Mengapresiasi “Tanah Air” karya Martin Aleida

405 Viewed Redaksi 0 respond
Martin Aleida [Foto: biemco]
Martin Aleida [Foto: biemco]

Harian terkemuka Kompas telah memilih karya sastra cerita pendek terbaik yang terbit sepanjang tahun 2016 lalu. Diantara 20 karya sastra, cerpen “Tanah Air” karya Martin Aleida terpilih mendapatkan penghargaan sebagai cerpen terbaik. Karya sastra ini diterbitkan Kompas pada Minggu 19 Juni 2016 tahun lalu.

Martin Aleida memang memilih spesialisasi tema dalam kerja sastranya yakni dengan mengangkat kehidupan para eksil yang di masa lalu oleh rezim Soeharto dicabut hak kewarganegaraannya. Anak bangsa yang pada masanya itu tengah tugas belajar menimba ilmu di berbagai negara, karena berseberangan pandangan politiknya dengan rejim militer, lalu dianggap sebagai manusia buangan seiring kemelut politik 1965; yang menandai awal kekuasaan Soeharto yang militeristik.

YPKP 65 mengapresiasi penganugerahan ini sebagai hal yang semestinya, karena karya sastra merupakan bagian penting dari missi kebudayaan dalam visi pembebasan kemanusiaan. Sejak awal Orde Baru, sejak sejumlah intelektual Indonesia yang dikirim ke luar negeri untuk tugas belajar itu dicabut status kewarganegaraannya, lantas diposisikan sebagai manusia buangan di negeri asing; sejak itulah kemanusiaan dipenjarakan meski tanpa sel bui yang mengungkungnya.

“Para eksil yang dicabut kewarganegaraanya, pada gilirannya menjadi manusia yang dirampas kemerdekaannya”, urai Ketum YPKP 65. “Mereka jadi warga negara tanpa kewarganegaraan”, sambungnya dalam sebuah dialog.

 

Sastrawan yang Menyuarakan Kebisuan

Para eksil diasingkan dalam realitas sunyi yang tak pernah diakui hak-hak esensialnya oleh negara; dianggap tiada dan disenyapkan eksistensinya sebagai manusia. Bagaimana mereka, para eksil itu, bertahan hidup di kesunyian yang dinihilkan sama sekali dari kepedulian negara; sedikit yang peduli.

Dan Martin Aleida adalah satu dari yang sedikit itu. Dia tak sekedar menulis cerita-pendek, melainkan menghujam ke tengah sunyi itu; untuk kemudian mentransformasikannya dalam sastra sebagai medianya.

Membaca kebanyakan cerpen Martin Aleida mendapati realitas utuh dari sebuah obyek yang tercekat dalam labirin, telusur yang gigih sastrawan kiri ini telah membongkar kebisuan menjadi subyek yang bertutur tentang realitas sejarah yang lama disingkirkan. Begitu pula dengan cerpen “Tanah Air” yang meraih predikat sebagai cerpen terbaik Kompas 2016.

Martin banyak melakukan perjalanan jajah desa milang kori ke berbagai negara untuk mendekat sumber yang menjadi obyek cerita pendeknya. Sebagai manusia buangan para eksil memang tersebar di banyak negara Eropa, Asia, Amerika Latin bahkan juga Australia. Martin pergi mengunjungi Belanda, Prancis, Inggris, Jerman, Swedia, Swiss, Rusia, Kuba, China; untuk menyelami kedalaman sumber inspirasi kesastraannya.

Sedikit sastrawan Indonesia melakukan telusur segigih Martin Aleida, yang bukan saja menulis cerita tapi juga membebaskan obyek dan pembacanya. Selamat untuk Martin Aleida.

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Putu Oka Sukanta [Foto: NewYorkTime]

Sastra | Saat Tubuh Bicara dalam Aksara

Related posts
Your comment?
Leave a Reply