Gua (Luweng) Tikus: Tempat Pembantaian Massal Orang-orang Komunis di Blitar Selatan
Tempat itu bernama Gua Tikus. Adapun sejarah Gua Tikus itu sendiri dimulai ketika ada hama tikus yang menyerang daerah Blitar Selatan sehingga memusnahkan hampir seluruh hasil panen di daerah tersebut. Warga pun secara bergotong royong membasmi tikus-tikus itu. Ketika dikejar dan dibasmi, tikus-tikus itu lari dan menghilang di bawah batu besar. Dan ketika batu besar itu digeser, ternyata terdapat gua kecil yang menjadi sarang dari tikus-tikus tersebut. Itulah asal-muasal kenapa tempat itu dinamakan Gua Tikus.
Jarak yang harus di tempuh untuk menuju gua Tikus itu cukup jauh dan kondisi jalan tidak kalah buruknya ketika kami pergi ke ladang tebu tadi. Terkadang kami harus turun dari motor untuk sekedar berbasa-basi dengan penduduk sekitar yang sedang mencari kayu atau berladang. Pak Yatman nampaknya cukup dikenal di daerah yang terpencil ini.
Setelah turun dari motor, kami harus berjalan kaki cukup jauh menembus ladang dan menyeberangi sungai kecil untuk mencapai Gua Tikus itu. Di atas gua itu tampak pohon bambu yang besar sekali. Konon pohon bambu itu sengaja ditanam sebagai penanda agar tidak ada orang atau ternak yang terjerembab masuk ke dalam lubang itu.
Gua itu sangat kecil. Dengan diameter kira-kira 1,5 – 2 meter namun dalam sekali. Saya tidak bisa melihat dasar gua itu. Di dasar gua itu terdapat aliran sungai bawah tanah. Kembali menurut penuturan pak Yatman, para tersangka anggota atau simpatisan PKI yang di ‘bon dari rumah-rumah tahanan sekitar, digiring ke gua itu pada subuh dini hari kemudian disuruh berjongkok di mulut gua itu lalu dipukul dengan besi di belakang kepalanya sehingga para korban secara otomatis jatuh ke dasar gua.
Beberapa tahun yang lalu rupanya telah ada LSM dan mahasiswa pecinta alam yang sudah melakukan evakuasi. Mereka turun ke dasar gua dengan tali, memotret dan mengangkat tulang belulang manusia untuk dikuburkan secara normal. Saya tidak berlama-lama di lokasi itu, selain udara yang cukup panas, saya pun tidak bisa memotret banyak karena harus menghemat memory card.
dikutip dari Berziarah Ke Tanah Merah – Blitar (3) oleh Agan Harahap, selengkapnya disini
***
Sepotong Rahang DI GUA TIKUS – datatempo
Foundation probes 1968 Blitar massacre – the Jakarta Post


dibalik rumpun bambu tersembunyi gua tikus



kesaksian pak Yatman dari Gua (Luweng) Tikus
dari kunjungan YPKP 8 Juni 2025
periksa pula LAGI KUBURAN MASSAL DIKETEMUKAN DI DESA NGREJO BLITAR SELATAN

Kuburan Massal di Basis PKI – Laporan ini disusun Reporter KBR68H Didik Syahputra.
*termasuk Gua Tikus disebutkan dalam laporan ini
“Saya baru saja melihat sebuah pemandangan yang sangat mengerikan, didalam gua tikus tadi ada tumpukan tulang manusia yang sudah tak utuh lagi setinggi 2 meter. Dan tulang tulang itu bercampur dengan lumpur serpihan kain, sandal karet dan batu. Dari banyaknya tulang yang ada, sepertinya benar yang dikatakan warga, bahwa jenazah yang dibuang di gua Tikus mencapai ratusan orang.”
Lokasi pembantaian orang-orang PKI: Gua Tikus dalam laporan BBC Indonesia; Kisah anak algojo PKI di Blitar selatan yang mendampingi penyintas kasus 1965: ‘Saya minta maaf’
Berdiri di dekat lubang mengerikan itu, Sukiman tetap berharap pemerintah agar serius menyelesaikannya. Namun dia kurang setuju jika ada upaya penyelidikan siapa saja korban yang dibunuh di dalam gua itu.
“Itu sudah lampau, tidak penting. Sudah 50 tahun silam,” katanya. Dia mengusulkan agar pemerintah membuatkan jalan yang layak menuju ke gua ini, sehingga memudahkan keluarga korban yang ingin berziarah.
Adapun Farida mengharapkan, siapapun yang dibunuh dan dibuang ke dalam lubang gua itu, untuk dikuburkan ulang secara layak.
“Siapapun mereka, seharusnya mereka dikuburkan secara layak,” katanya. Dengan tindakan seperti, pemerintah sudah menunjukkan bukti keseriusan untuk menyelesaikan tragedi ’65 dengan cara mengakuinya, katanya.
Masrukin sependapat dengan Farid agar diungkap siapa yang dibunuh dan dibuang ke dalam lubang itu, walaupun diakuinya upaya ini akan sulit direalisasikan saat ini, karena masih ada penolakan dari sebagian masyarakat
Anak ‘algojo PKI’ dan eks-tapol 1965: Hapus dendam dengan rekonsiliasi – BBC News Indonesia
…………

simak pula
Operasi Trisula: Pembantaian atas Anggota dan Simpatisan PKI di Blitar Selatan


Your comment?