Perjumpaan Kembali Dua Mantan Tapol ’65 Setelah 57 Tahun : “Sekarang kita sudah tua dan lemah, kita tidak punya gigi lagi”
Pak Supadi (86) dan Pak Tarban (86) dua mantan tahanan politik asal Petarukan Kabupaten Pemalang Jawa Tengah.
Pada awal Oktober 1965 mereka ditahan, disiksa di rumah-rumah penahanan di kota Petarukan. Mereka berdua adalah guru Sekolah Dasar.
Tercatat di kota Petarukan, hampir semua guru menjadi anggota PGRI Non-Vaksentral (Persatuan Guru Republik Indonesia) yang berideologi Kiri dan mendukung kebijakan Presiden Sukarno.
Tak mengherankan, banyak para guru dibunuh atau pun dibuang ke Pulau Nusakambangan dan Pulau Buru.
Di sela acara Memorial mengenang korban 65, tabur bunga di kuburan massal Penggarit, pantai Widuri, Pandan Wangi, Sukowati di wilayah kabupaten Pemalang di mana ada beberapa guru yang dieksekusi di lokasi ini, kedua mantan Tapol ini berjumpa.
Semula tidak yakin, apakah mereka adalah teman masa sekolahnya dahulu.
Setelah saling meyakinkan, mereka kemudian berangkulan:
“Oh ….. jebule kancane dhewe” (Oh …. ternyata teman sendiri), percakapan dalam Bahasa Jawa Petarukan yang khas.
Tidak sekedar tabur bunga, acara memorial menyatukan kawan yang lama tak berjumpa dan mengenang ketika masa sekolah ……
klik video pendek Perjumpaan Kembali Setelah 57 Tahun
(Video pendek berdurasi 2 menit 17 detik ini dibuat Sutradara Indra Siagian putra Bahtiar Siagian yang dibuang ke Pulau Buru). Ini cuplikan dari Film Memorial Tragedi 1965 yang sedang dalam proses pembuatan).
(bj YPKP65)
simak pula
Perburuan dan Pemberangusan Bapak Ibu Guru dan PGRI Non Vaksentral (PGRI NV) I Genosida 1965-1966




Your comment?