Artikel

Latest News on Artikel
ilustrasi : [googling]
“Jenderal, di manakah kubur mereka..?” [...

“Jenderal, di manakah kubur mereka..?” [2]

Oleh: Yoseph T Taher Di seluruh pelosok daerah, pihak militer menangkapi orang-orang yang yang diduga PKI, dan menjadi anggota atau simpatisan organisasi Pemuda Rakyat, Gerwani, SOBSI, BTI, Lekra, dan sebagainya. Rumah Tahanan Militer menjadi penuh sesak, namun penangkapan masih terus berlangsung.... read more »

ilustrasi : [googling]
“Jenderal, di manakah kubur mereka...

“Jenderal, di manakah kubur mereka..?” [1]

Oleh: Yoseph T Taher 1 Oktober 1965 merupakan titik awal masa kegelapan bumi Indonesia. Enam Jenderal, petinggi Angkatan Darat Indonesia, diculik dan dibunuh oleh para militer dibawah pimpinan Letkol. Untung Samsuri dalam suatu gerakan yang dinamakan “Gerakan 30 September” atau disingkat... read more »

(credit: parole.wordpress)
Menyaksikan jiwa-jiwa yang dibantai: Men...

Menyaksikan jiwa-jiwa yang dibantai: Mengajarkan Tragedi 1965 melalui Sastr...

  Oleh: Yoseph Yapi Taum 1 ABSTRAK Pembelajaran rekonsiliasi mengenai tragedi 1965 dapat dilakukan melalui sastra. Tiga buah karya sastra berbentuk cerpen yang berlatar belakang Tragedi 1965 dan ditulis dalam kurun waktu yang berdekatan adalah ”Maut” karya Mohammad Sjoekoer (1969),... read more »

monga_emas1
Petaka Tambang Emas di Pulau Buru

Petaka Tambang Emas di Pulau Buru

Oleh: Nurdin Tubaka [Pulau Buru] 10 June 2018 Tenda-tenda biru dari terpal tampak memenuhi beberapa bagian di gunung ini. Letak tenda berdekatan dan tak beraturan. Pondok-pondok itu adalah ‘rumah’ sementara para penambang yang datang dari berbagai daerah untuk berburu emas di Pulau... read more »

CINDAGA: Runtuhan Jembatan Cindaga yang ambrol pada 27 Juni 2011 kini tinggal puingnya. Tetapi jembatan ini menyimpan kisah tragedi pembantaian tak kurang dari 300-an Tapol 65 . Seseorang penyintas tragedi 65 menunjukkan bekas lokasi hanyutnya mayat korban pembantaian [Foto: Humas YPKP 65]
Kisah Kelam Jembatan Cindaga

Kisah Kelam Jembatan Cindaga

Senin, 27 Juni 2011 pagi itu cerah ketika Sumarno (kini 39 tahun) warga Banyumas asal Desa Rawalo berada di atas jembatan Serayu setelah memarkir motor Supra miliknya. Masa itu orang memanfaatkan bentang jembatan untuk menjemur padi atau jagung hasil panen, karena memang jembatan ini tak lagi... read more »

More from Artikel

Ilustrasi: Aksi Kamisan tak pernah diindahkah oleh negara. Tirto/Lugas

20 Tahun Reformasi: Macetnya Kasus-Kasus Pelanggaran HAM

Oleh: Haris Azhar – 21 Mei 2018 Setelah 20 tahun reformasi, bangsa Indonesia masih tertatih dengan keadilan, kebenaran, dan kemanusiaan. Peristiwa 12 Mei 1998 dikenang sebagai titik... read more »

pram_bbc

Mengenal Pramoedya Ananta Toer lebih dekat lewat catatan dan surat-surat

Sastrawan kawakan Pramudya Ananta Toer, yang karyanya selama ini menjadi inspirasi orang dalam memaknai sejarah perjuangan di tengah penindasan, ternyata memiliki sisi-sisi lain yang tak... read more »

Di Gedung Agung Yogyakarta, Oemiyah dan Ngaisyah menurunkan bendera Jepang pada September 1945. Sumber: Wikimedia.org.

Perempuan Yogyakarta dalam Perjuangan

Nur Janti | 21 Aperil 2018; 14.00 wib Para perempuan Yogyakarta memanfaatkan apa saja, termasuk menyamar, untuk menjaga laju perjuangan. Tak sedikit yang kehilangan nyawa. TANPA... read more »

kartini-school

Kartini

Penulis: Anton DH Nugrahanto. Arti penting Kartini itu bukan di sosoknya, tapi di idee-nya. Jadi pada masa pergerakan 1920-an banyak tokoh-tokoh pemikir memerlukan simbol idee pergerakan... read more »

Ilustrasi Putri HB I yang Membantai Orang Tionghoa. tirto.id/Fiz

Sejarah Indonesia | Kisah Kelam Pembantaian di Tepi Sungai Bengaw...

Oleh: Iswara N Raditya – 31 Maret 2018 Sekitar seratus orang Tionghoa tewas dalam penyerbuan yang dipimpin oleh Raden Ayu Yudakusuma pada 1825. “Tanpa mempedulikan jerit dan tangisan para... read more »