwanya telah 60 tahun berlalu.

Ketika saya menulis kisah ini saya berumur 83 tahun karena saya lahir pada 23 Mei 1934. Maka sebagai seorang mantan anggota Dewan Pimpinan Pabrik (Sementara) yang termuda usianya diantara Ketua dan anggotanya, saya ingin mengucapkan kepada mantan Ketua dan semua anggota (kecuali mas Gunardi yang saya dengar telah wafat): semoga bapak-bapak semua masih dalam keadaan sehat wal afiat, masih menyimpan Surat Keputusan Penetapan sebagai ketua dan Anggota Dewan Pimpinan Pabrik (Sementara) yang diterbitkan oleh Markas Komando Resimen-9 Cirebon.

Meskipun itu hanya sehelai “kertas” tetapi kertas itu adalah dokumen bersejarah sebagai bukti tentang “setitik andil” kita di dalam kancah perjuangan pembebasan Irian Barat. Kita, anggota Dewan Pimpinan Pabrik (Sementara) yakin bahwa kita tidak punya pamrih apa pun kecuali pengabdian kepada bangsa dan negara yang kita cintai; Indonesia.

Saat itu, betapa hebat dan sengitnya gelombang pasang perjuangan pembebasan Irian Barat, dimana setitik kecil kita berada di tengah-tengahnya, seperti fakta-fakta sejarah yang disebutkan di muka dan ditambah lagi oleh bukti catatan sejarah berikut ini:

  1. Tepat pada tanggal 17 Agustus 1960, Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Nederland;
  2. Selain berjuang lewat forum PBB pada tahun 1960 dan 1961, Presiden Sukarno juga mengadakan kunjungan ke berbagai negara sahabat antara lain: ke Amerika Serikat untuk mengadakan pembicaraan dengan Presiden John F Kennedy. Ke Uni Soviet juga untuk mengadakan pembicaraan dengan PM Nikita Khruschov, dan juga ke negara-negara sosialis lainnya, terutama ke RRT (Republik Rakyat Tiongkok) untuk mengadakan pembicaraan dengan Ketua Mao Tse-Tun, PM. Chou En-Lai dan pejabat tinggi lainnya untuk membicarakan bantuan moril, diplomatik dan persenjataan;
  3. Bertepatan waktunya dengan peringatan tahun ke-13 penyerbuan Belanda ke Yogyakarta, yakni tanggal 19 Desember 1961 Presiden Sukarno mengumumkan Trikora (Tri Komando Rakyat) yang isinya:
  4. Gagalkan pembentukan “Nagara Boneka Papua” buatan Belanda;
  5. Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat Tanah Air Indonesia;
  6. Bersiap lah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan Tanah Air dan Bangsa.
  7. Serangan ke Irian Barat dilakukan pada tanggal 14 Januari 1962;
  8. Usaha sekutu-sekutu Belanda di PBB untuk menuduh RI sebagai “agressor” digagalkan oleh veto Uni-Soviet dan pada tanggal 15 Mei 1962 PBB memerintahkan gencatan senjata;
  9. Dengan penengah Elsworth Bunker dari PBB, diadakan perundingan antara delegasi Belanda yang terdiri dari Van Royen dan Schuurman dan delegasi Indonesia yang terdiri dari Adam Malik dan Tjondronegoro SH;
  10. Tercapai lah persetujuan antara lain:
  11. Mulai tanggal 1 Januari 1963 Sang merah Putih berkibar di Irian Barat;
  12. Dalam periode 1 Januari 1963 sampai 1 Mei 1963 administrasi Irian Barat berada di tangan United Nations Temporary Excutive Adimintration (UNTEA) yang selanjutnya pada tanggal 1 Mei 1963 menyerahkan kepada RI;
  13. Selambat-lambatnya pada taun 1969, penduduk Irian Barat harus sudah melakukan Act of Free Choice dan penentuan pendapat rakyat di bawah pengawasan PBB.

Akhirnya tanggal 1 Mei 1963 adalah hari bebasnya Irian Barat dari cengkeraman kolonialis Belanda, kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Solo, Mei 2017
Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Allan Nairn dan ‘Makar Para Jenderal’

Kisah Mogok-Duduk dan Mogok-Total Tahun 1956

Related posts
Your comment?
Leave a Reply