Sekilas Tempo Doeloe [3]

106 Viewed Redaksi 0 respond
andreas-jw_tempodulu
Oleh: Andreas JW

Gagal Menyelamatkan Bung Amir

Di tengah-tengah kerja keras mengkonsolidasi partai, suatu hari saya mendapat informasi dari seorang kader partai bernama Slamet Mamik alias Pak Wardojo, suami dari Ibu Marni. Kader satu ini punya jaringan cukup luas. Dia juga handal menyusup dan menyebarkan siaran-siaran gelap sampai ke daerah-daerah pendudukan yang dikuasai tentara Belanda. Dia memang salah seorang kepercayaan saya dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan semacam ini.

Menurut informasi yang diperoleh Slamet Mamik, ada rombongan pelarian dari Madiun yang sedang bergerak dan akan menyusup ke daerah pendudukan di Semarang. Dalam rombongan itu disebutkan ada Bung Amir Sjarifuddin, Sardjono, Soeripno, Setiadjit, Francisca Fanggidaej, dan sejumlah kader PKI serta Pesindo. Mereka mendapat kawalan sejumlah pasukan bersenjata. Atas dasar informasi ini kita segera berembuk.

Dengan segala kemampuan yang kita miliki, diputuskan untuk melakukan tindak penyelamatan. Rencananya, kita akan menjemput rombongan pelarian di suatu tempat, selanjutnya akan kita “amankan” di Solo.

Berdasarkan informasi yang kita dapat, dari Madiun, diperhitungkan rombongan pelarian akan menempuh rute lewat lereng Gunung Lawu menuju Ngrambe. Kemudian dilanjutkan menuju Blora. Dari Blora, rombongan pelarian akan menerobos ke Purwodadi dan Klambu. Namun sayang, belum sampai kita bergerak untuk menjemput, terdengar kabar Bung Amir Sjarifuddin dan kawan-kawan sudah tertangkap di sekitar Desa Klambu. Kabarnya, di situ sempat terjadi pertempuran sengit. Setelah tertangkap, Bung Amir Sjarifuddin dan kawan-kawan dibawa ke Yogyakarta.

Ada sedikit cerita, bahwa di antara pasukan pengawal rombongan pelarian Bung Amir, terdapat kompi Pesindo. Komandan kompinya, berhasil menyelamatkan diri, dan bergabung ke dalam pasukan Divisi Ronggolawe. Di kemudian hari, komandan kompi ini, pernah menduduki berbagai posisi penting dan wakil presiden dalam pemerintahan rezim Orde Baru. Malahan menurut cerita almarhum Mayor Surowo, mantan anak buahnya, komandan kompi Pesindo ini pernah pula mengawal Pak Muso ketika kampanye sosialisasi Resolusi Jalan Baru di Bojonegoro.

Kembali mengenai Bung Amir Sjarifuddin dan kawan-kawan. Selang beberapa waktu kemudian, Slamet Mamik mendapat informasi bahwa Bung Amir Sjarifuddin dan kawan-kawan akan dipindahkan ke Solo. Informasi ini disambut gembira oleh kawan-kawan. Artinya, ada peluang untuk membebaskan mereka. Tentu peluang ini tidak akan kita sia-siakan. Saya bersama sejumlah kawan segera membahas serta merencanakan tindakan apa yang bisa dilakukan untuk membebaskan mereka.

Setelah kita perhitungkan secara matang, hanya ada satu peluang yang kemungkinan besar berhasil, yakni pada saat tentara Belanda menyerbu Kota Solo. Ketika itu situasi Kota Solo memang sudah sangat genting.

Menurut perkiraan kita, tidak akan lama lagi tentara Belanda pasti akan menyerbu sekaligus menduduki wilayah RI. Dan menurut perhitungan kita, kekuatan polisi (Mobrig) dan pasukan TNI yang berada di Kota Solo, tidak akan mampu menghadapi pasukan Belanda. Momentum inilah yang akan kita manfaatkan untuk menyerbu penjara, lalu membebaskan Bung Amir dan kawan-kawan.

Persiapan sudah matang. Jaringan pun sudah terbentuk. Sejumlah teman di Tentara Pelajar (TP), yang tergabung dalam Laskar Pringgodani, sudah menyatakan siap membantu. Tapi di luar perhitungan kita, sebelum tentara Belanda menyerbu kota Solo, secara mendadak Gubernur Militer Surakarta Kolonel Gatot Subroto memerintahkan eksekusi hukuman tembak terhadap Amir Sjarifuddin dan kawan-kawan. Kita semua terperangah, mendengarnya. Tentu saja kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Tepatnya pada tengah malam, 18 Desember 1948, 11 orang tawanan politik dibawa keluar penjara menuju ke Desa Ngalian di Kabupaten Karang Anyar. Sebelas orang yang dieksekusi ialah Amir Sjarifuddin, Drs. Maruto Darusman, Sarjono, Mayjen. Djoko Sujono, Suripno, Oei Gee Hwat, Harjono, Sukarno, Katamhadi, D. Mangku, dan Rono Marsono.

Menurut saksi mata yang berada di tempat kejadian, yaitu komandan pelaksana eksekusi, berpangkat kapten, sebelum dilaksanakan eksekusi hukuman mati, kesebelas tawanan politik tersebut sempat menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Internasionale. Malah kabarnya, Bung Amir Sjariffudin menyempatkan diri untuk membaca Kitab Injil.

Beberapa tahun kemudian, pada permulaan tahun 1951(?), PKI dan simpatisannya mengadakan upacara resmi pemakaman kembali 11 kawan yang dihukuman mati tersebut. Upacara berlangsung di sebuah pemakaman Desa Ngalian, Kabupaten Karanganyar. Pak Alimin, atas nama PKI, memberikan sambutan. Sejumlah sahabat yang kita undang hadir untuk menyatakan simpatinya; di antaranya ialah Mas Narto dari PSII, menantu dari Pak Wongso Sisut, seorang kawan Angkatan 1926.

Juga hadir dalam acara ini para keluarga korban dan sejumlah kader serta simpatisan PKI. Dari keluarga korban, telihat Zus Francisca C. Fanggidaej; istri dari Sukarno, salah seorang tokoh Pesindo. Ia berdiri tidak jauh dari saya, menatap ke podium, dengan tangan bersedekap, dan mata berkaca-kaca menahan tangis. Dia tentu tengah mengenang suaminya yang turut menjadi korban. Selain itu saya juga melihat beberapa orang laki-laki dan wanita Tionghoa yang hadir di situ; mungkin mereka anggota keluarga dari Bung Oei Gee Hwat. Suasananya cukup mengharukan. Saya sendiri, sebagai tuan rumah (SC Surakarta), turut larut dalam suasana duka.

Saya turut menyaksikan selama berlangsungnya prosesi penggalian kembali kuburan. Satu per satu jenazah diangkat, untuk kemudian divisum et revertum oleh dr. Tambunan. Dia adalah seorang anggota Partai Kristen Indonesia. Dari hasil visum dinyatakan bahwa kesebelas korban meninggal karena ditembak. Selain itu di saku baju jenazah Bung Amir Sjarifuddin ditemukan sebuah Kitab Injil. Jadi benar kabar yang mengatakan bahwa Bung Amir sebelum tiba saatnya dieksekusi, sempat berdoa dengan membaca Kitab Injil.

Masih berkaitan dengan masalah eksekusi kesebelas kawan tersebut. Beberapa tahun berselang, setelah perkembangan situasi politik jauh berbeda; terjadi suatu pertemuan pribadi antara D.N. Aidit dengan Gatot Subroto.

Ketika itu Gatot Subroto menjabat sebagai Wakil KSAD, dan berpangkat letnan jenderal. Pertemuan dilakukan di rumah pribadi Gatot Subroto di Jakarta. Dalam kesempatan ini Gatot Subroto implisit menyatakan penyesalannya. Ia menjelaskan bahwa semua itu atas perintah resmi Perdana Menteri/Menteri Pertahanan Mohammad Hatta. Pertemuan diakhiri dengan makan siang, yang disajikan sendiri oleh istri Gatot Subroto.
Peristiwa ini saya ketahui dari laporan Bung Aidit, dalam suatu rapat Sekretariat CC, di mana saya turut hadir di situ. (Memoar Siswoyo, Ultimus, Juli 2015)

[]

Don't miss the stories follow YPKP 1965 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Keterangan foto:
Sitihinggil Kraton Kasunanan Surakarta. [doc]

Sekilas Tempo Doeloe [2]

andeas_DN

Sekilas Tempo Doeloe [4]

Related posts
Your comment?
Leave a Reply