NYAWAMU TERBENAM DI KALI BACEM (Cerpen Bagian Kedua) oleh EDDY J SOETOPO

1130 Viewed Redaksi 0 respond

“Saya tidak ingat betul madam Irina. Setelah saya dan teman-teman lain disiksa dan dipenjara berpindah-pindah dari Solo ke Nusa Kambangan kemudian dilanjut ke Buru, bertahun-tahun saya tidak bisa berhubungan lagi dengan Asti. Saya dengar dia dititipkan ke Telawa, kota kabupaten oleh bapak angkatnya tentara itu. Saya tidak tahu lagi, kemana. Kabarnya dia bisa studi bahasa di luar kota dan memperoleh beasiswa dari presiden ke luar negeri,” tutur Genjhik menerawang.

 

Mendengar, penuturan cerita itu, Irina langsung mendekap Genjhik dan berteriak, “bapa masih keluarga saya…” Kemudian pingsan.

 

cerpen bagian pertama

 

Panas menyengat merobek ubun-ubun ketiga anak manusia yang dipertemukan tanpa sengaja. Ketiganya, Irina, Wasis Wicoro dan Nurari, baru menjalin persahabatan ketika kota asal nenek moyang Irina, sebelumnya mereka tidak saling mengenal menjalani kehidupan di jantung kota budaya, Solo. Mereka sepakat tetap akan menelusuri jejak tragedi kelam di masa lalu di kota kelahiran kakak angkat kekek Irina, Kastam, yang lenyap tanpa bekas diciduk tentara atas perintah komandan di Jakarta.

 

Tadinya Nurani, nenek renta usia yang ditemui Irina di kuburan, sepakat lebih senang naik andong, tetapi becak akhirnya yang dipilihnya dari alas Krendowahono menuju tengah kota berdua dengan Irina menelusuri kampung yang pernah dijadikan markas tahanan disekap. Setiap jengkal kampung direkam dalam ingatan dan dicatat Irina dalam perjalanan. Sesekali Ia menanyakan nama jalan kampung yang dilalui dan mengambil gambar dari camera hand phone canggih yang dibawanya.

 

Dengan terengah-engah pengemudi becak mengantarkan Irina dan Nurani dengan kawalan Wasis naik sepeda onthel Gazelle dari samping. Sesekali Wasis juga membantu mendorong dengan menjejak spate board becak dari belakang dengan kakinya, saat pengemudi becak tak kuasa lagi melajukan roda becak yang mengangkut Irina dan Nurani di jalan menanjak.

“Saya bantu nendang dari belakang yach pak,” ujar Wasis melontarkan kata ketika ingin membantu pengemudi becak.

 

Tak berapa lama, becak yang dinaiki Irina dan Nurani meluncur lewat jalan sempit di jembatan Arifin menuju Balaikota dan berhenti di depan markas tentara di samping gereja Purbayan. Dengan terbata-bata, Irina mengajak ketiganya makan di samping burderan, “Sebaiknya kita cari makan di belakang gereja. bapak penarik beca kita ajak sekalian makan,” kata Irina berbahasa Rusia dan diterjemahkan Wasis pada nenek Nurani dan pengemudi becak.

 

Ingatan Irina melayang ke masa lalu yang pernah diceritakan kakek buyutnya dalam peristiwa mencekam saat tragedi 65 memporak-porandakan ketenangan hidup di kota bengawan, mendengar cerita Wasis, Nurani penunggu makam, dan pengemudi becak saat makan siang. “Silakan nenek, bapa-bapa makan seadanya. Terserah memilih menu maeman apapun, tidak usah ketakutan, kali ini kami yang mentraktir,” ujar Irina dengan suara tercekat, “kami pernah dengar, ada diantara bapa yang pernah mengalami masa suram saat disel di kantor tentara. Saya juga membaca naskah yang ditulis kakek buyut soal penyiksaan dan menjemur tahanan di atas besi seng tanpa baju di depan balaikota dulu.”

 

Raut wajah Irina kusut masai, sekusut pakaian kotor yang dikenakan sewaktu ditendang nyungsep ke dalam lubang kuburan alas Krendowahono semalam. Peluhnya acap menetes saat ia menyeruput wedang jahe seperti anjuran keluarganya di Rusia sebelum ke negri leluhurnya. Meski udara panas menyengat ketiga orang yang ditraktir makan siang di samping gedung burderan, tempat rohaniawan melepas penat usai kebaktian, Irina dengan takjim mendengarkan cerita mengenaskan saat puluhan orang yang dituduh komunis dijemur di atas seng bergelombang tanpa pakaian di depan balaikota.

 

Sebagai ahli forensik dan jurnalis yang pernah meliput di medan pertempuran, Irina kaget setengah mati saat mendengar cerita-cerita horor meluncur deras dari Wasis Wicoro dan Nurani hingga air minum yang akan diseruputnya tumpah. Waktu itu, ujar Wasis, sopir truk pengangkut mayat korban, hampir saja dirinya juga menjadi salah satu korban yang dijemur di atas lembaran seng sejak pagi sampai sore di halaman balaikota.

 

“Bukan hanya saya yang dijemur. Saya tidak bisa hitung berapa jumlah orang lain ikut dijemur. Hanya boleh memakai celana dalam. Madame bisa bayangkan, kami diciduk dari gedung di sebelah,” ujar Wasis sembari menunjuk markas tentara tak jauh dari warung tempat makan mereka, “semua diglandang dari gedung tahanan. Setelah dijemur, di iket lagi disuruh jalan jongkok ke gedung itu.”

 

“Kenapa bapa tidak jadi ditembak di jembatan kali Bacem dulu?” tanya Irina pada Wasis sembari mencatat dan merekam pembicaraan dengannya

 

“Saya tidak tahu. Mungkin kersane Gustiallah saya tak jadi dibawa ke Bacem dan ditembak,” ujar Wasis menerawang, “apa madame Irina dan keluarga kakek-nenek percaya dengan Gustiallah?”

 

“Tentu saya tahu dan paham. Keluarga saya percaya pembuat hidup. Tapi apa alasan orang yang menjemur bapak dan menyiksa kalian, itu yang saya tidak paham,” tutur Irina minta penjelasan pada Wasis, “apakah kalian mencuri, merampok dan membunuh orang.”

 

“Kami bukan perampok dan pembunuh. Saya hanya dituduh ikut partai komunis. Saya tidak pernah terlibat sebagai anggota partai. Bagaimana mungkin ikut partai, saya kerja sebagai sopir truk pengangkut beras dan barang dari pasar legi, dan bisa menambal panci yang bocor,” kata Wasis, “entah mengapa justru saya dipilih jadi sopir, tidak jadi ditembak di Bacem.”

 

Bukan hanya Wasis yang memberi penjelasan kepada Irina soal pencidukan — penahanan paksa tanpa sebab– nenek renta Nurani penjaga kuburan alas Krendowahono pun bercerita panjang lebar kejadian di desanya di Purwodadi.

 

“Benar apa yang diceritakan mas Wasis itu madame, keluarga saya diseret dari desa dan di-dor dipinggiran kalen samping sawah di belakang rumah,” tutur Nurani sembari menyeka air matanya dengan selendang butut yang dikenakannya. Lagi-lagi Irina terperanjat mendengar pengakuan Wasis dan Nurani hingga ia tak bisa berkata-kata dan melanjutkan makan siang pecel lele di hadapannya.

 

Diliriknya ketiga rekan seperjalanan yang sedang menyantap makan di sebelah dan depannya. Kerongkongan Irina tak lagi sanggup menelan nasi pecel dan lauk tempe seperti yang disarankan neneknya sebelum berangkat ke negeri mbahbuyutnya dari Rusia. Irina masih ingat betul wejangan nenek yang mewanti-wanti agar ia makan dengan lauk seadanya, tahu-tempe dan gereh, agar dirinya ikut merasakan penderitaan para tahanan di markas tentara di sebelah gereja dahulu kala. Itulah sebabnya, Irina tidak canggung membaur bersama para korban yang pernah merasakan penganiayaan ketika ditangkap dan disel dalam tahanan militer.

 

Matahari mulai tergelincir ke arah barat daya, jelang temaram senja tersaput jingga. Sedianya Irina ingin bertamu ke dalam burderan, tapi ia batalkan niatnya. Bersama kedua teman seperjalanan dan penarik becak, Irina mengajak ke bangunan baru balaikota setelah singgah di selasar luar gereja sembari memejamkan mata, entah doa apa yang dirapalkan lewat otak encernya. Kenangan masa silam kakek buyutnya yang diceritakan ibunya acap terlintas lewat siluet layar memori ketika ia ke halaman balaikota yang kini tampak asri ditanami hijau rerumputan dan paving.

 

Ia tak bisa membayangkan kejadian itu telah berlalu puluhan tahun lalu, ketika para tahanan dijemur di atas seng-logam bergelombang tanpa mengenakan pakaian sejak pagi hingga sore hari. Irina tak menyadari airmatanya meleleh saat dirinya nggelesot di bawah pohon beringin di depan halaman balaikota, dan diberi kacu merah kumel penarik becak, Genjhik, 87 tahun, namanya, yang diajaknya ngobrol bersama Nurani dan Wasis Wicoro.

 

Baru kali ini Irina memperhatikan Genjhik, penarik becak yang mengantar dirinya dari alas Krendowahono menuju ke tengah kota bersama Nurani, nenek renta penunggu kuburan. Justru cerita-cerita seram dari pinggiran kali bengawan Solo  Genjhik mengetahuinya secara jelas. “Bagaimana bapa tahu kalau di halaman ini dulu dijadikan tempat penyiksaan,” tanya Irina pada Genjhik sembari menyeka keringat dengan kacu darinya.

 

“Apakah saya boleh ngomong blak-blakan nonya Irina?” tanya Genjhik pada Irina yang lagi bengong

“Silakan bapa. Tidak ada yang melarang. Jangan takut. Bila bapa memang mengetahui duduk perkara dimasa lalu,” ujar Irina santun. “Dimana bapa tinggal dan mengapa bapa jadi tahanan dan ikut dijemur?”

 

Suatu ketika pada malem jum’at kliwon, tutur Genjhik pada Irina sembari nyeruput minuman teh nasgithel –panas legi kenthel- di warung segopecel, depan burderan, pintu rumahnya di samping kali bengawan Solo, ditendang sekawanan orang berbaju hijau memakai spatu lars. Merasa tidak tahu-menahu persoalan yang dituduhkan orang-orang itu, seluruh keluarganya tetap digelandang ke atas truk militer, menuju entah kemana. Ia baru menyadari kalau anak perempuan yang saat itu sedang mencuci pakaian di pinggir kali, tidak turut serta diciduk naik truk.

 

Berulangkali Genjhik dan isterinya diinterograsi dan dibentak-bentak bersama lebih dari 13 orang yang diiket memakai dadung –tali terbuat dari ijuk- dan disuruh mengaku sebagai anggota Partai Komunis Indonesia dan terlibat pembunuhan. Ia tidak terima dituduh seperti itu dan berteriak-teriak tidak pernah melakukannya. Meski ketigabelas orang yang diikat itu ada juga diantara mereka mengaku jadi simpatisan, karena tidak tahan disiksa saban hari.

 

“Sumpah demi gustiallah, saya tidak pernah jadi anggota partai dan tidak pernahmelakukan pembunuhan dan pembakaran rumah-rumah yang pak tentaratuduhkan,” jawab Genjhik.

 

Mendengar jawaban itu, tutur Genjhik bercerita sembari menerawang di hadapan

Irina dan kedua rekannya yang lain di tikar penjual nasi segopecel. Bukannya militer

yang bertanya itu manggut-manggut dan percaya, tetapi justru yang didapatnya

popor senjata laras panjang buatan soviet AK-47 hingga merontokan giginya.

 

“Sakitnya bukan main madame Irina. Ada tiga gigi depan saya rontok. Bukan hanya

sekali, tapi berulang-ulang,”

 

Masih beruntung, tutur Genjhik melanjutkan ceritanya, anak perempuan saya diselamatkan tetangga dan dibawa ke rumah seorang tentara di kampung Jagalan, hingga ia dewasa. Meskipun dirinya dan istrinya setiap hari di dalam sel tentara di samping gereja, ia tidak berani bertanya isterinya disekap di penjara mana. “Saya tidak tahu. Saya dengar setiap hari diabsen satu-persatu sebelum dijemur di depan balaikota, nama istrinya tak disebut. Dalam hati, pasti sudah praloyo, meninggal dunia.”

 

Hampir setiap hari, Genjhik dan tahanan lain disiksa dan dijemur, ditanya dengan pertanyaan sama. Sebulan setelah itu, Genjhik dibawa ke kali Bacem bersama tahanan lain. Dalam hati, tutur Genjhik, masa hidupnya akan berakhir di atas jembatan. Setiap kali mendengar absensi yang dipanggil dan dibawa ke Bacem, bulu kuduknya berdiri. Satu persatu orang-orang yang dijemur mulai berkurang setelah diangkut ke kali. Salah satunya, anak muda bernama Kastam.

 

Mendengar jawaban itu, Irina terperanjat dan sersedak hingga minuman yang telah berada di kerongkongannya muncrat keluar saking gembiranya.

 

“Bapa tahu nama Kastam dari mana?” tanya Irina pada Genjhik terkejut

“Dari daftar absensi yang diteriakkan tentara sewaktu dijemur di halaman balaikota. Pernah dia jejer dengan saya waktu di samping kiri, dan membisikkan namanya, Kastam,” tutur Genjhik pada Irina, “setelah itu saya tak melihat lagi. Saya dengar di bawa ke kali.”

 

Mendengar jawaaban itu, Irina tak bisa berkata-kata dan bertanya pada Genjhik lagi. Meski demikian, dalam hati Irina masih tidak percaya, kalau kakak angkat kakek buyutnya itu ikut menjadi korban pembantaian di atas jembatan kali Bacem. Tanpa sadar Irina mengeluarkan tabung berisi rambut Kastam yang dibawa dari Rusia, untuk melacak jejak DNA mencari bukti keberadaan kerangka jazad korban yang meninggal dunia dihabisi tentara atas perintah komandan di Jakarta

 

Tabung reaksi berisi rambut kakak kakek buyutnya yang dibawanya dari laboratorium forensik tempat Irina bekerja disebuah lembaga kajian genosida diamatinya kembali. Rangkaian susunan sel DNA maupun RNA yang diterima dari kiriman rekan sejawat di Rusia diamatinya dilayar hand phone dengan seksama. Ia bertekat menemukan sisa batok kepala, paling kurang, kerangka jenazah yang terkubur dalam tanah puluhan tahun lalu, ingin dituntaskan. Termasuk, jumlah orang-orang yang menjadi korban sewaktu pembantaian di kali Bacem dan tempat lain di tiga kota.

 

Setidaknya ketiga rekan dalam membantu menemukan dan mengungkapkan jejak kuburan Kastam, kakak angkat kakeknya, dan orang lain kenalanan keluarganya, masih ingat tempat-tempat mereka yang dihabisi di atas jembatan kali Bacem dan dihilangkan nyawanya di tempat lain akan terkuak perlahan-lahan kuburannya. Kali ini, bisik Irina dalam hati, kemungkinan jejak kuburan Kastam bakal ditemukan. Titik terang itu diceritakan Genjhik, yang pernah disiksa di halaman depan balaikota dan pernah bersama mendekam dalam sel penjara.

 

“Bapa bagaimana rupa kakak angkat kakek saya seperti dalam foto yang saya bawa ini,” ujar Irina pada Genjhik sembari memperlihatkan wajah Kastam sedang berpose di samping speda onthel Gazelle.

 

“Saya yakin, persis ibu madame Irina. Saya ingat betul wajahnya, agak putih, tingginya hampir sama dengan saya,” jawab Genjhik, “dulu ikut bekerja dengan tentara di kampung penyembelihan sapi di daerah Jagalan. Sekolah teknik mesin.”

 

“Apa yang bapa ingat dari cerita-cerita tentang pekerjaan dan aktivitas Kastam waktu itu?” tanya Irina lebih lanjut

 

“Dia tidak banyak bicara tentang masa lalunya. Hanya pernah bercerita kalau nak Kastam, tidak pernah ikut partai. Dia ingin menyelesaikan sekolah teknik negri (STN). Setiap hari, selain menjaga rumah bapak angkatnya, tentara pangkatnya letnan, dia sering datang ke kampung Sewu. Berteman dengan anak saya, Prasasti Maeswaty.”

 

“Hah? Siapa nama anak bapa,” tanya Irina terbelalak, tidak percaya, “coba diulang, siapa anak bapa yang dimaksud. Apakah yang dulu, sewaktu rumah bapa didobrak waktu menangkap, sedang mencuci di kali bengawan Solo?” kata Irina sambal terkejut mendengar nama anak perempuan Genjhik disebut.

Srengenge sore hari tergelincir di ufuk barat daya didekap lembayung jingga. Meski lebih dari satu jam Irina tak kuasa membendung aliran airmata mendengar pengakuan sahabat barunya Genjhik, sang penarik becak di depan kedua rekannya yang lain, ia tetap bertahan mendengarkan cerita dengan seksama. Betapa tangguhnya jurnalis perempuan yang pernah melanglang di medan pertempuran Bosnia-Herzegovina, tak membuatnya tegar saat mendengar nama silsilah trah keluarganya disebut. Ia tidak menyangka, Genjhik yang mengantarkan dari kuburan alas Krendowahono ternyata memiliki kemiripan genetik sama dengan kakek-buyut keluarganya.

 

Meskipun keluarga neneknya, tidak secara spesifik menyebut asal-muasal dari daerah kampung Sewu, nalurinya mengatakan Prasasti, putri Genjhik yang selamat sewaktu penangkapan sedang mencuci di sebuah delta di tengah kali Bengawan Solo, mengaliri gen pada dirinya. Sebelum memutuskan untuk mencari Kastam, kakak angkat kakeknya, ibunya mewanti-wanti berpesan agar ia mencari jenasah yang terkubur dari pinggir jembatan Bacem dan meneruskan pencariannya ke ‘pulau’ kecil di tengah Bengawan Solo.

 

Banyangan itu baru disadarinya ketika ia terseret dalam lintasan serpihan cerita dari ketiga teman yang menemani melakukan pelacakan sejarah masalalu keluarganya. Pesan ibunya itulah yang mengharu-biru perasaannya, saat Genjhik bertutur tak henti-henti mengisahkan pertemuan Prasasti Maeswati anaknya dengan Kastam saat dijemur dan berdarah-darah di halaman balaikota digebuki tentara

 

“Anak saya tidak bisa mendekat sewaktu nak Kastam digepuki sebelum dijemur di halaman Balaikota. Asti, saya sering panggil dia dengan nama itu, hanya bisa nginjen dari samping greja Purbayan, ngelihat darah tercecer memerahkan seng gelombang buat njemur tahanan,” tutur Genjhik bercerita sambil menundukkan kepala terisak. “Anak saya mana berani mendekat. Saya dan Kastam, hanya bisa melihat dari jarak tak lebih 5 meter. Kami ingat betul. Asti diantar seorang tentara, bapak angkatnya dan dibiarkan melihat kami disiksa.”

 

Mendengar penuturan Genjhik dan dua teman lainnya, Irina ingin meyakinkan apakah Prasasti Maeswaty yang diceritakan itu sebenarnya adalah ibunya, Irina mengambil foto kusam coklat yang dibawanya dari Rusia sembari bertanya.

 

“Seberapa dekat kakak angkat kakek ayah saya Kastam  berkenalan dan berhubungan dengan putri bapa?”

 

“Saya tidak ingat betul madam Irina. Setelah saya dan teman-teman lain disiksa dan dipenjara berpindah-pindah dari Solo ke Nusa Kambangan kemudian dilanjut ke Buru, bertahun-tahun saya tidak bisa berhubungan lagi dengan Asti. Saya dengar dia dititipkan ke Telawa, kota kabupaten oleh bapak angkatnya tentara itu. Saya tidak tahu lagi, kemana. Kabarnya dia bisa studi bahasa di luar kota dan memperoleh beasiswa dari presiden ke luar negeri,” tutur Genjhik menerawang.

 

Mendengar, penuturan cerita itu, Irina langsung mendekap Genjhik dan berteriak, “bapa masih keluarga saya…” Kemudian pingsan.

 

Solo, 13 Maret 1998

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

NYAWAMU TERBENAM DI KALI BACEM oleh EDDY J SOETOPO (Cerpen Bagian Pertama)

7 April 2022 : YPKP 65 (YAYASAN PENELITIAN KORBAN PEMBUNUHAN 1965-1966) GENAP 23 TAHUN

Related posts
Your comment?
Leave a Reply